
"Lo ngga salah bantu gadis tadi. Bukannya lo benci?" bisik Galih begitu Arjuna mendekat. Suasana di antara mereka sangat sepi, ngga ada satu pun yang berani membahas tindakan Arjuna tadi. Hanya Galih yang berani bertanya. Itu pun sangat perlahan.
"Reflek aja," jawab Arjuna ringan. Hatinya masih mengingat wajah tersipu gadis itu. Juga underwear hitam penuh renda. Tanpa sadar Arjuna mengulum senyum.
"Lo mulai suka? Makanya jangan benci benci," decih Galih ketika melihat wajah dingin sahabatnya sedikit mencair.
"Jangan ngomong asal," bantah Arjuna sambil mengirimkan delikan tajamnya pada Galih. Apalagi dia merasa sahabat papa dan menejernya menguping pembicaraannya dengan Galih.
"Ehem," batuk Om Haykal ketika mereka sudah sampai di depan mobil yang menjemput. Menutup mulut Arjuna dan Galih yang sedang berdebat.
"Kita pamit dulu, Pak Syarif," pamit Om Haykal sambil membukakan pintu.
"Hati hati di jalan, pak," jawab Pak Syarif penuh hormat sambil membukakan pintu buat Arjuna.
"Terimakasih atas kunjungannya tuan muda," ucapnya sambil menundukkan sedikit kepalanya.
"Sama sama," sahut Arjuna sambil masuk ke dalam mobil. Galih menyusul setelah memutar bagian depan mobil.
Mobil pun bergerak meninggalkan parkiran restoran outdoornya.
"Kalain kenal gadis tadi?" Om Haykal ngga dapat menahan rasa ingin taunya. Dia sempat mendengar bisik bisik keduanya karena jaraknya cukup dekat.
Arjuna melirik Galih sebal. Seandainya saja sahabatnya bisa sedikit mengerem mulutnya, pasti kejadian tadi hanya akan dianggap hal biasa saja.
"Ngga pa," sahut Galih. Dia engga bohong, mereka ngga saling kenal. Hanya pernah bertemu beberapa kali saja.
Alis Om Haykal berkerut. Dia nerasa aneh, putra tunggalnya tidak biasa berbohong. Tapi kali ini?
"Kamu ngga bohong?" Om Haykal menatap tajam putranya.
"Engga, pa," tegas Galih membantah.
"Kita cuma pernah ketemu waktu di bandara, Om," jelas Arjuna membuat Om Haykal manggut manggut.
"Apa kalian ngga sempat berkenalan?" cecar Om Haykal ngga percaya.
"Ngga pa. Buat apa juga," sahut Galih lagi. Dia masih berusaha menutupi setengah kebenarannya. Setelah bekerja, papanya cukup pelit memberikannya fasilitas kemewahan. Dia sudah ngga semerdeka dulu. Jangan sampai Arjuna pun memotong gajinya karena hal ini. Satu persen pun dia ngga ikhlas.
"Tadi Om sempat lihat kamu nyium bibir gadis itu. Makanya om pikir kalian saling kenal," tembak Om Haykal langsung. Tetap ngga bisa percaya akan jawaban jawaban putranya.
Arjuna hanya menyeringai. Dia salah membiarkan perbuatannya tersorot publik. Tadi hanya reflek saja saat melihat bibir merah itu setengah terbuka, hasrat kelaki lakiannya muncul begitu saja.
"Tadi aku kepleset om, ngga sengaja kena bibirnya," kekeh Arjuna tanpa dosa membuat Galih memcibirkan bibirnya.
__ADS_1
Dirinya pun melihat ketika Arjuna menempelkan bibirnya sebelum ditendang gadis yang berani cari mati itu. Untung saja Arjuna bisa menghindar, kalo engga dia akn menghadapi kiamat sebagai laki laki tulen.
Om Haykal ikut terkekeh. Dia menyadari kebohongan Arjuna.
"Semoga ngga ada yang ngerekam. Kamu tau, kan, imbasnya. Nenekmu akan berkeras mencari tau siapa gadis yang sudah mendapat berkah itu," lanjut Om Haykal memgingatkan.
"Musibah kali, pa," sindir Galih membuat Arjuna mempertahankan kekehannya.
Neneknya selalu sibuk mencarikannya jodoh. Padahal dia masih belum mau menikah. Terlalu dini. Karena itu Arjuna ngga pernah membawa teman teman wanitanya ke rumah. Selagi papi dan maminya membebaskan menikah, dia masih merasa aman aman saja dari tuntutan neneknya.
Lagian gadis cabe cabean tadi ngga masuk dalam.daftar calon istrinya. Dia hanya berhasrat untuk mempermainkan gadis itu saja. Dan kelihatannya sangat mudah. Gadis cabe cabean itu sangat terlihat menyukainya.
