
Arjuna terdiam.melihat papinya sudah berada di rumah. Bahkan menyambut kedatangannya di teras bersana maminya.
"Akhirnya anak papi yang hebat sudah pulang," kata papinya sambil bangkit dan memeluknya.
"Papi sudah sembuh?" tanya Arjuna merasa aneh. Papinya terlihat gembira. Sedangkan wajah maminya masih hanya diam menatapnya dengan sorot ngga terbaca.
"Berkat kamu papi sudah sembuh," kata papinya jujur, tapi menurutnya Arjuna ngga akan mengerti apa yang beliau maksud dalam ucapannya
"Aku senang kalo papi sudah sembuh," katanya sambil mengurai pelukannya.
"Mami," ucapnya sambil mendekati maminya dan memeluknya penuh rindu.
Arjuna merasa maminya sedang menyimpan masalah yang berat tanpa sepengetahuannya.
"Kamu sehat, sayang?" tanya mami lembut sambil mengusap lembut kedua pipi putra tunggalnya.
"Sehat. Kenapa mami ngga ngasih tau kalo mau datang?" tanya Arjuna sambil melepaskan pelukannya.
"Mami----."
"Sengaja buat kejutan kamu," potong papi cepat sebelum istrinya melanjutkan ucapannya.
Walaupun merasakan ada yang aneh, tapi Arjuna membiarkannya.
"Di mana si kembar?" tanya mami heran. Setahunya si kembar pergi bareng mereka ke Pulau Bali.
"Tadi Tante Carol dan On Verdin menjemput di bandara," jelas Arjuna membuat maminya mengerti
"Om," sapa Galih sambil menyalim tangan Arga Taksaka.
Jantungnya berdebar keras, .karena tau dari papanya kalo Arga Taksaka kecewa padanya karena sudah membiarkan hubungan Arjuna dan Emilia.
"Kamu sehat?" tanya Arga Taksaka sambil memeluknya. Baginya Galih sudah dianggap anaknya sendiri karena sudah bersama Arjuna sejak mereka masih kecil.
"Ya , om," sahutnya agak lega karena ngga merasakan kemarahan dalam suara maupun sikap Arga Taksaka padanya.
Kemudian Galih ganti menyalim mama Arjuna yang juga memeluknya.
"Terima kasih karena sudah menjaga Arjuna," bisik Mama Arjuna lirih.
Galih hanya menganggukkan kepalanya.
"Beristirahatlah, siang ini akan ada tamu istimewa yang datang," kata Arga Taksaka penuh makna.
"Nanti si kembar bersama Om dan Tantenya akan datang juga," tanbah papi lagi.
"Oke, pi."
Arjuna hanya biasa saja menanggapinya. Tapi berbeda dengan Galih. Jantungnya berdebar keras. Tapi dia pura cuek dan berlalu ke kamaranya.
*
*
*
Menjelang makan siang, persiapan untuk menyambut calon mantu sudah matang.
Arjuna sampai terheran heran melihatnya. Penyambutan tamu ini terasa aneh.
Benaknya dipenuhi banyak pikiran siapa tamu yang akan datang ke runah. Terlihat papinya sangat menghormati tamu yang akan datang.
"Lo tau siapa yang akan datang?" tanya Arjuna pada Galih yang berdiri di sampingjya sambil mengamati keadaan rumah yang sudah disulap sangat wow.
__ADS_1
"Nggak," dusta Galih sambil menatap ke arah lain.
Arjuna ngga bertanya lagi. Sesuai permintaan papinya, Arjuna sudah berdandan rapi dengan mengenakan kemeja lengan panjangnya.
Galih meliriknya kasihan. Tapi dia ngga bisa apa apa. Reaksi Arjuna kadang suka mengejutkannya. Lebih baik dia diam.saja dan hanya jadj pengamat. Kalo Arjuna membutuhkannya, dia akan siap membantu.
"Tamunya sudah datang tuan muda. Tuan besar minta tuan muda ke depan," lapor salah sat pengawalmya.
"Baiklah. Ayo. Galih " kata Arjuna sambil berjalan dengan diikuti Galih di belakangnya.
