
Emilia dan ketiga sepupunya dibantu beberapa pegawai perusahaan menata berbagai hidangan di atas meja khusus buat kudapan.
"Lega, selesai semuanya," seru Maria lega.
"iya," balas Arinka senang.
Para pegawai pun menatap takjub melihat aneka kudapam tradisional yang terlihat lezat.
"Pesan dimana ini nona?" tanya Bu Sri kagum. Bu Sri sekretaris utama di perusahaan.
"Kita yang buat bu," kata Zeta bangga.
"Waaah, hebat," puji Bu Sri dan para pegawai lainnya kagum.
Ngga hanya sekedar cantik dan kaya, tapi bisa juga menangani di masalah dapur, batin para pegawai itu.
"Untuk Bu Sri dan para pegawai sudah saya titipkan di lobi. Nant bagian front office yang akan membawanya ke atas," jelas Emilia membuat wajah Bu Sri dan pegawai lainnya cerah.
"Terimakasih, nona," sahut Bu Sri dan para pegawai itu sangat senang karena ngga nyangka untuk mereka juga telah disediakan.
"Wooww," puji Bima yang memasuki ruang meeting bareng Andra, Dewa dan Pak Rudi, salah satu sesepuh perusahaan, sahabat papa mereka.
"Kalian sukses melakukannya," tambah Dewa ikut memuji ketika melihat berbagai kudapan yang sangat menggugah selera telah tertata rapi dan menarik di atas meja.
"Bisa buat promosi, pak," timbrung Bu Sri membuat mereka tertawa kecil.
Bu Sri dan para pegawai semakin takjub melihat ketiga bosnya tertawa lepas. Padahal selama i ni selalu menampilkan wajah seriusnya.
Dalam hati mereka memuji ketampanan ketiga bosnya yang tambah berlipat.
"Di tangan nona, kudapan tradisonal naik kelas," puji Bu Sri yang disetujui mereka semua yang ada di situ.
"Yah, nanti kalo banyak yang pesan, akan dibukakan divisi baru," canda Andra.
"Ada rekrutan karyawan, dong, pak," sambar Ruben, kepala duvisi pemasaran senang. Usianya setara dengan Dewa. Sedangkan Bima dan Andra lebih tua setahun
__ADS_1
Ruben adalah putra Pak Sahid, sahabat papa mereka yang masih sangat loyal pada keluarga dan perusahaan. Juga Pak Rudi dan Pak Handoko. Putra dan putri mereka juga bekerja di perusahaan ini. Sedangkan Bu Sri sudah berumur empat puluh tahun, menggantikan posisi kakaknya yang meninggal karena sakit. Dulu beliau adalah wakil sekretaris saat kakaknya masih ada.
"Iya, dong," balas Dewa masih dalam tawanya.
"Numpang daftar keponakan, pak," timbrung Pak Rudi kemudian tergelak. Pak Rudi lebih muda lima tahun dari papa sang direktur. Beliau kepala divisi keuangan.
Kata kata Pak Rudi membuat mereka semakin tertawa.
"Banyak, pak, keponakannya?" canda Dewa tambah membuat tawa mereka tiada henti hentinya.
"Lumayan, Pak Dewa," balas Pak Rudi dengan perasaan sangat bahagia.
Kembali kata kata Pak Rudi tambah membuat mereka terpingkal pingkal.
Suasana kantor ini sudah mulai ngga kaku lagi, batinnya penuh haru dan senang.
Beliau merekam setiap jejak apa saja yang telah terjadi terkait musibah yang menimpa keluarga besar bosnya selama belasan tahun. Pak Rudi dan beberapa staf lama tetap setia di sisi putra putra tuan besar mereka yang meninggal di penjara. Beliau pun masih bekerja ketika cucu cucu tuan besarnya kembali membantu orang tua mereka.
