
"Apa.maksud papi?" tanya Arjuna setelah Om Sujatnata dan keluarganya meninggalkan rumah mereka.
"Papi ingin kamu bertunangan secepatnya dengan Vania," jawab Arga Taksaka tenang. Sementara istrinya mulai merasakan suasana yang mulai menegang. Galih sudah berlalu begitu keluarga Om Sujatnata pamit undur diri. Dia ngga mau ikut campur masalah dalam keluarga Arjuna. Baginya melarikan diri lebih baik dari pada nanti ketiban apes.
"Aku baru mengenalnya," tolak Arjuna halus.
"Karena itu kalian harus lebih dekat. Mulai besok kamu harus antar jemput Vania kalo mau ke perusahaan kita," perintah Arga Taksaka dengan sorot tajam dan ngga bisa dibantah.
"Aku ngga bisa. Papi tau aku sibuk. Vania pasti punya supir," bantah Arjuna tegas dengan argumen argumennya yang masuk akal.
"Kamu bisa mengandalkan Galih. Dia pasti akan membantu," kata papi ngga kalah tegas.
Tuh, kan, batin Galih ketika memdemgar kata kata Arga Taksaka.
"Galih akan menangani sebagian urusan perusahaan. Fokuslah dengan hubunganmu bersama Vania," masih dengan nada perintah Arga Taksaka melanjutkan ucapnnya.
"Galih sudah sangat sibuk, pi," tolak Arjuna bertahan. Dia ngga mau berurusan dengab perempuan untuk sementara ini.
"Bukannya Vania sangat cantik?" mami Arjuna ikut menengahi. Beliau merasa aura pertengkaran akan semakin meningkat tinggi.
"Iya," jawab Arjuna jujur.
Andai saja dia belum mengenal Emilia dan jadi laki laki paling bodoh, umpatnya dalam hati.
"Galih ngga akan keberatan," tandas papi.
"Aku yang keberatan, pi," bantah Arjuna tetap menolak.
Mami Arjuna mulai memperhatikan keduanya dengan perasaan semakin tegang. Dia mengomeli Galih yang sudah buru buru pergi. Padahal tanpa setahu mami Arjuna, Galih bersembunyi di balik dinding ruang tamu dan sedang menguping.
"Kamu ngga tertarik dengan Vania?" tanya papi melunak.
Arjuna terdiam.
Bukan begitu pi, sekarang aku ngga bisa, batinnya menjawab.
Jika saja dia ngga tergoda dengan Emilia, pasti akan mudah baginya untuk dekat dengan Vania. Gadis itu ngga kalah cantik dan seksinya dari Emilia.
"Dia cocok untukmu. Papi dan Om.Nata sudah lama memikirkan ini. Bahkan sejak kalian dilahirkan," kata Arga Taksaka berusaha meluluhkan kekeras hatian putranya.
Karena pada dasarnya Arjuna adalah anak yang penurut. Selalu mengikuti apa maunya selama ini. Terutama tentang balas dendamnya.
Mami Arjuna bernafas lega melihat suaminya yang bersikap sabar.
"Aku butuh waktu, pi. Aku baru saja patah hati," kata Arjuna mulai jujur membuka isi hatinya.
Arga Taksaka dan istrinya saling pandang, mulai menebak arah pembicaraan putranya.
Tapi kata patah hati membuat ego mereka terusik.
__ADS_1
Berani beraninya, geram Arga Taksaka ngga terina.
Tapi kabar yang diterimanya kemarin membuat hatinya senang bukan main karena Revi Sagara mengalami sakit jantung dan sedang berada di rruang.ICU.
"Anak gadis mana yang berani menolak kamu?" tanya Arga Taksaka geram, pura pura ngga tau.
"Bukan aku ditolak dia pi. Tapi aku yang menolak bersamanya," jawab Arjuna tenang membuat kedua orang tuanya saling pandang dengan hati penasaran, apakah putranya selama ini ngga tau kalo telah memadu kasih dengan siapa. Begitu batin mereka dalam hati.
Tapi memang aneh, sekelas Arjuna ngga tau dengan siapa dia main hati.
"Papi ngga ngerti," tanya Arga Taksaka memancing.
"Maaf sebelumnya, pi. Aku ngga sengaja menyukai salah satu putri.Sagara. Tapi hubungan itu sudah selesai setelah kami sama sama mengerti. Aku harap, papi ngga melakukan hal apa pun pada keluarga Sagara karena ini. Aku janji ngga akan berhubungan lagi dengannya. Itu hanya kesalahan," jelas Arjuna panjang lebar dan tentu saja dengan sedikit penekanan.
DEG
DEG
DEG
Arga Taksaka tiba tiba terhuyung sambil memegang dadanya yang terasa berdenyut keras.
"Sayang!" seru mami kaget melihat suaminya hampir jatuh
"Papi!" kaget Arjuna tapi dengan sigap segera meraih tubuh papinya.
Untung Galih yang berada ngga jauh dari situ segera berlari dan menopang bahu Arga Taksaka yang sudah lebih dulu disokong Arjuna.
