
Pagi ini Emilia sedang memilih bunga bunga mawar di kebunnya. Matahari masih malu malu untuk menunjukkan diri. Udara masih terasa dingin. Embun pun masih membasahi daun daun dan kelopak kelopak mawar dan terlihat sangat indah di mata Emilia.
Dari nenek, mama, tante, hingga dirinya sangat menyukai bunga mawar. Ada berbagai jenis mawar yang tumbuh dan berkembang. Dari ukuran besar, sedang, hingga kecil. Warnanya pun beraneka, merah darah, merah muda, kuning, putih, oren jeruk dan bercorak batik.
Untuk menjenguk papanya, Emilia memilih mawar mawar putih yang berukuran besar. Setelah memotong lima belas tangkai dalam ukuran panjang yang berbeda, Emilia menatanya dalam bentuk buket yang cantik.
"Cantik sekali sayang," kata neneknya yang sudah bersiap dengan gaun putihnya. Pagi ini mereka akan menjenguk papa kembali di tenpat peristirahatan yang terakhir.
Emilia tersenyum.sedih. Warna putih adalah warna favorit papanya. Sama seperti dirinya dan mendiang kakeknya. Bahkan sewaktu kakeknya masih ada, kakeknya pun suka menemaninya mengurus kebun mawar. Kebun mawar ini sudah banyak menorehkan kenangan.
"Papa sangat suka mawar putih," ucapnya pelan.
"Begitu juga kakek," tambah neneknya tegar. Bibir tuanya tersenyum.
"Ayo, sebelum hari siang dan macet.di sana sini," kata neneknya lagi.
"Iya nek."
Sambil memegang erat buket mawar putuh, Emilia melangkah mengikuti neneknya.
Empat mobil mewah sudah menunggu.
"Nenek di samping mama," kata Maria sambil membawa neneknya ke mobil kedua.
"Iya." neneknya pun tertawa.
Begitu neneknya masuk, Emilia menaruh buket mawar itu ke pangkuan neneknya tanpa kata, kemudian mengikuti langkah Maria ke mobil di belakangnya.
"Emil sangat pintar merangkai bunga," puji mama Maria yang diangguki mama Emilia.
"Buketnya sangat bagus," kata mama Zeta ikut memuji.
"Iya. Buketnya sangat bagus," ucap nenek pelan.
Bukan hanya Emilia, menantu dan cucu perempuannya yang lain pun pintar merangkai bunga hidup. Hanya rangkaian Emilia memiliki keunikan tersendiri.
Dulu juga mereka sudah punya rencana membuka toko floris, yang menjual rangkaian bunga mawar. Tapi suaminya tertimpa musibah hingga meninggal di penjara.
__ADS_1
Setelah itu kehidupan menjadi kacau berantakan. Setelah mereka mulai stabil, musibah datang lagi, kali ini anak tertuanya meninggalkannya lebih dulu.
Beliau berusaha tegar menghadapi semua cobaan hidup di sisa umurnya. Apalagi dirinya sudah berjanji pada mendiang suaminya, akan tetap kuat menjaga anak, menantu dan cucu mereka.
Iring iringan mobil pun berlalu meninggalkan rumah. Tanpa satupun menyadari, sepuluh meter dari rumah mereka, seorang tukang bubur ayam yang mangkal memberitahukan kepergian keluarga ini di pagi buta.
"Kamu diam aja sejak kemaren malam, Mil," usik Arinka heran. Karena setelah memanggil sepupu dan om mereka, tak ada satu patah pun terucap dari bibirnya.
Padahal waktu mereka memasak dan menghidangkan di meja makan, suara Emilia masih terdengar.
"Emm... Kerongkonganku agak sakit," dustanya.
Sejak mendengar percakapan itu, hati Emilia sangat hancur. Sehancur hancurnya. Saat ini dia merasa hidup tanpa jiwa. Emilia butuh waktu buat menenangkan diri. Kakak dan omnya menginginkan dia kembali ceria sampai merahasiakan hal besar ini padanya.
Tapi masih sangat sulit baginya setelah mengetahui kenyataan ini. Sepanjang malam Emilia ngga bisa tidur. Tubuhnya pun terasa lemas dan ringan.
"Nih, makan vitamin c," kata Zeta sambil mengulurkan sekeping vitamin c yang sudah diambil dari bungkusnya.
"Nanti dulu, Emil udah sarapan belum?" cegah Arinka.
"Udah," katanya sambil.menerima vitamin c ukuran cukup besar dan langsung menelannya. Dia membutuhkan banyak asupan vitamin. Emilia akan berusaha tetap kuat. Dia ngga mau membuat keluarganya sedih. Terutama nenek dan mamanya.
