
Arjuna serasa dejavu begitu menginjakkan kakinya di pasir pantai. Kenangan kenangan manis kemarin berputar di matanya. Dia memilih duduk di kursi pantai, sambil menatap sahabat sahabat dan kedua adik sepupunya yang dari tadi bermain jetsky
Arjuna membiarkan Galih bersama Cila, agar ngga mengganggu kesendiriannya. Sahabatnya itu sangat kepo. Arjuna ngga ingin diganggu saat ini. Dia ingin mengenang kembali momen manisnya bersama Emilia Sagara.
Emilia pasti sudah tau dia keturunan Taksaka. Dia sendiri yang mengenalkan dirinya pada malam itu. Tapi kenapa Emilia mau jadi pacar pura puranya? Bahkan gadis itu seperti sengaja menggodanya. Tapi setelahnya dia menghindar.
Arjuna menggusar rambutnya. Masih ada puzle yang belum bisa dia temukan.
Tapi hatinya pun sedih saat ngga menyapa Emilia. Bukan Emilia saja yang sakit, dia juga.
Arjuna ngga mungkin bisa memperjuangkan Emilia di depan papanya.
Arjuna membuang nafasnya kasar. Taksaka dan Sagara ngga mungkin bersama.
Dendam papanya terlalu mengakar. Arjuna ngga mau kehilangan papanya seperti dia kehilangan kakek dan neneknya.
Cleo sama seperti yang lain memgendarai jetskynya sendiri. Hanya Cila yang dibonceng Galih. Galih merasa sangat bersyukur karena Arjuna lagi banyak masalah sehingga dia ngga dilarang bersama Cila.
"Kak Galih, Kak Enilia benar benar keturunan Sagara?" seru Cila di antara ributnya suara mesin jetsky dan deru ombak.
"Iya," nggak kalah lantang Galih menjawab.
"Padahal aku suka sama Kak Emilia. Dia baik, cantik," serunya lagi dengan kecewa.
"Iya."
Galih dapat merasakan kesedihan dari suara Cila. Hanya merasa aneh, sepertinya Cila.dan Cleo cukup dekat mengenal Emilia.
Galih teringat ketika mereka akan meninggalkan hotel, Cila memanggil Emilia dengan sangat senang. Tapi Cleo menahannya pergi dan Arjuna memberi isyarat agar Cila masuk ke dalam mobil.
"Kalian saling kenal?" tanya Galih ngga bisa menyembunyikan rasa herannya.
"Iya."
"Sejak kapan?" tanya Galih ingin tau. Dia ngga menyangka kalo Cila berteman dengan Emilia.
"Baru baru ini," jawab Cila polos. Tangannya memeluk erat pinggang Galih yang melajukan jetskynya dengan kencang.
DEG
Galih merasakan firasat yang ngga enak.
Terlalu kebetulan, pikirnya dalam hati. Tapi dia mencoba menepis kecurigaannya. Walaupun tetap saja di benaknya menghubungkan kedekatan mereka dengan kekalahan tender Taksaka grup.
"Kok bisa?" tanya Galih memancing.
"Ya bisa dong," kekeh Cila membuat Galih dongkol.
__ADS_1
"Dimana kenalnya?" tanya Galih lagi. Mencoba bersabar menghadapi tingkah kekanakan Cila.
"Mau tau banget atau tahu tempe?" canda Cila ngikik.
"Hemm " dengus Galih kesal merasa dipermainkan. Apalagi Cila kelihatannya sangat senang mentertawainya. Galih pun menggas lebih kuat membuat jetsky mereka hampir melompat dan melaju sangat kencang.
"KAK GALIH!" seru Cila marah campur takut. Tawanya sirna berganti dengan tubuhnya yang semakin memeluk rapat Galih. Sekarang ganti Galih yang mentertawainya.
Rasakan gadis manja, batinnya senang.
"Aauuww!" seru Galih ketika merasakan Cila mencubit perutnya.
"Syukurin," teriak Cila gemas, apalagi Galih ngga mengurangi kecepatan jetskynya. Kemudian gadis itu pun tertawa lagi.
Dasar, batin Galih.
Begini rasanya pacaran sama bocil, lanjutnya lagi dalam hati. Antara kesal dan senang.
Setelah beberapa kali muter, akhirnya Galih kembali ke pantai.
"Kamu kedinginan?" tanya Galih yang melihat tubuh Cila agak gemetar.
