Love U Like FIRE

Love U Like FIRE
Penculikan?


__ADS_3

TOK TOK TOK!


Mama Arsen agak heran mendengar ada suara seseorang yang mengetuk pintu. Seingatnya ngga ada yang mengenal mereka. Arsen pun selalu masuk tanpa mengetuk karena memiliki kartu aksesnya.


Mama Arsen pun mengintip lewat lubang kecil di pintu, ternyata seorang laki laki dengan seragam seperti pengantar paket dari salah satu media online.


TOK TOK TOK


Akhirnya mama Arsen membuka pintunya sedikit saja dengan tetap mengaitkan rantai kunci kamarnya.


Tapi belum sempat Mama Arsen menyapa, beliau terkejut dengan gerak cepat laki laki itu.


BRAAKK!


Laki laki yang berseragam paket itu menubrukkan dengan paksa tubuhnya ke pintu hingga terdorong semakin ke dalam.


"Aaahhh!" jerit mama Arsen dengan tubuh terpental ke belakang.


Rupanya ada seorang lagi di belakang laki laki pengantar paket yang juga ikutan masuk.


"Ka kalian mau apa?" seru mama Arsen gugup dan takut


Salahnya! Harusnya dia tidak membuka pintu.


Arsen. Tolong mama, nak.


"Aku akan membiusnya," ujar oknum pengantar paket. Dia segera mengeluarkan saputangan yang sudah dibasahi steroform.


"Tidak! Tidaaak!" teriak mama Arsen sambil menggerakkan kakinya menendang ke arah dua orang itu.


"Sialan. Dia ribut sekali," seru temannya yang satu lagi


"Tutup pintunya, bodoh!" bentak oknum pengantar paket.


Walaupun apartemen ini masih baru dan belum begitu banyak penghuninya, tapi bisa saja teriakan mama Arsen terdengar oleh penghuni lain yang sudah menempati unit itu. Apalagi tadi dia cukup keras mendobrak pintu.


"Apa yang kalian lakukan?" teriak Maria yang terkejut melihat pemandangan di depannya.


Sebelumnya Maria mengikuti Arsen secara diam diam, karena pengawal yang di suruhnya berkali kali gagal.


Tapi dia beruntung, mobil Arsen sore itu sangat lambat hingga dia bisa membuntutinya sampai berada di basemen apartemen.


Kening Maria agak mengernyit ketika melihat Arsen berjalan di samping seorang wanita paruh baya yang masih cantik. Seusia maminya menurut perkiraan Maria.


Mamanya? pikirnya waktu itu. Menduga.


Keberuntungan pun masih berpihak padanya ketika melihat lift yang hanya di naiki keduanya menunjukkan lantai tujuh.

__ADS_1


Hanya sampai di situ Maria membuntutinya.


Pagi ini dia sengaja mencoba keberuntungan maen ke apartemen laki laki itu. Siapa tau dia masih beruntung bertemu dengannya.


Tapi ketika pintu lift terbuka di lorong yang sepi itu, Maria terkejut mendengar seperti suara pintu yang di dorong cukup keras dan suara teriakan perempuan yang agak sayup sayup memasuki gendang telinganya.


Karena itu Maria mempercepat langkahnya dan terkejut melihat wanita yang kemarin bersama dengan Arsen sedang ketakutan karena didekati seorang laki laki dengan kostum aneh dan memegang sapu tangan


Otak Maria bekerja cepat. Pasti wanita ini mau dibius. Karenanya dengan nekat Maria membentak mereka.


"Ada yang mau main main dengan kita," sinis laki laki yang awalnya akan menutup pintu.


"Bawa ke dalam. Sekalian dibius aja. Trus lempar ke bawah," sahut laki laki berkostun aneh tanpa beban.


Keringat dingin mengucur di dahinya. Ada dua orang laki laki rupanya. Kirain Maria cuma satu. Dia berada di lanrai tujuh. Kalo memang akan dilemparkan, dia pasti akan langsung ketemu malaikat izrail.


Dengan nekat dan cepat, Maria mengebutkan tas limited editionnya yang berhiaskan berlian berbentuk segitiga runcing disekeliling tas itu, dengan sekuat tenaga pada laki laki yang sedang berjalan mendekatinya.


"Aauuuw.... Sialan!" teriaknya cukup kesakitan ketika ujung tajam berlian itu mengenai lengannya yang akan menepis sambaran tas bertotol itu.


Maria ngga membuang kesempatan. Dia terus memukul laki laki itu dengan tasnya sampai laki laki itu terjatuh dengan luka luka dan mungkin memar memar di lengan dan tubuhnya.


Setelahnya, Maria melepas sepatu heelsnya yang runcing di ujungnya, kemudian melemparkannya dengan tepat sasaran. Masing masing terkena di kepala dan jidatnya. Darah terlihat mengucur di sana. Bahkan yang satu menancap di kepalanya.


