Love U Like FIRE

Love U Like FIRE
Kenyataannya


__ADS_3

"Putraku sudah setuju. Bagaimana putrimu?" tanya Arga Taksaka saat menghubungi sahabatnya melalui ponselnya.


"Vania juga setuju," balas Sujatnata girang. Akhirnya mereka bisa berbesanan.


Arga Taksaka tertawa senang.


"Syukurlah," selanya diantara derai tawanya.


"Ya. Hubungan kita jadi lebih dekat, " tawa Sujatnata.


Arga Taksaka.menganggukkan kepalanya walau tau sahabatnya ngga akan melihatnya. Dia lega bisa membuat putranya bisa berpaling dari putri Revi Sagara.


*


*


*


"Juna, kamu setuju? Tante pikir kamu tertarik dengan Emilia," cecar Tante Carol penuh protes.


Arjuna yang berada di kamarnya bersama Galih hanya bisa saling pandang.Tantenya langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa mengetuk pintu dahulu. Kini malah duduk di hadapannya dengan sorot mata ngga terima.


"Ngga pernah kamu seperhatian gitu sama perempuan. Tante pun sangat menyukai Emilia. Dia cantik, baik, dan pintar cooking. Kesehatan kamu aman bersamanya," celoteh tante Carol panjang lebar. Sepasang matanya masih menatap Arjuna dengan perasaan kesal.


Arjuna ngga menjawab. Dia akui apa yang dikatakan tantenya benar. Tantenya selalu tau apa yang ada dalam hatinya. Tapi yang tantenya ngga tau kenyataan tentang Emilia.


Arjuna menghela nafas panjang. Dia ngga bisa memprediksi gimana jika tantenya sampai tau.


"Sudah putus, ma," seru Cleo yang juga ikutan masuk ke kamar Arjuna dan langsung duduk di samping mamanya.


"Kamu tau dari mana, Cle?" kaget Carol-mamanya ngga percqya. Dia memandang mereka bertiga berganti ganti.


Cila mana ya? Kok, ngga ke sini? batin Galih sedikit kecewa.


"Kita ketemu di Bali, ma," sambung Cleo lagi tanpa mempedulikan tatapan protes Arjuna.


"Yang benar?" tanya Carol kembali kaget.


Jodoh mereka. Tuhan sudah mengaturnya, batinnya ngga percaya.


"Iya," tegas Cleo.


"Kenapa mereka putus?" tanya Carol cepat. Dia sangat penasaran, apa yang menyebabkan Arjuna menyia nyiakan gadis seperti Emilia.


Tanpa sadar beliau menatap gemas keponakannya yang bodoh dalam soal asmara.


Bisa bisanya otak encer bisnisnya berbanding terbalik dengan otak asmaranya, batin Carol gusar.


"Mereka.....," ucap Cleo mengambang. Dia menatap ke arah Galih yang menggelengkan kepalanya. Kemudian menyadari tatapan kesal kakak sepupunya padanya membuat nyalinya yang menggebu gebu jadi ciut.


"Mereka kenapa?" tanya Carol tambah penasaran.


"Mereka ngga cocok, tante. Itu kata Juna," sambar Galih cepat.


Tadi mereka berdua sudah membahasnya. Arjuna akan menutup kisah cinta bodohnya rapat rapat, dan Galih setuju sebelum tante Carol menerobos masuk.


Cleo menatap kesal pad Galih.


Kenapa ngga terus terang.

__ADS_1


Cleo ngga suka kalo mamanya dibohongi.


"Kenapa ngga cocok? Kamu terlalu pilih pilih, Juna," semprot Carol mulai marah.


Gadis sesenpurna itu ngga cocok katanya? batin Carol.ngga habis pikir.


"Sudahlah, tante. Aku sudah setuju dengan permintaan, papa," sahut Arjuja pelan. Dia sangat lelah sekarang. Capek fisik karena kalah tender dan perjalanannya, juga capek hati karena masalah perempuan.


"Harusnya kanu menolak," kesal.Carol.masih ngga terima.


"Aku ngga mau jantung papi kumat, tante. Kasian mami ntar," ucap Arjuna mencoba meredakan kekesalan tantenya.


Carol menghela nafas kasar.


Selalu begitu, batinnya semakin marah. Kakaknya terlalu pintar memanipulasi perasaaan Arjuna.


"Kamu bisa menolaknya. Soal papimu, ada mami dan tante yang ngurusin," ngeyel Carol gusar.


Kemudian dia mengambil ponselnya dan mencoba menelpon.


"Kenapa.ngga diangkat, ya, " desisnya bingung sambil menatap ponselnya. Beliau masih mencoba menelpon lagi, tapi tetap juga tidak diangkat.


"Mama telpon siapa?" tanya Cleo heran, merasa aneh dengan kelakuan mamanya yang sekarang sibuk dengam ponselnya.


"Emilia. Tapi ngga diangkat sama dia. Tumben banget. Apa dia lagi sibuk?" sahut Carol sambil menatap putrinya.


