Love U Like FIRE

Love U Like FIRE
Mars dan Arinka


__ADS_3

"Arjuna sama Emilia udah dibolehkan bersama?" seru Maria ngga percaya. Ngga yakin kalo kakak sepupu laki lakinya bisa segampang itu memberikan ijin.


"Iya. Tadi kayaknya Kak Bima ngantar Emilia pergi menemui Arjuna," kata Zeta yang memberikan info. Dia pun melirik pada Arinka yang hanya diam saja seakan tengah berkonsentrasi dengan sarapan sotonya.


Jika saja ngga ada Maria, Zeta akan menanyai Arinka dengan banyak pertanyaan tentang kecurigaan yang sudah lama dia pendam. Dia merasa aneh karena pernah melihat Mars yang menatap sepupunya sangat lekat dan putus asa(?)


Zeta yakin, keduanya pasti ada sesuatu.


Jangan jangan mereka seperti Emilia dan Arjuna., tebak batin Zeta dan dia pun merasa frustasi.


Kenapa sepupu sepupunya harus tertarik dengan laki laki yang berhubungan dengan Taksaka.


Apa ngga ada laki laki lain yang bisa mereka sukai selain nama keluarga terlarang itu.


Pagi ini mereka memutuskan sarapan di kafe yang baru saja buka beberapa hari yang lalu. Agak jauh dari perusahaan orang tua merekan. Tapi ngga apa apa karena mereka sudah berangkat lebih awal, jadi ngga akan terlambat nanti sampai ke perusahaan mereka.


Arinka yang merasa Zeta sedang memperhatikannya sejak tadi merasa jengah. Dia merasa Zeta sudah curiga kalo dia punya hubungan dengan Mars. Pasti Zeta akan mencecarnya jika nantinya mereka hanya berdua.


Tapi berita yang dibawa Zeta sedikit menggoyahkan hatinya. Beberapa hari yang lalu Mars sepertinya ingin mereka kembali bersama. Tapi dia sudah menolaknya. Lagian saat itu Arinka merasa Mars juga belum siap. Siap kehilangan teman temannya sudah pasti jika dia ketahuan berhubungan dengan Sagara.


DUKK!


Iiih, apaan, sih, kesal Arinka yang kaget karena sepakan kaki Zeta pada sepatunya mrnyebabkan lamunannya langsung buyar begitu saja.


Tapi isyarat mata Zeta menuntun Arinka mengikutinya.


Dan Zeta melihat jelas ketika dua pasang mata itu terlihat kaget.


Mars yang barusan memasuki kafe miliknya yang baru dilaunching dua hari yang lalu tertegun menyadari kehadiran Arinka.


Dia reflek menarik tangannya yang sedang dipegang dengan manja oleh Sita.


"Kamu kenapa?" tanya Sita bingung karena Mars melepaskan pegangannya.


"Eh, emm, nggak," katanya sambil memalingkan wajahnya dari Arinka yang juga melakukan hal yang sama.


Dia di sini? batin Mars galau.


Ketika melewati meja Arinka dan dua sepupunya, terdengar suara manja Sita berbicara.


"Siang ini kita jadi, kan, fitting gaun pengantin?"


Arinka hampir tersedak mendengarnya.


Mereka langsung nikah? batin Arinka jadi hampa. Rasanya dia baru saja dilemparkan jauh sekali ke tempat yang ngga ada manusianya. Hanya ada dia sendiri. Aliran darah Arinka bergejolak ngga menentu saking kalutnya.


Kabar yang selama ini dia dengar adalah mereka akan bertunangan. Mengapa tiba tiba malah menikah? Satu pikiran buruk menyusup ke dalam otaknya.

__ADS_1


Cewenya udah hamil?


Karenanya Arinka merasa sesak dalam dadanya. Matanya terasa memanas.


Dia belum siap ditinggalkan Mars.


Arinka tiba tiba bangkit berdiri membuat dua sepupunya kaget. Bahkan Zeta pun ngga memprediksi sikap Arinka akan frontal seperti ini.


Setaunya Arinka sangat tenang dan pintar sekali menyembunyikan perasaannya.


"Rin, aku belum selesai," protes Maria yang buburnya masih sisa sepertiga lagi. Sayang kalo ngga dihabiskan.


Mubazir, kan?


"Aku nunggu di mobil," kata Arinka tanpa menatap.kedua sepupunya. Dia langsung berbalik. Tapi karena gerakannya cepat dan ngga terduga, dia menabrak salah satu pelayan kafe yang sedang membawa secangkir teh panas.


"Awas!" teriak Mars yang sedari tadi sudah melihat gerak gerik aneh Arinka.


