
Arjuna kembali meneguk minuman alkoholnya. Saat ini dia berada di meja bar, sendirian tanpa sahabat sahabatnya. Jam pun sudah menunjukkan puku dua dini hari. Seorang bartender masih setia menemaninya minum.
"Belum mau pulang bos?"
"Tuangkan aku segelas lagi," pintanya sambil menatap club yang masih dipenuhi orang orang dan musik yang berdentam keras
"Nanti pulang sama siapa bos?" tanya bartender sambil menuangkan minuman dengan wajah khawatir. Wajah Arjuna sudah merah dan matanya mulai mengerjap.
"Sendiri," jawabnya kembali meneguk minumannya.
"Bahaya bos, kalo mabok nginap di hotel di sini saja," usul bartender itu. Dia sangat mengenal siapa yang duduk di depannya. Hanya saja dia heran, ngga biasanya datang sendirian.
Arjuna hanya tertawa mengekeh sambil menggoyangkan gelasnya yang sudah kosong. Kemudian dia mengambil dompetnya dan mengeluarkan setumpuk kertas berwarna merah.
"Terlalu banyak bos," ucap bartender itu yang hanya mengambil sebagian.
"Buat lo," kata Arjuna sambil bangkit dari duduknya dan berdiri dengan agak sempoyongan.
"Makasih bos. Gue aja yang nyetir," tawarnya tapi dia langsung menghentikan gerak tubuhnya melihat penolakan dari Arjuna.
Akhirnya bartender itu hanya bisa diam menyaksikan Arjuna yang berjalan sempoyongan menjauhi meja barnya.
Nggak jauh dari situ keempat gadis cantik yang seksi baru saja selesai bergoyang di lantai dansa.
"Rasanya capek gue hilang habis bantuin lo, Mil," seru Zeta puas sambil menyandarkan tubuhnya yang berkeringat di sofa.
"Sure," seru Maria setuju.
Arinka dan Emilia hanya tertawa cekikikan.
"Mas Bima, Kak Andra sama Kak Dewa ngga marah, kan?" tanya Emilia yang ikut duduk.di samping Arinka.
"Enggak. Cuma kita dilarang berhubungan lagi dengan mereka," cicit Maria.
"Trus kuenya diantar ngga ya?" tanya Emilia ragu. Ini kali kedua mereka sudah mendapat larangan.
Ketiganya terdiam.
"Kita ngga cerita soal kue," ucap Arinka akhirnya.
"Lho?" Emilia menatap bingung.
"Kalo cerita pasti dilarang, kan?" cetus Zeta pelan.
"Berarti kita melanggar larangan sampai tiga kali," kekeh Maria membuat ketiganya ikut larut tertawa.
"Ini yang terakhir," janji Emilia walau hatinya ragu.
Arinka mencolek bahunya dengan tawanya yang renyah.
"Lo suka, kan?" sindirnya.
"Ngaku lo," todong Zeta yakin.
"Wajarlah. Tampan banget," tambah Maria yang langsung ditoyor Arinka dan Zeta gemas. Maria ngga protes, .malah tambah ngikik.
"Kita pulang yuk udah malam. Gimana kalo ke apartemen lo aja. Nanti pagi pagi kita balkk ke rumah," putus Arinka sambil bangkit berdiri.
__ADS_1
"Iyalah. Mau dihajar pake sapu sama nenek kalo kita pulang jam segini," pungkas Maria juga ikutan berdiri diiringi tawa Emilia dan Zeta.
Ketiga sepupunya sudah tau mereka pergi ke club. Tapi pada nenek mereka ngga berpamitan, karena tadi mereka pergi jam dua belas malam. Nenek sudah tidur nyenyak.
Langkah Emilia terhenti melihat sesosok yang dikenalnya sedang berjalan sempoyongan di parkiran.
"Kenapa lo?" heran Zeta yang hampir menabrak punggungnya, karena Emilia yang mendadak menghentikan langkahnya. Maria dan Arinka juga menatapnya heran.
"Arjuna," katanya menunjukkan dengan matanya ke arah laki laki yang sekarang kelihatan menyandar di mobil.
"Dia mabok?" cicit Maria.
"Tumben sendiri," ucap Zeta yang melihat sekeliling dan ngga melihat teman temannya yang biasa. Arinka juga, dia ngga melihat Mars.
"Gue akan antar dia pulang," putus Emilia sangat khawatir. Menyetir dalam keadaan mabok pasti sangat berbahaya.
Ketiga sepupunya tertaw mengejek.
"Cieee," ledek Zeta.
"Lo ngga bisa bohong, Emil," kekeh Maria.
"Susah, ngga bakal di restui," sinis Arinka.
"Kalian apaan, sih. Kita, kan, mau ke apartemen gue. Dia itu tetangga gue," sangkal Emilia. Tapi ketiga sepupunya tetap mengejeknya dalam tawa.
"Iya iya," ucap Zeta.
"Lo ngga tega ya," ledek Maria makin menjadi.
Emilia mengusap wajahnya antara kesal dan malu. Dia pun merogoh kunci unit apartemennya.
"Ikut gue di belakang, ya. Nanti bantu gue bawa dia ke unitnya," pinta Emilia sambil mempercepat langkah kakinya ke arah Arjuna.
"Yeiii," seru ketiganya dengan tawa tergelak gelak. Ketiganya ngga bergerak, hanya menatap sepupunya yang terlihat malu malu hendak menolong pujaan hatinya.
