Love U Like FIRE

Love U Like FIRE
Kisah Arsen


__ADS_3

Arsen masih sangat terpukul dengan kata kata mamanya waktu di rumah sakit. Dia ngga menyangka Om Arga Taksaka, orang yang paling dia hormati adalah orang yang telah membuatnya dan mamanya menderita.


Dia tau Om Arga Taksaka sudah puluhan kali menghubunginya. Pasti telah terjadi sesuatu yang sangat penting. Arsen pun yakin kalo Om Arga Taksaka sudah tau kalo mamanya sudah ngga berada lagi di rumah sakit.


Tapi setelah mereka sampai di apartemen yang sudah Arsen sewa, mamanya sedikitpun ngga berkata apa apa lagi. Arsen pun ngga berani memaksa untuk bertanya sebenarnya apa yang telah terjadi dengan mamanya, Om Arga Taksaka dan temannya di masa lalu.


Mamanya kurang spesifik menyebut nama teman Om Arga Taksaka. Bisa jadi Om Sujatnata, Om Haykal atau Om Jupiter.


Tapi melihat kondisi mamanya yang sudah tenang sedikitnya sudah membuat Arsen lega. Sekarang dia masih ingin bersama mamanya dulu, memastikan keselamatan dan kenyamanannya sebelum menemui Om Arga Taksaka. Arsen yakin, pertemuannya dengan Om Arga akan sangat ngga menyenangkan.


Rasanya dua hari Arsen ngumpet di apartemen menemani mamanya.


Tapi berita di tivi yang ditontonnya membuatnya kaget.


Anak salah satu sahabat Om Arga sedang ditimpa musibah aib yang besar.


"Kasihan sekali. Itu aib seumur hidup," komentar mamanya prihatin.


Arsen yang sedang menemani mamanya ngga menyahut. Tapi dalam hati dia mendengus.


Itu karma papanya, mam.


Arsen tau kalo Om Arga dan Om Nata bersekongkol menyebarkan foto foto Emilia dan Arjuna lebih dulu sebelum ada kejadian Vania.


Foto foto hasil tangkapan kameranya. Kalo dipikir pikir, dia pun sekarang sedang menunggu karma apa yang akan jatuh padanya setelah kejahatan yang telah dilakukannya karena selalu menuruti perintah Om Arga.


Tapi wajah mamanya tampak tegang begitu ada foto Om Nata bersama gadis itu dan istrinya terpampang jelas.di layar tivi.


Arsen langsung mendekati mamanya dan memijat lembut lengannya.


"Ada apa, ma?"


Insting tajam Arsen menyatakan kalo teman yang dimaksud mamanya adalah Om Sujatnata. Dadanya bergejolak menahan marah.


Apa yang sudah mereka lakukan pada mamanya?


Air mata mamanya menetes, kemudian dia memeluk Arsen, putranya yang dia telantarkan karena depresinya.


Arsen membalas lembut pelukan mamanya, membiarkan mamanya menangis.


Arsen ingin bertanya apa yang sudah dua orang jahat itu lakukan pada mamamya. Tapi Arsen takut malah berpengaruh pada keseimbangan mental mamanya yang baru saja stabil.


"Itu temannya. Mereka... Mereka sama jahatnya," isak mamanya lagi dengan suara bergetar dalam tangisnya.


Tiap ingat kejadian itu, jantungnya seperti diperas sangat kuat, sakit banget rasanya


Tapi bibirnya sulit untuk bercerita. Dirinya takut akan bisa menyakiti hati putranya. Putranya bisa bisa mengira dia anak.yang ngga diinginkan. Memang awalnya begitu. Tapi beliau berubah pikiran saat bayi merah itu lahir dan berada dalam pelukannya. Mama Arsen sangat menyayanginya. Tapi jejak tragedy itu ngga bisa dia lupakan hingga dirinya depresi berat dan akhirnya sempat jadi penghuni rumah sakit jiwa.


"Arsen akan melindungi mama. Mama ngga usah khawatir," janji Arsen agar mamanya tenang dan merasa nyaman.

__ADS_1


Dia akan bertanya sendiri pada kedua laki laki itu, perbuatan kejam apa yang sudah mereka lakukan pada mamanya.


*


*


*


Maria seperti biasa maen ke mall untuk menghilangkan kebosanan. Karena Zeta sedang menyiapkan presentasi untuk sore nanti dan Arinka hilang entah kemana, Maria hanya sendirian saja masuk dan keluar di butik butik mahal di salah mall yang harganya udah gila gilaan.


"Pengen beli buat mami lah," katanya sambil memilih gaun malam yang terlihat anggun.


Karena maminya agak berbeda seleranya dengan dirinya yang sukanya pada warna warna yang cetar. Tapi maminya menyukai warna lembut dan desain minimalis.


Ada empat buah gaun lengan pendek yang tertutup hingga pangkal leher yang dia minati.


