Love U Like FIRE

Love U Like FIRE
Dukun Pijat Viral


__ADS_3

"Ini di mana?" tanya Emilia heran begitu mobil mereka berheni di depan sebuah ruko dengan palang papan nama pengobatan alternatif.


"Kaki lo dipijat di sini ya, Mil. Tempat ini sudah terkenal loh," kata Zeta membujuk.


"Ngga mau," tolak Emilia cepat. Sepupunya sembarangan aja, gerutunya dalam hati.


""Mau, dong, Mil. Masa kita ngembaliin lo ke tante dalam keadaan rusak," Maria ikut membujuk dengan tampang memelasnya.


"Gue bukan barang, maria mercedes," dengus Emilia kesal membuat Maria tersenyum lucu.


"Belum lagi kalo nenek tau. Bisa abis kita semua. Lo mau dikirim balik ke oma Linda?" ancam Arinka menakuti.


Tapi kenyataannya memang begitu. Kalo nenek tau soal terkilirnya kaki Enilia karena ulahnya yang memakai heels saat naek sepatu roda, ya sudahlah. Emil bakal dikirim lagi ke luar negeri buat sekolah S3, dan mereka pun akan jadi tahanan rumah selama.tiga bulan.


"Tapi aku ngga mau ke dukun. Aku maunya ke dokter," tolak Emilia ngeyel. Dia ngga bisa membayangkan bagaimana sakitnya nanti saat kakinya ditarik tarik sama mbah dukun.


"Ini bukan dukun, bego. Ini tukang pijat..Ngga nyampe se jam lo udah dipastikan sembuh. Kalo dokter, malah urusannya tambah runyam ntar. Lo nantinya diminta pake kruk, kaki lo di gips. Lo mau?" cecar Zeta panjang lebar. Antara memaksa dan takut ketahuan keluarga besar dan mendapat akibat yang ngga mereka inginkan, membuatnya terus mempengaruhi pikiran Emilia.


"Kalo kaki gue jadi bengkok lo mau tanggung jawab," sergah Emilia tetap menolak. Dia ngga mau. Soalnya pernah lihat temannya dipijat sampai jerit jerit saking sakitnya.


"Ini bukan tukang pijat abal abal. Dia udah terkenal di youtube. Followers nya udah sangat banyak, hampir sejuta, Mil," jelas Maria setengah merengek.


Haah, tukang pijat punya followers hampir sejuta? Emang pijat pijat bisa dapat followers segitu banyaknya? batin Emilia ngga percaya.


"Dapat endorse, dong," cetusnya tanpa sadar. Lupa topik yang sedang berlangsung. Padahal Emilia ingin sekali dapat endorse. Sayangnya junlah followersnya ngga nyampe seratus.


Gini amat rasanya kalah sama tukang pijat, keluhnya membatin.


"Pastilah. Segala minyak buat pijat. minyak masuk angin, pasti numpang ngiklan di situ," sambung Zeta penuh semangat.


"Wiiih, pasti kaya raya ya. Tapi, kok, ruko pengobatannya sederhana?" tanya Emilia ngga percaya. Harusnya kan, udah punya rumah gedong. Bukan ruko.


"Ini, kan, tempat kerjanya, Emiiil. Rumahnya pasti sangat mewahlah," tambah Maria dengan nada suara sangat meyakinkan.


Emilia terdiam, berusaha memikirkan kata kata kedua sepupunya.


"Ini sudah bergaransi. Ngga usah dipikir lagi," sergah Arinka pusing dengan perdebatan ketiga sepupunya. Target mereka harus tercapai. Emil harus mau disembuhkan terkilirnya dengan cara dipijat.


"Iya, Mil. Lo percaya, kan, sama kita. Ngga mungkin kita menjerumuskan lo dalam kesengsaraan," bujuk Maria lagi pantang menyerah. Terbayang di wajahnya omelan neneknya. Sangat menyeramkan.

__ADS_1


"Ayo, Rinka, bantu papah Emil," perintah Zeta sambil keluar dari mobil.


Emil belum menyetujui, tapi ketiga sepupunya sudah mengeluarkannya dari dalam mobil dengan cara paksaan.


"Kalian apa apaan, sih," omelnya sambil mengikuti langkah ketiga sepupumya yang memapah dirinya masuk ke dalam ruko pengobatan alternatif.


Beberapa orang di sana memperhatikan kedatangan mereka. Merasa takjub ada tamu secantik dan semodis ini berobat ke dukun pijat. Sejak viral, tempat pengobatan alternatif ini bahkan pernah didatangin artis.


Tapi keempatnya ngga mempedulikan. Mereka mendudukkan Emil di dereran kursi yang masih kosong. Mereka pun duduk di dekat Emil


Baru saja mereka duduk sudah terdengar suara suara teriakan kesakitan yang kencang.


"Gila! Gue mau pulang," bisik Emilia lirih. Keringat dingin mulai membanjiri tubuhnya.


