
Arsen meraih lengan mamanya dan mambawanya menjauhi pecahan piring. Mamanya terlihat sangat terguncang mendengar pernyataannya tadi yang membenarkan dugaan beliau
Setelah medudukkan mamanya di kursi, Arsen mengambilkan mamanya segelas air putih.
"Minum, ma."
Mamanya menurut. Arsen dapat melihat tangan yang memegang gelas itu gemetar.
Setelah meneguk separuh dari isi gelas, Arsen menganbil gelas mamanya dan meletakkannya di atas meja.
"Itu benar?" tanya mamanya dengan bibir bergetar. Bahkan Arsen dapat merasakan tubuh mamanya juga bergetar dan suhu tubuhnya mendadak dingin.
"Iya, ma."
Keduanya saling bersitatap.
"Dia adikku, kan, ma?" tanya Arsen yang sudah ngga bisa lagi menahan rahasia yang dipendamnya. Rasa penasarannya bagaimana dia bisa lahir. Kenapa mamanya harus depresi saat dia ada di rahimnya bahkan kita puluhan tahun kemudian.
Walau sudah punya dugaan pahit, tapi Arsen harus tetap mendengar yang sejujurnya dari mamanya langsung.
Mamanya tergugu. Ngga menyangka Arsen akan mengatakannya. Dia shock menyadari Arsen sudah tau rahasia yang diisimpannya selama ini. Entah sejak kapam.
Tubuhnya melemas seketika. Dia pun menutup wajahnya sambil menangis sangat keras.
Arsen terdiam dengan tetap mempertahankan posisi berjongkoknya di depan mamanya Dia meletakkan kepalanya dipangkuan wanita yang sudah melahirkannya. Pastinya sudah mengalami hal sangat pahit dalam hidupnya.
Hanya saja hati Arsen terluka.
Apakah mamanya menyesali kehadirannya?
"Ya, kamu kakaknya Arjuna. Tapi laki laki itu bukan papamu. Dia iblis berkedok manusia. Juga temannya Sujatnata. Mereka berdua iblis!" teriak mamanya tiba tiba histeris.
DEG
DEG
DEG
Arsen lalu memeluk erat tubuh mamanya yang masih menangis histeris.
Ngga nyangka akan sefatal ini reaksi mamanya. Mamanya benar benar terluka dan hancur.
Amarah menggelegak dalam tubuh Arsen. Dua laki laki itu. Bahkan dia pun hampir terbunuh oleh Sujatnata sialan itu.
Setelah hampir sejam, mamanya baru terlihat tenang.
'Mama minta maaf sudah menyia nyiakan kamu. Kamu harus hidup sendiri mengurus mama yang selalu sibuk dengan penyesalan dan sakit hati," ucap mamanya dengan suara tersendat sendat.
Jika saja dia bisa menerima nasib mirisnya, dia pasti ngga akan menyusahkan putranya. Bahkan mereka bisa tertawa bersama dan menjalani hidup yang bahagia. Harusnya sejak dulu dirinya melupakan masa lalunya yang pahit. Melanjutkan hidup baru dengan Arsen putranya. Darah dagingnya.
"Arga Taksaka sudah menodai mama. Dan temannya malah tertawa tawa melihatnya. Mereka dalam kondisi mabuk. Mereka kejam, Arsen," tangis mamanya lagi, walau sudah ngga sekeras tadi. Tapi sakit yang tersampaikan dalan rintihan masih sangat terasa.
Darah Arsen menggelegak. Rasanya saat ini ingin rasanya langsung membawa kedua manusia durjana itu di hadapan mamanya, bersujud dan memohon maaf pada mamanya.
Dia berjanji dalam hati, akan melakukan hal yang mengerikan pada keduanya nanti.
"Maaf karena mama ngga bisa melupakannya. Maaf karena mama terlambat untuk sembuh. Maaf, Arsen. Maaf," isah mamanya lagi seperti rintihan yang teramat pedih.
__ADS_1
Arsen hanya mengangguk Karena kini dalan otaknya sedang menyusun rencana untuk membalaskan sakit hati mamanya.