"Mama ngapain telpon Kak Emilia?" tabya Cleo jadi kesal.


"Mau nanyalah, kenapa Emilia meninggalkan kakak kamu yang sangat pintar ini," sindir Carol tajam.


Ketiganya saling pandang. Cleo dengan tatapan protesnya, sedangkan Arjuna dan Galih dengan tatapan tegas melarangnya.


"Mama telpon siapa?" tanya Cila mengagetkan mereka. Gadis ini pun sama, langsung masuk tanpa permisi dulu. Sedari tadi Cila memcari mama dan kembarannya yang menghilang. Karena itu dia langsung senang ketika tau kalo mereka yang dicarinya ada di kamar kakak sepupunya.


"Emilia," jawab mamanya sambil terus menelpon.


"Percuma ma," jawab Cila yang langsung membuat keempatnya menoleh dengan tatapan berbeda.


"Kok, kamu ngomong, gitu?" protes Carol mulai curiga. Dia merasa kedua putrinya tau sesuatu yang dirinya ngga tau.


"Iyalah, Kak Emilia-," kata Cila terjeda.


"Cila," potong Arjuna kesal.


Dia jadi kesal karena anggota keluarganya selalu mencampuri urusan asmaranya.


"Mama harus tau, kak," sergah Cila ngga takut akan sorot intimidasi Arjuna. Ada mama, Cleo dan khususnya Kak Galih. Dia pasti selamat, yakin Cila dalam hati


"Apa yang mama harus tau?"


"Cila?"


"Cleo?"


"Juna?"


"Galih. Ayo jawab," sentak Carol jengkel karena ketiganya ngga juga bersuara. Galih yang dapat rembesan kemarahan tante Carol mulai mengurut dada.


"Arjuna aja yang kasih tau, tante," jawab Galih menghindar membuat Arjuna jadi dongkol.

__ADS_1


"Kalian semua kenapa, sih. Mama jadi pusing," ketus Carol frustasi.


"Biar Cila aja yang kasih tau."


"Jangan. Biar Kak Juna aja," larang Cleo sambil menggelengkan kepalanya.


Carol menarik nafas berulang kali untuk meredam bibit bibit kemarahan yang mulai bersemi di dadanya. Beliau pun bangkit berdiri.


"Cleo, Cila. Mama ngga akan kasih kalian uang saku selama enam bulan. Semua fasilitas mama tarik," kata Carol dingin tapi sukses membuat Cila dan Cleo kelabakan.


"Jangan gitu, dong, ma," rengek Cila sementara Cleo hanya menghembuskan nafas kesal.


Kalo cuma tiga bulan dia masih bisa bertahan. Tapi enam bulan?


Cleo melirik kakak sepupunya yang seolah ngga peduli.


Ngga mungkin, batin Cleo ngga yakin kalo Arjuna akan menanggung biaya hidup mereka berdua. Apalagi gaya hidup Cila hedon banget. Cleo yakin, sebulan pun Cila ngga akan sanggup bertahan.


"Terserah mamalah," balas Carol cuek.


Cila menatap Cleo minta persetujuan. Setelah melihat kembarannya menganggukkan kepalanya, Cila pun mengambil nafas panjang panjang dan menghembuskannya pelan pelan.


Bodo amat Kak Juna marah, batinnya kesal sambil melirik kakak sepupunya yang ngga peduli akan kelangsungan hidup mereka selama enam bulan ke depan.


Sementara Galih mengulum senyum tipisnya. Wajah bingung Cila semakin menarik buatnya.


"Oke Ma, Cila kasih tau alasannya," katanya menjeda sambil melirik Arjuna.


"Huh," dengusnya pelan melihat Arjuna tetap ngga peduli.


Carol menahan senyum melihat tingkah kelabakan putrinya yang ngga bisa hidup susah. Perbedaan paling mendasar antara Cila dan Cleo.


"Kak Emilia itu... dia....," agak ragu Cila.meneruskan ucapannya.


"Ya?" Carol merasa heran dengan perasaan aneh yang menyelinap tiba tiba.


"Ehem, mama, kak Emilia itu, putri keluarga Sagara."


Huft, Cila membuang nafas lega.


Akhirnya kalimat sakti itu bisa dia selesaikan juga, batinnya.


Sedetik


Lima detik


Dua puluh detik


Semenit


Belum ada reaksi mamanya. Suasana hening.


Cila dan Cleo menatap mamanya heran. Wanita paruh baya yang masih cantik itu diam seperti patung.


"Ma," panggil Cleo pelan.


Tapi reaksi Carol membuat mereka semua kaget karena melihatnya tersentak.


"Eh," kaget Carol. Kemudian beliau terduduk di samping kedua putrinya. Rasa ngga percaya masih terlihat jelas di wajah cantikya.

__ADS_1


"Ngga mungkin," desis Carol. Terbayang wajah cantik.dan sikap manis Emilia. Matanya pun memanas.


__ADS_2