Love U Like FIRE

Love U Like FIRE
Sarapan di Sebelah


__ADS_3

Arjuna menyandarkan tubuhnya di pintu unit gadis itu yang lari kalang kabut menghindarinya. Dia menatap kedua tangannya yang nakal yang telah meraba dan mere*mas milik gadis itu. Lalu tangan kanannya menyentuh bibirnya. Arjuna tersenyum tanpa sadar.


Rasanya saat ini dia ingin mendobrak pintu unit apartemen gadis itu. Ngga akan jadi masalah, karena dialah pemilik apartemen ini.


Nafasnya masih memburu karena sulitnya mengendalikan gejolak di dadanya. Jantungnya masih berdebar keras kala mengingat perbuatannya.


Arjuna membuang nafasnya, tapi dadanya masih bergejolak membayangkan gadis yang bernama Emilia.


Gadis cabe cabean itu kaya juga, batinnya.


Karena unit apartemennya sangat mahal walaupun sekedar untuk di sewa. Tapi ngga mungkin disewa sampak bertahun tahun tanpa ditempati. Pasti sudah dibelinya.


Hanya saja Arjuna heran, sudah sangat lama sekali apartemen ini kosong. Hanya ada beberapa kali orang orang yang memasukinya, tapi hanya untuk membersihkannya saja.


Arjuna pernah melihatnya karena saat itu pintunya setengah terbuka. Kamarnya pun sangat mewah. Dulu dia bertanya tanya siapa pemilik apartemen. Tapi dia lupa.


Banyak tanya berputar putar di kepalanya tentang siapa gadis itu. Tapi hasrat di dadanya begitu menyesakkan nafasnya. Arjuna pun membuka pintu di sebelah apartemen Emilia yang ternyata adalah unitnya.


Kelinci kecil, kamu ngga bisa lari jauh dariku, batin Arjuna yang sedang mendinginkan tubuhnya di bawah guyuran shower. Dia memejamkan mata, seakan mengingat dan menyesap wangi dan lembutnya kulit gadis itu.


Apa yang sekarang dia lakukan? Kenapa aku terus memikirkannya, batinnya menjadi resah.


*


*


*


Emilia membuka pintu unitnya. Dia sudah mandi. Bengkak di bibirnya sedikit berkurang. Emilia bermaksud akan ke minimarket di bawah apartemennya. Perutnya lapar, dia ingin makan sesuatu yang ringan dan belanja sedikit untuk mengisi kulkasnya. Mungkin nanti dia akan lebih sering pulang ke apartemennya.


"Halo," sapa dua oramg gadis kembar begitu melihatnya membuka pintu.


Emilia tersenyum, dia masih mengingat kedua gadis kembar yang ditemuinnya di toko bahan kue.


"Tepung yang kakak berikan ternyata benar. Pempeknya enak," kata salah seorang gadis kembar itu dengan nada riang.


"Syukurlah," jawabnya ramah.


"Kakak mau nyari sarapan? Ikut kita aja, yuk," ajak salah satunya lagi. Mereka berdua sangat ramah, tapi tentu saja Emilia segan untuk menerimanya.


"Ngga usah. Makasih ya," tolaknya lembut.


"Udah, ayo, kak. Kakakku pasti masih tidur," katanya sambil menggandeng tangan Emilia masuk ke dalam unit sebelahnya yang sudah dibuka oleh kembarannya.


"Kalian tinggal di sebelah?" tanya Emilia takjub. Ngga nyangka ada kebetulan seperti ini.


"Iya, ngga nyangka kita bertetangga," ucapnya sambil terus menggandeng tangan Emilia. Kembarannya sibuk membuka gorden agar sinar matahari masuk.


"Namaku Cila, dan kembaranku Cleo," katanya mengenalkan diri.


"Aku Emilia."


"Kak Emil aja kita panggilnya,ya," kata Cila sangat ramah.


"Boleh," balas Emilia juga ramah.


Cilla pun menarik tangan Emilia menuju dapur. Sepanjang penglihatannya, ruangan dalam apartemen ini mewah dan bersih.


Di dapur Cleo sudah menata kotak kotak yang di bawanya di piring.

__ADS_1


"Kakak masih tidur kayaknya," kata Cleo sambil memyimpan sebagian kotak yang dibawanya ke freezer.


"Ini apartemen kakak kalian?" tanya Emilia kepo.


"Iya. Kami membawakannya sarapan. Tapi sepertinya dia masih tidur," kata Cila sambil melirik pintu kamar kakaknya yang masih tertutup.


Emilia hanya mengangguk.


"Rasanya enak," puji Emilia jujur. Memang rasanya lumayan untuk yang baru nyoba nyoba buat pempek.


"Terimakasih," sahut Cleo sambil menatap kembarannya dengan wajah sumringah.


"Kita berhasil," lanjutnya lagi pada kembarannya yang mengangguk senang.


"Kakak ngga akan bisa nyinyir lagi," kekeh Cleo dna Cila juga tertawa mendengarnya.


Emilia mengulum bibirnya yang terasa perih karena kuah pempek yang cukup pedas.


"Kakak abis ciuman, ya?" tebak Cleo dengan tatapan nakal.


"Engga," dusta Emilia membuat kedua gadis kembar itu terkikik.


"Temanku pernah ciuman sampai bengkak gitu. Katanya pacarnya naf*suan," kikik Cila yang yakin akan kebenaran tebakan merreka.


Emilia hanya tersenyun malu, ngga bisa mengelak lagi.


Memang laki laki itu sangat bergairah dan panas, eh...


