Love U Like FIRE

Love U Like FIRE
Ketemu Veli


__ADS_3

"Maria Mercedes, belanjaan lo ngga kurang banyak?" sarkas Zeta yang melihat lebih dari sepuluh paper bag di kedua tangannya.


Maria terkikik meliihat tatapan sinis Zeta pada kedua tangannya yang penuh paper bag.


Emilia dan Arinka memalingkan wajah dan tertawa litih.


Memang dia ratu belanja, sarkas Arinka dalam hati.


Masih kurang tuh, Emilia pun membatin.


"Suruh papa mu beli aja mall ini," omel Zeta masih misuh misuh.


"Sudah ini, kok," kekeh Maria sangat senang. Entah apa saja yang sudah diambilnya. Bahkan satu paper bag ada yang diisi tiga item. Bahkan bikini yang dilihat di ponsel pun dibelinya sampai lima buah, begitu juga kain pantai sampai tujuh lembar.


Apa selama di Bali, aku akan kembanan aja? batinnya geli.


Padahal paling lama mereka tiga hari aja di Bali. Gimana Zeta ngga mengomel tiada henti melihat kelakuannya.


"Gue udah ngga belanja lagi," katanya lagi karena masih melihat tatapan kesal Zeta. Tapi senyum di bibirnya masih sangat lebar.


Ketiga sepupunya hanya membawa tiga paper bag saja.


"Habis borong?" sapa seorang laki laki sangat hangat.


Keempatnya menoleh. Dada Emilia berdebar, karena laki laki yang menyapanya adalah salah satu teman Arjuna di club malam itu.


Ketiga sepupunya menatap Emilia penuh tanya. Karena laki laki tampan di depan mereka menatap ke arah Emilia dengan sorot sangat bersahabat.


Lo baru beberapa hari di sini sudah banyak kenalan laki laki tampan, omel Zeta membatin.


Karena ngga ada jawaban, laki laki itu mengarahkan pandangannya pada ketiga sepupunya dan tersenyum.


"Juna ngga ikut?" tanyanya lagi.


Ketiga sepupunya baru mengerti, ternyata teman Arjuna Taksaka.


"Engga."


"By, lo di sini rupanya, dicariin Veli," sapa seorang lagi laki laki tampan bersama seorang perempuan cantik yang menatap Emilia judes.

__ADS_1


"Loh, kamu sendiri? Ngga sama Juna?" sambung laki laki itu kaget saat melihat ada Emilia. Tapi matanya terlihat berpemdar ketika bersirobok dengan Arinka yang langsung membuang muka ke arah lain.


"Pasti sudah diputusin Juna," hina Veli yang menggandenga tangan Mars. Sementara Mars masih terpaku pada Arinka yang ngga mau menatapnya.


"Ngga mungkinlah. Kamu suka becanda, Vel," sergah Arby yang berusaha menentramkan situasi yang tiba tiba menjadi panas.


"Abis borong ya, sampai abis pake master card Juna. Enak ya, cuma modal tubuh doang, bisa belanja puluhan juta," caci Veli ngga peduli kalo suaranya memancing beberapa orang yang kini menatap ke arah mereka.


"Vel," lirih Mars dengan nada yang ditekan. Dia risih karena mereka kini menjadi pusat perhatian.


"Mel, jadi ini kata lo cewe yang tampamgnya ngga pernah mandi tapi mau narik perhatian si Juna, pacar lo," seru Zeta ber drama. Sengaja untuk mempermalukan gadis menyebalkan di depan mereka.


Kedua cowok tampan itu jadi melebarkan senyumnya saat mendengar kata kata pedas Zeta. Sedangkan wajah Veli langsung memerah seperti terkena semburan api kompor.


"Iya, ngga tau malu, ya" jawab Emilia sinis tapi malah membuat kedua laki laki itu jadi tersenyum miring. Veli menatap marah bergantian pada Zeta dan Emilia.


"Mil, bilang, dong sama aa' Juna, kasih master cardnya jangan banyak banyak. Satu aja masih banyak banget sisanya. Ayo, kita tambah lagi belanjanya," kompor Maria dengan suara manjanya. Emilia dan Zeta jadi terkikik.


Dalam hati Emilia mau muntah mendengar kata aa' Juna yang diucapkan sepupunya. Tapi demi menjatuhkan mental cewe menyebalkan ini, Emilia berusaha menahannya.