*
*
*
"Oke. Terimakasih," kata Arjuna sebelum memutuskan sambungan telponnya. Arjuna sudah bangun sejak subuh tadi dan sedang nge gym seperti biasanya, sampai ponsel yang dia letakkan ngga jauh dari treadmild nya bergetar.
Arjuna meminta pengawalnya menyamar jadi tukang bubur yang biasa mangkal di situ untuk memberitahukan situasi rumah utama Emilia. Dan salah satu anak buahnya yang mengikuti keempat mobil itu sudah mengirinkan lokasi saat ini dia berada.
Arjuna langsung tau kemana rombongan Emiia akan pergi, walaupun rombongan itu belum sampai di lokasi tujuan. Keluarga Emilia akan ziarah ke makam papanya.
Tanpa membuat kecurigaan yang berarti, Arjuna segera mengambil kunci mobilnya.
Tapi senyum Galih yang sudah berdiri di samping mobilnya membuat hatinya kesal..Sahabatnya itu seperti hantu yang tau saja apa yang ada dalam otaknya.
__ADS_1
Tanpa kata dia membiarkan Galih ikut bersamanya. Keduanya mengenakan hodie dan training, seakan akan mau berolah raga di tempat lain. Bahkan Galih membawa bola basket sebagai kamuflase. Dia tau, Arjuna sedang diawasi papinya sendiri.
Apalagi rencana pertunangan sahabatnya akan di adakan minggu depan. Om Arga Taksaka pasti ngga mau Arjuna merusaknya. Sekecil apa pun itu.
Kalo papanya bisa setia pada Om Arga, Galih pun bisa setia pada Arjuna. Dia akan mendukung Arjuna, apa pun yang akan dia lakukan. Jika nantinya Arjuna akan menentang papinya, Galih pun ngga segan akan melakukan yang sama terhadap papanya.
*
*
*
Mereka masih terpekur di makam.yang masih bertaburkan bunga yang belum.layu. Mungkin karena tadi malam turun gerimis. Tanah pekuburan pun masih basah.
"Mama bawain kamu mawar putih, Revi sayang," ucap nenek dengan menahan getaran dalam suaranya.
Suasana sangat syahdu. Mama Emilia beberapa kali mengusap air matanya.yang mengalir pelan.
Emilia sendiri menatap kosong tanpa jiwa. Beberapa kali dia memejamkan matanya kuat kuat menahan gejolak perasan sedih dan bersalahnya.
Sekarang Emilia tau, waktu mamanya mengatakan kalo papanya sudah memaafkannya. Itu pasti soal hubungannya dengan Arjuna yang terkuak dan diketahui papanya sebelum serangan jantung beliau datang.
Papanya ngga marah padanya. Tapi Emilia marah pada dirinya sendiri yang menyebabkan jantung papanya ngga kuat untuk bertahan.
Papanya tidak menyalahkannya. Tapi jantung papanya ngga kuat memikirkan apa yang akan dilakukan papa Arjuna terhadapnya. Baru kali ini Emilia merasa sangat membenci seseorang sangat dalam.
Orang itu sangat kejam. Apakah salah kalo dia menyumpahi agar orang itu juga cepat menemui kematian?
Emilia menghela nafas panjang. Dia merasa dadanya sangat sesak. Emilia membutuhkan oksigen yang sangat banyak.
Dia pun melakukan inhale dan exhale secara perlahan. Emilia ngga mau terlihat lemah di depan keluarganya. Apalagi di depan neneknya yang harusnyalah dihibur. Bukan malah menghiburnya.
Emilia menggeser tubuhnya ke belakang, agar tantenya bisa maju. Dia terus memberikan kesempatan pada anggota keluarga yang lain untuk mendekat. Sampai akhirnya dia sudah berada di belakang bersama Zeta.
Seolah ada yang menggerakkan sudut matanya ke arah beberapa mobil yang juga ada di sana. Memang ada beberapa keluarga yang lain juga yang berziarah ke makam keluarga mereka.
Dadanya berdesir saat matanya bersitatap dengan sorot elang yang mengenakan hodie dan celana training. Sosok itu sangat tampan dan menawan. Emilia benar benar sudah terjatuh se dalam dalamnya dan sulit untuk bisa keluar dan lepas dari pesona Arjuna.
__ADS_1
Sementara itu Arjuna terus menyorot Emilia tajam dengan ekspresi datarnya. Akhirnya gadisnya menampakkan dirinya. Hati Arjuna bersorak. Sudah sejak tadi dia memperhatikan rombongan Emilia dan mencari cari keberadaan gadis itu.
Tapu hatinya sakit melihat sepasang mata Emilia yang terlihat bengkak dan wajahnya sangat pucat. Arjuna tiba tiba mencemaskan kesehatannya. Juga rindu. Rindu serindu rindunya.