Love U Like FIRE

Love U Like FIRE
Pura pura Masih Mabok


__ADS_3

Emilia akhirnya membawa masuk Arjuna ke unitnya dengan susah payah.


Arjuna sambil memijat keningnya sambil memperhatikan isi unit apartemen Emilia. Sangat simpel, karena mungkin jarang ditempati.


Emilia pun membuka kamarnya dan membantu Arjuna memasukinya. Dia agak kesulitan saat akan membaringkan tubuh Arjuna. Karena Emilia menggunakan springbed tanpa ranjang. Akhitnya keduanya jatuh dengan Emilia menimpa tubuh Arjuna.


DEG


Wajah Emilia langsung memerah, apalagi saat Arjuna membuka matanya dan menatapnya tajam.dan lekat.


Emilia berusaha bangkit, tapi Arjuna dengan cepat membalikkan posisi tubuh mereka. Kini Arjuna yang berada di atas Emilia dan menekan tubuh gadis itu membuat Emilia merasa sesak.


Mata Emilia melotot ketika melihat Arjuna merundukkan wajahnya ke bahu polosnya dan mengecupnya Ada sensasi aneh mengalir cepat dalam tubuh Emilia membuatnya memejamkan mata dan menahan suara desahannya.


Arjuna terus memberikan kecupan kecupan ringan sampai ke lehernya membuat tubuh Emilia bergetar.


Kata kata Arinka kalo Arjuna bjsa memperkosanya membuatnya tersadar dan dengan sekuat tenaga mendorong Arjuna yang lengah karena sedang meresapi kelembutan kulit beningnya.


BUG


Tubuh Arjuna terhempas dan punggungnya menghantam tembok..Arjuna mengeluh pelan. Sedangkan Emilia segera bangkit berdiri menjauhi Arjuna yang berpura pura memijat kepalanya seakan terasa sangat pusing.


"A aku akan membuatmu teh lemon," gugup Emilia sambil keluar dari kamar tidurnya.


Dia menyandarkan punggungnya ke dinding dengan nafas terengah. Emilia menarik nafas berulang hari untuk menenangkan dirinya.


Arjuna yang melihat Emilia sudah pergi mengulum senyum. Di dadanya ada perasaan aneh yang berkembang pesat. Kelembutan kulit Emilia masih dirasakan bibirnya.


Arjuna memperhatikan kamar yang di domimasi dengan warna ungu muda sambil tersenyum.


Warna gadis manja, desisnya mengejek.


Akhirnya Arjuna bangkit dari tidurnya dan berjalan perlahan mencari Emilia. Kepalanya masih terasa sedikit pusing.


Dia melihat punggung gadis itu yang sepertinya sedamg di depan kompornya. Tadi katanya akan membuatkanya teh lemon.


Tanpa bersuara, Arjuna mendekat dam langsung memeluk pinggang Emilia. Kepalanya disandarkan di bahu Emilia..Gadis itu berjengkit karena kaget.


"Kamu harum," bisik Arjuna lembut.


Emilia tersipu mendengarnya. Jantungnya serasa mau keluar dari dadanya saking senangnya.


Biarlah untuk.sekali ini saja sebelum semuanya berakhir menyakitkan, pintanya dalam hati.


Dengan grogi karena Arjuna menempel padanya, Emilia menuangkan air panas yang sudah mendidih di gelas.


"Juna, bisa lepas sebentar. Gelas ini panas," katanya dengan suara serak. Kedekatan ini sangat mengganggu hati dan jantungnya.


"Biar aku yang bawa," kata Arjuna sambil melepaskan pelukannya dan memgambil cangkir di dekat kompor.


"Kamu, kan, pusing. Apa ngga apa apa?" tanya Aruna khawatir kalo air panas di cangkir itu tumpah dan mengenainya.

__ADS_1


"Sudah sedikit berkurang," ucap Arjuna sambil meletakkan gelas itu.di meja.


"Ini gula?" tanyanya sambil.menunjukkan toples kecil.


"Iya."


Lalu Arjuna mengambil sesendok gula dan melarutkannya dalam gelas yang berisi teh celup.


"Duduklah," kata Emilia sambil menggeserkan kursi di dekat Emilia.


"Thank's," ucapnya sambil duduk.


Emilia mengambil lemon di kulkas dan mengirisnya dalam potongan.kecil.


"Ini," katanya sambil mengulurkan irisan kecil lemon yang langsung di terima Arjuna.


"Ada es batu? Ini masih panas," pinta Arjuna sambil menatap Emilia.


"Sebentar." Dengan salah tingkah Emilia kembali membuka kulkas dan mengambil stok es batunya, kemudian duduk.di samping Arjuna.


