
DUG
Saat sedang berguling berguling, Andra memeluk erat tubuh Vania sampai akhirnya kepala Andra terantuk batu besar yang banyak terdapat di situ.
Andra pun pingsan dengan darah menetes dari lukanya. Gulingan mereka pun berhenti saat punggung Andra membentur batang pohon yang cukup besar.
Vania merasa ada cairan menyentuh kelopak matanya. Dia pun mengusapnya sambil meringis karena dadanya terasa sakit akibat benturan pada dashboard mobil dan dia merasakan ada guncangan yang mendera tubuhnya berkali kali yang ngga tau sampai kapan berakhir dan kini mendadak berhenti tapi dengan hentakan cukup kuat. Seakan mereka habis menabrak sesuatu yang sangat kuat dan ngga mungkin bisa digoyahkan.
Darah?
Vania menatap panik pada darah menetes di jari jarinya dan baru tersadar kalo dia sekarang berada dalan pelukan rapat seseorang.
'Papa?" gumamnya lirih.Tapi saat mendongak, Vania terkejut melihat wajah yang matanya sedang terpejam. Wajah yang membuatnya langsung mengenalinya tanpa.harus berpikir lama.
Laki laki jahat yang sudah menyebarkan skandal dirinya yang membuatnya kehilangan semua kontrak kerjanya.
Mengapa dia bisa bersama laki laki ini? Padahal sekian hari laki laki kurang ajar ini menghilang. Tapi sekarang malah memeluknya.
Vania mencoba mengingat kejadian yang menimpanya.
Vania menjerit tiba tiba. "Papa!"
Dia bisa mengingat ada orang yang mengacungkan pistol pada papanya. Kemudian menembak yang Vania yakin ban ban mobil mereka hingga pecah dan menyebabkan mobil yang dikendarai papanya oleng hingga menabrak sesuatu yang keras. Setelah itu dia ngga ingat lagi.
"Kamu sudah sadar?" tanya Andra mengagetkan Vania. Ngga nyangka laki laki kurang ajar itu kini sedang menatapnya saat dia sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Hemm..." dengus Vania marah sambil berusaha melepaskan pelukannya.
Vania terus meronta tanpa mempedulikan suara tanah yang bergulir di dekatnya.
"Hentikan. Kira di tepi jurang," peringat Andra membuat Vania sontak terdiam.
Dengan perlahan Andra bangkit sambil tetap memeluk Vania dengan sangat hati hati karena takut terjadi longsor.
Andra pun perlahan melepaskan pelukannya. Tapi Vania malah tetap merapat padanya.
Gadis ini shock karena di bawah pohon tempat mereka bersandar, Vania mendemgar bunyi aliran air. Seperti sungai. Jika ngga ada pohon ini mungkin mereka berdua sudah tercebur, hanyut, tenggelam, yang bisa saja menyebabkan mereka berdua kehilangan nyawa.
Pohon ini turut andil dalam menyelamatkan nyawa mereka berdua.
"Aargh," ringis Andra sambil memegang belakang kepalanya yang terasa nyeri
Darah? Andra menatap ngga percaya pada darah di jari jarinya.
Dia menimpukku dengan batu? batin Andra kesal sambil menatap Vania dengan sorot tajam menuduh, kalo gadis itu pelakunya.
__ADS_1
"Aku ngga tau kenapa kamu bisa berdarah," bela Vania ngga kalah kesalnya karena tatapan laki laki itu yang seperti sedang menuduhnya seenak jidatnya.
Dengan acuh, Andra menyingkirkan tubuh Vania. Kemudian berjalan ke dekat aliran air.
Vania menatapnya dengan sebal.
Laki laki mesum, urusan kita belum selesai, batinnya mengumpat keras.
Tapi Vania mengikuti laki laki itu pergi
Andra berjongkok di dekat aliran sungai itu. Mencuci kedua tangannya, dan membasahi rambut dan kepala belakangnya.
Terlihat aliran air sungai itu berwarna merah terkena darah Andra.
BRET BRET BRET
Andra menoleh kaget mendengar suara robekan kain.
Pupil matanya membesar melihat apa yang dilakukan gadis itu.
Dia merobek renda bagian bawahnya sampai habis. Dress yang sudah pendek itu kini semakin pendek saja.
"Apa yang kamu lakukan? Kamu ingin bercinta denganku di sini?" cibir Andra mengejek, sengaja untuk meredam hasratnya yang mulai naik.
DUG
"Harusnya kepalamu yang direndam agar ngga ada pikiran kotor lagi," cacinya sambi berjongkok dan membasahi renda itu, menguceknya beberapa kali sebelum akhirnya membilas dan memerasnya.