Maria pun merinding, dia pun takut mendengar jeritan jeritan kesakitan yang cukup jelas.


Mengapa ruangan pijatnya ngga kedap suara, sih, omel Maria dalam hati. Tanpa sadar Maria menggenggam erat tangan Emilia. Dia berdo'a agar sepupunya tidak berubah pikiran.


Zeta dan Arinka saling pandang. Mereka pun takut mendengar jeritan jeritan ketakutan yang terdengar samgat memilukan. Tapi demi misi, mereka harus menguatkan hati Emilia. Teriakan kemarahan nenek jauh lebih mengerikan dibandingkan ini. Apalagi adik nenek mereka yang di luar negeri.


""Mil, pokoknya kamu harus kuat. Kamu harus ingat, kalo Oma Linda lebih mengerikan dari pada dukun pijat ini," kata Zeta memberikan motivasi.


"Bener itu, Mil. Kamu harus kuat ya Mil," tambah Maria memberi semangat.


Akhirnya perempuan yang tadi mengeluarkan suara jeritan jeritan kesakitankeluar dari ruangan pijat, dipapah dua orang perempuan yang sebaya dengannya.


Emilia dan perempuan itu saling pandang. Usianya terlihat lebih tua beberapa tahun darinya. Wajahnya masih pucat walau sudah terlihat segar. Perempuan itu pun berpenampilan cukup modis.


"Tuh, lihat, Mil, abis jerit jerit, dia malah terlihat sehat," bisik Maria pelan setelah perempuan tadi dan mungkin keluarganya menjauh.


Emilia hanya diam, karena ternyata sekarang gilirannya. Dia menatap Zeta, Arinka dan Maria agak ragu. Selain ragu, Emilia juga merasa takut.


"Seperti model ya," bisik Zeta ikut berkomentar.


"Iya," respon Arinka yang masih mengamati kepergian perempuan yang dipapah tadi.


"Emilia Sagara," panggil seorang perempuan muda yang berpakaian ala perawat.


"Ini benerean pengobatan alternatif? kok seperti di dokter aja?" bisik Emilia bertanya.

__ADS_1


"Kan harus menyesuaikan, Emil. Udah viral," balas Zeta yang langsung membantunya berdiri. Bersama Arinka, mereka memapah Emilia.


Jantung Emilia seperti dipompa saat memasuki ruangan pijat. Bau minyak angin menguar dan langsung menyusup dalam rongga pernafasannya. Tampak seorang wanita paruh baya tersenyum menyambut kedatangan mereka.


"Adiknya kenapa?" sapa ibu itu ramah sambil membantu Enilia untuk duduk di pembaringannya yang terlihat bersih. Ruangannya pun nyaman full ac.


"Kakinya terkikir bu," jawab Arinka menjelaskan.


"Ooo," ucapnya sambil melihat pergelangan kaki Emilia yang agak bengkak dan memerah.


"Adik duduknya bersandar ya," tutur ibu tukamg pijat itu dengan suara lembutnya.


Emilia hanya mengangguk. Dia takut sekali kalo dibalik kelembutan sang ibu tukang pijat tersimpan kengerian yang akan membuatnya sangat menderita.


Maria pun membantu sepupunya untuk memundurkan tubuhnya dan menyandarkannya di dinding kamar.


Zeta dan Arinka berdiri di samping Emilia dengan raut cemas dan penuh harap semoga pengobatan alternatif ini bisa langsung berhasil.


"Ini agak sakit. Tapi cuma.sedikit," kata Ibu tukang pijat itu sambil mengoleskan minyak angin ke pergelangan kaki Emilia.


Dan memang benar, pergelangan kakinya mulai terasa cukup sakit saat tangan terampil itu mulai menekan nekan pergelangan kakinya yang terkilir.


"Sakit ya, Mil?" tanya Maria kasian melihat sepupunya sampai memejamkan mata dengan wajah meringis menahan kesakitan.


"Hemm....," desis Emili koa perlahan.


Arinka balas menggenggam tangan Emilia sebelah kiri, sedangkan Maria sebelah kaman.


"Untung belum bengkak banget. Kejadiannya barusan ya?" tanya ibu tukang pijat sambil menekan nekan pergelamgan kaki Emilia yang sakit.


"I iyya bu," lirih Emilia tergagap.


"Tahan ya," ucap ibu tukang pijat mulai menekan agak keras membuat Emilia menggigit bibirnya menahan sakit.


Maria, Zeta dan Arinka saling pandamg. Ada kecemasan di wajah mereka melihat ekspresi Emilia.


"YAk!" seru ibu tukang pijat itu sambil.menarik cepat pergelangan kaki Emilia hingga gadis itu tersentak dan tanpa sadar mengeluarkan jeritan.


"AAAAHHH!"

__ADS_1


"Sakit Emilll!"


Ternyata bukan hanya Emilia yang berteriak. Arinka dan Maria juga ikut ikutan mengeluarkan jeritan karena cengkeraman erat Emilia di tangan mereka.


__ADS_2