Love U Like FIRE

Love U Like FIRE
Lancar Jaya


__ADS_3

"Sakit, Mil. Sampai merah gini," omel Arinka sambil mengelus jari jarinya yang kemerahan.


"Kamu ngga kira kira mencengkeramnya. Tanaga kamu super banget," sungut Maria dengan wajah meringis.


Zeta dan Emilia terkikik. Dalam hati Zeta bersyukur karena tangannya ngga menggenggam jemari Emilia. Tapi sekarang sudah menjadi tugasnya menjadi supir karena kondisinya paling fit.


"Kalian bisa rasakan, segitu tuh sakitnya aku," kikik Emilia.


"Huuuh," Arinka dan Maria kompak memdengus dongkol.


Tapi Emilia mgga bohong, saat pergelamgan kakinya yang terkilir ditarik, saat itu juga Enilia merasa kalo tulang tulang di kakinya mau lepas semua. Sakitnya minta ampun. Untung ada dua tangan yang bisa dicengkeram. Menyalurkan sebagian dari rasa sakitnya. Hanya sebagian.


"Untung kuku lo ngga panjang. Kalo iya, pasti kita udah luka luka ya, maria mercedes," imbuh Arinka masih mengelus jari jari lentiknya yang menjadi korban kdrt.


"Iya," sahut Maria ikut bersyukur. Andai saja kuku Emilia seperti kuku mereka, pasti sudah berdarah darah jari jari mereka.


"Makanya gue paling rajin potong kuku. Biar ngga cacingan," sarkas Emilia memghina membuat Arinka yang juga memanjangkan kukunya jadi gedeg.


"Kuku kita bersih, kali. Dirawat di salon tau," sergah Arinka ngga terima dikatai kukunya mengandung cacing.


"Iya, Mil. Kita, kan rajin medi pedi," tambah Maria sewot..Untung aja kuku kuku indahnya ngga ada yang patah akibat cengkeraman kuat nenek sihir Emilia.


"Besok temenin kita nyalon, Mil. Lo lihat, betapa telatennya kita ngurus kuku," kata Zeta ikut menguatkan kata kata kedua sepupunya tentang kuku kuku indah mereka.


"Ogah," tolak Emilia sambil menggelemgkan kepalanya


"Yah, terserah lo," timpal Zeta berusaha mengakhiri perdebatan ngga penting., ngga mau ribut. Dari dulu masalah antara mereka cuma kuku. Emilia alergi banget melihat kuku kuku indah ketiganya yang panjang panjang dan artistik.


"Oh iya, Mil, lo beneran sudah sembuh ya. Salut gue. Pantasan Bu Santi punya hampir satu juta followers. Tok cer banget," puji Zeta menggebu gebu.


"Banyak yang komen soal kehebatan pijatannya. Videonya pun banyak yang viral. Harusnya tadi kamu divideokan," sambung Zeta enteng walaupun mendapatkan lirikan sangar tajam dari ketiga sepupunya.


"Tadi ngga ada cctv nya, kan?" tanya Maria mulai khawatir. Kalo ada, Maria ngga akan bisa nyembunyiin lagi wajahnya yang pasti sangat jelek saat kesakitan dan suara teriakannya yang menggelegar.


"Ngga ada. Gue udah periksa pas masuk," sahut Arinka menenangkan hati Maria. Dia juga ngga bisa bayangin rekan rekan kerjanya tau wajah jeleknya saat marah dan kesakitan tadi.


"Lagian yang upload pasien pasiennya, kok. Ngga pernah dari cctv. Lo pikir uji nyali," sarkas Zeta membuat Maria nyengir.


"Hebat Bu Santi. Klinik pengobatannya pun jadi tambah rame," komen Arinka. Tadi ketika mereka keluar dari ruangan, pasien bu Santi sang tukang pijat viral bertambah lagi.


"Apq Bu Santi bisa kelola endorsmennya,?" tanya Maria kepo.

__ADS_1


"Paling anak atau cucunya yang melek sosmed," komen Arinka lagi. Tapi dalam hati dia bersyukur karena sepupunya langsung bisa jalan walau masih cukup lemah. Pasti masih shock akibat tarikan maut itu. Yang penting, misi mereka lancar jaya.


"Iya ya," sahut Maria sambil manggut manggut.


"Tapi hebat ya, tukang pijat punya instagram. Gue aja malas bukanya kalo ngga penting penting banget," timpal Emilia.


"Mungkin anak apa cucunya yang buatin setelah viral," kata Maria sok tau.


"Sayang banget ngga di kelola ig lo, Mil. Jaman sekarang kudu medsos, honey," hina Zeta sambil fokus melihat ke arah depan.


"Lo ngga maen sosmed, Mil?" timbrung Maria heran.


"Pantasan sosmed lo jarang banget update," sambung Arinka heran.


Jaman gini ngga maen sosmed, kamu tinggal di hutan yang ngga ada sinyal? sinis Arinka membatin.


