
Hari hari berlalu seperti biasa. Emilia mulai menyibukkan dirinya dengan kerjaannya sebagai asisten kakaknya Bima, bahkan dia ikut membantu ketiga sepupunya dalam membuat desain untuk iklan. Emilia ingin melupakan segala hal yang buruk dan memulai hari hari yang baru. Keluarga mereka pun perlahan sudah mulai bangkit dari kesedihan.
"Gimana kalo kita melakukan kencam buta?" seru Maria saat mereka sedang makan siang di kantor.
"Kencan buta?" Arinka menatap sepupunya yang selalu saja punya ide ide aneh.
"Boleh juga," sambut Emilia yang langsung membuat Maria senang.
Sudah lama ngga melakukan hal hal gila, batinnya.
"Kalian berdua serius?" tanya Arinka ngga percaya. Dia tau Emilia kalo lagi stres memang suka kumat gilanya dengan Maria.
Zeta hanya diam sambil terus menikmati makanannya.
"Serius," jawab Maria dan Emilia kompak, kemudian tertawa. Ngga nyangka sehati banget.
"Gue ikut," ucap Zeta setelah menyelesaikan makannya.
Kini Arinka memijat keningnya. Terasa pusing melihat kelakuan ketiga sepupunya.
Apa mereka udah ngerasa ngga laku? kesalnya membatin.
"Gue tau biro yang menangani hal ini. Sudah cukup sukses dan viral. Banyak eksekutif muda yang bergabung," seru Maria penuh semangat.
"Biro jodoh?" sinis Arinka yang masih belum setuju.
"Biro kencan buta. Blind Date Memory," tegas Maria ngga oeduli dengan kesinisan Arinka.
Pasti ntar ikut juga, batinnya yakin.
"Namanya bikin gue mau muntah," cibir Arinka sambil memperlihatkan reaksi mual
Ketiganya hanya tertawa. Diantara mereka berempat, hanya Arinka yang sepertinya belum tertarik dengan laki laki. Padahal mereka saja yang ngga tau. Arinka sudah jauh di depan, termasuk dengan patah hatinya yang juga lebih duluan.
"Nanti gue daftarin kita berempat. Kita maunya kencan bareng. Ngga misah misah," kata Maria masih penuh semamgat.
Keriganya hanya manggut manggut menyetujui ide gila ini.
'Gue catat dulu kriteria yang kalian mau. Zeta, apa kriteria lo?" tanya Maria sambil mengambil pulpen dan notesnya.
"Gue yang matang, tapi ngga tua. Ganteng dan kaya. Duda juga boleh, tapi jangan yang punya anak," kekeh Zeta membuat mereka tergelak memdengarnya.
"Nyahok lo kalo beneran dapat duda," ledek Emilia dengan kepala yang di geleng gelengkan.
Sebenarnya asyik juga sesekali maen sama duda matang, tawa Emilia dalam hati.
Apa segitunya dia patah hati dengan laki laki lajang sampai mau berpimdah ke duda?
"Ya ngga apa. Namanya juga buat senang senang," sahut Zeta cuek.
"oke oke. Kalo Lo gimana, Mil?" lanjut Maria sambil terus mencatat.
"Muda, dan belum nikah," jawabnya kalem.
"Tunangan boleh, dong," ledek Arinka membuat mereka ketawa lagi.
__ADS_1
"Boleh juga," balas Emilia menantang sambil tergelak.
"Jangan sampai si Juna dengar permintaan lo," seloroh Zeta sambil menoyor jidat Emilia.
Diih, bodoh amat dia dengar, batin Emilia cuek.
Laki laki ngga punya hati, batinnya lagi
Ada sedikit penyesalan sudah jatuh cinta dengan Arjuna Taksaka. Kalo saja bisa hatinya diatur dan dikendalikan
"Oke, gue catat. Kalo lo maunya apa Rin?" tanya Maria membuat Arinka terdiam.
"Gie sama kayak Emil. Lebih suka sama yang udah tunangan," kekehnya membuat mereka kembali tergelak.
"Kalian memang gila," cemooh Maria dengan wajah cerianya. Tapi dalam hatinya dia senang, idenya membuat para sepupunya melupakan kesedihan kini sudah berhasil. Mereka sudah bisa tertawa lepas.
"Sekarang gue. Gue maunya single, ngga ada ikatan. Tapi harus tampan dan tajiiir," serunya girang.
