Love U Like FIRE

Love U Like FIRE
Puzzle Terakhir


__ADS_3

"Tender kakak kalah?" tanya Cleo kaget begitu tau dari Mars. Rasanya ngga percaya. Tapi jantungnya berdebar saat ingat sesuatu.


Ngga mungkin.kan, Kak Emilia melakukan itu, hatinya menolak untuk percaya.


Cleo, Mars, Arby, dan Jery duduk bersama di pantai setelah memarkirkan jetsky mereka.


"Iya," jawab Arby lagi. Tadi dia keceplosan mengatakan soal.tender hotel mereka.


"Tapi dia murung bukan karena tender," imbuh Mars sambil melirik Arjuna yang masih betah dengan kesendiriannya.


"Yah, akhirnya si dingin dan ngga tersentuh itu merasakan patah hati," kekeh Jery diikuti tawa Arby. Mars hanya tersenyum miring. Sedangkan Cleo menghela nafas panjang.


Kasian kakak sepupunya, batin Cleo.


"Gue rasa saat kita sampau di Jakarta, Juna sudah bisa melupakan Emilia. Apalagi sudah banyak kerjaan menunggunya di kantor," sambung Mars yang disetujui mereka berdua.


"Tapi kak Emilia spesial. Dia beda," sanggah Cleo.


"Memang. Dia cantik dan seksi," puji Arby terus terang.


Cleo mencibir.


Dasar ngga ada akhlak. Kalo Kak Juna tau pasti dimusnahkan, geram Cleo dalam hati.


Jery dan Mars terkekeh melihat reaksi Cleo.


Mars melirik Arjuna lagi. Dia tau rasanya patah hati. Mereka berdua adalah contoh laki laki pengecut. Lebih suka meratapi nasib dari pada memperjuangkan perempuan yang mereka cintai.


"Tapi soal kekalahan tender, ada yang mengganggu pikiranku," cetus Arby yang langsung terdiam melihat lirikan peringatan dari Mars.


"Apa kak?" tanya Cleo cepat, tapi hatinya langsung merasa ngga enak. Apakah sesuai dengan kecurigaannya?


"Benar, kan, Mars," sambung Jery.


"Bisa aja Juna ceroboh dan memperlihatkan desain hotelnya pada Emilia," sambungnya lagi.


DEG


Cleo ingat tatapan kaget Kak Emilia ketika melihat sebagian desain itu akibat kecerobohan dia dan Cila.


"Wajar kita curiga, mereka terlalu dekat," tambah Arby ngeyel.


Mars terdiam.


Mungkin, batinnya ragu.


"Bukan Kak Juna yang memperlihatkan desainnya. Tapi aku dan Cila," kata Cleo mengaku.

__ADS_1


"APA?" seru Arjuna membuat mereka tersentak kaget mendengar suara dengan nada tujuh oktaf.


Tubuh Arjuna membeku. Matanya menyorot tajam pada Cleo yang kini berdiri dengan tubuh agak bergetar menahan takut.


Mars yang ikut berdiri di belakangnya memegang bahu Cleo agar ngga jatuh. Begitu juga Arby dan Jery, juga bangkit. Mereka ngga menyangka, kalo Arjuna sudah di dekat mereka.


"Kita ngga sengaja, kak. Waktu kakak meminta kita mengantarkan kertas kertas itu ke kantor, Kak Emilia ada di rumah," kata Cleo sambil menatap mata kakak sepupunya yang sudah berubah dingin.


Mars, Arby dan Jery sama membuang nafas kesal mendengar kata kata Cleo. Mereka sudah tau kini penyebab kegagalan tender hotel. Padahal mereka yakin, mereka sudah sangat rapi melakukannya.


"Saat gulungan kertas itu jatuh, kak Emilia yang mengambil dan melihat sedikit desain kakak," kata Cleo sangat menyesal.


"Tapi hanya sebentar Kak Emilia melihatnya," bela Cleo cepat. Di hati kecilnya dia ngga tega menyalahkan Emilia.


Lagi pula selain waktunya sangat singkat, kak Emilia hanya suka membuat kue. Paling kuliah jurusan tata boga, pikir Cleo masih tetep ngga yakin semua ini gara gara Emilia, keluarga mereka kalah tender.


Mereka bertiga saling pandang. Tapi Arjuna menggeram marah dalam hati. Puzzle nya udah mulai lengkap. Sekarang dia harus tau siapa sebenarnya Emilia. Apa hanya mahir membuat kue saja? Sepertinya ngga begitu. Melihatnya berani menggoda dirinya, Arjuna curiga, kalo dirinya sudah menjadi target Emilia Sagara.


