Love U Like FIRE

Love U Like FIRE
Prasangka Arjuna


__ADS_3

"Lo ngapain di sini? Anak anak udah nungguin lama," tegut Galih mengagetkan Arjuna.


"Gue lihat Emilia dengan Bima. Mereka terlihat akrab. Apa mereka ada hubungan?" tanya Arjuna tanpa sadar membuka sedikit isi hatinya.


Galih terdiam. jarang jarangnya Arjuna berkata panjang lebar dan berterus terang.


"Lo serius?"


"Iya."


"Apa dia juga mendekati Bima?" tanya Galih berasumsi.


Arjuna terdiam. Tapi melihat kedekatan Emilia dengan Bima membuatnya setuju dengan tuduhan Galih.


Mereka berangkulan, batinnya geram.


"Wooiii, ayo!" seru Jery yang sudah membawa mobil suv nya ke dekat mereka.


"Oh iya, kita harus menemui klien lagi. Kenapa Pak Lubis meminta ketemu kita di sini. Kita bisa telat nih, ke hotel," omel Galih sambil menarik tangan Arjuna agar masuk ke dalam mobil.


Arbi dan Mars sudah ada di dalam. Arjuna duduk di samping Jery. Sedangkan Galih memilih duduk di dekat Mars di kursi tengah


"Kalian ngapain tadi. Lihat setan?" gerutu Arbi kesal.


Dia lebih santai duduk di kursi paling belakang sendirian karena bisa berselonjor. Apalagi ada kasur lipat di situ. Posisi istirahat yang cukup menyenangkan baginya.


Waktu mereka sangat mepet untuk meeting dengan klien yang lainnya. Hari ini mereka memiliki dua jadwal meeting penting.


Yang pertama barusan selesai dengan Pak Lubis di kafe ini. Yang kedua di restoran hotel yang jaraknya tiga kilo dari sini. Harusnya sejak tadi mereka sudah meninggalkan kafe ini. Tapi perbincangan dengan Pak Lubis yang cukup alot hingga membuat waktu mereka molor tanpa mereka sadari.


Kalo ngga kena macet mereka masih bisa ontime. Tapi jam jam sekarang adalah jamnya macet.


Arjuna dan Galih ngga menanggapi. Mereka sibuk dengan pikiran tentang hubungan Emilia dan Bima.


Emilia , lo memang murahan, geram Ajuna dalam hati. Dia menyesal sudah mengatakan permintaan maafnya tadi pada gadis cabe cabean itu.


Galih memperhatikan raut kelam sahabat sekaligus bosnya.


Lo memang suka, kan, batinnya tambah yakin.

__ADS_1


"Veli, Sita sama Tantri pengen ikut ke Bali," kata Jery memecahkan suasana hening.


"Ajak aja. Kalo tender ini kita dapatkan, mereka bisa kebagian kerjaan juga," sahut Mars.


"Oke."


"Si kembar ikut?" tanya Galih usil dengan mata menyorot harap pada Arjuna.


"Nggak," jawan Arjuna tegas dan langsung di balas tawa ketiganya kecuali Galih. Ketiganya tau kalo Galih menyukai Cila, si kembar yang polos dan manja.


Jomblo lagi gue, batinnya kesal.


"Gue setuju dengan Juna. Cila terlalu lugu buat lo yang udah tingkat expert," komentar Jery sambil tergelak.


"Kasian, kan, anak sepolos itu dipoles sama lo," tambah Arbi semakin ngakak.


Galih hanya mendengus kesal. Sementara Arjuna hanya diam ngga menanggapi gelak tawa mereka. Pikiranya terpusat pada prasangka buruknya terhadap Emilia. Kepalanya jadi terasa panas karena emosi yang mendadak memenuhi rongga dadanya.


"Lo ngga memenuhi syarat, Galih," kekeh Mars menimpali.


Galih hanya mendumel dalam hati. Satu pun sahabatnya ngga ada yang mendukungnya. Apa dia sudah terlalu brengsek hingga Juna ngga memandangnya sama sekali? Ciiih....


"Kenapa lo Mars? Suka juga?" ejek Arbi menyindir.


"Lebih baik cari perempuan lain," sangkal Mars menolak.


"Lo paling ngga asyik," decih Arbi kesal.