"Semua aja apa, ya," gumamnya sambil berpikir agak keras. Dia sudah terlalu banyak belanja bulan ini. Hanpir mendekati limit. Arinka dan Zeta sudah ngga mau dipinjaminya lagi kartu kreditnya. Padahal limit mereka masih bisa menampung tiga sampai empat kali belanjanya yang ngga nyampe tiga digit.


Dasar pelit.


"Pinjam Emil ajalah nanti," katanya dengan senyum nakal di wajahnya. Emil ngga doyab belanja biasanya rela rela aja meminjamkan kartu kreditnya.


"EH!" sergahnya kaget saat akan menarik empat gaun itu, ternyata ada tangan di seberangnya yang juga menariknya berlawanan arah.


Maria merasa aneh, biasanya orang rebutan satu gaun, tapi ini empat gaun!


Maria ngga terima seenaknya saja orang itu akan mengambilnya.


"Ini belum dibeli," katanya cuek.


Maria sempat terpana ketika mendongak dan melihat orang gila yang seenaknya mengambil hak orang lain itu.


"Lepasin. Malah bengong," kata laki laki tampan itu yang ternyata Arsen dengan datar. Dia sengaja memilih gaun gaun itu untuk mamanya di apartemen. Dia ingin memantaskan penampilan mamanya. Saat melihat ada empat gaun yang agak menjauh dari gaun yang lain, Arsen langsung saja menariknya. Tapi tarikannya tertahan. Ternyata ada perempuan berdandan aneh yang memegang keempat gaun itu juga.


"Memang, tapi aku sudah pilih. Makanya aku pisahin," katanya sewot setelah tersadar.


Apalagi Arsen sama sekali ngga terpesona melihat penampilannya. Biasanya laki laki mana pun akan mengalah untuknya. Dia ratu yang bisa bisa berbuat apa saja, dimana pun.


Arsen memicingkan matanya yang merasa silau pada perempuan yang berdandan berlebihan di depannya.


Lihat saja jepit noraknya yang Arsen tau berhiaskan berlian berlian asli dan berkilau kena pantulan lampu terang butik yang sangat mengganggu penglihatannya.


Dan dua pergelangan tangannya yang berhiaskan gelang etnik. Merupakan perpaduan yang aneh.


Perpaduan yang aneh.


"Kamu akan terlihat tambah tua jika menggunakan gaun gaun ini," cibir Arsen mengejek.


Dan aneh, tambahnya membatin.

__ADS_1


"Ini buat mami gue, dodol," maki Maria tersinggung.


Arsen terdiam, ngga menyangka akan jawaban si aneh dan norak ini.


"Ya udah," katanya mengalah.


Lho?


Maria malah heran karena perlawanan laki laki ini sudah selesai. Bahkan dia berpindah ke bagian yang lain dari butik ini.


Karena penasaran, setelah menyuruh pelayan toko menyimpan miliknya agar lebih aman, Maria malah mengejar Arsen.


"Kok, kamu ngalah?" tanya Maria setelah berada di dekatnya. Laki laki ini sedang melihat lihat gaun yang sudah Maria lihat sebelumnya.


Arsen ngga mempedulikan. Kini tangannya langsung menganbil bahkan enam gaun malam panjang itu.


"Hey!" sentak Maria marah karena merasa dicuekin smabil menahan enam gaun itu.


Arsen menatapnya heran.


"Kamu mau yang ini juga?" sindir Arsen mengejek.


"Bukan, dodol. Tapi kenapa kamu langsung ngalah tadi?" ketus Maria kesal karena laki laki ini terlihat sama sekali ngga tertarik dengan pesonanya.


Helloowww... gue Maria Mercedes yang cetar membahana. Dasar laki laki bodoh!


"Karena itu untuk mamamu. Puas?" sentak Arsen sambil menarik keras enam gaunnya dari tangan Maria dan berlalu pergi.


"Huuh," dengus Maria tapi entah kenapa dia tetap menjejeri langkah laki laki menyebalkan itu.


"Enam gaun pesta ini untuk pacar kamu?" tanya Maria ngga menyerah.


Tapi kali ini laki laki menyebalkan itu berbalik dan menatapnya heran.


"Ini gaun pesta?" Arsen hanya berpikir, ingin memberikan mamanya gaun gaun yang indah selama tinggal di apartemen mereka.


"Iya. Desainnya membuat perempuan yang memakainya terlihat anggun," kata Maria memberikan pendapatnya.


"Baguslah. Ini buat mamaku di rumah," jawab Arsen cuek.


Whattt?


Tapi sudut bibir Maria tertarik sempurna ke atas melihat punggung laki laki itu yang berjalan meninggalkannya.


Hatinya seolah disiram es yang langsung meredakan kekesalannya.


Ngga disangka, laki laki tampan yang terlihat cuek dan sombong itu sangat menyayangi mamanya.


Itu poin plus buat Maria. Dia jadi semakin tertarik dengan laki laki itu. Semoga aja laki laki itu masih perjaka ting ting.

__ADS_1


__ADS_2