"Semoga ready stok, ya," kekeh Arinka membuat tawa mereka makin lepas dan ringan.
*
*
*
"Yakin, kita ketemunya di sini?" tanya Zeta ketika sudah berada di pintu masuk sebuah restoran mewah di lantai paling atas hotel bintang lima.
"Apa ini ngga terlalu cepat. Baru tadi siang, kan?" Arinka menatap Maria ngga percaya.
"Itulah hebatnya biro ini. Dia cepat sekali mengakomodir permintaan kliennya," kata Maria bangga.
"Oke, kita masuk," kata Maria memimpin.
"Reservasi atas nama summer," katanEmilia memberitau. Summer adalah kode untuk pertemuan mereka.
"Silakan," kata pegawai perempuan restoran itu sambil mengantarkan mereka berempat ke meja yang sudah direservasi. Ternyata mereka datang lebih cepat.
"Ngga on time banget, sih," kesal Arinka sambil duduk.
"Harusnya tadi kita telat sejam," omel Zeta ngga kalah kesal. Dia ngga suka harus menunggu.
"Iya, sih," ucap Maria sambil melihat sekeliling. Dia yang awalnya penuh semangat jadi ikutan kesal karena ngga sesuai dengan harapan kenyataan.
"Lebih baik kita langsung pesan aja," kata Emilia menengahi.
"Oke," sambut Zeta.
Mereka berempat pun langsung memesan menu yang harganya wow.
"Ini udah telat lima belas menit," omel Zeta, tapi dia merasa senang juga bisa menikmati suasana indah di root top restoran mewah ini. Apalagi ini restoran yang baru dibuka beberapq hari yang lalu.
"Ngga apa ngga jadi kencan butanya. Yang penting udah sampai di sini," kata Emilia bijak. Dia pun mengagumi interior restoran ini. Juga suasananya dibuat se friendly mungkin.bikin betsh.
Pesanan makanan mereka datang dengan cepat. Beneran good service.
__ADS_1
"Yakin lo udah dibayar makanan kita? " Arinka menatap Maria dengan tatapan ngga percaya.
"Yakin, td ngomong gitu pegawai restonya," kata Maria santai.
"Syukurlah, ayo sekarang kita nikmati hidanhan mewah yang gratis ini," kekeh Zeta diikuti yang lainnya.
"Ehem."
Keempatnya menoleh kearah deheman suara yang sangat mereka kenal.
"Kak Bima."
"Kak Andra."
"Kak Dewa."
Seruan kaget terlontar dari mulut mereka melihat ketiga kakak laki laki mereka kini ada di depan mereka.
Kok.bisa?
Ketiganya dengan santai duduk.di dekat adik adik mereka.yang nakal.
"Sorry, susah nyari duda," kekeh Andra sambil mengambil satu tusuk sate udang gefe dan langsung memasukkan ke mulutnya.
"Juga yang punya tunangan," canda Dewa.
*What?
Kok, bisa tau?
Bisa diomelin, nih*.
Keempatnya saling pandang dengan tatapan shock dan khawatir.
"Enak," ucap Andra tetap tenang setelah menelan sate udangnya.
Bima dan Dewa tergelak melihat wajah pucat keempat adik perempuan mereka.
"Bisa bisanya kalian merencanakan blind date di resto kita," kata Andra sambil menggeleng gelengkan kepalanya dengan sikap.tenangnya.
Arinka, Zeta, Emilia dan Maria yang semula pias karena kaget, kini berubah ceria mendengarnya.
"Resto kita, kak Andra?" kaget Zeta dengan wajah sumringah.
"Surprise banget," Arinka pun ngga kalah kagetnya.
Kapan mereka merencanakan ini, batinnya penuh tanya. Tapi kekaguman jelas tergambar di wajahnya.
"Kok, ngga bilang bilang," seru Maria manja dengan tatapan takjub.
"Keren banget," lanjut Maria.
"Emil kasih seribu persen," puji Emilia dengan dua jari jempolnya yang teracung.
"Kakak hebat," puji Zeta penuh haru. Sama sekali ngga nyangka, dalam keterpurukan, ketiga kakak laki lakinya masih punya ide brilian seperti ini.
__ADS_1
"Keren, nggak?" tanya Dewa dengan wajah bahagia karena bisa membuat keempat adik perempuan mereka bangga pada mereka.
"Banget," puji keempatnya membuat Bima, Andra dan Dewa tergelak