
Arga Taksaka menatap tajam Arsen yang tiba tiba muncul di depannya.
Pemuda ini masuk tanpa mengetuk pintu seperti kebiasaannya. Tapi yang membuat Arga Taksaka dongkol adalah raut wajah ngga bersalahnya, padahal sudah berani mengacuhkan puluhan kali panggilan telponnya. Bosnya!
"Kamu dari mana saja? Susah sekali dihubungi," kesal Arga Taksaka.
"Ada yang mau saya tanyakan," kata Arsen tenang. Dia tetap berdiri di seberang meja Arga Taksaka yang masih duduk di kursi kerjanya.
"Apa?" tanya Arga Taksaka ngga acuh. Dia kembali memeriksa berkas berkas di depannya.
Dua hari Arjuna ngga masuk dan pekerjaan kantor jadi sangat menumpuk. Gimana perasaannya ngga uring uringan.
Beliau pun awalnya sangat terkejut ketika Arsen tiba tiba masuk ke ruangannya setelah menghilang tanpa kabar.
"Apa yang sudah anda lakukan pada mama saya?"
Arga Taksaka mendongakkan wajahnya. Bibirnya menyeruakkan senyum sinis.
Arga Taksaka sudah menduga suatu saat Arsen pasti akan menanyakan hal ini. Mengingat dia sudah menghilang tanpa kabar selama dua hari ini dengan membawa mamanya pergi dari rumah sakit secara diam diam.
Tanpa memberitahunya!
Mungkin saja mamanya sudah menceritakan semuanya. Arga Taksaka sudah bersiap akan kemungkinan terburuk.
"Memangnya apa yang sudah dikatakan mamamu?" nada suara Arga Taksaka terdengar sangat menyebalkan dan mengintimidasinya.
"Mama tidak mengatakan apa apa," jawab Arsen tetap tenang.
"Kenapa kamu bertanya padaku, hah," sentak Arga Taksaka kesal sekaligus senang karena Arsen belum tau apa apa.
"Mama takut melihatmu. Begitu juga dengan Sujatnata. Katakan, apa yang sebenarnya sudah kalian lakukan?!" Arsen balas menyentak. Sudah tidak ada lagi rasa hormat dalam hatinya. Yang ada hanya kemarahan yang sudah berkobar di dalam dadanya, yang sejak tadi ditahannya.
"Beneran kamu mau tau?" tanya Arga Taksaka sambil berdiri dengan sikap pongah.
Arsen ngga menjawab, tapi tatap matanya menyorot tajam.
"Kamu jangan terkejut. Akan aku katakan." Kemudian Arga Taksaka mengambil nafas panjang
Mungkin sudah saatnya batin Arga Taksaka. Walau ngga suka, tapi dia merasa percuma disembunyikan lagi kenyataan ini. Mama Arsen pasti suatu saat nanti akan membuka juga rahasia ini juga pada Arsen.
"Kamu anakku. Darah dagingku."
DEG
__ADS_1
Tubuh Arsen yang tadinya berdiri kokoh kini sedikit bergeming.
Walau sudah curiga, tapi Arsen ngga mau mempercayainya.
Sekarang Arga Taksaka mengatakannya dengan tenang. Tanpa beban.
Tidak tau kah dia, kalo perkataannya yang datar sangat menyakiti perasaannya.
"Sejak kapan kamu tau aku darah dagingmu?" tanya Arsen dengan suara bergetar.
"Sejak aku melihat mu menjenguk mamamu."
Arsen menatap laki laki ini dengan pandangan nanar. Dia sudah punya dugaan apa yang menyebabkan mamanya menjadi depresi saat akan membawa mamanya pergi dari rumah sakit. Tapi Arsen masih berusaha ngga meyakininya. Dia menolak keras intuisinya yang ngga pernah salah selama ini.
Tapi melihat raut wajah dingin Arga Taksaka, Arsen semakin yakin kalo dugaannya benar.
Orang ini pasti sudah memaksa mamanya dan .... Arsen merasa dadanya sesak. Dia anak yang tidak diinginkan!
Apa dia berdua dengan Sujatnata yang melakukannya?
BUGH
BUGH
"Itu untuk penderitaan mamaku selama ini," kata Arsen dengan bibir bergetar. Dia tau itu belum cukup. Dan ngga akan pernah cukup untuk mengganti air mata mamanya yang sudah keluar selama bertahun tahun lamanya.
Tangannya yang meninju Arga Taksaka bahkan masih bergetar. Arsen masih mengingat kebaikannya, walaupun selama ini dia selalu menjadi peluru andalannya Arga. Pesuruhnya yang selalu mengerjakan apa saja.
