
Arjuna menggigit pastel goreng yang tadi dikirimkan sepupu kembarnya bersama berkas meeting. Mereka ngga sempat bertemu karena Arjuna sudah berada di dalam ruang meeting. Adik kembarmya menitipkannya pada sekretarisnya. Termasuk kue yang dimakannya yang dikemas rapi dalam kotak plastik.
Sebenarnya Arjuna hanya ingin ke ruangannya sebentar, menukar jam tangannya. Tapi matanya menatap kotak berisi pastel yang tampak enak.
"Ngga nyangka si kembar bisa buat yang beginian," gumamnya kemidian memasukkan pastel keduanya.
Padahal sepertinya agak rumit cara menyatukan kedua sisinya. Arjuna ngga yakin kalo jari jari adik sepupu kembarnya terampi dan bisa menghasilkan lipatan yang rapi seperti pada pastel ini.
Padahal dia akan makan siang di luar. Tapi pastel ini begitu menggugah seleranya.
CEKLEK
"Woi, lama banget ambil jam tangan," seru Galih yang membuka pintu tanpa mengetuk lebih dulu. Di belakangnya ada Arby dan Mars. Arjuna hanya menatap datar. Sudah ngga kaget akan kebiasaan sahabatnya.
"Lo dapat kiriman makanan?" tanya Galih sambil mengambil satu biji pastel dan mengamatinya sebentar.
"Kayaknya enak," ucapnya kemudian menggigit sebagian pastel itu.
"Enak?" tanya Arbi sambil mengambil satu lagi yang tersisa tanpa mempedulikan tatapan kesal Arjuna.
"Enak," ujar Galih ngga jelas karena mulutnya penuh dengan pastel.
"Lo mau? Kita parohan?" tanya Arbi sambil melihat Mars yang langsung menggelengkan kepalanya.
Just pastel, batinnya santai.
Arby pun mulai menggigit pastelnya.
Iya enak, batinnya senang.
Ngga nyangka. Ini pastel premium, batinnya lagi.
"Lo cuma bawa dikit?" protes.Arby begitu pastelnya udah ketelan semuanya.
"Si kembar yang bawa," jelas Arjuna sambil memakai jam tangannya.
"Apa si kembar yang buat?" tanya Galih ngga percaya.
Kemarin pempeknya lumayan, sih, batinnya mengingatkan.
"Bilang sama Cila Cleo, gue pesan tiga puluh buat besok," seru Arbi membuat alis ketiganya berkerut.
__ADS_1
"Untuk apa sebamyak itu?" tanya Mars heran.
"Besok ada acara di rumah. Tante sama om gue datang dari Surabaya. Mereka penggemar pastel."
"Ooo," ucap Mars mengerti.
"Bukannya lumpia?" cetus Galih asal.
"Itu Semarang bego," sarkas Arby membantah.
"Kalo Surabaya ya rawon setan," imbuh Galih lagi.
"Iyaa, lo setannya," maki Arbi kesal, ketiganya pun mengetawainya tergelak gelak.
"Hubungi aja sendiri," tukas Arjuna setelah puas tertawa.
"Lo, gimana, sih. Kata lo kita ngga noleh dekat dekat sama si kembar," seru Arbi menyindir.
Arjuna hanya mendengus.
"Oiya. kemarin gue sama Mars ketemu Emilia," usik Arbi mulai dengan serangan gangguannya. Mars hanya menyeringai melihat raut datar Arjuna berubah.
"Pacarnya. Dia sama tiga sepupunya. Cantik seksi semuanya. Badas lah," lanjut Arbi sambil melirik Arjuna yang mulai mengeraskan rahangnya.
Arbi pun tersenyum miring. Dia berhasil memancing kemarahan singa.
"Ketemu dimana?" tanya Galih tertarik. Mereka berempat memang sangat cantik dan seksi. Siapapun pasti tertarik melihatnya.
"Habis ngeboring mall. Brand brand terkena semua paper bagnya. Kata sepupunya lo ngasih dia mastercard yang banyak banget isinya, ya. Anjiir, lo murah hati banget," kompor Arbi tergelak. Mars menarik sudut bibirnya ke atas, sedangkan Galih menatap Arjuna bingung.
Kapan mereka bertemu lagi ya, batin Galih.
Padahal mereka sekarang dalam mode pencarian gadis itu. Malah dia nongol di depan Arbi dan Mard begitu saja.
Arjuna menatap Arbi dan Mars bergantian dengan sorot penuh selidik.
Kapan gue ngasih dia mastercard gue, bodoh, maki Arjuna kesal. Dia malahan belum ketemu lagi dengan Emilia.
