
"Gue lebih suka yang di sini. Lihat mawar dan anggreknya," puji Maria ketika mereka berkeliling dan berhenti di taman mawar dan anggrek.
"Iya," sahut Zeta setuju.
"Mil, kalo si Arjuna itu ketemu lo lagi, gimana?" bisik Arinka yang posisinya agak menjauh dari Zeta dan Maria.
"Terus terang, gue bingung, Rin," Emilia balas berbisik. Perasaannya ngga tenang. Peristiwa semalam sangat mengganggu pikirannya.
"Lo beneran suka sama dia?" bisik Arinka lagi dan dia ngga perlu jawaban saat melihat wajah merona Emilia.
"Ngga usah di jawab," bisiknya lagi kemudian melemparkan pandangannya jauh ke arah aneka mawar dan anggrek yang ditata sangat indah.
Emilia sangat berterimakasih karena sepupunya tidak mengulik hatinya lebih dalam lagi. Dia masih meratapi betapa laki laki itu telah menikmatinya. Emilia pun ngga bisa munafik kalo dia juga suka.
Tanpa sadar Emilia menghela nafas lagi, sangat panjang.
"Bisakah kita pulang? Banyak yang harus dipersiapkan buat besok," kata Emilia sambil menatap Arinka.
"Oke, kamu kayaknya butuh istirahat buat nenangin diri. Kita pulang," putus Arinka mengerti.
"Zeta, Maria, kita pulang ke rumah nenek aja. Tiduran. Malam baru mikir snack box nya," tukas Arinka.sambil.mencolek kedua sepupunya.
"Oke," jawab Maria cepat.
"Siap, nyonya kendang," kekeh Zeta dan sambil tertawa ketiganya berjalan ke parkiran.
Tapi langkah keempatnya terhenti ketika melihat rombongan yang baru datang. Ada Arjuna dan si gondrong juga.
Keempatnya pun kompak berjalan memisahkan diri dan berbaur dengan yang lain. Mereka sudah pernah melakukan ini, jadi sudah mengerti apa yang harus dilakukan.
"Gue seperti ngelihat pacar pura pura lo," bisik Galih sambil menatap ke arah rombongan pengunjung yang berjalan keluar dari resto.
Arjuna ngga menjawab, dia tadi juga melihat keempat gadis itu, tapi sekarang mereka sepertinya menghindar dengan sangat cepat.
Ramenya orang orang menyulitkan mata elangnya mencari gadis cabe cabeannya.
"Aku pergi bentar, coba lo tangani yang lainnya," ucap Arjuna kemdian beranjak pergi. Tujuannya jelas, parkiran mobil.
Dia terlambat ketika sampai di parkiran, gadis itu bersama salah seorang sepupunya baru masuk ke dalam mobil yang langsung melaju pergi
Siapa mereka sebenarnya?
Sayangnya Arjuna ngga dapat melihat nomer plat mobilnya karena jaraknya masih cukup jauh dari jangakuan mata elangnya. Tapi dia tau, mobil yang digunakan adalah nobil mewah keluaran Eropa.
__ADS_1
Kenapa mereka selalu muncul di resto outdoornya. Sudah dua resto mereka yang dikunjungi setahunya. Emgga tau dua resto lainnya, apakah sudah dikunjungi apa belum.
Arjuna menarik nafas panjang. Dia maupun Galih bahkan temannya baru melihat keberadaan gadis ini.
Apa mungkin mata mata Sagara Grup?
Akhirnya Arjuna memutuskan untuk kembali setelah Galih menelponnya.
Sementara di dalam mobil keempat gadis itu cekikikan.
"Hampir aja ketahuan," kekeh Zeta. Tadi dia dan Emilia terakhir masuk mobil. Untungnya Arinka sudah menghidupkan mesin mobil dan siap tinggal landas.
"Dia lihat kita rupanya," lanjut Maria terkekeh juga. Rasanya lega sekarang.
"Udah lama ya kita ngga begini," tambah Arinka senang
"Iya," sahut Emilia lega. Dua kali dia hampir tertangkap Arjuna. Entah sampai kapan dia bisa memghindar dari laki laki yang ngga boleh dia dekati itu.
*
*
*
Arjuna ngga menjawab, dia menunggu sampai laptopnya menampilkan gambar pada saat kejadian berlangsung.
Walaupun sulit karema banyaknya pengunjung, tapi karena banyaknya cctv yang dipasamg di tiap sudut restp outdoor nya, tertangkap juga kedatangan gambar mereka berempat.