"Kamu ngga apa apa, sayang?" tanya mami Arjuna panik dan ikut membantu suaminya untuk duduk di sofa. Nafas Arga Taksaka agak tersengal.
"Telpon dokter," seru Arjuna pada Galih.
"Nggak usah. Papi ngga apa apa," larang Arga Taksaka sambil menerima obat yang diulurkan istrinya dan langsung menelannya.
Ketiganya menatap Arga Taksaka dengan cemas. Apalagi maminya. Perasaannya semakin ngga menentu. Firasatnya mengatakan kalo suaminya sudah melakukan hal yang dilarang putranya.
Semoga saja tidak, harapnya ngga tenang. Hanya Arjuna yang belum tau kalo fakta hubungannya dengan putri Sagara sudah diketahui orang tuanya. Bahkan papinya Galih juga sudah tau dari Arga Taksaka sendiri.
Setelah memejamkan mata dan mengatur nafas belasan menit kemudian, Arga Taksaka baru merasa kelegaan di pernafasannya.
"Maafkan Juna, pi," ucap Arjuna merasa bersalah.
Tidak. Kamu salah paham, Juna, bantah Arga Taksaka dalam hati dengan perasaan kalut.
Sekarang dia berharap agar musuh besarnya baik baik saja. Segera sembuh dari sakit jantungnya. Karena keselamatannya adalah jaminan Arjuna memegang janjinya.
"Kenapa bisa kamu ... ngga tau gadis yang bersamamu ... putri dari keluarga Sagara?" tanya papi terpatah patah.
"Kami sudah menyelidikinya, tapi informasi yang didapat tentangnya sangat sedikit," jelas Arjuna pelan.
__ADS_1
"Pasti aksesnya sudab ditutup," kata mami Arjuna yakin. Sekelas Revi Sagara pasti akan sengat mudah melakukannya. Apalagi untuk melindungi putrinya. Suaminya pun menganggukkan kepalanya setuju.
"Setelah kami sama mengerti, kami putuskan untuk berpisah," sambung Arjuna sambil menatap ke arah lain. Menyembunyikan luka di hatinya. Galih pun memilih memijat bahu papi Arjuna, seakan akan itu kegiatan yang sangat penting.
Arga Taksaka dan istrinya saling pandang.
"Jadi kamu mau, kan, tunangan dengan Vania?" tanya Arga Taksaka.lagi setelah nafasnya mulai stabil.
Arjuna menatap papinya sebentar, kemudian menoleh pada Galih yang sangat fokus pada papinya.
"Juna, papa Vania selalu ada di saat papi susah. Dia salah satu sahabat papi selain Om Haykal, papa Galih," kata papi Arjuna sedikit mendesak.
Arjuna menghela nafas panjang. Dia menatap papinya yang memegang dadanya seolah menahan rasa sakit
"Baiklah Pi. Juna terserah papi saja," kata Arjuna terpaksa menyerah.
"Terima kasih Juna," sahut ArgaTaksaka senang. Rasanya beban di dadanya langsung plong.
Mami Arjuna menghembuskan nafas lega.
Semoga ini yang terbaik, do'anya dalam hati.
Galih menatap ke arah lain.
Semoga kamu ngga nyesal, batin Galih.
"Loh, ada apa ini? Kamu kenapa kak Arga?" tanya tante Carol panik ketika melihat kakak laki lakinya duduk dengan beberapa kancing atas kemeja batiknya yang terbuka dan di keningnya masih ada sisa keringat.
"Aku ngga apa apa," kata Arga menenangkan adiknya.
"Kenapa kalian baru datang," katanya mulai kesal sambil menatap adik iparnya Verdin yang jadi salah tingkah.
"Maaf, Kak. Tadi ketemu teman lama kita. Kelamaan ngobrolnya sampai lupa," kekeh Carol tanpa rasa bersalah. Verdin hanya menghela nafas karena kembali mendapat lirikan sebal kakak iparnya
"Ngga apa apa. Nanti kamu bantu kakak, ya, kita mau ngadakan pesta pertunangan Arjuna," ucap mami Arjuna mencoba mencairkan kekakuan yang selalu muncul diantara suaminya dengan suami Carol.
"Juna mau tunangan dengan siapa?" kaget Carol. Padahal dia sudah punya calon buat ponakannya itu.
"Dengan putri Nata, namanya Vania. Dia cantik banget Carol," puji mami Arjuna bangga.
"Cantik aja ngga cukup. Pintar bikin kue, nggak?" sergah Carol memprotes.
Uhuk Uhuk Uhuk
Uhuk Uhuk Uhuk
Ngga hanya Arjuna yang terbatuk batuk, ternyata Galih pun melakukan hal yang sama.
"Kalian kenapa, sih?" tanya mami Arjuna heran sambil mengambilkan minum untuk keduanya
__ADS_1
"Harusnya kalian jadi anak kembar. Soalnya apa apa sering barengan," tawa Carol membuat suaminya, beserta kakak dan istrinya melebarkan senyum mereka secara spontan.