
"Kalian kenapa ikutan kencan buta," kata Bima memulai interogasinya.
"Sampai minta duda segala," decih Andra sambil menggelengkan kepalanya kemudian memalingkan wajahnya hanya sekedar untuk tertawa.
Keempatnya saling pandang dan kompak terkikik.
"Mau seru seruan aja," ucap Maria mulai merasa santai dengan reaksi Andra yang ngga memarahi mereka.
"Ternyata ready stok," sahut Zeta penuh semangat mengingat dia yang meminta duda.
"Memang benar, kategorinya ragam jenis," sambung Arinka.
Mereka berempat pun tergelak gelak.
Bima, Andra dan Dewa hanya saling pandang sambil menggelengkan kepalanya. Tapi dalam hati mereka senang karena mendengar tawa lepas itu setelah sekian hari dirundung kesedihan.
"Tapi kok, Kak Bima, Kak Andra dan Kak Dewa bisa tau? kata mbaknya top secret," kata Maria bingung plus curiga.
Kali ini ketiga laki laki semakin tergelak, mengetawakan mereka.
"Kalian, sih, punya pernintaan aneh aneh," tukas Dewa.
"CEO nya sampai turun tangan, loh," civit Andra penuh arti.
Bima hanya tersenyum tipis saat di sindir Andra. Dia dan Magdalena bertunangan karena bisnis. Perasaannya pada Magdalena, Bima belum tau. Waktu papanya memintanya bertunangan, dia hanya setuju saja, karena ngga ingin menyakiti hati papanya. Begitu juga Magdalena yang ngga menolak. Mereka hanya sesekali saja bertemu jika ada hal penting. Bahkan menelpon atau mengirim pesan sangat jarang mereka lakukan.
Tadinya Bima heran karena Magdalena menelponnya. Sebagai etika kesopanan, dia pun memgangkat telpon sekaligus meminta ijin sebentar dari meeting yang sedang dipimpinnya.
Bima berasumsi pasti sangat penting sampai gadis itu menelponnya. Karena itu Bima ngga ragu keluar meninggalkan ruang meeting.
"Ya?" tanya Bima canggung. Bima boleh tegas dan supel terhadap klien atau lawan di biidang bisnis. Tapi menghadapi Magdalena, Bima ngga punya amunisi apa pun, hingga dia bisa menjadi lemah dan kaku.
"Maaf mengganggu," terdengar suara lembut itu menyapa.
"Ngga pa pa."
"Sepertinya adik adik kamu merencanakan kencan buta."
"Apa?" kaget Bima dengan lidah kelu.
*Kok, bisa?
"Mereka meminta kriteria duda dan yang udah punya tunangan," tawa renyah Magdalela mengudara membuat Bima terkesiap.
Selama tiga bulan pertunangan mereka, baru kali ini Bima mendengar Magdalena tertawa lepas. Sangat renyah dan merdu di gendang telinga Bima. Bima sampai ngga bisa berkata apa apa.
"Saat aku selidiki ternyata itu Maria yang datang ke kantor kami, adiknya Dewa," sambungnya lagi tanpa menyadari Bima terpesona dengan suara tawanya.
__ADS_1
"Oooh," hanya itu yang bisa Bima katakan. Padahal harusnya dia meninpali dengan candaan.
Kok, bisa?
Aneh aneh saja.
Tapi itu hanya bertahan di dalam hatinya Bima saja.
Suara di seberangnya tiba tiba senyap. Mungkin merasa malu karena sudah sok akrab sendiri tanpa respon.
Bima menyadari kebodohan dan kekakuannya. Pasti Magdalena menyadari responnya yang ngga tertarik dengan topik yang dia bicarakan.
"Mereka akan bertemu di root top resto kamu yang baru buka. Kata sandinya summer. Ok, aku tutup ya," lanjut Magdalena beberapa saat kemudian, dan tanpa menunggu respon Bima, tunangannya pun menutup telponnya.
Bima memandang miris ponsel di tangannya. Padahal dia belum mengatakan terimakasih.
Bima membuang nafas kesal. Kenapa dia ngga bisa santai menghadapi Magdalena. Padahal gadis itu sudah berusaha mencairkan kekakuan di antara mereka.
"Pak Bima? Meetingnya lanjut atau ditunda?" suara Veti, sang sekretaris mengagetkannya.
"Lanjut," katanya langsung berjalan cepat memasuki ruang meeting.
"Kakak harap kalian ngga melakukan hal begini lagi. Lihat, kan, kalian dibohongi," ejek Dewa meremehkan.
"Iya, sih," sahut Maria merasa malu. Dia tadinya sangat bersemangat. Ternyata kabar yang dia dengar diluaran ngga sepenuhnya benar.
"Tapi sepertinya dia memberikan tanggapan, kan," bantah Zeta.
"Mungkin mereka sudah berada di sini, tapi takut mau keluar karena ada para bodyguard kita," omel Maria kemudian tawanya berderai. Kasian juga, padahal sudah reservasi, tapi mereka sendiri yang membatalkannya.
Dasar ngga gentle, cibirnya dalam hati.
Harusnya mereka tetap ke meja ini, karena mereka yang sudah reservasi, omelnya lagi dalam hati.
