Love U Like FIRE

Love U Like FIRE
Kesal


__ADS_3

"Apa ada kejadian buruk?" tanya Andra pelan menebak begitu melihat wajah mutung sepupunya.


Mereka kini sudah berada di dalam pesawat yang akan membawa mereka pulang.


"Ya," jawab Arjuna ngga kalah pelannya.


Dahi Andra mengerut.


"Jangan bilang keluarga kita sudah tau tentang hubungan Emilia dengan Arjuna," kaget Andra, tapi dengan suara yang masih pelan


Ini bahaya, batinnya cemas.


Ngga ada ceritanya Taksaka dan Sagara bersatu.


Wajar Andra berpikir begitu, karena sikap Papinya Arjuna yang pasti akan menentang hubungan ini habis habisan. Apalagi selama ini papi Arjunalah bersama tenannya yabg memiliki perusahaan media yang menyebabkan perusahaan mereka sempat hampir bangkrut.


Arjuna menghela nafas panjang.


'Sepertinya baru papa gue aja."


"Ohya?" Andra makin tertarik dan ngga sabar mendengar jawaban jawaban Bima yang lambat.


"Ini menurutku karena semuanya belum terlalu jelas." Bima menggusar kasar rambutnya.


"Penjelasan lo buat gue pengen ngelempar lo dari pesawat," gerutu Andra mulai kesal.


Bina tersenyum miring.


"Papa masuk ICU setelah didatangi Arga Taksaka. Kalo nurut lo, gimana? Pasti kita satu pikiran, kan?"


DEG


DEG


DEG


Rasanya sakit sekali dada Andra karena denyutan keras pada jantungnya.


Om Revi masuk ICU


Tanpa sadar Andra melirik Emilia yang sedari tadi hanya diam saja. Ngga tau apa lagi yang dipikirkan Emilia setelah hubungan rahasianya dengan Arjuna terungkap.


"Maksud lo, Om Revi pingsan tapi belum cerita apa apa?" analisa Andra sangat tepat.


"Ya."


Andra menghela nafas panjang. Hatinya pun resah sama seperti yang dirasakan Bima. Kalo Om Revi sampai masuk ICU, berarti kabar yang diterinanya sangat parah.


Apa yang sudah Arga Taksaka sampaikan, geramnya dalam hati.


Orang tua ini niat banget mencelakakan keluarganya, batinnya lagi, geram.


Jantungnya pun semakin ngga menentu berdetak. Dia sudah ngga sabar ingin melihat keadaan Omnya. Pasti keluarga sangat cemas.


"Nenek gimana?" tanya Andra tambah kalut.


Berita ini harus disembunyikan dari nenek mereka, tandasnya dalam hati.

__ADS_1


Andra ngga mau neneknya sampai sakit.


"Papa lo ngga bilang tentang nenek."


Bima menghela nafas berat.


"Gue ngga akan pernah memaafkan Arga Taksaka jika papa sampai ..." geram Bima ngga bisa melanjutkan. Hatinya begitu marah.


Andra mengangguk.


"Kalo itu sampai terjadi, gue akan bersama lo buat ngehancurin Taksaka. Sekarang yang harus kita lakukan adalah berdo'a agar Om Revi cepat sehat," kata Andra dengan rahang yang mengeras.


Bima mengangguk. Dia menoleh ke arah Emilia yang terlihat murung.


Matanya terpejam seolah menahan beban yang sangat berat.


Bagaimana kalo Emilia tau penyebab papa masuk ICU? Dia pasti akan sangat terguncag dan merasa bersalah.


Bima ngga bisa membayangjan bagaimana terlukanya perasaan adik semata wayangnya. Sekarang saja dia sudah menjadi pendiam begitu kedekatannya dengan Arjuna sudah diketahui mendapatkan larangan keras dari mereka bertiga.


"Gue mengkhawatirkan Emil," katanya berbisik. Suaranya terdengar seperti menahan beban yang sangat berat.


"Iya. Pikiran kita sama," sahut Andra lirih.


Mengapa harus Arjuna yang membuat Emilia jatuh cinta.


Nanti Bima akan mengenalkannya dengan rekan rekan bisnisnya.yang masih muda muda untuk menggeser Arjuna dari hati Emilia.


*


*


*


Dewa kali ini yang merasa aneh. Dia ketiduran sejak pesawat lepas landas. Di telinganya pun ada headphone yang digunakannya untuk mendengarkan musik.


"Kalian kenapa?" tanyanya heran sambil melangkah mengikuti keduanya yang bagai arca berjalan


Andra melirik Dewa tanpa mau menjawab Bima dan terus melangkah. Begitu juga dengan Bima.