Walaupu dia sudah melakukannya. Tapi rasanya belum.cukup memgingat kedua orang itu sama sekali ngga menyesal atas perbuatannya. Bahkan Sujatnata hanpir membunuhnya dengan tembakannya.
*
*
*
Sujatnata berjalan pelan menghampiri Arga Taksaka yang sedang beristirahat di ruang kerjanya
Bilur bilur masih terlihat dipipinya. Arga pun masih setia dengan rokoknya yang sudah tinggal setengahnya.
"Arsen yang memukulmu?" tanya Sujatnata sambil duduk di sampingnya dan mengambil sebatang rokok milik sahabatnya.
"Dia sudah tau," sahut Arga Taksaka datar.
"Dia juga mendatangiku," cetus Sujatnata.
"Aku terpaksa menembakmya, tapi ada seorang perempuan yang menyelamatkannya," sambung Sujatnata sambil menghembuskan asap rokoknya.
Arga Taksaka membesarkab bola matanya. Menatap Sujatnata marah.
"Hei, hei. Aku ngga mungkin menembak titik vitalnya, kan. Hanya ingin memberinya peringatan," kekeh Sujatnata santai menyadari kemarahan Arga Taksaka.
"Seharusnya kau tidak melakukannya," desis Arga Taksaka geram. Biar bagaimana pun, Arsen putranya.
"Jiwa kebapakanmu terpanggil, heh!" ejek Sujatnata masih dalam kekehannya.
Seakan tersadar, Arga Taksaka mendengus. Arsen anaknya yang ngga mungkin dia akui.
"Wanita itu sudah mengatakannya pada Arsen. Sialan! Karena itu Arsen berani menentangku!" dengusnya kesal. Dia masih ngga terima dengan pembangkangan Arsen.
"Wanita gila itu maksudmu?" kali ini Sujatnata mulai menghentikan tawanya dan mulai serius.
Ada yang belum dia ketahui ternyata, batinnya.
"Hemm!" Dengus Arga Taksaka kemudian mematikan rokoknya ke asbak.
Sujatnata menatap sahabatnya dalam diam. Dia sedang menunggu kelanjutan omongan Arga.
"Arsen sudah mengeluarkannya dari rumah sakit jiwa. Sejak itu Arsen menghilang. Dia pasti sudah menyembunyikan mamanya sebelum membalaskan dendamnya," jelas.Arga Taksaka geram.
"Pasti wanita itu juga mengatakan tentangku. Kurang ajar. Padahal hanya kau yang menikmatinya," dengus Sujatnata jengkel.
Kenapa dia harus terbawa bawa oleh dendam anak itu! batinnya ngga terima.
Arga Taksaka hanya meliriknya dingin.
Kau melihatnya dan membiarkannya bodoh! makinya dalam hati.
"Sekarang apa yang akan kau lakukan?" tanya Sujatnata ingin tau.
Arsen bukan pemuda sembarangan. Sebenarnya Sujatnata tau, gadis itu menyelamatkannya. Bukan Arsen.
Karena gadis itulah makanya Arsen ngga bisa menembaknya dan membiarkannya pergi begitu saja dengan mobilnya. Dia selamat.
__ADS_1
Tapi kini dia yakin, keselamatamnya akan terancam. Arsen pasti akan membalasnya dan terlebih lagi pada Arga Taksaka. Mereka harus bersiap dan memperketat penjagaan.
"Tidak ada. Anak itu ngga mungkin bisa membunuhku. Walau bagaimana pun aku ini tetaplah papanya," tukas Arga Taksaka angkuh.
Huh!.
Sujatnat mencibir atas keyakinan bodohnya.
Mungkin mereka ngga akan dibunuh, tapi bisa saja mereka akan dibuat koma berbulan bulan olehnya.
"Dia bukan Arjuna. Arjuna memang menentangmu sekarang. Tapi Juna ngga akan menyakitimu. Tapi Arsen berbeda," kata Sujatnata memgingatkan
Arga menatap sahabatnya ngga suka. Saat ini hatinya jadi panas karena diingatkan lagi soal pembangkangan Arjuna.