"Mungkin dia pernah melihat desain Bima," bisik Arby pada Mars.


"Gue rasa begitu," kata Mars setuju.


Hebat juga bisa mengganti desain dalam waktu singkat. Siapa kamu, Emilia Sagara? batin Mars memuji.


"Ada apa ini? Kok, pada tegang?" tanya Cila riang. Dia mendekat bersama Galih. Galih menatap Mars minta jawaban. Tapi Mars hanya mengangkat bahunya.


Arby dan Jery hanya tersenyum miring sebelum menarik Galih mendekat.


"Kekasih polosmu yang membocorkan desain Juna," bisik Jery kemudian tersenyum miring.


"Apa?" kaget Galih ngga ngerti.


"Oh iya, Kak Juna, tendernya menang, kan?" tanya lagi masih dengan sangat ceria.


Semuanya menghela nafas dan menatap Galih dongkol.


"Kalah," jawab Arjuna datar.


"Kok, bisa? Padahal desain kakak bagus banget. Kak Emilia aja kagum," kagetnya polos.


Kembali dia menjadi sasaran tatapan tajam membuat Emilia keheranan. Apa firasatnya saja, kelihatannya semua orang menyalahkannya. Apalgi saat Cila melirik kembarannya Cleo. Mata kembarannya seperti api yang berkobar.


"Ada apa?" cicitnya bingung.


"Ngga ada apa apa," jawab Galih sambil mengacak acak rambut Cila dengan wajah frustasi. Pengakuan jujur gadis itu membuatnya kaget. Walau dia ngga sadar mengucapkannya.


"Kita pulang," kata Arjuna datar. Dia pun melangkah pergi meninggalkan sepupu dan para sahabatnyan

__ADS_1


"Okeh," sambar Jery sambil menyusul Arjuna bersama yang lain.


"Cle, kamu marah sama aku?" tanya Cila sambil menahan tangan kembarannya yang akan beranjak pergi. Ada yang aneh dengan sikap dan tatapan kembarannya. Cila merasa sepertinya sudah membuat kesalahan, tapi Cila ngga tau apa salahnya.


"Nggak!" ketus Cleo.sambil menepis pegangan kembarannya dna berlalu pergi. Cleo butuh udara segar. saat ini dadanya sangat sesak. Dia butuh banyak asupan oksigen.


"Sudah, nanti Cleo akan baik lagi," bujuk Galih ngga tega ketika melihat sepasang mata Cila yang sudah berkaca kaca.


"Kak, aku buat salah apa ya? Kelihatannya semua marah sama Cila," cicitnya sedih.


Galih ngga tega memberitahukannya. Akhirnya tanpa kata dia menarik tangan Cila untuk memgikuti yang lainnya yang sudah mendekat ke mobil jemputan mereka.


"Kak.Galih tau, kan, salah aku apa," desak Cila.


"Mana Kak Galih tau. Kita, kan, baru datang sama sama tadi."


"Oh iya ya."


Akhirnya tanpa kata Cila mengikuti Galih menyusul yang lainnya dengan menyimpan tangisnya.


*


*


*


Malam ini Arjuna merasa udara di kamarnya pengap. Dia melirik jam tangannya.


Sudah jam sebelas malam, batinnya sambil beranjak meninggalkan kamarnya.Dia pun berjalan memasuki lift yang terbuka.


Ketika lift baru turun satu lantai, pintu lift terbuka.


Keduamya saling menatap penih arti.


Arjuna menatap dengan sorot tajamnya, sedangkan Emilia dengan kekagetannya yang terpancar jelas di matanya.


"Mau masuk?" tanya Arjuna sambil menekan tombol penaham liftnya


Dia semakin dingin, batin Emilia getir saat melihat sikap Arjuna.


Tapi dia terkejut melihat pintu lift terbuka lagi.


"Katakan siapa dirimu," ucap Arjuna dingin, cukup menggigilkan tubuh Emilia.


"Aku..... Emilia Sagara, adik Bima Setya Sagara," jawab Emilia dengan suara bergetar.


Harusnya dari awal sudah dia katakan, saat Arjuna mengenalkan namanya.

__ADS_1


Pintu lift tertutup lagi dengan mata Arjuna yang terus menyorot tajam padanya.


__ADS_2