"Boleh, dong, gue dekatin sepupunya," lanjut Arbi lagi di tengah tawa mengejeknya.
"Tapi sepertinya kita juga harus membiarkan ketiga sepupunya memakai mastercard kita," lanjutnya lagi masih terus tertawa. Hatjnya senang membuat wajah Arjuna menegang. Sahabatnya sudah terusik. Sangat jarang Arjuna maen pake hati dengan perempuan. Makanya Arbi senang banget berhasil mengusiknya.
__ADS_1
Galih saling pandang dengan Arjuna. Sementara Mars tetap berdiri santai. Tapi matanya pun menatap.Arjuna lekat. Berkat Arbi, dia sedikit tau kalo Arjuna terganggu mendengar pertemuan mereka dengan Emilia.
Lo dalam bahaya, batin Mars.
"Dia bilang kalo gue ngasih dia mastercard?" tanya Arjuna ingin menegaskan kembali.
"Sepupunya yang ngasih tau. Emilia ngga banyak omong," jelas Arbi sangat menyakinkan.
"Hemn," dengus Arjuna perlahan. Dia makin penasaran siapa gadis itu. Dari keluarga terpandang mana. Bahkan informannya belum mendapatkan kejelasan nama keluarganya.
Benar kata Galih, gadis itu bukan dari keluarga sembarangan. Mereka bisa memanipulasi data.
"Oh iya, sepertinya Bima belum menyadari kalo desain hotelnya sudah kita boikot," tukas Galih membuka topik lain karena melihat ketidak senangan di wajah Arjuna.
"Ya," sahut Arjuna datar.
"Lo masih melakukan hal kotor?" Mars menggelengkan kepalanya ngga habis ngerti.
Sampai kapan ini akan berakhir. Bahkan demi sahabatnya sejak kecil, Mars tega memutuskan tali kasihnya dengan Arinka. Mars tau, Arinka dari keluarga Sagara. Hanya saat ini dia bingung untuk mengatakan pada Arjuna, kalo Emilia juga dari keluarga Sagara. Itu yang mengganggu pikirannya dari kemarin.
Dia juga sangat bingung, Emilia pasti sudah tau siapa Arjuna. Kenapa dia mau jadi pacarnya. Bahkan bertingkah mesra seperti malam itu di hadapan mereka. Bahkan dia menerima mastercard Arjuna. Laki laki yang harusnya dia jauhi.
"Biar saja. Dia pikir akan berhasil dengan mudah memdapatkan tender itu," kata Arjuna dengan nada sangat dingin. Suasana berubah hening. Mereka terdiam. Bahkan Arbi menutup mulutnya. Dia ngga suka suasana ini. Suasana Arjuna terbalut dendam yang ngga berkesudahan.
"Bima sepertinya sudah ngga mempedulikan yang lo lakukan," tambah Mars berusaha mencairkan hati sahabatnya.
Mars ngga bisa membayangkan Arjuna tau kalo Emilia adalah keluarga Sagara. Dia yakin, belum ada yang tau siapa sebenarnya Emilia. Hanya dirinya. Itupun secara ngga sengaja.
"Gue akan terus menekan dia dan perusahaan sialannya. Mereka harus kembali terpuruk," kata Arjuna penuh dendam. Ketiganya terdiam, sibuk dengan pikiran sendiri sendiri. Suasana berubah menjadi kaku.
Arjuna ngga mungkin bisa memaafkan perbuatan kakek Bima yang menyebabkannya kehilangan kakeknya secara mendadak. Bahkan neneknya pun ikut meninggal karena serangan jantung pada hari yang sama.
Walaupun kakek Bima juga sudah meninggal di dalam penjara, hatinya masih mendendam, sama seperti papanya yang kini sedang berobat keluar negeri ditemani mamanya karena penyakit jantungnya.
Papanya sudah menghabiskan banyak waktu untuk menjatuhkan keluarga Sagara, baik secara mental maupun materi. Dan sempat berhasil. Mereka sempat berpesta melihat kehancuran itu.
Tapi kini kebencian dalam dadanya muncul kembali. Grup Sagara mulai bangkit dan mulai mensejajarkan dirinya lagi dengan mereka. Rasanya benci sekali melihat grup Sagara bisa bangkit dari keterpurukan mereka setelah beberapa tahun yang lalu mereka kandas.
Tugasnya sekarang menggantikan papanya untuk menghancurkannnya lagi. Sampai jadi debu.
Mars tau dendam dalam darah Arjuna masih membara. Ketakukan Mars hanya satu, Arjuna akan memyakiti gadis itu kalo dia tau gadis itu adalah Emilia Sagara.
__ADS_1