Begitu Arjuna dan Galih tiba di dekat orang tuanya, dia mulai mengukirkan senyumnya. Ternyata yang datang adalah sahabat kental papinya, Om Sujatnata bersama istrinya.
Sementara Galih heran karena ngga menemukan sosok perempuan muda di antara mereka.
Katanya dijodohkan? Mana anaknya Om Nata? batin Galih bingung. Jelas jelas papanya mengatakan kalo Arjuna akan dijodohkan dengan putri Om Sujatnata. Ngga mungkin papanya salah info. Batinnya terus saja berdebat.
"Apa kabar Arjuna," sapa Om Sujatnata sambl menepuk nepuk bahunya dengan senyum senang. Istrinya pun tersenyum senang.
"Baik Om, tante," jawab Arjuna kemudian menyalim santun tangan keduanya.
"Ada Galih juga," tawa hangat Om Sujatnata menguar. Dia balas menepuk putra sahabatnya yang lain. Istrinya juga tersenyum saat melihat Galih.
Galih balas tertawa sambil menyalim tangan Om Sujatnata dan istrinya.
"Mereka sudah besar besar ya," lanjut Om Sujatnata masih dengan ekspresi bahagianya.
"Betul," balas papi antusias.
"Maaf, terlambat."
Suara seorang gadis yang muncul tiba tiba dengan langkah kakinya yang tergesa gesa membuat mereka semua menoleh
Ternyata seorang gadis yang sangat cantik dengan dres polos warna biru tua selutut berlengan pendek. Di lehernya ada seuntai kalung tipis dengan liontin berlian berbentuk bunga mawar yang kecil dan berkilau indah.
Secantik Emilia, batin Arjuna kemudian merasa aneh dengan hatinya.
Tiba tiba saja Arjuna merasakan dadanya berdetak keras ketika mengingat Emiliia Gadis yang dengan mudah mempermainkan dirinya Tapi anehnya dia merasa saat ini gadis itu ngga lagi baik baik saja.
Dia beneran sudah ngga waras, Arjuna mentertawakan kebodohannya.
Gadis ini sangat cantik. Apa Arjuna bisa tertarik dengannya? batin Galih sambil melirik sahabatnya yang terlihat seperti melamun.
"Vania ya. Tante sampai pangling," sambut mama Arjuna penuh kagum. Gadis ini sangat cantik, di luar ekspetasinya. Memang beliau sudah melihat foto terbaru Vania, tapi baru kali ini dia bertemu sosoknya lagi setelah beberapa tahun. Ternyata lebih cantik dari fotonya.
"Halo tante, tante juga sangat cantik. Iya, kan,ma," kata Vania balas memuji sambil melirik mamanya yang tambah mengembangkan senyun manisnya.
"Tentu, sayang," jawab mamanya setuju membuat mami Arjuna sumringah.
"Kalian bisa aja," kata mami Arjuna dengan tawa pelannya
"Halo, Om," sapanya sambil memyalim tangan papi Arjuna setelah lebih dulu menyalim tangan mami Arjuna.tadi.
"Halo, Vania," balas papi Arjuna sangat hangat.
"Nata, putrinu cantik sekali," puji Arga Taksaka benar benar kagum.
"Lihat dulu bibit unggulnya," seloroh Om Sujatnata disambut gelak tawa.
"Oiya, Vania. Kenalkan ini putra Om, Arjuna. Kalo ini putra Om Haykal, Galih," kata papi Arjuna mengenalkan setelah gelak tawanya usai.
"Arjuna sekarang CEO di perusahaan Om Arga, sayang. Galih membantunya di sana," kata Sujatnata menjelaskan pada putrinya.
Kini keduamya saling pandang sejenak.
__ADS_1
"Hai," sapa Vania ramah
"Juna," senggol Galih berbisik kala melihat Arjuna hanya diam saja dari tadi dan membuatnya tersadar.
"Eh, maaf," kata Arjuna sambil menyambut uluran tangan Vania. Sementara kedua orang tuanya saling senyum, melihat Arjuna yang terpesona pada Vania.