"Aaarrhhh. Awas kau perenpuan sialan!" kutuk serapah keluar dari mulutnya yang merasakan kepalanya sangat pusing dan berdarah


"Rasakan!" geram Maria dan tersenyum puas melihat laki laki itu mulai terkulai.


Maria pun menarik tubuh wanita itu yang dengan cepat agar mengikuti langkah Maria.


Tapi...


BUGH


Tubuhnya hampir terjatuh karena laki laki pertama yang Maria pukul berhasil menarik sebelah kaki wanita paruh baya itu hingga terjatuh.


"Huh," kesal Maria kemudian memukul lagi laki laki itu sementara wanita paruh baya itu berdiri.


"Dasar laki laki kurang ajar," keselnya kemudian menginjak punggungnya dengan kuat sampai bunyi krek saat akan melewatinya.


"Kalian apa apaan!" seruan menggelegar datang dari depan pintu keluar.


Maria terkejut melihat kemunculan beberapa laki laki kekar dengan seragam pengawal.


Dia tampak menggeleng gelengkan kepalanya melihat nasib kedua temannya.


Dikalahkan perempuan?

__ADS_1


Memalukan sekali! decihnya penuh hinaan.


"Nona, anda sudah sangat keterlaluan," bentaknya marah dan siap mengayunkan pukulannya ke arah Maria.


Maria pun reflek melindungi dirinya dengan tas totolan berlian runcingnya.


"Aaaahhh," jerit wanita paruh baya itu ketakutan. Dia takut terjadi apa apa dengan gadis muda yang ngga dikenalnya ini, tapi mau menolongnya tanpa memikirkan keselamatannya.


BUGH


BUGH


BUGH


"Aaaarrhhh."


"Aaarrrhhh."


Maria memejamkan matanya. Telinganya jelas mendengar suara teriakan dan pukulan. Tapi dia ngga merasakan apa apa.


Maria pun membuka matanya. Maria jadi melotot kaget melihat Arsen, Arjuna dan temannya yang Maria lupa namanya sedang berjibaku berkelahi di lorong apartemen.


Arjuna dan Mars yang baru membuka pintu kamar setelah melakukan zoom meeting jadi terkejut melihat banyaknya laki laki berseragam di lorong apartemen mereka.


Saat melakukan zoom meeting hingga sekarang pun Arjuna dan Mars ngga melepas headset nirkabelnya. Apalagi tembok unit apartemen ini juga kedap suara. Jadinya kalo keduanya ngga keluar, ngga akan tau ada kejadian seheboh ini.


Para pengawal itu pun bergerak dan menyerang Ajuna dan Arsen secara serentak.


Sementara Arsen yang juga barun keluar dari pintu lift sudah lebih dulu terlibat perkelahian.


Anehnya, apa mungkin belum semua unit lantai tujuh ini yang terisi atau penghuninya sedang pergi atau para penghuninya lagi leha leha di tempat tidur dengan menggunakann headset sehingga ngga keluar dan melihat apa yang sedang terjadi. Atau bahkan mereka takut atau cuek ngga peduli, yang pentimg selamat sendiri jika berdiam saja di unit mereka.


Perkelahian yang sangat seru itu pun berlangsung cukup sengit dan menimbulkan suara suara yang keras. Baik suara pukulan, tendangan atau pun jeritan.


"Maria!" kaget Arjuna melihat sepupu Emilia bersama seorang perempuan paruh baya yang ternyata mama Arsen.


"Juna!" seru Maria juga ngga kalah kagetnya.


Beberapa orang pengawal memperhatikan Arjuna dengan intens seakan ingin memastikan sesuatu.


"Lari!" komando laki laki yang tadinya akan memukul Maria, kemudian menerobos kamar unit Arsen, memecahkan kacanya dan berlompatan keluar bersama yang lainnya. Bahkan teman teman mereka yang terluka pun diangkut juga.


Arjuna dan Mars ngga menahan. Firasatnya mengatakan itu pengawal papanya. Saat menyusul ke arah tempat para pengacau itu melompat, rupanya sudah ada banyak tali. Dan mereka pun sudah meninggalkan apartemen ini dengan menyisakan asap kendaraan roda dua mereka.


Ternyata mereka sudah mengamati apartemen yang ditempati Mama Arsen. Mungkin sejak lama.


Gila, mereka melewati tembok tinggi yang membatasi apartemen ini dengan jalan utana yang berada di depannya begitu mudah, batin Arjuna ngga percaya. Skill mereka di atas rata rata.

__ADS_1


Arjuna melirik Mars penuh arti. Mars tau, tempat ini sudah ngga aman lagi buat Arjuna.


__ADS_2