
"Naik jetski?" ajak Arjuna setelah capek berlarian di sepanjang pantai. Saat ini mereka sedang menikmati kelapa muda masing masing.
Emilia mencari cari kedua sepupunya sambil.menyesap kelapa mudanya di sekitar pantai.
Kemana mereka? Kenapa ngga terlihat? batinnya heran.
"Nyari sepupu kamu?" tebak Arjuna denan tatapan penuh arti. Dia sudah meminta ketiga sahabatnya untuk menjauhkan ketiga sepupunya dari Emilia.
Tentu saja ketiganya setuju, dan tadi langsung bergerak cepat.
"Iya."
"Apa mungkin mereka sudah kembali ke hotel?" gumam Emilia pelan. Rasanya ngga mungkin dia ditinggalkan dengan berdua saja dengan Arjuna.
"Mungkin mereka ke arah yang ngga terlihat?" ucap Arjuna berteka teki.
"Mereka bukan hantu," sebel Emilia.
Arjuna kembali tertawa, Emilia menatapnya dengan jantung berdetak kencang..Dia suka melihat wajah Arjuna yang tertawa lepas.
"Ayo," ajak Arjuna sambil bangkit dari duduknya dan meraih tangan Emilia, menggenggamnya erat. Kedua mata mereka saling bertatapan lembut.
"Ya," kata Emilia sambil bangkit dari duduknya karena ayunan tangan Arjuna yang menariknya.
Senja, jangan berakhir dengan cepat, harapnya sambil mengikuti langkah kaki Arjuna.
Tanpa kata, hanya suara debur ombak laut yang mengiringi nyanyian hati mereka.
"Mau engga kalo kamu dibelakang aku aja?" tanya Arjuna ambigu.
"Hem....?" tanya Emilia bingung.
Arjuna tersenyum lagi.
Dia semakin tampan, jerit batin Emilia ngga tau malu.
"Aku boncengin kamu," tawanya lembut.
Ini beneran Arjuna Taksaka? Mata Emilia mengerjap ngga percaya. Dia sangat hangat.
"Emilia, kenapa.kamu bengong?" tanya Arjuna mengagetkannya.
"Kamu beda banget dengan kamu yang pertama aku temui di bandara," kekeh Emilia pelan. Arjuna pun meneruskan tawanya.
"Waktu itu aku galak banget, ya?"
"Sangat."
Kali ini tawa keduanya tambah berderai derai. Mentertawakan pertemuan pertama mereka.yang rusuh.
"Ngga nyangka selera koper kita sama," sela Arjuna.
"Iya," balas Emilia menyahuti.
Arjuna pun menstarter jetskinya, lalu menoleh pada Emilia.
"Nona muda, ayo, naik."
__ADS_1
Emilia terkikik mendengarnya.
"Oke, tuan muda."
Tanpa ragu Emlia melingkarkan tangannya di pinggang Arjuna membuat darah Aarjuna tersirap. Arjuna pun dapat merasakan debaran kencang jantung Emilia. Jangan lupakan bikini seksi yang selalu merusak konsentrasinya.
"Kalo kamu jadi istriku, pake gini ya, setiap hari," kata Arjuna dengan tatapan nakalnya.
"Mesum," decih Emilia malu. Dari tadi Arjuna selalu mencuri lirik pada bikini two piece yang dia kenakan. Emilia ngga nyangka akan ketemu Arjuna. Dari awal ketemu dia pun sudah malu. Tapi ini di luar dugaannya.
Arjuna tertawa lagi. Dia benar benar menikmati kebersamaannya dengan Emilia.
Andai saja kamu bukan Sagara, aku pasti akan segera melamarmu, batinnya sedih.
"Nona muda yang seksi, ayo, kita berangkat."
Arjuna langsung menggas dengan kuat membuat jetski terlompat sebelum melaju kencang di atas ombak.
"Junaaa!" seru Emilia kaget canpur kesal. Dia pun semakin menempelkan tubuhnya dan mengencangkan pelukannya. Arjuna hanya tertawa sambil terus melajukan jetskinya.
Darah Arjuna terasa panas, sentuhan kulit Emilia membakar hasratnya. Apalagi yang hanya ditutupi dengan seupil kain. Sangat menggoda gairah kelaki lakiannya.
Gadis seksi ini sangat erat menempel.di belakangnya. Apa dia ngga sadar kalo sudah membangunkan juniornya.
Setelah berputar putar beberapa kali, Arjuna menghentikan jetskinya di tengah laut. Dia masih bisa merasakan jantung Emilia yang berpacu kencang. Sama seperti jantungnya. Adrenalin mereka tertantang.
"Kok, berhenti?" tanya Emilia sambil memiringkan wajahnya. Arjuna ngga menyia nyiakannya. Dia langsung mengulum bibir merah itu dengan lembut.
Emilia memejamkan matanya. Rasanya jiwanya terbang melayang jauh. Di tengah laut, Arjuna menciumnya dengan mesra.