Kak, kami melanggar larangaanmu lagi, batin Arinka dengan senyum miring. Walau cemas, dia juga ingin tau, bisa kah dua orang itu menjadi kekasih.
Arjuna mengerjapkan matanya menatap gadis cantik yang menghampirinya. Dia merasa sudah sangat mabok sampai melihat Emilia yang kini berada di depannya
"Emilia?" tanyanya ragu. Matanya mengerjap beberapa kali untuk memastikan.
Emilia ngga menjawab. Hatinya tergetar melihat Arjuna. Walau dalam keadaan jas yang sudah ngga rapi dan rambut yang berantakan, Arjuna terlihat sangat maskulin. Betul kata Maria, Arjuna sangat tampan.
"Masuklah," katanya sambil membantu Arjuna masuk ke dalam mobil.
Tapi laki laki itu hanya diam dan terus menatapnya.
"Ayo, aku antar kamu pulang," kata Emilia mendadak merasa grogi karena ditatap dengan tajam.
Emilia kaget karena dengan cepat Arjuna menarik tubuhnya dan memelukmya erat. Ketiga sepupunya pun shock melihatnya. Mereka yang hendak berjalan ke mobil jadi menghentikan langkahnya bersamaan. Dan mereka semakin terkejut melihat Arjuna Taksaka mencium Emilia Bibirnya. Mereka tercekat.
"Apa mereka sering melakukannya?" tanya Maria terpana.
"Sepertinya sudah biasa," balas Zeta
"Iya," ucap Arinka masih ngga percaya.
__ADS_1
"Gila, kita nonton mereka secara live," jerit Maria dengan suara tertahan.
"Arjuna, lepas," kaget Emilia setelah tersadar dan langsung mendorong tubuh laki laki setengah mabok itu.
Arjuna memijat kepalanya. Sangat pusing.
"Maaf," katanya terbata.
"Aku antar kamu pulang," tegas Enilia sambil mendorong masuk tubuh Arjuna yang jadi patuh.
Emilia cemberut menatap ketiga sepupunya yang mengembangkan senyum lebar mereka. Jelas mengejeknya. Dia pun memutar bagian depan mobil dan masuk ke dalamnya.
Emilia menatap Arjuna yang masih memijat kepalamya. Emilia pun memasangkan seat belt Arjuna yang belum.terpasang.
Nafas Arjuna sempat tertahan saat Enilia berada sangat dekat dengannya. Dia sudah mulai sadar saat memeluk dan mencium Emilia tadi. Tapi karena menyadari Emilia ngga sendiri, Arjuna berpura pura masih mabok.
Arjuna memejamkan mata saat mobil mulai meluncur. Dia ngga bertanya kemana Emilia akan membawanya. Hatinya merasa sangat senang karena bertemu secara ngga terduga dengan Emilia. Jantungnya masih berdebar ngga seirama.
Akhirnya berhenti dan Arjuna pura pura membuka matanya seolah tadi dia terlelap.
"Kita sudah sampai," kata Emilia sambil membukakan seat beltnya. Kembali Arjuna menahan nafasnya sangat mencium bau harum yang menggoda dari tubuh Emilia.
Emilia membuka pintu mobilnya dan setengah berlari memutar kap mobil dan membuka pintu mobil untuk Arjuna.
"Ayo," ucapnya sambil membantu Arjuna keluar dari mobilnya. Emilia merasa Arjuna masih mabok.dan sempoyongan. Padahal dalam hati Arjuna tersenyum karena sekarang dia sudat sadar. Sadar sesadar sadarnya.
Tapi dia membiarkan Emilia membantunya. Dadanya terasa panas karena tubuhnya menempel dengan tubuh Emilia. Emilia pun ngga mengusir tangannya yang merangkul bahu gadis cantik itu.
Lengan kemejanya bersentuhan dengan lengan polos Emilia membuat syaraf hasratnya bergetar hebat. Emilia mengenakan dres di atas lutut dengan tali spageti yang seksi.
Dalam hati dia marah karena gadis itu selalu mempertontonkan keseksiannya.
Arjuna berusaha berjalan pelan dan terlihat sempoyongan hingga gadis itu memeluk erat pinggangnya.
Mereka menuju lift dan Arjuna tau kalo Emilia mengantarkannya ke unit apartemennya.
Begitu sampai di depan pintu unitnya, Emilia terlihat bingung.
"Kunci kamarmu di mana?" tanya Emilia sambil menatapnya.
"Entahlah," sahutnya cuek. Saat ini dia ingin berada di kamar Emilia, bukan di kamarnya.
"Oke. Paswordnya apa?" tanya Emilia lagi. Dia mulai bingung, ngga mungkin dia akan membawa Arjuna ke unitnya. Sementara ketiga sepupunya juga akan menginap.
Arjuna ngga menjawab, tapi malah memijat keningnya.
"Kenapa kamu bisa mabok.gini," kesal Emilia kemudiam meraih hpnya yang berbunyi.
Arinka
Kami menginap di apartemen Zeta.
Emilia menghembuskan nafas kasar.
Kenapa mereka malah meninggalkannya dengan laki laki berbahaya ini, keluhnya dalan hati.
Dia menatap Arjuna kesal, karena kini laki laki itu menyandarkan kepalanya di bahunya.
__ADS_1