Love U Like FIRE

Love U Like FIRE
Pertemuan Ketiga


__ADS_3

"Udah lama gue ngga nge dance," seru Emilia sambil menggerakkan tubuhnya di arena dansa bersama ketiga sepupunya. Musik hip hop yang dibawakan sang dj membuat lemak mereka bisa terbakar habis.


"Nikmati, Mil," seru Maria keras berusaha mengalahkan hingar bingar suara musik dan orang orang di lantai dansa.


"Bebas dari penjara batin," tawa Zeta dan Arinka bersamaan.


Setelah bertemu dengan orang tua Emilia, juga orang tua mereka saat acara makan malam, Arinka mengajak ketiga sepupunya untuk membakar lemak di salah satu club yang terletak di dalam hotel bintang lima.


"Keren juga club rekomendasii kamu," puji Emilia pada sepupunya.


"Dulu kayaknya ngga ada," tambahnya lagi.


"Baru buka setahun yang lalu," jelas Zeta yang masih asyik menggoyangkan tubuhnya.


"Goyang yang seru, Maria Mercedes," tukas Arinka pada Maria yang begitu lincah menari.


"Siap akang," balas Maria sambil mengedipkan sebelah matanya pada Arinka.


"Dua tahun badan gue rasanya jadi kaku," kekeh Emilia dibalas tawa ketiganya. Bisa mereka bayangkan hari hari Emilia yang tersiksa menjadi anak rumahan.


Padahal dari dulu, bersama mereka selalu bertualang ke banyak club. Walau sekadar buat nongkrong atau nge dance. Hanya untuk mencari keringat dan kesenangan.


"Gue mau minum dulu, ya, haus," ucap Emilia sebelum beranjak meninggalkan ketiganya.


"Oke," balas Arinka masih terua ngedance dengan asyik.


Emilia pun berjalan sambil memperhatikan seisi club yang mewah.


"Halo, boleh kenalan?" tanya seorang laki laki berjas agak sempoyongan yang mendekat. Emilia yakin laki laki ini imabok cukup berat karena bau alkohol yang keluar dari bibirnya.


"Saya mau ke tempat pacar saya," kata Emilia sambil memundurkan tubuhnya menghindar.


"Sama aku saja nona," paksa laki laki itu sambil berusaha menarik tangannya.


GREP!


"Dia pacarku," ucap seorang laki laki yang suaranya cukup dikenal di indra pendengaran Emilia. Tangan laki laki itu merengkuh bahunya.


Si mulut pedas, batin Emilia ketika dia mendongakkan kepalanya menatap laki laki yang memeluk bahunya erat.


Laki laki mabok tadi ngga berkata apa apa lagi selain melangkah pergi meninggalkannya.


"Terima kasih," kata Emilia sambil berusaha menjauhi laki laki yang sudah ditemuinya tiga kali.


"Temani aku," katanya setengah memaksa sambil mengeratkan rangkulannya.


"Hey, aku ngga mau," tolak.Emilia kasar.


"Mau kupanggilkan laki laki mabok tadi?" ancam Arjuna dengan sorot mata dinginnya.


Tentu saja Emilia ngga mau, reflek dia menggelengkan kepalanya.


"Kakinu sudah sembuh?" tanya Arjuna sambil melirik heels tinggi yang dikenakan gadis cabe cabean itu.


"Sudah," jawab Emilia jujur.

__ADS_1


"Pantas tadi aku melihatmu menari demgan lincah," decih Arjuna sambil menatap lekat sepasang mata bening Emilia.


"Kamu jangan aneh aneh. Sepupuku di dekat sini," ucap Emilia balik mengancam.


Seringai tipis muncul di wajah tampan yang dingin itu membuat Emilia merasa cukup terintimidasi.


"Beani mengancamku, heh," responnya dengan suara datar membuat Emilia tanpa sadar menggelengkan kepalanya tanpa sadar.


"Kelinci yang pintar. Kamu jangam berpikiran aneh. Aku ada meeting di sini," kata Arjuna menjelaskan dengan datar.


Emilia ngga menjawab, dia masih menatap mata yang menyorot dingin di depannya.


"Kamu akan jadi pacar pura puraku malam ini," katanya lagi sambil memaksa Emilia mengikuti langkahnya.


"Apa?" kaget Emilia.


"Balas kebaikanku malam ini," tandasnya sambil.terus melangkah bersama Emilia di sampingnya.


Jujur Emilia merasa bodoh, kenapa dia dengan rela rela mengikuti laki laki ini. Tapi ada rasa senang dalam hatinya bertemu demgan laki laki bermulut pedas yang sangat tampan ini. Mendadak dia teringat misinya.


Oke, gue ikutin mau lo, batin Emilia senang. Dia ngga perlu lagi bersusah payah memikirkan cara untuk mendekati laki laki dingin dan bermulut pedas yang merangkulnya. Dia sendiri yang sudah memudahkan jalannya.


"Siapa namamu?" tanyanya pelan


"Emilia."


"Oke, aku Arjuna Taksaka."


Emilia terkejut dan membuatnya menghentikan langkahnya. Laki laki itu menatapnya dengan kening berkerut.


"Kamu... Arjuna Taksaka?" tanya Emilia mengulang ucapan laki laki itu dengan terbata.