"Vania gimana?" Arga mengganti topik pembicaraan.
"Besok aku akan mengantarkanya ke Venezia. Semoga saja isu tentangnya belum berkembang di sana," jelas Sujatnata jadi sedih. Sekarang putrinya harus membangun karir modelnya lagi dari nol. Vania akan memulai lagi karirnya di sana, jauh dari negara dan orang orang yang mengenalnya. Menejernya yang akan menemaninya di sana
Ibunya belum bisa memaafkannya. Istrinya juga belum sembuh. Tapi keluarganya dan keluarga istrinya akan merawatnya. Mereka dengan amat sangat memintanya membawa Vania pergi, mengantisipasi kabar buruk selanjutnya yang bisa saja dialami putrinya. Hamil akibat kejadian malam jahanam itu.
Hatinya sebagai orang tua sangat hancur. Putri cantik dan baiknya mendapat cobaan seberat itu. Kata kata ibunya kalo dia sekarang mendapat karma karena selalu membantu perbuatan jahat Arga sangat mempengaruhinya. Mungkin benar. Sekarang pun dia sedang menunggu karma dari Arsen.
"Aku minta maaf. Aku sangat menyayangi putrimu," ucap Arga tulus.
Sujatnata tersenyum sambil mematikan rokoknya. Dia tau Arga sama kecewanya dengan dirinya karena batalnya mereka jadi besan
"Kau akan membiarkan Arjuna bersama anaknya Revi Sagara?" tanya Sujatnata ingin tau.
Arga Taksaka menyeringai sinis
"Tentu saja tidak. Tapi kali ini kau ngga perlu membantu. Aku ngga ingin tante marah. Aku akan melakukannya sendiri," tegasnya sambil menepuk pundak sahabatnya.
Arga masih teringat akan kemarahan ibu Sujatnata yang sangat dia hormati dan sayangi. Dia ngga akan melibatkan Sujatnata lagi untuk melampiaskan dendamnya. Dia ngga mau dibenci Ibu Sujatnata.
Sujatnata menatapnya dengan tatapan terimakasih sekaligus khawatir. Karena Arga akan bekerja sendiri.
Apa dia perlu memberitahukan pada Haykal? batinnya menimbang.
Tanpa mereka sadar, Aryati-Mama Arjuna menekan dadanya kuat kuat. Hal hal yang didengarnya sangat mengerikan sekaligus menghancurkan jiwanya.
Dengan perlahan dia menjauh. Awalnya Mama Arjuna akan mengantarkan kopi untuk suaminya. Melalui pintu yang tidak ditutup rapat oleh Sujatnata yang baru datang, beliau pun mendengar semuanya.
Untungnya beliau bisa menahan cangkir kopi di tangannya agar ngga jatuh dan pecah yang bisa membuatnya ketahun menguping pembicaraan sangat rahasia itu.
Dengan langkah sangat berat dan pelan, Mama Arjuna berjalan pergi menjauh.
Air matanya menetes
Pantasan suaminya memperlakukan Arsen sangat istimewa.
Mama Arsen gila? Sebenarnya apa yang sudah mereka berdua lakukan sampai mama Arsen gila dan Arsen akhirnya marah? Pikirannya diliputi banyak tanda tanya yang dia sendiri ngga bisa mendapatkan jawabannya.
Arjuna?
Hatinya tersentak. Mengingat kata kata terakhir suaminya yang seperti ancaman akan hubungan putra tunggal mereka dengan kekasihnya yang dulu.
Dia harus secepatnya mencari Arjuna. Kalo memang Arjuna berkeras akan menikahi putri mendiang Revi Sagara, dirinya akan merestui. Kebahagiaan Arjuna adalah segala galanya buatnya.
__ADS_1
Mama Arsen ngga mau keduanya sampai celaka akibat kegilaan suaminya akan dendamnya yang ngga pernah surut. Dia harus segera mengambil tindakan.