"Tapi gadis tadi cantik juga ya," pancing Om Haykal sambil melirik Arjuna.
"Seksi, pa," tambah Galih sambil mengedipkan matanya pada Arjuna yang hanya dibalas tawa Arjuna.
Memang cantik.dan seksi, batinnya jujur. Tadi pun keinginan mencium gadis itu muncul begitu saja. Padahal biasanya dia selalu memikirkan dengan hati hati segala langkah yang diambilnya. Apalagi di area publik.
Pokoknya jika bertenu lagi, dia ngga akan melepaskannya dengan mudah. Gadis itu harus membayar perbuatannya yang sudah membuatnya malu seumur hidup.
"Kalo kamu ngga minat, mungkin Galih minat," pancing Om Haykal ringan membuat Arjuna menoleh pada sahabatnya. Sangat tajam dan mengintimidasi.
Tentu saja Galih tau jawaban yang harus dia berikan. Walaupun sedikit bertentangan dengan hatinya. Karena kecantikan dan keseksian gadis itu sayang untuk dilewatkan.
"Bekas?" Om Haykal tersenyum miring.
"Tadi bibirnya sudah disentuh Juna," jelas Galih sambil menjulurkan lidahnya pada Arjuna yang hanya mendengus kesal.
"Om akan cari tau siapa gadis itu."
"Ngga perlu Om. Sepertinya gadis ngga benar," sela Arjuna datar.
"Masa?"
"Udahlah om. Ngga usah dibahas lagi," tegas Arjuna malas membuat Om Haykal tersenyum. Dia tau, Arjuna maupun putranya paling malas membahas perempuan.
"Oke oke," kata Om Haykal mengalah.
Ngga lama kemudian mobil berhenti di sebuah gedung mewah yang bertingkat. Kantor Om Haykal.
"Om, turun dulu. Galih, kamu tidur di.rah atau apartemen?" tanya On Haykal.sebelum membuka pintu mobil.
"Apartemen, pa."
__ADS_1
"Oke," sahut Om Haykal mengerti. Sejak istrinya meninggal tiga tahun yang lalu akaibat kecelakaan, rumah sangat dihindari keduanya. Om Haykal lebih memilih ruangan di kantornya sebagai tempat beristirahat. Sedangkan Galih lebih memilih apartemennya. Karena rumah hanya akan membuat mereka sedih karena rindu.
"Om, kita turun juga. Aku mau ambil mobil," kata Juna buru buru.
"Oiya," cetus Galih tersadar. Tadi saat pulang, papanya meminta mereka mampir ke kantor papanya untuk membahas proyek pembukaan empat resto outdoor yang sedang berjalan. Tadi adalah resto terakhir yang mereka kunjungi untuk melihat peningkatan jumlah pengunjung. Dan mobil Juna ditinggal di kantor papanya karena papanya meminta mereka menggunakan mobil kantor plus supir.
"Sebentar, om hubungi asisten, om," tahan Om Haykal ketika keduanya akan berjalan memasuki basemen.
Om Haykal segera menelpon asistennya. Ngga lama kemudian, mobil mewah Arjuna meluncur dari basemen dan mendekati mereka.
Asisten Om Haykal, Sindu keluar dan menyerahkan kunci mobil pada Arjuna.
"Thank's," kata Juna yang diangguki Sindu.
"Kita langsung pergi, Om," pamit Arjuna sambil masuk ke dalam mobil.
"Pamit, Pa," ucap Galih sambil menyalim tangan papanya seperti yang dilakukan Arjuna sebelum ikut masuk ke dalam mobil.
"Hati hati," ujar Om Haykal dengan senyum lembut di bibir.
Keduanya mengangguk tdan melambaikan tangan sebelum melajukan mobilnya meninggalkan Om Haykal yang masih menatap sampai mobil mereka menghilang.
Arjuna menatap wajah sahabatnya yang murung. Sahabatnya masih menatap spion sampai keberadaan papanya menghilang dari pandangan.
"Sanpai kapan kalian ngga pulang ke rumah," tanya Arjuna hati hati. Sejak mamanya meninggal, Galih berubah lebih pendiam. Padahal dulunya dia sangat atraktif dan suka cari cari perhatian.
"Ngga tau," jawab Galih malas.
Arjuna ngga bertanya lagi. Memahami privasi sahabatnya.
Sunyi.
"Apa rasanya?" tanya Galih memecah keheningan.
"Apanya?" tanya Arjuna heran.
"Bibirnya?" Galih mulai tersenyum usil.
Arjuna lega melihat sahabatnya sudah kembali ceria.
"Manis," kekeh Arjuna dibalas tawa Galih.
"Dapat rejeki besar lo," timpal Galih renyah.
__ADS_1
Keduanya kembali tergelak di dalam mobil.