Mami harap kamu menyukainya, Juna, batin Mami Arjuna. Dia ngga ingin konflik keluarga timbul lagi. Lelah dia melihat suaminya yang selalu ngedrop kesehatannya saat amarahnya memuncak jika berkaitan dengan keluarga Sagara.
"Vania," ucapnya dengan senyum manis di bibirnya.
Tampan, batinnya . Tapi ingatannya melayang pada cowo pemarah bin mesum yang jatuh menindihnya. Vania masih ingat ketika benda sensitif yang mengeras itu menempel di bokongnya. Wajahnya tiba tiba merona.
Kedua orang tua mereka saling pandang penuh makna melihat reaksi anak anak mereka yang memberikan harapan.
Galih hanya menganggukkan kepalanya pada Vania ketika gadis itu menatapnya. Vania pun balas mengangguk dengan senyum manis masih tersungging di bibirnya.
"Ayo masuk," ajak mami Arjuna sambil menggandeng Vania bersama mamanya.. Sedangkan Arjuna dan Galih berjalan beriringan dengan Papa Vania dan papinya.
"Om dengar kamu sudah terikat kontrak kerja di sini, ya," tanya Arga Taksaka tertarik.
"Iya, Om. Selain perusahaan papa, ada juga perusahaan lain, tapi beda produk," jelas Vania sopan. Sama sekali ngga ada niat meninggi dalam hatinya.
"Bagaimana kalo kamu jadi model untuk perusahaan Arjuna. Arjuna mau mengeluakan desain baju pesta untuk acara Taksaka fashion week," kata papi Arjuna mengusulkan.
"Iya, Vania. Kamu cantik banget. Kamu pun terkenal. Pasti para desainer akan suka melihat kamu," sambung mami Arjuna sangat setuju.
Vania menatap mama dan papanya.
"Perusahaan Arjuna itu sudah go public, honey," promosi papanya meyakinkan.
"Arjuna menggantikan papinya jadi CEO mengelola perusahaan Taksaka grup," tambah mama Vania lagi.
"Malahan sejak Om mundur, Perusahaan tambah berkembang di pegang Arjuna bersama Galih," sambung papinya bersemangat.
"Gimana, Juna, kamu setuju, kan?" tanya mami sambil menatao anaknya yang hanya diam saja.
Galih kembali menendang pelan kaki Arjuna dari bawah meja dan memberikan isyarat ketika laki laki itu menatapnya kesal.
"Juna," panggil mamanya lembut.
"Aku setuju, mi."
Untungnya dia tadi menyimak apa yang menjadi pembicaraan mereka.
"Nah, Arjuna udah setuju," respon papi Arjuna dengan pandangan ngga bisa dibantah.
"Iya, sayang. Mama dan papa setuju," jawab mamanya senang.
"Baik, om. Vania setuju," jawabnya segan untuk menolak.
"Nah, kalian akan lebih mudah saling mengenal," kata Om Sujatnata sambil mengerlingkan matanya pada istrinya yang tersenyum manis.
Vania menatap mamanya bingung. Sementara Arjuna mulai sadar apa yang direncanakan papinya. Dia melirik Galih kesal karena merahasiakan darinya.
"Perusahaan kita akan berada di tangan anak anak muda yang tepat," tandas papi Arjuna penuh makna.
"Rasanya bahagia sekali kalo kita sampai bisa berbesanan," tambah Om Sujatnata sangat bahagia. Karena Arga adalah salah satu sahabatnya sejak kuliah hingga bertahan sampai sekarang. Menjadi besan adalah hal yang sangat diinginkannya untuk menaikkan derajat pesahabatan mereka ke jenjang yang lebih tinggi.
Uhuk Uhuk Uhuk
Vannia dan Arjuna terbatuk bersamaan.
"Lihat, batuk aja mereka barengan," kekeh Arga Taksaka.
__ADS_1
"Bener, kalian memang berjodoh," sambut Sujatnata juga terkekeh. Sedangkan para istri sibuk memberikan putri dan putra mereka minuman agar batuknya mereda.