"Ya," sahutnya sambil menatap tajam sepasang mata yang membesar karena kaget. Tapi terlihat sangat indah.


"Ngga mungkin kamu ngga tau, kan," sambungnya lagi dengan sombong.


Ya, akiu mengenal nama belakangmu, batin Emilia menjaeab.


"Setelah tau siapa aku, apa kau akan meminta bayaran yang banyak? tanyanya sinis.


Jelas samgat merendahkan Emilia. Tapi Emilia membalasnya dengan senyuman yang amat sangat manis hingga membuat Arjuna terpukau beberapa detik.


"Tidak perlu. Aku membantumu dengan ikhlas."


"Harusnya memang begitu. Ini adalah bayaranmu atas pertolonganku tadi, Emilia."


Dasar sombong.


"Terserah apa katamu," jawab Emilia santai. Dalam hati dia bersyukur karena didekatkan dengan mudah dengan grup keluarga yang sangat menyebalkan.


"Ayo," paksa Arjuna sambil melangkah. Tapi kali ini berbeda, Emilia ngga merasa terpaksa mengikutinya.


Arjuna membuka pintu ruangan privat di dalam club. Ternyata sudah berkumpul banyak laki laki dan perempuan sebaya mereka. Bahkan ada si gondrong yang direbutin Zeta dan Maria.


Tapi saat si gondrong yang kaget hendak menegurnya, Emilia melihat isyarat yang diberikan Arjuna membuatnya terdiam.

__ADS_1


"Wooow, siapa.ini. Cantik dan seksi sekali," puji salah seorang laki laki tampan itu dengan tatapan memggoda.


Emilia reflek memperhatikan penampilannya. Dres dengan leher cukup tinggi tanpa lengan. Panjangnya pun selutut. Dimana seksinya, kesalnya membatin.


"Kok, gue baru lihat," sapa laki laki yang lainnya.


"Selama ini kamu ngumpet dimana aja nona?" sambung laki laki yang lainnya lagi. Tapi mereka semua tampan tampan. Begitu juga para perempuan yang berada di situ. Cantik dan seksi.


"Siapa dia, Juna?" tanya seorang gadis cantik dengan dres yang berleher rendah menatap Emilia ngga suka.


"Kekasihku."


Si gondrong terlihat melongo sesaat sebelum membuang pandangannya ke arah lain.


Sial, batinnya sambil mengulum senyum.


"Sejak kapan kamu punya kekasih," tanya laki laki yang tadi sudah menyapanya.


"Sejak hari ini," jawab Arjuna cuek membuat Emilia menatap kesal padanya.


"Juna, aku serius," sergah gadis itu agak marah.


"Sudah Veli. Ayo, kita mulai meetimg," tukas laki laki tampan itu sambil menarik tangan gadis yang dipanggilnya Veli.


"Lo belum mengenalkan nama pacarmu, Juna," ucap laki laki itu masih dengan tatapan nakalnya pada Emilia.


"Sudahlah Arbi. Sebaiknya lo duduk dengan tenang," Galih yang bantu menjawab.


"Oke oke. Tapi paling engga kita tau namanya, kan?" ujar Arbi ngeyel.


Galih yang ngga tau nama gadis yang suka cari mati itu terdiam. Sedangkan Arjuna juga bersikap cuek dan duduk di kursi terakhir yang tersisa.


"Akan gue minta pelayan membawa satu sofa lagi," kata Galih berinisiatif.


"Ngga perlu," tolak Arjuna kemudian menatap Emilia.


"Kamu ngga keberatan duduk di atas pahaku, honey," lanjutnya dengan sangat mesra.


Ada getaran aneh merambati dada Emilia saat mendengar panggilan lembut itu. Tatapan Arjuna pun sudah ngga sedingin tadi. Terlihat mesra, seperti seorang kekasih yang sangat mencintai pasamgannya.


Oke, tuan muda Taksaka. Aku ikuti permainanmu


"Tentu saja tidak," jawab Emilia manja. Dia pun menjatuhkan bokongnya dengan lembut di paha laki laki itu dengan posisi menyamping. Kedua tangannya pun bergelung di leher laki laki itu dengan kepala menyandar di dada Arjuna yang langsung dapat Emilia rasakan detakannya yang kencang.


Gotcha. kamu akan ku goda sampai memohon mohon padaku, Arjuna Taksaka.


Ngga hanya Arjuna yang kaget akan sikap nakal Emila, Arbi dan laki laki di situ pun tersentak dan hanya bisa menatap iri. Sementara Veli menatapnya ngga senang.


Galih tersenyum.miring melihat keberanian gadis ini.


"Pacarmu hot sekali," kekeh Arbi sambil melirik paha putih mulus yang terlihat jelas akibat dresnya yang terangkat cukup tinggi.


Arjuna segera merapikan dresnya dan menutup bagian yang terbuka dengan telapak tanganya sambil mengelus lembut.


Emilia tersentak. Dia tersiksa dan menggigit bibir bawahnya erat akibat elusan tangan yang ngga berhenti. Emilia semakin menempelkan kepalanya di dada bidang laki laki keturunan Taksaka.

__ADS_1


Gila! Emilia merasa dirinya mabok, padahal dia sama sekali ngga menyentuh alkohol.


__ADS_2