"Apa kamu suka berpakaian begjni?" tanya Arjuna membuat gerak Emilia yang akan memberikan es batunya terhenti.


Tanpa sadar dia memperhatikan pakaiannya yang memang cukup seksi dengan tali spageti di bahunya. Kembali wajah Emilia merona dan salah tingkah.


Arjuna mengambil beberapa potong es batu dan menaruhnya di gelasnya. Dia pun memeras pelan irisan lemon agar ngga terlalu asam.


"Kamu tau, aku ingin sekali menaruh es batu ini di bahumu," gumam Arjuna tapi masih terdengar cukup jelas di telinga Emilia, membuatnya terperangah.


"Mengapa ngga ada foto keluarga?" tanya Arjuna setelah menghabiskan setengah isi gelas.


Emilia kaget lagi. Laki laki ini selalu mengeluarkan kalimat ngga terduga. Padahal dia mabok. tapi dia bisa mengetahui ngga ada foto keluarganya di apartemennya, monolog Emilia resah.


"Belum dipasang lagi," jawab Emilia asal.


"Aku ingin tau siapa keluargamu," kata Arjuja sambil memijat keningnya lagi yang masih terasa cukup pusing.


"Sebaikmya kamu tidur di unit mu," usir Emilia mengganti topik.


Arjuna tersenyum miring, ngga tersinggung sama sekali.


"Aku ingin tidur di kamarmu. Kamu, kan, pacarku," jawab Arjuna tenang.


"Kita hanya pura pura," bantah Emilia.


"Mulai hari ini kita resmi pacaran," kata Arjuna bersikeras.


"Kamu belum tau siapa aku dan keluargaku," tolak Emilia lagi.


"Aku akan kenalan dengan keluargamu. Khususmya orang tuamu. Kapan mereka ada waktu?" tanya Arjuna dengan sorot mata elangnya


Emilia jadi tergagap.

__ADS_1


"A aku ngga mau jadi pacarmu?" tolak Emilia lansung.


"Ngga mau jadi apcar, tapi mau dicium," canda Arjuna kemudian terkekeh membuat Emilia tambah malu dengan perkataan ffontalnya.


"Aku serius. Karena itu aku ingin kenalan dengan orang tuamu," kata Arjuna setelah tawanya usai.


"Nggak perlu," kembali Emilia menolak sambil menggelengkan kepalanya.


Arjuna menaikkan satu alisnya, heran.


"Jadi kamu lebih suka aku cium tanpa status?"


Emilia jadi tergagap lagi, apalagi Arjuna mulai mendekatkan wajanya ke wajah Emilia. Tanpa ragu dia.memgecup dan melu*mat lembut bibir Emilia.


Kembali desiran desiran aneh mengisi jiwa Emilia.


Saat kecupan itu menyapa rahangnya membuat Emlia tersadar. Dia segera menjauhkan wajahnya.


Arjuna tersenyum miring. Dia sama sekali ngga menahan kepala Emilia. Malah membiarkan saja.


"Aku ingin serius..Aku menyukaimu. Aku ngga akan mempermainkan kamu," kata Arjuna lembut membuat Emilia tambah salah tingkah.


Andai kamu tau siapa keluarga aku, batin Emilia sedih.


"Lebih baik kamu kembali ke unit kamu," usir Aruna lagi


"Malam ini saja, biarkan aku tidur di kasur kamu," pinta Arjuna setengah memaksa. Kemudian dia menghabiskan tehnya. Bangkit dengan lagak terhuyung meninggalkan Emilia yang masih terpekur.


Saat Arjuna hampir terjatuh, Emilia bergegas menghampiri dan menahan bahunya.


Keduamya memasuki kamar Emilia.


Tanpa.terduga, Arjuna menarik Emiia hingga ikut terbaring di sampingnya. Arjuna pun memeluk pinggangnya erat sampai dia sulit bernafas.


"Aku hanya ingin memelukmu," ucap Arjuna sambil melonggarkan pelukannya.


Emilia ngga mengatakan apa pun. Dia terlalu kaget dengan kejadian hari ini. Jantungnya pun semakin cepat berdetak.


"Kapan aku bisa kenalan dengan anggota keluarga kamu?" tanya Arjuna lagi sambil memberikan kecupan kecupan lembut di bahunya, membuat Emilia gelisah.


"Katamu cuma tidur," protes Emilia lemah.


Dia sudah mulai ngga tenang.


Arjuna terkekeh geli.


"Baiklah, kita hanya tidur," kata Arjuna mengalah."


Kemudian Arjuna pun memejamkan mata sambil memeluk dan menempelkan tubuh mereka.


Emilia hanya bisa mengerjapkan matanya dengan perasaan ngga menentu.

__ADS_1


__ADS_2