"Mungkin juga," timpal Andra ikut tertawa. Dalam hati dia sangat penasaran, siapa sebenarnya yang sudah menyanggupi jadi pasanga kencan para sepupunya.
Terutama yang ngaku duda. Apa benar duda belum punya anak?
Rasanya Andra ingin mensleding laki laki duda itu yang pastinya sudah sangat sangat dewasa.
"Kak Andra dan Kak Dewa tau dari mana, sih, kita sedang kencan buta?" tanya Arinka penasaran.
"Dari Bima," jawab Andra santai.
"Haaah?" Keempatnya kaget dan menatap Bima heran.
Rasanya ngga mungkin kakaknya punya kenalan biro yang mengatur berisi orang orang yang kurang kerjaan.
__ADS_1
"Itu punya kak Magda. Jangan marah sama dia. Dia hanya khawatir," kata Bima agak membela tunangannya yang langsung mendapat ledekan dan godaan godaan dari adik dan sepupu sepupu kurang ajarnya.
"Suit suit..." Andra tersenyum sangat lebar.
"Cie cie... siap dibawa nikah nih." Dewa mulai meledek.
"Tumben Kak Magda mau telpon kakak," cicit Emilia mengoda. Emilia kasian lihat Kak Magda yang begitu sabar dengan polah dingin kakaknya. Anehnya dengan yang lain, kak.Bima bisa santai menegur dan mengobrol. Tapi mengghadapi Kak Magda, sikap ramah kakaknya berganti dengan kekakuan yang sukar untuk dicairkan.
"Kak Magda sudah cantik wajahnya, perhatian lagi sama adik adik Kak Bima," sambung Maria dengan suara genit genit manjanya membuat mereka tertawa berderai derai dan Bima pun semakin salah tingkah.
"Padahal Kak Magda suka dikacangin loh sama Kak Bima," kikik Arinka yang sangat tau kelakuan kakak sepupunya. Arinka masih ingat, waktu itu Kak Magda ke kantor, sepertinya mengantar file atas suruhan orang tuanya. Tapi kasian sekali, Kak Bima menemuinya sangat sebentar dengan alasan meeting. Cara memberitahunya pun seperti saat berbicara dengan pegawai trainee yang baru masuk kerja.
"Itulah, Kak Magda sangat sabar menghadapi kakakku," ledek Emilia lagi kemudian tertawa berderai derai bersama sepupu sepupunya. Mereka terlihat sangat bahagia bisa meledek Bima.
Ngga jauh dari situ, dari tempat yang cukup tersembunyi, Arjuna bersama sahabat sahabatnya juga masuk ke restoran itu atas nama reservasi Galih yang menolak kencan buta, tapi tetap ingin ikut melihat kebahagiaan mereka.. Sayangnya rasa kaget lah yang dia dapatkan.
Jodoh memang ngga kemana, batinnya sambil menghembuskan nafas perlahan
"Lo niat bamget buat ngintip kita," sarkas Mars ketika tau meja pojokan yang terlindungi pilar dan sangat efektif untuk melihat tanpa di ketahui Emilia bersama saudara saudaranya
"Akhirnya lo ikutan ngintip," kekeh Galih mengejek membuat Mars tertawa karena ngga bisa mendebat Galih lagi.
Dari tenpatnya berada Mars bisa melihat Arinka. Dia yakin, Emilia dan Arinka lah yang ingin berkencan dengan laki laki kaya yang sudah punya tunangan.
"Mereka membalas lo dengan resto ini," kata Jery sambil menatap Arjuna.
"Gue udah ngga mau ngurusin bisnis Sagara grup lagi," jawab Arjuna cuek tapi fokusnya tetap ke arah Emilia..Gadis itu sangat cantik saat sedang tertawa.
"Papi lo ngga pa pa?" tanya Jery dengan raut wajah ngga percaya.
"Asal gue mau nikah dengan anaknya Om Nata," kata Arjuna dengan nada sinis.
"Putri Om Nata itu cantik banget loh. Pantas di sejajarkan dengan Emilia. Mereka sama sama cantik dan seksi," kata Arby membuat Arjuna menatapnya kesal.
"Uppss, sorry," kekeh Arby melihat tatapan horor Arjuna. Tapi kemudian dia ngakak bersama Mars, Jery dan Galih.
"Gue pergi bentar," kata Arjuna sambil bangkit dari duduknya ketika melihat Emilia berjalan pergi.
"Ya sana. Tuntaskan," seloroh Arby yang disambut tawa Galih, Mars dan Jery. Tapi sama sekali ngga dipedulikan Arjuna yang terus saja melangkah pergi.
"Gue pengen lihat, seberani apa si Juna" kekeh Galih sambil melihat punggung Arjuna yang mulai menjauh.
"Betul," sahut Jery juga tergelak karena menyadari tujuan Arjuna.
"Gue berani bertaruh, Juna bakal nikahin Emilia. Mungkin kawin lari," candanya dalam deraian tawanya.
Hanya Mars yang ngga menyahuti. Dia tetap fokus melihat Arinka yang masih asyik memgobrol dan tertawa.
__ADS_1
Kapan kamu pergi dari situ. Cepatlah pergi, aku akan susul kamu, batin Mars memohon penuh harap.