*
*
*
Emilia melihat rancangan hotel yang akan ditenderkan minggu depan di Bali. Dia kagum akan rancangan kakak laki lakinya yang kuliah jurusan Arsitek dan bisnis. Dengan keenceran otaknya , Bima mengambil kuliah dua jurusan dan menyelesaikan kuliah bisnisnya lebih ceoat dua tahun dan arsitek lebih cepat setahun. Bahkan kukiah S2 dan S3 nya diselesaikan dalam waktu teramat singkat.
Panggilan kerja di manca negara angat banyak, tapi Bima memutuskan pulang dan bergabung dengan perusahaan papa yang lebih membutuhkan kepintarannya.
Setahun kemudian Andra dan Dewa pun membantu di perusahaan. Setahun yang lalu. ketiga sepupunya yang kuliah di bidang desain dan periklanan ikut bergabung.
Dirinya baru kembali karena oma mengirimnya untuk kuliah S2, sama seperti Bima, jurusan arsitek.
Bahkan Emilia pun mengambil kursus kuliner di sana. Tapi dasar lidahnya lidah jadul, tetap saja dia lebih memfavoritkan masakan asli negaranya.
"Senangnya jadi ke Bali," seru Maria sambil mambaringkan tubuhnya di kasur empuk kakak sepupunya. Badannya masih terasa pegal karena harus bangun jam empat subuh untuk membantu ketiga sepupunya mengemas kue kue dan puding agar terlihat cantik dan menarik.
__ADS_1
"Pegel lo hilang?" kekeh Arinia menyindir sambil membaringkan tubuhnya di samping Maria. Tubuhnya pun masih terasa pegal. Salut dia melihalt Emilia masih terlihat baik baik saja. Jangan lupakan Zeta yang masih bisa duduk dengan santai sambil memainkan ponselnya.
"Belum, sih, tapi lumayan berkurang karena udah positif ke Bali," tawa Maria membuat Arinka ikut ngikik. Emilia dan Zeta hanya tersenyum geli.
"Kita shopping buat ke Bali, yuk. Nih, ada bikini two piece yang lucu " kata Zeta sambil menghampiri kedua sepupunya yang berada di tempat tidur dan memberikan ponselnya yang langsung dipelototi Maria dna Arinka
"Iiih, lucu banget. Gue mauuu," seru Maria heboh.
"Beli kain pantainya yang ini," usul Arinka sambil menunjuk kain pantai berwarna cerah.
"Boleh juga. Gue juga nau. Kita kembaran ya. Emil, lo juga ya," ucap Zeta sambil melirik sepupunya yang masih serius mengamati rancangan kakaknya.
"Pilihin aja," kata Emilia sambil terus menatap dengan detil rancangan kakaknya.
"Sini, dong, Mil. Lo milih yang lo suka," panggil Arinka sambil melambaikan tangannya.
"Iyaa."
Emilia pun menghampiri mereka dan memepetkan tubuhnya di samping Arinka.
"Bagus, kan," tukas Maria sambil menyodorkan ponsel Zeta padanya.
Emilia mengangguk setuju.
"Seksi banget, ya," ucapnya sambil mesem mesem.
Apa ketiga sepupu laki laki mereka ngga marah? batinnya tertawa geli.
"Harus, dong. Kita jangan kalah sama bule," seru Maria pe-de.
"Iyaaa," balas ketiganya kompak agar Maria Mercedes merasa senang.
"Peserta tender besok katanya banyak yang masih bujang," sambungnya lagi.
"Bujang, sih, bujang. Tapi udah ngga ting ting," ejek Zeta sambil mencibirkan bibirnya.
__ADS_1
"Iyees, ting tong," kikik Arinka membuat Maria jadi tergelak. Emilia pun ikut tergelak.
Jaman gini apa masih ada perjaka ting ting? Tuhan, kalo ada satu sajal, tolong berikan buat hamba saja. Amin, do'a Maria dalam hati.