
"Emil belum sempat minta maaf sama papa," kata Emilia sedih sambil mengusap foto Revi Sagara di kamarnya.
"Apa papa tau kalo Emil berhubungan dengan Arjuna? Papa marah sampai kena serangan jantung?" bisiknya lirih. Air matanya menetes lagi.
"Kami sudah ngga ada hubungan apa apa lagi, Pa. Tapi Emil akui, Emil masih suka sama Juna," isaknya pelan.
"Emil minta maaf, Pa. Emil udah niat melupakan Juna. Emil mau buka lembaran baru. Tapi papa sudah pergi meninggalkan Emil."
Kini suaranya mulai bergetar karena bercampur dengan tangisnya yang memilukan.
"Emil salah, Pa. Emil salah."
Emilia pun memeluk foto papanya saat bersamanya waktu dulu dia lulus sarjana. Tangisnya sudah ngga bisa ditahan lagi.
Maria, Zeta dan Arinka yang melihatnya juga ikut menangis. Hati mereka sakit merlihat kesedihan Emilia. Apalagi mereka juga ada sangkut pautnya untuk hubungan Emilia dan Arjuna.
"Om, ini salah kita juga. Maaf, om," lirih Arinka tersedu.
"Maria minta maaf, Om," gumam.Maria serak.
"Zeta juga, Om. Padahal kita sudah beli oleh oleh kesukaan, Om," tambah Zeta sendu.
Tak jauh dari situ nenek dan mama saling pandang dengan mata basah.
"Kurnia, kamu harus kuat. Kita harus kuat," tegas nenek sambil menggenggam erat tangan menantunya.
"Iya, ma," sahut mama dengan suara bergetar. Saat ini keduanya sedang berada di dalam diluar kamar Emilia. Keduanya tercekat melihat keemparnya sedang menangis.
Kemudian keduanya memasuki kamár Emilia.
"Kenapa kalian bertangisan di sini," seru nenek setelah menarik nafa panjang.
Keempatnyq pun menoleh dengan mata basah.
"Nenek pengen makan puding gula merah. Emilia harus buatin," todong nenek langsung.
Emilia ngga menjawab. Air matanya tambah deras mengalir. Puding gula merah adalah kesukaan nenek dan papanya.
Mamanya pun beranjak memeluk Emilianyang langaung mengeraskan suara tangisnya. Sedangkan ketiganya memelukmsang nenek.
"Papa sudah memaafkan segala kesalahan Emil. Yang papa mau, Emil ngga berubah. Tetap ceria dan penuh semangat," bujuk mamanya lembut. Dia pun mengusap lembut rambut putri kesayangannya dengan air mata yang kembali mengalir.
Sayang, kepergianmu terasa sangat berat untuk kami, batinnya sendu sambil menatap rindu foto suaminya yang dipegang Emilia.
Tangisan Emilia bukan mereda, malah semakin menjadi dan menyayat hati yang mendengarnya.
__ADS_1
*
*
*
"Aku akan memanggil nenek dulu ya. Pudimgnya sudah mengeras," pamit Emilia setelah menghidangkan puding gula merah di atas meja makan.
"Oke," sahut Zeta sambil memberikan jempolnya. Dia, Maria dan Arinka sedang menata meja makan dengan makanan seperti puding gula merah, es buah, dan beberapa loyang cake.
Nenek yang meminta, setelah itu mereka akan mempersiapakan acara pengajian buat papanya yang akan diadakan setelah pukul tujuh malam.
Nenek ngga ingin makanan berat, lagi pula mereka semua sudah kehilangan selera makan.
"Nek, ma, tante, ayo, kita ke ruang makan," sapa Emilia pada mereka yang sedang berkumpul di ruang tamu, tempat acara pengajian yang akan berlangsung.
"Iya, sayang. Tante cari om mu dulu, ya," kata istri om Ravi sambil bangkit berdiri.
"Iya, Revo juga. Eh, itu Andra sama Dewa," tukas mamanya ketika melihat kedua keponakan laki lakinya yang memasuki rumah.
"Sudah beres semua persiapan acaranya?" tanya nenek begitu kedua cucunya mendekat.
"Beres, nek," sahut Dewa sambil menautkan jari telunjuk dan jempolnya membentuk huruf o.
Mereka berdua mendapat tugas mengundang ustad dan tetangga, juga mengurus katering.
"Biar Emil aja yang nyari Om, tante," kata Emilia yang diangguki kedua tantenya.
"Iya. sayang," kata kedua tantenya berbarengan.
"Pasti mereka di ruang kerja," omel neneknya lagi membuat mereka mengulaskan senyum tipis.
"Iya nek," balas Emilia sambil melangkah menuju tangga. Karena ruang kerja berada di lantai dua, bersebelahan dengan kamar om dan sepupu laki lakinya.