Jamtung Andra berdebar sangat keras. Begitu juga darah dalan tubuhnya terasa panas.
Vania seakan ngga tau ada singa lapar yang sedang mengawasinya dan siap untuk menerkamnya.
Posisi gadis itu yang berjongkok dalam melakukan aktivitas mencucinya, ngga menyadari kalo dressmya sudah tersingkap dan memperlihatkan sedikit lagi pangkal paha putih beningnya.
Andra berkali kali menghembuskan nafasnya untuk mengurangi sesak dan menurunkan gairahnya yang semakin naik.
Anehnya, hanya di dekat Vania saja juniornya selalu berulah begini.
Kenapa dia harus memilih musuh keluarga tuan besarnya untuk bisa cepat bereaksi. Andra terus mengumpat dalam hati.
Menghadapi para perempuan yang menggunakan baju sisa jahitan saja, Andra ngga pernah tertarik. Apa lagi juniornya. Biasa aja. Tapi terhadap Vania, dia dan juniornya selalu penasaran, Walaupun gadis itu berpakaian tertutup. Sayangnya Andra selalu melihat gadis itu berpakaian yang menampakkan keseksiannya.
DEG
Jantung Andra semakin keras berdegup saat menyadari Vania sudah berdiri di dekatnya dan mulai berjinjit. Wajah mereka sangat dekat.
__ADS_1
"Kamu mau apa?" tanyanya gugup dan mundur selangkah menjauhi Vania.
"Diam aja dulu. Aku mau balutin luka kamu," tukas Vania dongkol karena merasa kalo laki laki ini mengira dia akan melakukan hal yang ngga sopan terhadapnya.
Emang dia? makinya sangat sewot.
Dengan tenang, Vania mendekat dan berjinjit lagi di hadapan Andra yang bergeming dan menatapnya tajam.
Bohong kalo Vania ngga grogi. Laki laki mesum dan kurang ajar ini sangat tampan. Tubuhnya juga sangat tinggi dan kekar. Dari awal bertemu Vania sudah tertarik. Tapi sayangnya laki laki ini malah menyakiti hatinya.
Bahkan Vania sedikit memaksanya untuk merundukkan kepalanya agar mempermudah dia melilitkan renda itu di kepalanya yang terluka. Dan laki laki ini menurut tanpa protes.
Paling engga, darahnya bisa berhenti mengalir sebelum mereka mendapatkan pertolongan, begitu pikir Vania.
Sepanjang proses pelilitan renda di kepala Andra, Vania menahan kegugupannya. Laki laki itu menatap matanya sangat dalam, tapi Vania berusaha ngga menatapnya agar konsentrasinya ngga buyar.
Setelah mengikatnya cukup erat, Vania bermaksud menjauh. Tapi Andra malah memeluk pinggang Vania dengan sebelah tangannya. Dan sebelahnya lagi mengangkat dagu Vania.
Tubuh Vania terasa dingin, ketika Andra semakin mendekatkan wajahnya. Tanpa sadar dia memejamkan matanya
Andra tersenyum miring.
"Terimakasih," ucapnya pelan sambil melepaskan pelukannya dan bergerak menjauh.
Wajah Vania merona ketika dia merasa sentuhan laki laki itu tidak kerasa lagi. Rasanya malu sekali.
Kenapa dia masih mengharapkan ciuman laki laki ini setelah apa yang dia lakukan, batinnya sibuk memarahi kelemahan hatinya.
Tiba tiba Andra membuka kancing kemejanya.
Dia mau apa? tanya Vania dalam hati agak ngeri. Tempat ini sepi, laki laki ini bisa menuntaskan hasratnya yang belum selesai di apartemennya sekarang.
Tubuh Vania gemetar karena takut akan pikiran buruknya sendiri.
Tanpa kata Andra melepaskan kemejanya. Ternyata masih ada kaos oblong di tubuhnya.
Vania agak bernafas lega.
Tanpa kata Andra mendekat dan mengikatkan kemeja itu di pinggang Vania. Vania mematung dan membiarkannya seakan terhipnotis.
"Bajumu terlalu pendek," gumam Andra pelan setelah merapikan kemejanya hingga cukup menutup bagian depan dan belakang gadis itu.
Vania masih bisa mendengarnya. Dia baru sadar, apalagi dia sudah merobek renda dressnya.
Kembali pipinya terasa panas sekali. Padahal tadi dia sempat berjongkok saat mencuci rendanya, pasti saat itu laki laki ini sudah sangat menikmati auratnya.
__ADS_1