Mereka berdua ingin merahasiakan berita ini sampai di rumah sakit. Kalo memberitau Dewa sekarang, pasti sepupunya itu akan membuat adik dan ketiga sepupunya histeris. Karena Dewa juga hanpir sama sepertinya, hanya bedanya rasa ingin tau yang dimilikinya, meresahkan.


"Ada apa, sih?" tanyanya lagi sambil menatap keduanya serius.


Tapi Andra dan Bima belum juga mau memberi tanggapan. Apalagi saat ini Bima juga sedang berusaha menelpon. Andra memutuskan akan menjawab setelah Bima selesai menelpon.


Wajah Dewa langsung kesal karena merasa di abaikan.


"Ada apa dengan kailan," katanya marah sambil menendang bokong Andra yang berjalan di depannya.


BUG


Andra yang kaget dan ngga ada persiapan langsung menabrak penumpang di depannya.


"Sialan!"


"Hati hati dong! Sakit tau! Aaargh!"

__ADS_1


Andra dan penumpang yang dia tabrak jatuh dengan sukses. Penumpang itu jatuh tertelumgkup dan Andra pun menimpa tubuhnya, membuat penumpang yang ternyata perempuan itu menjerit lagi karena tertimpa tubuh tinggi kekar yang pasti sangat berat untuk ukuran tubuhnya yg kurus langsing.


Dewa si tukang onar langsung menghindar di amtara kerumunan para penumpang yang sempat berhenti dan tertawa melihat adegan itu.


Bina yang akan menelpon jadi membatalkan niatnya karena melihat Andra yang jatuh tersungkur. Begitu juga dengan adik dan ketiga sepupu perenpuannya yang segera menghampiri Andra dan perempuan yang jatuh bersamanya.


Dewa, awas lo! geram Andra saat masih melihat punggung Dewa yang langsung kabur.


"Bisa bangun nggak lo," bentak gadis itu galak membuat Andra tersadar dari kemarahannya pada Dewa.


"Maaf," kata Andra sambil cepat berdiri dan mengulurkan tangannya pada gadis yang berada di bawah tubuhnya.


Sesaat mereka bertatapan tapi kemudian gadis itu melengos dan mengabaikan uluran tangannya. Dengn cepat dia pun bangkit berdiri dan memggoyangkan pinggulnya untuk memgusir rasa pegalnya.


Sementara Andra merasa bagian sensitif di bawahnya berdenyut dan menegang karena menyentuh bokong lembut gadis itu. Gadis itu hanya mengenakan hostpans dan tank top yang dibalut dengan cardigan.


Dandanan bahkan lebih seksi dari Zeta, batin Andra tergetar.


"Laen kali ngga akan gue maafin," ketusnya sambil melangkah pergi meninggalkan Andra yang masih bengong menatap punggung gadis itu.


"Kakak ngga apa apa?" tanya Zeta sambil menepuk lengan Andra.


"Eh iya, ngga pa pa," kata Andra agak gelagapan. Dia baru sadar masih ada para penunpang yang memperhatikannya dengan bibir penuh senyun.


Kembali dia merutuk dalam hati ketika ngga melihat bayangan Dewa.


Bima yang merasa Andra ngga apa apa meneruskan niatnya untuk menelpon mamanya.


"Bima sudah sampai, ma. Bentar lagi ke rumah sakit," katanya langsung begitu telponnya tersambung


"Iya sayang. Papa masih belum sadar," kata mamanya dengan suara serak. Mungkin mama dari tadi terus menangis.


"Bima yakin papa kuat. Mama sabar ya," kata Bima berusaha menegarkan hati mamanya.


"Iya sayang. Cepatlah kemari."


"Iya ma. Nenek sudah tau?" tanya Bima dengan jantung berdebar keras.


"Belum. Nenek taunya papa lagi ke luar kota," jelas mamanya kembali terisak.


Syukurlah, batin Bima lega. Detak jantungnya kini sudah kembali normal.


"Oke,ma. Kita ke rumah sakit, ya," kata Bima pelan. Dia tau mamanya pasti saat ini sedang kalut memikirkan kondisi papanya.


Setelah menyimpan ponselnya, dia menatap tenang adik dan para sepupunya.


"Kita ke rumah sakit."


"Siapa yang sakit, kak?" kaget Emilia sambil menatap dalam mata kakak laki lakinya.


"Papa."


"Om kenapa?" sambar Arinka cepat dan cemas.


"Kakak juga belum tau. Karena itu kita harus cepat ke rumah sakit," kata Bima kemudian mencari cari dua sepupunya yang laki laki, Andra dan Dewa.


"Dimana Andra?" Seingatnya Andra tadi ada di sini.

__ADS_1


"Kak Andra kayaknya masih dendam dengan Kak Dewa," lapor Maria juga dengan mata mengitari sekeliling tapi ngga nemuin kedua kakak sepupunya.


__ADS_2