Love U Like FIRE

Love U Like FIRE
Suasana Yang Mengharukan


__ADS_3

"Meetingnya jam sembilan," ucap Bima ketika melihat adik dan sepupu sepupunya sedang sibuk di dapur. Dia baru saja pulang kerja malam ini.


Begitu juga Andra dan Dewa. Mereka memutuskan pulang ke rumah utama untuk melihat sesibuk apa adik adik mereka. Sangat menyenangkan melihat mereka sibuk di dapur dari pada selalu mengurus kuku saja.


Mas Bima udah pulamg?" kaget Emilia bersama ketiga sepupunya sambil menatap Bima, Andra dan Dewa yang muncul di dapur masih mengenakan jas kantornya.


"Barusan. Itu apa?" tanya Bima saat melihat mangkok plastik yang tertutup rrapat berisi penuh cairan berwarna putih pekat di tangan adiknya.


"Santan buat kolak, mas," sahut Emilia sambil menyimpan santan ke dalam freezer. Dia lebih suka membuat santan sendiri dari pada menggunakan santan instan.


Risoles mayo dan pastel pun sudah jadi dan sudah dibekukan. Besok pagi tinggal di goreng dan dikemas.


"Perlu mas bantu?" tanya Bima yang langsung mendekati Emilia.


"Udah mau selesai mas. Ini tinggal beberes aja," ucap Emilia dengan senyum manisnya.


Bima mengacak lembut puncak rambut adik semata wayangnya.


"Kalian buat apa saja?" tanya Andra sambil menconot pastel yang sengaja digoreng buat makanan ringan.


"Enak," respon Dewa yang sudah menghabiskan dua buah pastel. Memang sangat menyenangkan kalo ada Emilia di rumah. Sepupunya itu hobi masak. dan hasil masakannya selalu enak.


"Risoles mayo, pastel, lapis pelangi, puding gula merah sama puding mentega. Besok tinggal kolak aja kak." lapor Zeta sambil mengangkat baki berisi puding mentega yang akan disimpan di kulkas.


"Wooww," seru Dewa kagum. Ternyata kalo ada Emilia, ketiga adik perempuannya yang lain bisa diberdayakan sampai maksimal, tawanya dalam hati.


Kelihatannya mereka senang melakukannya, batin Bima dengam tarikan sudut bibir ke atas.


"Hebat," puji Andra stelah menelan separoh pastelnya.


"Ini enak sekali," pujinya lagi dengan suara ngga jelas sambil memgunyah sisa pastel.


"Telan dulu baru ngomong, kak. Kalo nenek tau bisa marah loh," kata Maria mengingatkan sambil.menepuk bahu Andra membuat yang lain terkekeh. Teringat akan teguran nenek pada Dewa kemaren.


"Biar kita yang bantu beres beres," kata Bima mengganti topik. Dia pun melepas jasnya diikuti kedua sepupunya.

__ADS_1


"Ngga usah, mas," larang Arinka. "Kakak kakakku yang tampan istirahat aja. Kan, capek tadi dari kantor," cegahnya lagi.


"Ngga pa pa. Kita juga butuh refreshing. Sesekali beda dengan pekerjaan kantor," sela Andra sambil membawa peralatan kotor ke dapur. Dewa sendiri mengambil sapu dan serokan untuk membuang sampah plastik dan sisa tepung di lantai. Bima membantu menyimpan peralatan yang masih bersih ke lemari kaca. Beberapa pelayan yang ada di situ tersenyum lebar melihat kelakuan ketiga tuan mudanya.


"Tuan muda, nona muda, pokoknya kalo nyuci tetap Bik Puji," sambar Bik Puji sambil mengambil busa dan sabun cuci piring sebelum sempat disentuh Andra.


"Bibik mau dibantu malah nolak. Jarang loh bik, tuan muda mau nyuci piring," seloroh Andra tergelak gelak bersama Dewa yang melihat kejadian unik barusan.


Biasanya sepupunya rebutan tender, sekarang malah rebutan busa dan sabun cuci piring.


"Pokoknya arena cuci mencuci punya bibik, ya," kata wanita yang sudah berunur hanpir lima puluhan ini dengan tegas, tapi di bibirmya terkembang senyum sangat lebar.