"Iya, kak. Anginnya kencang." Apalagi dia hanya mengenakan tank top dan hotpans. Arjuna melarangnya memakai bikini. Sebenarnya Cila menolak, tapi kakak sepupunya ngga memberinya pilihan.
"Kamu kenapa ngga pake bikini. Ini, kan, di pantai," heran Galih sambil berjalan meninggakan jetsky yang sudah dia kembalikan ke tempatnya.
Kekesalan terbayang jelas di kedua matanya.
Masa ke Bali ngga boleh bawa bikini?
Galih hanya menggelengkan kepala melihat keposesifan Arjuna.
Galih lalu mengambil jaketnya dan memakaikannya pada Cila yang menerimanya dengan wajah merona.
"Makasih, kak," ucap Cila.gugup. Perlakuan hangat Galih selalu saja membuat detak jantungnya ngga normal.
Galih tersenyum lembut sambil mengusap kepala Cila, makin membuat rona merah di wajahnya tampak jelas.
Dia pun memgambil paperbag yang beriisi jajanan ringan dan mendudukkan bokongnya di atas pasir. Cila pun ikut duduk.di sampingnya.
"Pempek buatan kamu enak," kata Galih memulai percakapan setelah keduanya terdiam kaku.
"Kakak suka?" tanya Cila dengan mata berbinar membuat Galih tersenyum
"Iya."
"Itu berkat Kak Emilia," katanya penuh semangat.
__ADS_1
"Kok bisa?" tanya Galih, kali ini dia pura pura ngga tertarik.
"Kak Emilia yang ngasih tau jenis tepung yang digunakan," sahut Cila antusias.
"Karena itu pempeknya berhasil jadi enak?" pancing Galih memuji.
Apa mereka berkenalan saat membeli tepung? batin Galih
"Iya. Dan yang bikin kaget, kamar Kak Emilia di sebelah kamar Kak Arjuna," ucap Cila senang mendengat pujian dari sahabat kakak sepupunya.
Haah! Kali ini Galih sangat terkejut dan ngga bisa menyembunyikannya.
Mereka satu apartemen dan sebelahan? GOD!
"Kak Galih kaget, kan?.Kak Juna juga," kekeh Cila membuat Galih melirik Arjuna yang duduk cukup jauh dari mereka.
Pantasan dia agak aneh beberapa hari ini, kesal Galih dalam hati karena Arjuna sengaja merahasiakannya.
"Kak Emilia pintar membuat kue kue. Bahkan mama memesan buat acara arisannya," celoteh Cila lagi.
"Maksud kamu juga risoles?" Galih tiba tiba mengingat risoles yang dia makan di kantor Arjuna.
"Iya, kak. Itu.dari Kak Emilia. Enak, kan, ya," sahut Cila masih dengan wajah berbinar. Tapi sesaat kemudian meredup.
"Iya, enak."
Pantasan pesanan Arby belum ada jawaban, batin Galih.
"Kenapa Kak Emilia harus Sagara. Bukan Kak Veli atau Kak Nathasa," keluhnya kesal.
Galih tersenyum tipis.
Keduanya pun kembali menikmati keripik kentang yang dibawa Galih.
Ternyata mereka sangat dekat, batinnya sambil menatap iba wajah sedih Cila. Gadis ini sangat periang. Dia jarang bersedih untuk seseorang, kecuali yang sudah mengena di hatinya.
"Kak Arjuna sudah tau ya, kak, kalo Kak Emilia itu Sagara?" tanya Cila dengan suara sedih. Dia melirik kakak sepupunya yang hanya duduk diam sambil memandang laut.
"Ya," jawab Galih singkat.
"Kak Juna pasti patah hati," kata Cila benar benar sedih.
Mengingat kembali sikap manis Kak Arjuna di parkiran club terhadap Kak Emilia. Dalam hatinya Cila yakin kalo kakak sepupunya sangat mencintai Arjuna. Begitu juga Kak Emilia. Tadi di hotel Cila dapat melihat mata Kak.Emilia sepertinya berkaca kaca karena dicuekin Kak Arjuna.
Cila memghela nafas panjang. Dia pun ngga tau akan bersikap seperti apa nanti jika bertemu Kak Emilia. Bisa kah seakrab kemarin. Kenyataan ini saat menyakitkan.
Apa kak Emilia juga sudah tau, makanya tadi diam aja waktu dipanggil? batin Cila murung.
__ADS_1