Love U Like FIRE

Love U Like FIRE
Ketemu Tante Carol


__ADS_3

Setelah meninggalkan si kembar yang membuatnya malu berat, Emilia ke apotik untuk membeli salep buat bibirnya yang masih sedikit perih. Untung kadar bengkaknya sudah berkurang dan tidak begitu menarik perhatian orang orang.


"Jangan sampai aku ketemu lagi denganmu," gumamnya pelan setelah mengoleskan salep ke bibirnya yang masih sedikit memerah.


Emilia pun mematutkan dirinya di spion yang berada di dalam mobilnya. Setelahnya dia menyimpan salepnya di dalam tas.


Emilia mendadak teringat kalo besok dia harus menyediakan kudapan tradisional buat meeting perusahaan kakaknya. Akhirnya Emilia.melajukan mobilnya ke toko kue langganannya.


Surga baginya ketika melihat berbagai macam bahan kue. Kekesalannya sirna. Emilia pun memasukkan berbagai macam bahan kue di dalam keranjangnya.


Dia sudah tau apa saja yang akan dibuatnya. Apalagi dia akan mengandalkan bantuan ketiga sepupunya yang ngga mau merusak kuku kuku cantik mereka. Emilia juga memilih mangkok mangkok plastik yang lucu dan menarik sebagai wadah kudapannya.


Dari dua tahun yang lalu hingga sekarang dia paling betah belanja di toko kue langganannya. Karena komplit dan nyaman. Pembeli bisa memilih sendiri bahan bahan yang di perlukan, seperti layaknya di supermarket.


"Ehem, banyak sekali belanjanya."


Emilia yang sedang melihat berbagai puding jadi menoleh dan tersenyum ramah saat mengingat wanita elegan yang menyapanya. Sepertinya mama si kembar.


"Halo tante," sapanya sambil menyalim tangan wanita yang seusia mamanya.


"Ngga nyangka ketemu kamu lagi," balasnya hangat membuat Emilia tersenyum.


Ya ngga disangka. Bahkan tadi pagi dia sarapan bersama putri kembarnya. Dan ngga disangka lagi dia bertetangga dengan kakak si kembar.


"Panggil saja Tante Carol. Nama kamu siapa?" tanya tante Carol ramah.


"Emilia, tante."


"Nama yang bagus," pujinya hangat membuat Emilia membalasnya dengan senyum.


Bingung harus mengatakan apa. Apa balik memuji? batin Emilia sibuk berdebat.


"Kamu belanja bahan kue banyak sekali. Buat stok?" tanya tante Carol sambil memperhatikan isi keranjang Emilia yang hampiir penuh.


Emilia tersenyum sambil mikir. Dia ngga mungkin mengatakan belanjaannya buat snack kantor kakak laki lakinya. Nantinya akan berbuntut panjang. Karena pasti akan ditanya kantornya dimana? perusahaan apa? Dan yang lebih detil lagi nama kakaknya siapa, apa sudah menikah atau punya anak berapa?


Emilia bisa stres sendiri nanti. Membayangkannya saja sudah bikin kepalanya pusing.


"Ada pesanan snack box tante," katanya ngga terlalu jujur dan mendetil.


"Buat arisan gitu ya?" tanya tante Carol antusias.


"Begitulah tante," jawabnya asal tapi tetap ramah.


"Tante boleh minta nomer telpon kamu. Sepertinya kamu terampil membuat snack box yang enak dan menarik," kata Tante Carol sambil mengamati kotak kotak plastik yang berada di dalam keranjangnya.


"Boelh, tante."


"Nomer telpon kanu diketikkan di ponsel tante, ya," ucapnya sambil menyerahkan ponselnya pada Emilia.

__ADS_1


Emilia pun mengetikkan nomer telponnya. Kemudian dia menekan nomer itu. Ponselnya kini sudah menyimpan nomer Tante Carol.


"Terimakasih."


"Sama sama, Tante. Oh iya, tante, saya menyediakan snack box tradisional. Kalo tante ngga keberatan, saya kirimkan foto foto kudapan yang pernah saya buat ke ponsel tante" ucap Emilia sambil berpromosi.


Lumayan, tante ini seperti teman sosialita mama, batinnya senang.


"Wow, saya malah suka. Kirimkan, ya," seru Tante Carol sangat senang.


Emilia pun mengirimkan beberapa kudapan tradisional andalannya sewaktu di luar negeri.