Suasana ini yang selalu dirindukan, jika ada nona muda Emilia pasti akan selalu rame di dapur, batin bik Puji terharu.


Sekarang semua nona mudanya sudah kembali, berkumpul seperrti dulu. Bik Puji merasa sangat bahagia. Juga melihat tuan muda tuan mudanya yang bisa tersenyum dan tertawa lepas. Seakan beban masa lampau sudah menghilang bersama belasan waktu yang sudah lama berlalu.


Dari balik pintu pemisah antara dapur dan ruang keluarga, nenek meneteskan air mata. Sudah lama sekali suasana seperti ini beliu rindukan. Sama seperti bik Puji. Sekaramg, hari hari di rumah besar ngga akan sepi lagi.


Sejak suaminya masuk penjara, saham perusahaan turun drastis dan cucu cucunya mengalami pembulyan di lingkungan sekolah juga di lingkungan masyarakat kelas atasnya. Karena itu semua cucunya di pindahkan sekolah di luar negeri.


"Mama," panggil seorang laki laki gagah paruh baya yang masih tampan. Di sampingnya ada seorang wanita yang juga masih cantik walau sudah tidak muda lagi.


"Revi," Tangis nenek sambil memeluk putra pertamanya dengan tersedu sedu. Wanita itu ikut memeluk mertua dan suaminya. Rupanya sejak tadi keduanya sudah memperhatikan bagaimana mamanya tersenyum sambil menangis dengan berbagai perasaan. Apalagi suara riuh yang ceria dari dapur. Anak anak dan keponakan keponakan mereka akan mengembalikan lagi suasana bahagia seperti dulu.


Nenek sangat terharu dengan ketangguhan ketiga putranya dalam membangun kembali perusahaan keluarga hingga bisa bangkit lagi dan bahkan tambah maju pesat. Apalagi sejak dibantu ketiga cucu laki lakinya yang mumpuni. Badai derita sudah berlalu. Tapi kenangan akan suaminya masih tetap melukai hatinya yang terdalam.


*


*


*


Arjuna menatap pintu unit Emilia yang masih tertutup rapat. Dan sepi seperti biasa.


"Apa dia ngga pulang?" gumamnya pelan. Padahal dia sudah sengaja pulang ke apartemennya, menolak ajakan Galih untuk bersenang senang.

__ADS_1


Sekali lagi dia melirik pintu unit sebelahnya sebelum menekan password kamarnya. Masih menoleh lagi sebelum masuk ke kamar nya.


Arjuna menghela nafas kecewa saat melangkahkan kakinya masuk ke dalam unitnya.


Begitu sampai di dalam, Arjuna berjalan ke ruang makan dan duduk diam di sana.


Dia masih ngga nyangka kalo gadis cabe cabean itu bertamu bahkan sarapan di unitnya. Andai dia tau kalo yang dia kunjungi adalah tempat tinggal orang yang dia hindari, Arjuna jadi tersenyum cukup lebar. Pasti akan sangat menyenangkan melihat reaksi terkejutnya jika dirinya mendadak memunculkan diri.


Arjuna mengusap wajahnya kesal. Kenapa dia harus memikirkan gadis menyebalkan itu. Misinya hanya untuk mempermainkan saja. Ngga lebih.


Arjuna menghembuskan nafas kesal sebelum masuk ke dalam kamarnya.


Dia mengurungkan niatnya untuk ke kamar mandi ketika ponselnya bergetar.


Dari staf penjualan apartemennya ini yang dimintai data pemilik unit sebelah kamarnya.


"Malam, tuan muda,."


"Sudah tau siapa yang membeli unit sebelah?" tanya Arjuna ngga sabar sambil melepaskan dasinya.


"Namanya nona Emilia Riswana."


"Ngga ada nama keluarganya?"


"Hanya itu nama yang terdapat di kartu identitasnya, tuan muda."


"Kamu tau kenapa unitnya dibiarkan kosong?"


"Katanya dia sekolah di luar negeri, tuan muda."


"Oke, terimakasih kalo gitu."


"Sama sama tuan muda."


Begitu sambungan telpon terputus, Arjuna memijat kepalanya pelan.

__ADS_1


"Tinggal tunggu info plat nomer kendaraan saja," gumamnya lagi kemudian meneruskan langkah memasuki kamar mandi.


__ADS_2