Love U Like FIRE

Love U Like FIRE
Go to Bali


__ADS_3

"Persiapan ke Bali selesai," seru Maria sangat bahagia. Akhirnya hari yang dia nanti, datang juga. Hari dimana semua bikini dan kain pantainya bisa dia pakai.


"Yes," seru Zeta ngga kalah senang. Dua hari disibukkan dengan pekerjaan kantor, sekarang saatnya melemaskan jari jari tangannya dengan mer*emas butiran pasir pantai.


Arinka dan Emilia saling tatap dan mengembangkan senyum sangat ceria.


Saatnya menikmati kesejukan angin pantai.


"Gue udah ngga sabar pake bikininya," seru Maria lagi. Senang banget rasanya bisa mengenakan bikini bikininya yang super seksi. Bisa bergaya sebentar seperti bule.


"Tiap sejam lo ganti bikininya ya," hina Zeta mencibir.


"Ngga gitu juga, kali," elak Maria sambil manyun. Selalu saja mengomentari dirinya. Maria misuh misuh dalam hati.


Kemarin saking lapar matanya, dia ngambil hampir sepuluh bikini dengan warna dan model berbeda. Tapi tetap two piece. Maria pun ngga yakin apakah bisa kepake semua bikininya saat di Bali. Mereka hanya tiga hari berada di sana


Begitulah, dia sering lupa kalo sudah masuk mall. Apa apa pasti dibeli. Apalagi kalo ada model yang lucu lucu.


Kemarin Arinka sampai menyeretnya karena akan menambah lagi koleksi bikini dan kain pantainya.


"Kata Kak Andra kita berangkat duluan," ujar Arinka.


"Asyik. Lagian kita liburan, kan, ngga kerja," sambar Maria sangat happy. Dia ingin segera menikmati pasir putih dan dinginnya air laut. Berenang dan mengganggu ikan ikan kecil yang beraneka warna. Harapannya ngga bertemu dengan si jaws.


"Iya, dong," lanjut Zeta. Saat ini mereka merasa sangat senang. Zeta ingin tiduran di bibir pantai dengan diteduhi payung pantai dan menikmati kue kue kering serta segelas jus jeruk. Ditambah dengan belaian angin pantai, pasti akan sangat segar sekali.


"Yuk, nenek udah nunggu," tukas Emilia memecah lamunan Maria dan Zeta sambil menyeret koper kecilnya keluar kamar.


Nenek mereka juga ngga akan merasa kesepian karena sudah memiliki waiting list dengan teman teman se angkatannya waktu muda dulu.


Hanya Maria yang membawa koper agak gede. Gadis itu selalu membawa pakaian dan ***** bengek lainnya dalam jumlah yang lebih banyak.


Nenek tersenyum melihat keempat cucunya terlihat sangat bahagia dan akur.


"Ditinggal ngga apa ya nek," ucap Emilia sambil memeluk manja neneknya.


"Memangnya kalo nenek bilang ngga mau, kalian bakal nurut?" kekeh nenek sambil balas memeluk Emilia.

__ADS_1


"Kita perginya bentar, kok, nek," imbuh Maria manja. Dia pun ikut memeluk sang nenek, diikuti Zeta dan Arinka.


"Nenek jangan suka begadang. ya," kata Maria masih dengan suara manjanya.


"Iyaa," sahut nenek sambil mengacak sayang rambut Maria.


Maria mengembangkan senyum senangnya.


Akhirnya mereka diantar Pak Umbul ke bandara.


Sepanjang perjalanan hati Emilia ngga tenang. Di Bali nanti, entah siapa yang akan memenangkan tender pembangunan hotel. Keluarganya atau keluarga Arjuna. Atau mungkin pesaing bisnis yang lain.


Mungkin sekarang Arjuna sudah mulai menduga duga kalo dia memiliki hubungan darah dengan Bima. Malam itu sengaja Emlia memberikan kode keras kalo Bima bukan pacarnya.


Ngga mungkin laki laki itu kini ngga curiga padanya. Pasti dari kemarin dia sudah mencari tau silsilah keluarganya..Tapi sayangnya, Arjuna pasti akan sulit mendapatkan info penting itu.


Setelah kakek mereka meninggal, namanya dan ketiga sudaranya sudah dihapus dari daftar keluarga.


Ini untuk kebaikan mereka sendiri. Menyandang nama belakang Sagara saat itu begitu sulit. Mereka ditekan dari segala arah. Sejak mereka pindah ke luar negeri tanpa membawa nama besar keluarga, semuanya mulai terasa nyaman dan bersahabat lagi.


Teringat akan perlakuan lembut Arjuna dan sweaternya yang juga dibawanya. Dia akan memakainya jika rindunya ngga tertahankan lagi.


"Melamun apa, sih?" tanya Arinka penasaran melihat wajah sepupunya yang tiba tiba tersenyum.


"Ada aja," jawabnya menghindar.


"Pasti si Juna, tuh," cibir Zeta.


"Wajarlah kalo Emilia ngga bisa lupa. Soalnya ganteng banget," bela Maria .


"Iya-iya," balas Zeta malas.


Selalu aja kegantengan jadi tolak ukur sepupunya itu, Zeta mengomel kesal dalam hati.


Arinka dan Emilia hanya tersenyum.


Kamu memang sangat ganteng, Juna. Kamu kasar sekaligus lembut, monolog Emilia membatin.

__ADS_1


"Nanti di Bali, gue harus dapat pasangan hidup," cetus Maria setelah beberapa menit mereka dilanda kesunyian.


"Bukannya kamu naksir sama si gondrong?" tanya Zeta heran


"Buat lo aja. Gue mau cari yang lain. Malas rebutan sama sepupu," jawabnya sok dewasa.


"Gue juga eggak lah..Gue mau nyari di luar lingkaran Arjuna. Tapi teman teman Arjuna ganteng ganteng semua, ya," kata Zeta kemudian mengulum senyum.


"Betul," respon Maria antusias.


"Sayangnya kita sama mereka terlarang," tambah Maria lagi. Nada suaranya tetap riang.


Emilia tertohok mendengarnya.Ya, dia dan Arjuna terlarang.


*


*


*


"Mereka sudah berangkat," lapor Galih sambil menatap tajam Arjuna yang baru kembali ke ruangnya setelah meeting dengan klien.


Walaupun berekspresi datar dan dingin, Galih tau kalo Arjuna menyimpan rasa senangnya akan informasi yang dia berikan.


"Hanya berempat?" tanya Arjuna ngga acuh.


"Yes."


Arjuna mencoba menyusun fuzzle.


"Sudah tau hotelnya?" tanya Arjuna sambil memakai jasnya yang lain.


"Sudah. Gue sudah pesan kamar buat lo dan si kembar," jawab Galih dengan seringai mengejek.


"Lo ngga pesan?" balas Arjuna sarkastik.


Galih ngga menjawab, tapi dia meresponnya dengan tergelak.

__ADS_1


Arjuna tau artinya, kalo Galih juga akan ikut bersamanya dan si kembar.


"Thank's," sahut Arjuna datar. Karena Galih sudah berusaha keras sampai berhasil mendapatkan info tentang keberangkatan Emilia ke Bali.


__ADS_2