Love U Like FIRE

Love U Like FIRE
Kemarahan Bima


__ADS_3

TOK TOK TOK


Arjuna dan Emilia saling pandang. Telpon dari Arby yang baru saja dia tutup sudah membuat Arjuna bersiap untuk menerima segala kemungkinan terburuk.


"Tenanglah," kata Arjuna saat Emilia merapat padanya dengan tubuh bergetar.


Jantung Emilia berdebar kencang. Dia yakin pasti kakak dan sepupu sepupunya yang menyusul. Sudah terlalu lama Emilia meninggalkan mereka dengan alasan mau ke toilet.


Emilia menatap cemas .Arjuna di sampingnya dengan tenang membuka kunci pintu kamar mereka.


C E K L E K


Emilia berusaha meredam keterkejutannya saat melihat Bima dan para sepupunya berdiri di depan .mereka.


"Emilia," seru Maria dan Zeta lega karena melihat sepupunya bersama Arjuna.


Arinka cepat menarik tangan Emilia. Sementara Bima membeku menatap.Arjuna yang tetap tenang di depannya.


"Maaf...." ucap Arjuna terjeda oleh bogem keras Bima yang ditujukan ke wajahnya membuat dia terjatuh.


BUGH


BUGH


BUGH


"Aaaahhhh!"


"Aaaahhhh!"


"Tahan Bima!"


"Juna!"


Bunyi pukulan dan suara jeritan menggema bersahut sahutan.


Bima bagai kesetanan memukul Arjuna yang hanya diam saja ngga melawan. Dia hanya menangkis sebisanya.


Andra dan Dewa bergerak menahan Bima.


Begitu juga Galih yabg baru minvul segera berlari melihat Arjuna yang babak belur dihajar Bima.


Emilia menatap dengan tatapan nanar. Tubuhnya bergetar melihat kemarahan kakaknya dan Arjuna terluka yang kini dipapah teman temannya.


Arinka bertatapan sekilas dengan Mars yang berdiri di depan Arjuna, berhadaapn dengan Dewa. Sedangkan Andra masih dengan kuat memcekal tubuh Bima yang kini sudah mulai tenang.

__ADS_1


"Jangan ganggu adikku, brengsek!" maki Bima sangat geram.


Arjuna yang dipapah Galih dan Arby menyeka darah di sudut bibirnya yang pecah.


"Aku minta maaf. Aku ngga tau apa yang sudah papiku lakukan," katanya sambil menatap Bima lekat.


"It's too late," geram Bima dengan suara bergetar.


Arjuna terdiam. Dia tau tatapan benci Bima, Andra dan Dewa padanya.


"Aku mencintai adikmu Emilia. Aku sungguh sungguh," kata Arjuna tegas, ngga peduli dengan tatapan intimidasi ketiga laki laki Sagara.


Emilia tambah bergetar mendengarnya. Dia menggelengkan kepalaanya pada Arjuna seolah memberi isyarat pada Arjuna agar ngga berkata apa apa lagi.


Mendengar ucapan Arjuna, Mars kembali menatap Arinka yang sedang merangkul Em deilia bersama kedua sepupunya yang lain. Tapi gadis itu kini ngga menatapnya.


Mars salut dengan keberanian Arjuna. Dia pun merasa lebih plong karena sahabatnya pasti ngga akan menganggapnya penghianat jika menyukai salah satu turunan Sagara. Karena Arjuna pun menyukai Emilia Sagara.


"Kau pikir aku pecaya?" decih Bima sinis. Lalu dia menatap wajah Emilia yang terlihat pucat.


Hatinya sedih, dia tau adiknya tertekan saat ini. Bima juga tau, Emilia tertarik dengan Arjuna. Tapi dai ngga bisa mempercayai kata kata Arjuna begitu sajja.


"Aku ngga akan membiarkan adikku tertipu olehmu," lanjutnya lagi setelah mengalihkan tatapannya dari Emilia. Kini dia menatap Arjuna sangat sinis.


"Kau boleh melakukan apa saja padaku. Aku tau, perbuatan papi ngga termaafkan. Tapi aku serius sangat mencintai Emilia," katanya tegas. Sorot mata elangnya beradu tajam dengan kilat kemarahan Bima.


"Kau akan membuat kami semua dalam bahaya dengan kesintingan papimu. Cukuplah dengan meninggalnya Om Revi. Jangan tambah duka lagi di keluarga kami," kata Andra ngga kalah tegasnya.


Arjuna terdiam. Dia berusaha ngga tersinggung dengan kata kata kasar Andra.