"Ini kamu semua yang buat?" seru tante Carol takjub. Kudapan kudapan tradisional itu dikemas dalam bentuk yang sangat menarik dan sangat berbeda dari kemasan lainnya yang dia tau.


"Iya," sahut Emilia sambil tersenyum manis.


"Kamu pintar ya. Jarang loh anak muda sekarang mau menekuni bidang kue kue tradisional," puji Tante Carol tulus.


Emilia tertawa kecil.


"Bisa ngga tante pesan buat tiga hari ke depan untuk arisan? Lima puluh porsinya.Nanti tante transfer."


Mantap, batin Emilia senang


"Transfernya nanti aja, tante, setelah pesanan di antar," jawabnya santai.


"Oke, tante sudah kirimkan alamat rumah tante ke ponsel kamu."


"Sudah, tante. Nanti tante kirim aja kue apa yang tante mau. Setelah itu baru saya kirim list harganya."


"Oke. Oh iya, apa kamu sudah punya paca Tante punya keponakan yang sangat tampan dan pekerja keras," ucap Tamte hati hati dalam mempromosikan ponakannya yang masih jomblo.


"Belum, tante."


"Nanti tante kenalkan saat kamu ke rumah ngantar pesanan. Kamu juga tante undang di acara arisan tante. Apalagi putri kembar tante, pasti akan senang ketemu kamu," tukas Tante Carol panjang lebar membuat tanpa sadar Emilia mengembangkan senyum kikuknya.


Padahal si kembar ngirain aku sudah punya pacar. Gimana kalo Cila ngobrolin soal bibir bengkak abis dicium pacar?


Kepala Emilia langsung mumet. Mungkin dia akan memcari alasan saat mengantarkan kue agar bisa langsung pulang. Atau menyuruh pelayan di rumah nenek untuk mengantarkannya ke rumah si kembar.


"Tante duluan ya. Kamu hati hati bawa belanja sebanyak itu sendirian," ucapnya penuh perhatian.


"Iya. tante. Tante hati hati ya," balas Emilia hangat, menatap kepergian Tante Carol.


Ponselnya bergetar, sepupunya Arinka yang menelpon.


"Kamu dimana?"


"Di toko kue kemaren," sahut Emilia jujur.

__ADS_1


"Ooo. Apa ini buat pesanan besok di kantor mas Bima? Maaf kami lupa. Kamu jadinya belanja sendirian."


"Ngga apa apa. Santai saja," ucap Emilia mengerti. Terdengar helaan nafas lega Arinka.


"Abis belanja kamu langsung ke resto outdoor yang dekat perusahaan Taksaka ya."


"Ngga ah. Aku mau pulang ke tempat nenek."


"Lho, jangan gitu. Kita, kan udah sepakat,," kata Arinka mengingatkan.


"Kita lupakan saja seperti kata mas Bima, Kak Andra dan Kak Dewa. Misi ini cukup sampai di sini," pungkas Emilia tegas.


*Cukup sudah dia menderita kerugian fisik yang amat sangat


"Emang kenapa? Bukannya tadi malam kalian bersama*?"


"Ngawur. Aku semalam di apartemenlu," protes Emilia ngga terima.


"Loh, kata staf laki laki yang gendong kamu, kalian akan menghabiskan malam.berdua."


"Kamu percaya?" geram Emilia.


"Kami pikir pasti laki laki itu akan takluk sama kamu. kita, kan sudah tau kredibilitas kamu sebagai pemggoda. Ups, jangan marah." Suara tawa Arinka terdengar.


Kamu salah. Aku yang takluk, batin Emilia memberitau.


"Ngawur," hanya itu yang bisa Emilia katakan.


"Jadi kalian ngga bersama?" tanya Arinka kepo.


"Ngga," tegas Emilia.


"Kenapa dia harus bohong, ya." Suara Arinka terdengar heran.


"Mana gue tau, Arinka," jawab Emilia malas.


Hening sesaat di antara mereka.


"Pokoknya kamu harus datang di parkiran resto ini. Kita tetap.dalam misi," putus Arinka ngga bisa dibantah.


"Tapi....."


"Kalo lo ngga datamg, gue akan ngaku ke nenek kalo tadi malam kita clubbing."


"Lo udah gila?"


"Ngga apa kita sama sama dihukum," tandas Arinka penuh tekanan.


Kembali hening.

__ADS_1


"Oke, gue ke situ."


Terpaksa Emilia melakukannya. Sepupunya suka nekat kalo keinginannya ngga terwujud. Dia juga ngga mau dikirim lagi ke Oma Linda.


__ADS_2