Tidak ada yang aneh, mereka memfoto dan membuat video kegiatan mereka selama di sana. Tapi terasa ada yang menggelitik nalar Arjuna. Tapi dia bingung mau menjabarkannya.
"Pacar pura pura lo memisahkan diri. Dia memilih maen skateboard dengan heels," tukas Galih sambil.menggeleng gelengkan kepalanya.
"Sebaiknya kita selidiki siapa mereka. Mereka mencurigakan tapi terlihat wajar. Entahlah, aku merasa mereka memata matai resto kita," ungkap Arjuna.
"Oke," sahut Galih yang langsung menelpon asistennya sambil mengirimkan empat foto gadis itu.
"Berikan informasinya sedetil dan secepat mungkin," perintah Galih sebelum menutup sambungan ponselnya.
Arjuna merasa tatapan mata mereka mengitari isi resto *out*doormya. Tapi sikap mereka bisa dibilang wajar, karena banyak pengunjung lain yang juga seperti itu.
"Ganti rekaman cctv barusan," perintahnya membuat Galih langsung memutar rekaman cctv yang kedua.
Karena lebih rame, mereka lebih kesulitan menangkap bayangan keempat gadis itu. Karena ini adalah pusatnya. Gardennya lebih luas dan fasilitasnya lebih komplit. Bahkan ada kolam renang. Apalagi dekat dengan perusahaan mereka.
__ADS_1
"Itu mereka," ucap Galih sambil mempause dan melihat mereka di gazebo.
"Mereka ngga selama di resto kemarin, tapi sempat memfoto taman mawar dan anggrek," kata Galih lagi.
Arjuna ngga menjawab. Dalam hati dia menduga kalo gadis itu seperti ngga betah ber lama lama berada di sana. Ngga seperti di resto pertama yang mereka kunjungi.
"Mereka seperti menyadari kedatangan kita. Lihat. Mereka langsung menisahkan diri," seru Galih kagum. Tanpa isyarat apa pun, sepertinya hal itu sudah biasa mereka lakukan untuk melarikan diri.
Memang wajar Arjuna curiga, batin Galih sambil melirik sahabatnya yang terlihat melamun.
"Mobil mereka berbeda dari yang pertama," sambung Galih lagi ketika melihat keempatnya berhasil melarikan diri dari Bosnya.
"Bisa dicatat nomer plat mobil yang pertama dan yang kedua?" tanya Arjuna sambil mengetukkan jari jarinya di meja.
"Bisa," jawab Galih mengerti. Tentu saja dengan ini akan lebih mudah mengetahui siapa mereka.
"Bisa majukan se jam lebih awal.di parkiran?"
Arjuna benar benar penasaran.
"Oke."
Ngga lama kemudian tertangkap bayangan ketiga gadis yang berdiri di samping mobilnya. Dan ngga lama kemudian sebuah mobil datang. Yang keluar adalah Emilia dari mobil kedua.
"Sepertinya pacar pura puramu terlihat enggan untuk masuk. Kamu mengenalkan namamu padanya tadi malam?" tebak Galih dengan senyum miringnya.
"Iya, nama lengkap."
Galih tertawa sejemak.
"Sepertinya dia ngga tertarik lagi dengan apa pun yang berhubungan dengannu," decih Galih sinis.
Arjuna ngga menjawab Tapi dia mengiyakan dalam hatinya. Gadis itu sangat jelas menghindarinya. Dia teringat kejadian di lift apartemen. Padahal tinggal sedikit lagi dia mendekati gadis itu, tapi gadis itu malah menekan tombol close. Harusnya dia menahan pintu lift agar ngga tertutup.
"Eh, ada mobil mewah lagi yang datang. Hmm, apa itu supirnya?" Galih terus berbicara sambil matanya terus menyoroti layar laptopnya.
Begitu juga Arjuna. Mereke melihat dua orang yang datang sangat menghormati keempat gadis itu sebelum pergi membawa mobil gadis cabe cabeannya.
"Gue akan menyelidiki siapa pemilik mobil mobil itu," pungkas Galih sebelum diperintahkan.
"Kelihatamnya mereka keluarga kaya raya dan terpandang. Dilihat dari mobil mobilnya " komentar Galih yang diangguki Arjuna.
"Apa kamu berbuat kasar sampai gadis itu seperti takut bertemu denganmu. Ingat pertemuan kedua, juniormu hampir ditendang gara gara kamu mencium bibirnya," kekeh Galih mengenang kejadian itu. Untung sahabatnya bisa menghindar dengan cepat.
__ADS_1
Arjuna juga tertawa. Dia mengingat perbuatannya di club. Tapi gadis itu juga menikmatinya, batinnya ngga mau disalahkan.