Cantik, pujinya dalam.hati.
"Masih nolak jadi pacarku, heh?" kekeh Arjuna lembut membuat Emilia tersadar dan membuka kelopak matanya. Wajahnya tersipu.
"Biarpun kamu Sagara," katanya lagi membuat hati Emilia bergetar.
Tapi jauh dalam hatinya, Arjuna ngga yakin bisa menentang papinya.
"Atau kita begini saja, tanpa status?" Arjuna memgembangkan senyum jahilnya membuat Emilia salah tingkah dan duduknya mulai ngga tenang.
"Jangan bergerak gerak Emilia. Aku sedang menahan," kata Arjuna serak dengan mata berkabut.
Emilia langsung bergeming. Dan dia kembali terkejut ketika Arjuna menggas jetskinya dengan kecepatan tinggi.
Tapi Emilia ngga menjerit. dia hanya menempelkan tubuhnya sangat erat, membiarkan Arjuna membawanya kemana saja.
*
*
*
"Kamu yakin Emilia dan Arjuna ngga ada hubungan apa apa?" tanya Andra ketika dia memberikan ponselnya pada Bima dan Dewa. Keduanya menatap Andra serius.
Bima dan Dewa ngga percaya melihat foto foto adik mereka yang ada di galery. Terutama foto foto yang menggambarkan kedekatan Arjuna.dan Emilia.
Emilia terlihat bahagia, keluh Bima dalam hati. Ada rasa kesedihan menyusup dalam jiwanya melihat wajah ceria keduanya.
__ADS_1
Arjuna yang selalu dingin dan kaku terlihat luwes dan hangat dengan adiknya. Foto foto yang diambil secara candid itu terlihat natural.
"Emilia terlihat bahagia. Begitu juga si brengsek Arjuna," geram Andra.
"Ya," pelan Arjuna menjawab.
"Kenapa Arinka, Zeta dan Maria terlihat akrab dengan teman teman Arjuna?" heran Dewa saat menggeser slide foto di galery.
"Ada yang mereka sembunyikan," kata Andra yakin. Dia meminta para pengawalnya mengambil foto adik dan kedua sepupunya di pantai. Dan yang dikirimkannya begitu mengagetkan. Mungkin saat mengambil foto foto ini para pengawalnya juga shock.
Andra terdiam. Dia mengimgat wajah Zeta yang seperti enggan bercerita. Begitu juga Maria dan Arinka. Sebenarnya ada apa? Apa mereka ada hati dengan Arjuna dan teman temannya?
Andra menghela nafas kasar.
"Kalo mereka dekat, wajar Emilia tau tentang desain Arjuna mirip sama desain Lo, Bim," kata Dewa memecah kesunyian.
Ya. Kalo itu Bima setuju. Andra juga berpikiran sama.
"Arjuna bukan orang bodoh. Ngga mungkin dia ngga tau siapa Emilia," kata Andra lagi penuh tekanan.
"Kita ke sana," putus Bima setelah cukup lama terdiam. Dia harus memastikan sendiri keselamatan adik adiknya.
"Oke."
*
*
*
Emilia masih menyandarkan wajahnya di punggung Arjuna meskipun jetski sudah sampai di pinggiran pantai. Jantungnya masih berdebar kencang. Apalagi Arjuna tadi sempat menciumnya di tengah laut.
"Sepupu kamu sudah menunggu, Emilia," kata Arjuna lembut.
Emilia tersadar, dia pun cepat turun. Dia menatap Maria yang melambaikan tangannya. Arinka dan Zeta juga berdiri di sampingnya dengan teman teman Arjuna yang dilihatnya di club dulu. Ketiganya sudah mengenakan kain pantainya.
Emilia pun membuka tasnya yang masih tergeletak dan mengambi kain pantainya. Dengan canggung, dia pun mengenakannya di bawah tatapan aneh Arjuna.
Berdua mereka berjalan tanpa suara.
"Kakak udah nyuruh kita pulang," bisik Maria begitu Emilia sudah berada di dekatnya. Emilia mengangguk mengerti.
"Kita duluan ya," pamit Zeta yang diangguki para laki laki tampan itu.
Emilia ngga berkata apa apa, hanya tersenyum sebelum pergi.
Keempatnya berlari lari kecil ke arah hotel.
Arjuna dan ketiga sahabatnya kemudian melihat sepuluh orang dengan baju santai keluar dari balik pepohonan, mengawal keempatnya.
Karena menginap di hotel yang sama, Arjuna dan sahabatnya berjalan santai.
Kaki Arjuna seakan di paku ketika melihat tiga laki laki tampan yang keluar dari dalam hotel dan menyambut ketiga gadis itu.
Walaupun dia sudah menduga, tapi kemyataan yang dilihatnya tetap saja membuatnya perasaannya kacau balau.
Bima, Andra dan Dewa menatapnya tajam sebelum menggiring keempat gadis cantik itu ke dalam hotel. Bahkan keempatnya pun ngga menoleh lagi.
__ADS_1