
Malam ini, Keluarga Arjuna dan keluarga Sujatnaya sedang mengadakan malan malam.di sebuah hotel mewah. Mereka sedang membahas tanggal pertunangan antara Arjuna dan Vania.
Arjuna.yang ditemani Galih tiba tiba merasa resah. Perasaan ini sejak siamg tadi mengganggunya hingga sekarang. Tapi dia belum tau apa penyebabnya.
"Lo kenapa?" bisik Galih yang merasa aneh melihat sahabatnya yang jauh dari sikap tenang.
"Ngga apa apa," sahut Arjuna balas berbisik.
"Lo seperti orang yang mau boker," bisik Galih lagi.
"Sialan lo," umpat Arjuna pelan dengan kesal.
Galih memberikan cengiran menyebalkannya membuat Arjuna ingin melemparkan kambing guling yang masih utuh ke wajah sahabat ngga tau dirinya.
Sedangkan tante dan kedua keponakannya hanya diam. Hanya suami tantenya yang ikut berkomentar sesekali dan antusias dalam acara makan malam ini.
Carol masih mencoba menghubungi Emilia, tapi tetap ngga kesambung.
Apa sudah diblokir? tebaknya dalam hati.
"Aku barusan dapat kabar, Revi Sagara meninggal siang tadi," kata Om Sujatnata bagai petir di siang hari.
"Apa?!" kaget Arga Taksaka dan Arjuna bersamaan.
Arjuna menatap Galih yang langsung mencari berita di sosial media yang sejak tadi ngga dia lihat. Bahkan ponselnya baru saja diaktifkan.
Dan benar saja. Ada belasan panggilan ngga terjawab. Arby, Mars dan Jery, bahkan papanya juag menelponnya berkali kali. Mereka pun mengirimkannya banyak pesan mengenai berita meninggalnya papa Emlia Sagara. Media sosial pun dipenuhi ucapan duka atas kepergian salah satu orang yang paling berpengaruh di dunia bisnis yang sangat mendadak.
Arby
Papa Emilia meninggal?
Hoax?
Mars
Iya. Fakta
Jery
Galih wooiii
Juna wooiii
Arby
__ADS_1
Mereka berdua sudah mati?
Jery
Hot news wooiiii.
Mars
Juna, gue ngga tega lihat wajah Emilia.
Beru beberapa jam ponsel ini off, dia sudah kehilangan kabar super penting, batinnya memaki kebodohannya. Grup chat mereka berlima pun sudah heboh sejak siang tadi.
Galih sering beberapa kali begitu kalo dia sedang bosan, tapi biasanya ngga ada berita apa apa. Seringnya malah berita hoax bikin ilfeel. Galih sesekali juga membutuhkan break total untuk tubuh dan pikirannya dari kesemrautan dunia.
Begitu juga Arjuna yang juga sengaja men off kan ponselnya. Dia masih belum bisa menerima pertunangan yang dipaksakan papinya dan apalagi Verli juga Nathasa ngga berhenti henti menghubunginya. Pastinya berita pertunangannya sudah terendus mereka.
Arga Taksaka langsung memegang dadanya yang terasa sesak. Padahal semuanya sudah berjalan lancar. Tanggal pertunangan juga sudah disetujui, anaknya sudah menuruti kemauannya.
Kenapa si brengsek itu gampang sekali matinya. Ini akan membuatnya masuk dalam banyakmasalah, umpatnya dalam hati.
Istrinya menepuk lembut pundaknya. Melihat reaksi pucat suaminya, beliau yakin suaminya turut punya andil atas kejadian menghebohkan ini.
Beliau menghela nafas panjang merasa sangat menyesal. Dendam di antara keluarga mereka membuat banyak nyawa pergi dengan mudah. Begitu juga air mata yang mengalir tak berkesudahan. Mami Arjuna yakin keluarga Sagara pasti ngga akan tinggal diam dan akan merencanakan balas dendam pada suaminya.
Kapan pertikaian ini akan berakhir, batinnya sesak.
"Kasian kak Emil," bisik Cila pada Cleo. Raut sedih terhampar di wajahnya.
"Iya," balas Cleo juga berbisik.
"Mungkin Kak Emil sednag menangis," bisik Cila lagi.
"Mungkin," balas Cleo lagi.
Kehilangan papa pastilah sangat berat, monolog Cleo dalam hati.
Kembali Carol mencoba menelpon Emilia, tapi tetap saja ngga kesambung.