Emilia yang tanpa beban melangkah ringan mendekati pintu yang setengah terbuka itu. Tapi langkah kakinya yang akan memasuki ruangan itu menjadi berat seolah ditahan batu besar. Hatinya mencelos dan air matanya tumpah begitu saja saat mendengar perdebatan di dalam ruang kerja.
"Ini ngga bisa dibiarkan. Om akan lapor polisi," seru Ravi Sagara ngga terima. Suaranya terdengar marah.
"Tapi dia akan mengekspose foto Emil dan Juna, Om," tolak Bima cepat.
"Biar saja semua tau kalo putranya mengincar Emil. Di foto sudah jelaskan terlihat," sergah Ravi ngotot.
"Tapi hati Emil bisa hancur," kata Revo menengahi. Kata kata Om Revo majleb membuat Om Ravi terdiam.
"Foto bisa diedit, om," tambah Bima dengan merendahkan suaranya.
__ADS_1
Om Ravi menghembuskan nafas dengan suara keras. Betapa rongga dadanya sudah penuh dengan kemarahan yang ngga bisa beliauq lampiaskan.
"Sampai kapan kita membiarkan kesewanangan mereka. Kakak sampai tiada karenanya," seru Om Ravi gusar setelah beberapa menit lamanya terdiam.
"Aku akan menjaga keempat adikku lebih ketat lagi. Ngga akan kubiarkan para bajingan itu mempermainkan mereka. Terutama Arjuna!" tegas Bima geram.
Dia tau, ketiga sepupunya cukup dekat juga dengan teman teman dekat Arjuna yang orang tuanya terlibat dalam penghancuran perusahaan Sagara dulu.
Apalagi keempat adik adiknya sudah berjanji akan menjauh dari orang orang yang berhubungan dengan Taksaka grup.
"Tapi kelakuan Arga Taksaka sudah kelewatan. Anaknya yang salah, kenapa dia harus mendatangi kakak dan menyebabkan kakak terkena serangan jantung," seru Ravi masih dengan amarahnya yang membara dalam dirinya.
"Kita punya bukti cctv. Kita bisa masukkan dia sehari sampai dua hari di sel. Tapi kita ngga bisa melakukannya," tambahnya lagi dengan nada frustasi.
Kakak keduanya benar. Jika Emilia sampai tau, hatinya akan sangat hancur. Pasti rasa bersalah akan menghantui seumur hidup Emilia. Gadis itu bisa depresi.
Belum lagi nanti si Sujatnata akan mengekspose kedekatan Emilia dengan Arjuna di acara acara gosip di media eletroniknya. Pasti sosial media akan penuh dengan berita ini. Segala berita akan diatur sesuai konsep mereka sendiri yang tentunya akan menyudutkan Emilia dan keluarganya. Emilia bisa mengalani depresi berat.
Ravi yakin, Taksaka dan konco konconya akan menggunakan trik yang sama seperti beberapa tahun yang lalu untuk menghancurkan keluarga mereka lagi. Tentu saja hal ini sangat disadari mendiang kakaknya.
Saat itu mereka bertiga bersusah payah mengembalikan kejayaan perusahaan keluarga hingga seperti sekarang.
Sungguh licik Taksaka sialan itu, geramnya dalam hati.
BUG
Ravi pun meninju tembok untuk melampiaskan kekesalannya. Buku buku jarinya pun memerah. Ngga ada sakit yang beliau rasaan di tangannya. Tapi rasa sakit itu bersemai.di hatinya.
"Ravi, kakak harap, jaga emosi kamu. Kita harus tetap tegar. Jangan aampai kita salah langkah lagi," kata Revo sambil menepuk pundak adiknya yang emosian.
Kembali Om Ravi menghembuskan.nafas kasar.
"Baiklah," katanya terpaksa menyerah.
"Sebaiknya kita turun. Nenek.sudah menunggu di meja makan," kata Bima setelah mengecek pesan yang baru masuk di ponselnya.
Om Revo menganggukkan kepalanya. Dia pun melangkah ke luar diikuti Om Ravi dan Bima.
Emilia yang bersembunyi menatap keepegian ketiganya. Dia mengusap air matanya. Kenyataan yang dia dengar membuatnya kaget dan terguncang.
Foto apa? batinnya berusaha mengingat Emilia hanya bisa menduga mungkin fotonya berdua dengan Arjuna waktu mengendarai jetski.
Siapa yang memfoto. Tega sekali.
Emilia kini baru sadar, betapa kejamnya keluarga Arjuna Takska..Terrutama papa Arjuna.
__ADS_1
Hatinya beku sudah, dia akan menyingkirkan apa pun yang menyangkut Arjuna Taksaka. Karena mendengar ini, melupakan Arjuna menjadi ngga sulit lagi.