"Gue setuju sama lo, Bi," sergah Jery dengan mata tetap fokus ke depan. Sesekali dia melirik Arjuna yang menatap ke luar jendela.


Tumben diam aja, batinnya heran.


"Oke," sambut Arbi senang.


Arjuna masih saja diam, sama sekali tidak tertawa atau tersenyum. Seolah ngga mendengar perdebatan para sahabatnya. Dia masih memikirkan apa yang akan dilakukannya pada Emilia.


Awalnya Arjuna ingin memulai dari awal perkenalan mereka setelah mengucapkan kata maaf. Dia sudah melupakan niat awalnya untuk mempermainkan gadis itu. Juga sudah memaafkan gadia itu yang sudah mempermalukannya di bandara. Tapi melihat kejadian barusan, membuat segala kebaikan hatinya lenyap.


Pantas saja dia bisa membelanjakan ketiga sepupunya brand brand terkenal dengan mastercard yang diakui diperoleh dari dirinya. Padahal pemberian Bima Setya Sagara. Sangat wajar dia bisa tinggal di apartemen mewah yang mahal. Pasti Bima yang bodoh sudah menghamburkan uangnya untuk gadis cabe cabean itu.

__ADS_1


Benar benar gadis penggoda yang super materialistis. Menggodanya dan Bima, pria berkualitas yang sangat kaya raya.


Tadi pun Arjuna sangat terpesona melihat gadis itu membungkuk dan ngga sengaja memperlihatkan under wear rendanya sekilas. Merah jambu. Junior kecilnya langsung mengeras, padahal itu hanya sebentar. Rok pendeknya sama sekali ngga berfungsi. Untuk apa dia memakainya jika membiarkan laki laki buas menyantap kaki jenjangnya.Lebih baik dia ngga mengenakan apa apa.


Sekarang Arjuna malah ngga sabar untuk meniduri gadis cabe cabean itu. Gadis cabe cabean itu memang pantasnya hanya untuk dipermainkan. Bukan dirindukan.


Pasti Bima sudah menyentuh semuanya sampai dia hanya mendapatkan sisa. Malah bagus, dia bisa melahap tubuh seksi itu tanpa perlu bertanggung jawab.


"Juna, lo kenapa? Melamun sejak tadi. Lo kesambet apa di parkiran kafe tadi," nyinyir Arbi melihat Arjuna masih hanya diam dengan wajah mengeras menahan emosi.


"Jangan diganggu," bisik Galih membuat Arbi mengerti. Mars pun memberi kode agar dia menutup mulutnya. Jery juga menangkap kode merah dari Galih.


Arjuna yang diam dengan memendam emosi jangan di ganggu, lebih baik dibiarkan saja. Dia akan membentak bahkan bisa memukul siapa pun yang terus mengusiknya. Walau itu mereka sahabat terdekatnya.


Tiba tiba ponsel Arjuna berbunyi. Arjuna segera mengangkat. Dari informannya yang sudah beberapa hari ini dia tunggu tunggu.


"Ada kabar penting?" tanya.Arjuna langsung.


Keempat temannya saling pandang dan makin mengunci mulut mereka. Suara.Arjuna terdengar sangat dingin.


"Tuan muda. Semua plat nomor mobil itu milik tuan Revi Sagara..Tapi saya masih belum tau nama.keluarga gadis itu."


DEG


Arjuna memegang erat ponselnya penuh kemarahan.


"Oke," katanya sambil menutup ponselnya.


Dasar gadis murahan, makinya marah dalam hati.


"Shiitt!" makinya tanpa sadar membuat keempat sahabatnya terkejut. Galih segera memberikan isyarat melalui matanya pada Arbi yang akan membuka mulutnya.


Pantas saja sangat sulit mencari informasi tentang Emilia. Bima pasti sudah melindunginya agar identitas gadis itu aman.


Rupanya Bima sangat memanjakannya dengan harta yang berlimpah. Apartemen, mastercard, bahkan mobil mobil mewah.


Hebat. Untuk gadis murahan seperti itu Bima sampai melakukan hal hal di luar kewajaran.


Senyum miring terulas tipis. Dia akan menghancurkan Bima melalui Emilia. Tugasnya memjadi lebih mudah sekarang.

__ADS_1


Arjuna masih belum sadar kalo.keempat sahabatnya sedang memperhatikannya penuh selidik.


__ADS_2