Wajah Veli dari merah sudah berubah ungu saking malu dan geramnya. Apalagi kedua temannya ngga membelanya, malah ikut tersenyum senyum.


"Ini Mars, dan temanku yang suka becanda namanya Veli," sambungnya lagi mengenalkan keduanya dengan wajah ramahnya.


"Ooo," ucap Zeta sambil mencibir sinis pada Veli.


"Boleh kemalan?" tanya Arby lagi. Rasanya dia ingin mengenal gadis cantik yang ngga kalah seksi dari pacar Arjuna tapi bermulut sangat pedas.


Karena tatapan laki laki itu padanya, akhirnya Zeta pun menyebutkan namanya dan ketiga sepupunya.


"Gue Zeta, ini Maria, itu Arinka. Dan pacar aa' Juna, Emilia," sengaja Zeta menekan kata pacar aa' Juna membuat kedongkolan Veli makin menjadi.


Akhirnya tau juga nama pacar Arjuna, batin Arby senang. Dia akan mengganggu sahabatnya itu agar cemburu nanti padanya.


"Kita duluan ya, mau abisin kartu aa' Juna," pamit Maria sambil menjulurkan lidahnya pada Veli yang makin marah, tapi berusaha setengah mati ditahannya.


Emilia dan kedua sepupunya tanpa kata menyusul Maria yang sudah melangkah bak model di depann mereka.


Setelah beberapa langkah di depan Arby cs, tawa mereka mulai terdengar sangat menyebalkan di telinga Veli.

__ADS_1


Mars terus menatap Arinka yang sama sekali ngga mau menatapnya. Bibirnya mengulas senyum tipis.


"Gue, kok, baru lihat mereka, ya. Dimana selama ini mereka disembunyikan," kekeh Arby yang makin tergelak karena lengannya dipukul Veli dengan keras.


"Lo lain kali harus bisa nahan diri, Vel. Bersikaplah elegan jika ingin Juna ngejar lo," nasihat Mars.


"Hemm," sinis Veli kesal sambil melangkah mendahului kedua teman laki laki brengseknya. Teganya ngga mau menolongnya, bahkan membiarkannya dihina.


Arby dan Mars hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap Veli. Mereka tau Arjuna sudah muak dengannya. Arjuna hanya berusaha menahannya saja dengan tetap bersikap baik padanya. Mengingat hubungan baik orang tua mereka.


*


*


*


Emilia minta diturunkan di apartemennya sementara ketiganya balik ke perusahaan karena ada meeting tentang iklan yang harus segera mereka buat untuk tender di Bali.


Emilia sebenarnya ingin bertemu si kembar dan membalas kebaikan mereka dengan memberikan snack box ya g dibuatnya untuk perusahaan kakaknya.


Agak ragu Emilia mengetuk pintu unit itu karrna tau kalo itu adalah unit kakak mereka. Belum tentu juga mereka ada di unit ini.


Tapi setelah beberapa kali ngga ada yang membuka pintu, Emilia menyerah. Tapi suara riang di belakangnya membuatnya menoleh senang.


Benar saja, si kembar sedang berjalan mendekat sambil memanggilnya.


"Hai, kak Emil. Nyari kita ya?" tanya Cila pede. Cleo hanya tersenyum melihat sikap sok akrab kembarannya.


"Iya."


"Ini buat kita, kak?" tanya Cila lagi sambil meraih paper bag di tangan Emilia yang terulur ke arahnya.


"Kakak tadi buat pesanan snack box. Ini sengaja buat kalian," katanya ramah.


"Makasih, kak. Ayo masuk, kak," ajak Cleo sambil membuka pintu unit kakaknya. Di tangannya pun ada paper bag buatan mereka untuk kakak sepupunya.


"Kakak langsung pulang aja ya," tolak Emilia masih dengan senyum.ramahnya. Dia ngga mau malu lagi jika si kembar nyinggung soal bibir bengkaknya.


"Jangan pulang dulu, kak. Ayo, dong, temani kita. Kita juga cuma sebentar di sini," Cila menarik tangan Emilia agar ikut masuk dan akhirnya dengan terpaksa mengikuti kedua gadis kembar itu masuk ke dalam unit kakaknya.

__ADS_1


__ADS_2