"Aku jamin papiku ngga akan melakukan hal hal sinting lagi," ngga kalah tegas Arjuna membalas.


"Juna," desis Galih pelan. Dia bertatapan dengan Arby. Sementara Mars dan Jery tetap berada di depan Arjuna.


Terdengar tawa sinis Bima, Andra dan Dewa.


"Jangan berkhayal. Kita semua tau, siapa Arga Taksaka," sergah Bima keras.


Ya, Galih dan teman temannya mengakui kebenaran kata kata Bima. Arjuna pun sangat tau siapa papinya. Awalnya dia mengira papinya sudah mau melepaskan dendamnya setelah dia mau bertunangan dengan pilihannya. Tapi ternyata itu hanya tatktik papi saja. Papinya sudah menikungnya tanpa dia sadari.


"Aku berjanji... uhuk uhuk uhuk..." Arjuna ngga bisa meneruskan ucapannya karena nafasnya telanjur sesak, dan ulu hatinya yang dihajar Bima terasa berdenyut. Tanpa bisa menahan lagi dia pun terbatuk dengan memuntahkan darah segar.


"Juna!"


"Juna!"

__ADS_1


Galih kembali memapah teman temannya yang hampir jatuh dan menatanya khawatir.


Emilia menatapnya kabur karena penglihatannya sudah tertutup air matanya. Dia ngga tega melihat kesakitan Arjuna.


"Kak Bima, ayo kita pulang. Emil mohon, kak. Ayo, kak," katanya dalam tangsinya sambil menarik lengan Emilia.


Emilia sengaja melakukan itu agar Arjuna ceoat dibawa ke rumah sakit oleh teman temannya.


Bima yang menyadari situasi Arjuna yang mulai kepayahan, tanpa kata menuruti adiknya. Begitupun para sepupunya yang berjalan mengikuti langkah Bima dan Emilia.


"Emilia," panggil Arjuna dengan nafas tersengal dan mata semakin berkunang kunang saat menatap punggung Emilia yang menjauh.


"Juna, kita harus bawa lo berobat," kata Galih memaksa. Dia mulai panik melihat semburan darah yang keluar dari mulut Arjuna dan tubuh sahabatnya terlihat melemah.


"Juna!" teriak Arby dan Jery bersamaan karena tubuh Arjuna yang tiba tiba lemas dan matanya tertutup rapat.


"Mars, kita harus cepat bawa Juna. Telpon Dino," seru Galih yang bersama Arby memapah Arjuna.


Mars yang sedang menatap kepergian Arinka tersadar.


Dia mulai memperhatikan kondisi Arjuna.


Parah, batinnya tergetar.


"Kita kangsung ke rumah sakit," kata Mara yang langsung menelpon Dino untuk menyiapkan segala sesuatunya karena mereka akan mengantar Arjuna ke rumah sakit.


Emilia masih memdengar panggilan Arjuna dan teriakan teman teman Arjuna. Dia memejamkan mata menahan perih. Saat ini dia lebih mementingkan perasaan kakaknya. Emilia yakin, teman teman Arjuna akan menolong Arjuna lebih cepat, secepat dia pergi.


Bima merengkuh bahu Emilia sambil melangkah pergi. Dia tau, saat ini genderang perang telah ditabuhkan. Dia sudah menghajar Arjuna sampai babak belur. Sekarang saatnya merapatkan barisan. Dia harus melindungi keluarganya dari balas dendam Arga Taksaka.


Bima belum mau berkata apa apa. Dia belum siap menanyai perasaan Emilia. Tapi dia tau Emilia pasti terluka melihatnya memukuli Arjuna.


Tapi tadi Bima reflek melakukannya. Melihat adiknya yang hanya berdua berada di dalam kamar bersama Arjuna, anak dari orang yang menjadi sebab kepergian papanya, emosinya memuncak tiba tiba.


Entah berapa pukulan dan tendangan yang dia hadiahkan pada Arjuna. Laki laki itu ngga melawan. Tapi Bima ngga peduli. Kalo Andra dan Dewa ngga menahannya, mungkin dia akan membuat Arjuna lebih parah dari ini.


*Mencintai Emilia katanya?


Dasar Sampah*.


Bima memaki panjang pendek dalam hatinya. Berita perrtunangan Arjuna dengan putri dari bos media yang pernah menghancurlan bisnis keluarganya sudah tersebar karena akan berlangsung dalan waktu dekat.


Itu katanya mencintai Emilia? batinnya geram.


Bima ngga akan rela jika Emilia dipermainkan. Ngga akan pernah rela.

__ADS_1


__ADS_2