Emilia kembali memejamkan matanya ketika rasa sakitnya terasa lagi.


"Kompres pake es, kak," kata Cleo sambil beranjak ke depan kulkas dan membuka freezer. Dia mengambil beberapa kotak kecil es batu dan melapisinya dengan berlembar lembar tissue.


"Pake, kak," ulur Cleo yang langsung disambut Emilia penuh haru. Ngga nyangka ketemu orang orang baik dan perhatian.


"Apa enak rasanya ciuman sampai seperti itu?" tanya Cila dengan tatapan polosnya.


Emilia serasa digelitik.


Enak, batinnya.


"Nggak," dustanya membuat ledua gadis itu terkikik.


"Tapi kata temanku rasanya sampai ke langit, kak," kikik Cleo lagi membuat wajah Emilia merah padam karena malu.


"Pas ciuman ngga sakit. Tapi kalo udah selesai baru kerasa. Gitu, 'kali ya, kak," tanya Cila ingin tau.


Aduuuh, gimana jawabnya, batin Emilia bingung.


"Sudah Cila. Nanti Kak Emilia ngga mau ngobrol dengan kita lag," lerai Cleo yang dapat melihat kalo Emilia saat ini ngga nyaman.


"Iya, maaf, kak," sahut Cila kemudian melebarkan senyumnya.


"Kakak mau nambah lagi atau mau bawa pulang? Kita buat banyak," tawar Cleo ketika melihat pempek yang di piring Emilia udah abis. Emilia hanya mengambil dua buah pempek bulatnya.


"Ngga usah. Makasih banget loh," tolak Emilia tambah ngga enak hati. Gadis kembar ini sama cantik dan baiknya. Padahal mereka baru dua kali bertemu.


"Oke," balas Cleo dengan senyum di bibirnya.


"Masih perih ya, kak?" tanya Cila kasian melihat Emilia terlihat meringis ketika kompresan es batunya ditempelkan di bibirnya.

__ADS_1


"Lumayan," sahut Emilia dengan ringisan kecil di wajahnya.


"Nanti pacarnya dikasih tau, kak, kalo mau cium yang biasa aja," kata Cila polos membuat Emilia dan Cleo tertawa kecil.


"Kamu belum pernah ciuman sok nasehatin," cibir Cleo diantara tawanya.


"Mentang mentang udah pernah ciuman," sindir Cila yang hanya membuat Cleo tambah tergelak.


Emilia bisa melihat bayangan Maria di balik sosok Cila. Sama sama polos. Keduanya kembar identik. Hanya wajah Cila terlihat lebih polos dibanding Cleo yang nampak.cukup dewasa.


"Makanya coba sesekali ciuman. Enak loh. Apalagi yang sampai bengkak bibirnya, biasanya udah rem*as rem*as gitu ya, kak," bela Cleo membuat Emilia terbatuk.


"Minum, kak. Kamu Cleo, kalo ngomong jangan terlalu jujur," katanya masih dengan raut polosnya.


Sumpah, rasanya Emilia ingin segera nyelam di dalam palung Marina untuk memyembunyikan rasa malunya.


"Kakak pamit dulu ya. Ada janji soalnya," pamit Emilia sambil berdiri.


Bodo amat dikira mgga sopan.


Emilia membawa piring kotornya ke bak cucian piring.


"Biar aja, kak. Jangan kapok ke sini lagi ya," kata Cila manis sambil mengambil piring kotor di tangan Emilia.


"Oke. Makasih banget sarapannya, ya," ucap Emilia sambil beranjak meninggalkan dapur diantar Cleo.


"Sama sama," sahut Cleo ramah


"Kak, jangan diambil hati kata kata Cila. Dia memang gitu, terlalu polos," bisik Cleo ketika.membukakan pintu untuk Emilia.


"iya," Bibir Emilia mengembangkan senyum manisnya sebelum berlalu pergi.


"Kakak Emilia cantik, ya. Sayang sudah punya pacar," komen Cila begitu Cleo menyusulnya ke dapur.


"Iya, aku juga suka kalo dia jadian sama Kak Juna," balas Cleo sambil merapikan meja makan bekas mereka tadi.


CLEKK


Kedua gadis kembar itu menoleh dan melihat kakaknya keluar hanya menggunakan boxer. Dalam hati bersyukur kalo Kak Emilia sudah pergi dan ngga perlu melihat tontonan dada polos dan rambut acak acakan.


"Kalian?" tegur Arjuna sambil melihat sekeliling. Rasanya ada suara selain suara adik kembarnya.


"Kami bawa pempek. Ayo sarapan, kak," kata Cila sambil menata pempek buat kakaknya.


"Tante yang buat?" tanya Arjuna sambil mendekat dan duduk di depan piring berisi pempek.


"Bukan mama. Tapi kita, kak," tegas Cila.


"Apa enak?" ledek Arjuna dengan cengiran khasnya. Kebiasaan sepupunya selalu menjadikannya kelinci percobaan masakan mereka.


Arjuna termenung sesaat mengingat kelinci seksinya semalam.


"Enak, dong," balas Cleo sangat yakin.


Arjuna tersenyum dan mulai menikmati pempeknya.


"Gimana?" tanya keduanya berbarengan sambil menatap Arjuna penuh harap


"Lumayan lah," jawab Arjuna jujur. Memang lumayan. Ngga keras sepert beberapa minggu yang lalu.

__ADS_1


"Kita berhasil," sorak keduanya berbarengan.


Arjuna hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan sepupu kembarnya.


__ADS_2