Dia pun membalikkan tubuhnya untuk segera pergi. Jika masih lama berada di situ kakinya yang sudah gatal ini pasti akan menendang tubuh yang sudah menua itu.
Arga Taksaka mengusap darah yang mengalir di kedua sudut bibirnya.
"Aku ngga bisa mengakuimu. Tapi kamu tetap anakku," katanya tetap seperti tadi. Dingin dan datar. Walaupun ucapannya agak tersendat
Ciiihhh!
Arsen menulikan telinganya dan terus melangkah pergi. Dia pun ngga sudi mengakui Arga Taksaka sebagai papanya.
Arsen tercekat sesaat ketika pintu ruangan terbuka dari arah luar. Ada Arjuna berdiri di depannya dan seolah kaget melihat keberadaannya, tapi kemudian menatapnya tajam
Adiknya, batin Arsen datar. Anak kebanggaan Arga Taksaka yang selalu disetirnya.
Arsen tau kenapa Arjuna terlihat sangat marah padanya. Pasti karena foto foto dirinya bersama kekasihnya di Pulau Bali yang berhasil dijepret Arsen diam diam dan sudah dilaporkan ke papanya. Papa mereka.
__ADS_1
Lidah Arsen terasa pahit untuk menyebut laki laki jahanam itu sebagai papanya.
Tanpa kata, dia pun berlalu pergi sambil menabrakkan bahunya dengan kasar ke bahu Arjuna. Arjuna sampai bergeser tempat karenanya.
"Gila," decih Arjuna kesal. Harusnya dialah yang melakukannya.
Tapi tatapannya berubah jadi khawatir melihat keadaan papanya yang berdarah di bibirnya dan sedang memegang dadanya.
"Papa kenapa?" tanya Arjuna sambil membantu papanya untuk duduk.
Nafas Arga Taksaka agak tersengal.
Arjuna melonggarkan dasi papanya dan membuka dua kancing atas kemeja papanya.
"Dia yang melakukannya?" tebak Arjuna yakin.
"Ya," sahut papanya sambil memejamkan matanya. Beliau sedang mengatur jalan nafasnya agar sesak di dadanya cepat menghilang.
"Aneh. Kenapa dia melakukannya? Bukannya dia pengawal andalan papa," sarkas Arjuna sambil menghapus noda darah di sudut sudut bibir papanya dengan tisu.
Arga Taksaka ngga menjawab. Rasa sakit di tulang belikat dan kepalanya mulai berkurang. Perlahan lahan dirinya mengambil nafas dan menghembuskannya. Berulang kali.
Anak itu berani sekali, batinnya geram. Ngga mengira Arsen bisa seberani ini padanya.
Dia harus diberi sedikit pelajaran untuk belajar menghormati orang yang sudah mengangkat derajatnya, batinnya lagi.
Arga Taksaka yakin saat ini Arsen akan mencari Sujatnata. Dia harus secepatnya memperingatkan sahabatnya agar berhati hati jika bertemu Arsen.
Setelah merasa tenang, dengan mengacuhkan keberadaan Arjuna, Arga Taksaka mengetikkan pesan untuk sahabatnya itu.
Arjuna hanya memperhatikan sikap papanya yang tampak aneh.
Padahal dia mengira Arsen akan selalu setia pada papanya selamanya. Tapi kejadian hari ini membuatnya sedikit senang.
Selama ini hanya Arsen yang paling Arjuna waspadai. Dia sangat pintar. Beberapa kali Arjuna selalu saja tertangkap oleh Arsen. Terakhir ketika mereka berada di Pulau Bali. Arsen bisa mengambil foto foto kedekatannya dengan Emilia di momen momen yang tepat. Dan bodohnya, Arjuna ngga menyadari keberadaan Arsen.
Mengingat raut wajah mengelam Arsen tadi, Arjuna yakin ada masalah besar diantara papanya dengan Arsen.
Sekarang pun papanya sibuk dengan pesan pesan di ponselnya. Seakan akan kehadirannya sudah ngga penting lagi.
Syukurlah, batin Arjuna lega. Setelah perbuatan jahat papanya terbongkar, Arjuna juga merasa ilfeel berdekatan dengan papanya.Dia masih belum bisa memaafkan kesalahan papanya.
"Ada apa kamu kemari?" tanya Arga Taksaka sambil menutup ponselnya.
__ADS_1
Dua putranya datang secara mendadak dengan wajah menahan marah. Tadi Arsen sudah meninjunya. Arjuna, dia pasti juga akan melakukan sesuatu yang bisa menguras energi hidupmya.