"Aauuw," seru Arinka saat merasakan tubuhnya ditarik dalam pelukan Mars.


D**UK**!


PYARRR!


Sang pelayan sangat terkejut dan takut melihat apa yang terjadi di depan matanya.


Sebelum jatuh, isi teh panas itu tumpah menyiram punggung Mars yang berbalutkan jasnya.


"Rinka?" seru Maria kemudian menutup mulutnya melihat adegan romantis itu.


Rasanya ingin sekali menggantikan posisi Arinka. Dipeluk laki laki muda yang sangat tampan pasti sangat mendebarkan.


"Eh, bukannya dia Mars, temannya Arjuna? batinnya kaget begitu melihat wajah tampan yang mulai terlihat jelas.


Zeta masih terdiam dengan tatapannya yang masih terpaku pada keduanya.


"Kamu ngga apa apa?" bisik Mars agak mengernyit karena panasnya teh rupanya tembus juga sampai ke kulitnya.


"Nggak, kamu.... kamu kena tumpahan teh?" tanya Arinka panik.


"Cuma panas sedikit," kata Mars sambil melepaskan pelukannya perlahan walau jarak mereka masih sangat dekat.


"Tu... tuan, maaf," kata pelayan perempuan yang masih belasan tahun umurnya dengan suara bergetar.


"Minggir," dorong Sita ngga suka pada Arinka.yang berada sangat dekat dengan Mars.


Hatinya panas melihat perlakuan manis Mars pada gadis itu.

__ADS_1


Tapi Zeta cepat menahan tubuh Arinka agar ngga jatuh.


"Rinka," seru Mars kaget melihat tubuh Arinka terdorong ke belakang agak keras.


Panggilan Mars membuat hati Sita tambah panas dibakar rasa cemburu.


Tapi dia cepat berpikir jernih. Dia melupakan kemarahannya.


"Mars, jas kamu basah. Kamu ngga apa apa, kan?" tanya Sita khawatir. Teh yang dibawakan pelayan tadi sangat panas dan mengguyur punggungnya.


"Aku ngga apa apa," jawab Mars datar.


"Syukurlah," ucap Sita dengan mata berkaca kaca dan langsung memeluk tubuh Mars yang langsung menegang kaku.


Begitu juga Arinka, yang hanya bisa menatapnya dalam diam dengan perasaan sakit.


Dia tau Mars melindunginya dengan membiarkan tumpahan teh menyiram pumggungnya. Tapi adegan selanjutnya membuat hatinya nyeri.


"Mbak, laen kali hati hati, dong. Kalo calon suami saya kenapa kenapa, gimana?" marah Sita pada Arika. Matanya menyorotkan permusuhan.


Calon suami? batin Arinka tambah terguncang.


Mereka akan segera menikah, batin Arinka lagi lagi merasa terbuang.


"Aku ngga apa apa," sahut Mars yang netramya masih menyorot lekat pada Arinka. Hatinya ngga terima dengan sikap kasar Sita pada Arinka. Dan Mars dapat melihat sorot mata Arinka yang terlihat terpukul.


"Maaf," ucapnya pelan.


"Ngga bisa hanya minta maaf saja, dong. Kafe ini rugi karena mbaknya juga sudah menumpahkan minuman sampai cangkirnya pecah. Calon suami saya juga menderita karena ulah mbaknya," omel Sita dengan nada ketus dan sinis.


Arinka menatap nanar gadis yang sudah menjadi calon istri Mars yang saat ini masih memeluk tubuh Mars dan telah menghinanya di tempat umum.


"Sejuta cukup, kan, buat ganti cangkir yang pecah dan ngobatin calon suami lo," kertak Maria sambil berdiri dan meletakkan sepuluh lembar uang kertas berwarna merah di atas meja. Gedeg juga hatimya melihat sikap sok Maria.


"Laen kali bilang sama calon suami lo jangan sok sokan nyelamatin perempuan laen jika calon istrinya ntar menye menye," sambung Maria lagi nggak kalah ketus dan sinisnya.


Sita sampai ternganga mendengarnya. Ngga nyangka ucapannya di balas dengan ngga kalah ketus dan sinisnya.


"Ayo kita pergi. Selera makan gue udah hilang," tukasnya sambil berjalan mendahului Zeta dan Arinka.


Bahkan dengan sengaja dia menyenggol keras bahu gadis sombong itu.


Sita menatap sinis melihat keberaniam Maria.


Zeta dan Arinka pun mengikuti langkah Maria meninggalkan Mars dan Sita.


Mars terus menatap kepergian Arinka dengan berbagai perasaan berkecamuk dalam hatimya.

__ADS_1


__ADS_2