"Katanya Bima dan sepupunya ngga sempat bertemu. Kasian sekali, padahal Bima pasti mau menrayakan kemenangannya atas mu Juna," kata Om Sujatnata dengan senyum miring.
Arjuna tercekat.
Jadi Emil ngga sempat ketemu papanya?
Entah mengapa hatinya menjadi sedih dan risau akan keadaan Emilia, apalagi setelah membaca chat dari Mars.
__ADS_1
Tadi pagi aja saat dia cuekin, Emilia terlihat sangat shock. Ditambah lagi dengan berita sangat menyakitkan yamg akan diterimanya.
Pasti gadis itu sedang terguncang. Apakah sekarang dia masih menangis? batin Arjuna galau. Di satu sisi dia ingin menghibur Emilia, tapi di sisi lain Arjuna bingung bagaimana caranya menemui Emilia. Pasti sekarang pengawalan Emilia bertambah ketat.
"Akan lebih mudah menghancurkan mereka sekarang. Apalagi tinggal Revo dan Ravi saja yang mengurus perusahaan. Bima masih bau kencur," kekeh Om Sujatnata enteng.
"Papa," sela Vania kurang suka. Begitu juga mamanya yang menampilkan mimik kesal akan sikap antipati suaminya. Vania sedikit banyak tau juga perseteruan keluarga mereka, tapi sangat ngga pantas bersikap jahat ketika mendengar berita kematian seseorang.
Arga ngga menjawab. Dia melirik putranya yang tetap tenang, tanpa ekspresi. Tetap datar.
Apa dia terganggu? batin Arga Taksaka terusik. Beliau akan lebih mengawasi gerak gerik Arjuna mulai sekarang. Anaknya bisa saja berbuat hal yang di luar dugaannya.
Beliau membutuhkan Arsen lagi. Walaupun masih dongkol dengan sikap Arsen yang suka sembarangan, tapi kinerja kerjanya sangat bagus.
"Arjuna, ajaklah Vania ke taman. Kalian juga harus menjalin komunikasi mesra karena sebentar lagi akan menikah," titah papimya sambil mengirimkan isyarat matanya pada Arjuna.
"Ya, pi," kata Arjuna patuh, kemudian bangkit dari duduknya.
"Ayo Vania," kata mama Vania dengan raut wajah senang. Akhirnya anaknya mendapatkan suami yang tampan, kaya raya dan sangat di segani di dunia bisnis
"Iya sayang, mengobrollah dengan santai," kata mami Arjuna lembut. Dia langsung tertarik pada Vania saat pertama kali mereka bertamu di rumahnya.
Vania pun berdiri dan mengangguk dengan sopan pada kedua orang tuanya dan juga orang tua Arjuna sebelum mengikuti langkah kaki Arjuna.
Begitu mereka pergi, Galih merasa dirinya juga harus pergi..Saat ini dia yakin kedua orang tua ini akan membahas hal yang sangat penting.
Lebih baik pergi sekarang sebelum diusir, batin Galih memutuskan.
"Galih mau telpon papa dulu, om," pamitnya sambil berdiri dan mengangguk hormat pada mereka semua.
"Salam buat papamu," kata Arga Taksaka dan Sujatnata bersamaan.
"Iya, om."
"Kami juga ada urusan. Maaf, ya," pamit Carol langsung berdiri. Begitu juga suami dan dua anak mereka.
"Oke," balas Arga Taksaka. Sefangkan Sujatnata hanya menganggukkan kepalanya.
"Si kembar sangat cantik," puji mama Vania tulus.
"Makasih, tante," sahut keduanya berbarengan.
Verdin pun mengikuti istrinya dengan perasaan lega. Dia ngga mau ikut campur lebih dari ini akan urusan keluarga istrinya. Perasaannya pun kurang senang akan pernyataan sahabat keluarga istrinya akan meninggalnya Revi Sagara. Biar bagaimanapun, Verdin cukup mengenal keluarga itu sebelum menikah dengan Carolina Taksaka.
"Sayang, aku ingin menelpon Ravi. Pasti dia sangat sedih karena kakaknya meninggal begitu mendadak," kata Verdin meminta ijin.
__ADS_1
Carolina hanya menganggukkan kepalanya. Beliau tau, suaminya masih berhubungan baik dengan Ravi Sagara. Itulah yang membuat kakak laki lakinya-Arga Taksaka ngga menyukainya.