"Update juga, paling kalo gue mau jual jual apa gitu, baru pantengin marketnya," jelas Emilia cuek.


"Emang lo masih jualan kue kue jadul?" tanya Arinka ngga percaya. Heran dia sama sepupunya. Maen sudah sampai luar negeri, tapi tetep aja suka mengolah kue kue tradisional. Padahal kue bahkan roti luar negeri sangat enak dan menggugah selera. Kalo kue kue jadul, kan, yang suka hanya orang orang yang sudah berumur saja.


"Iya, isi ig lo klepon, cenil, lupis. Blackforesr ngga pernah," sindir Maria yang beberapa kali membuka ig sepupunya yang berisikan promo kue kue jadulnya.


"Aneh ya. Kalo aku sukanya brownis, maccaron, roti, blackforest. Kue gitu ya ngga masuk level kita," ledek Arinka.


"Coba, deh, kalian cicipi. Kalian pasti ketagihan," kata Emilia menawarkan.


"Ogah," jawab ketiganya serentak. Emilia terkikik lagi melihat raut kesal ketiga sepupunya.


"Paling orang orang tua yang suka kue kue jadulmu, Mil," kata Zeta ikut meledek dalam.tawanya. Emilia pun ikut tertawa.


"Memang, sih. Mungkin mereka sekalian nostalgia," kata Emilia setuju dengan pendapat sepupunya.


Ya, kue kuenya membawa mereka ke masa lalu. Mereka bernostalgia mengingat kenangan saat mereka muda dulu.


"Berarti kalo nostalgia kita blackforest, dong," tawa Maria diikuti ketiganya.


"Ngomong ngomong soal laki laki yang nolong lo, Mil, gue seperti pernah kenal," kata Arinka mengganti topik. Rasa penasarannya akan laki laki itu berputar terus di kepalanya. Dia butuh jawaban segera.


DEG


Emilia terdiam dan menatap sepupunya heran.

__ADS_1


"Apa dia rekan bisnis mas Bima?" tanya Emilia spontan.


"Mungkin, tapi aku beneran lupa," sahut Arinka sambil memejamkan mata, berusaha mengingat.


"Ngga mungkin rekan bisnis mas Bima. Dia aja kerja di Taksaka grup," decih Zeta.


"Oh iya, tadi dia mengatakan stafnya yang akan membeli sandal buat kamu. Dia bos di situ?" Maria ikut melontarkan praduganya.


"Mungkin. Soalnya mereka semua patuh padanya," sambung Zeta setuju. Dia masih ingat, betapa orang orang yang mengikuti laki laki tampan itu sangat menghormatinya.


"Tapi dia terlalu tampan. Sayang kalo bekerja di grup Taksaka," gumam Maria pelan tapi masih sangat terdengar jelas oleh ketiganya.


Ya, dia tampan dan bermulut pedas, batin Emilia kesal.


*Dia memang sangat tampan*, batin Zeta tersenyum simpul.


"Masih banyak laki laki tampan di luar grup Taksaka," kata Arinka mengingatkan sepupunya.


"Iya, sih," kata Maria akhirnya. Zeta dan Emilia hanya diam ngga menyahut.


"Mil, apa kamu sebelumnya pernah ketemu dengan dia?" tanya Arinka curiga, karena keduanya saat itu terlihat punya chenistry.


Laki laki itu sangat perhatian pada Emilia. Ngga mungkin kalo mereka baru berjumpa tadi, kan? batin Arinka penuh tanya


Emilia terdiam. Bingung, apa dia harus cerita? Karena bisa saja dia akan sangat dibenci laki laki itu jika rahasianya yang jatuh dengan posisi sangat memalukan di bandara terbongkar.


"Pernah, kan, Mil?" tuduh Maria karena melihat ekspresi aneh sepupunya. Kali ini ketiganya menatapnya tajam.


"Ya, tadi pagi di bandara. Di ruang bagasi. Dia memgira koper gue miliknya," jelas Emilia ngga terlalu jujur.


"Kamu menggodanya, ya?" tebak Arinka mulai paham.


"Just Kidding," senyum Emilia membuat ketiganya terkikik.


"Pantasan kalian terlihat akrab," ucap Maria mulai mengerti kenapa laki laki itu begitu perhatian pada Emilia. Menggendongnya dan melepaskan sepatu sepupunya sambil berlutut. Seperti pangeran di cerita cinderella.


Betapa beruntungnya, batin Maria.


"Kamu flirting dia? Oh my God," Zeta pun ikut menyuarakan isi hatinya. Sepupunya memang dari dulu selalu menggoda laki laki tampan yang baru dia kenal. Just flirting, ngga lebih. Biasanya hanya untuk membuat laki laki itu salah tingkah, sebagai candaan saja.


"Sepertinya dia cukup tergoda," Arinka pun ngga bisa menghentikan tawanya. Memang Emilia jago flirting sejak dulu, tapi ngga pernah diseriusin. Hanya suka membuat laki laki salah tingkah saja.

__ADS_1


__ADS_2