Love U Like FIRE

Love U Like FIRE
Dendam Andra


__ADS_3

BUUGHH


Dengan penuh emosi Arga Taksaka memukul kerjanya di kamar.


Dia tau Galih berbohong. Anak itu pasti melindungi putranya yang adalah sahabatnya sejak kecil. Sama seperti Haykal-Papa Galih yang selalu melindunginya, yang juga merupakan sahabatnya sejak kecil.


Sepertinya Galih saat ini sudah menentukan sikapnya membuat Arga Taksaka makin curiga. Dia merasa ada sesuatu yang buruk menimpa putranya.


Tapi entah apa. Orang orang yang dimintanya mengikuti Arjuna dan sahabat sahabatnya sudah kehilangan jejak. Mereka licin seperti belut. Hanya Arsen yang selalu bisa dia handalkan dalam segala situasi sesulit apa pun. Anak itu sangat jenius.


Dia dan Arjuna mewarisi kepintarannya. Sayangnya Arga Taksaka ngga bisa mengakui Arsen sebagai anaknya dna memberikannya semua fasilitas seperti Arjuna. Arsen mungkin akan kecewa dan pasti membencinya jika tau siapa dia yang sebenarnya. Papa yang ngga bertanggung jawab dan yang membuat mamanya menjadi pasien rumah sakit jiwa.


Dia butuh Arsen!


Arga Taksaka pun menelpon Arsen, anak rahasianya sekaligus pengawal tepercayanya.


Aneh, batinnya sambil melihat ponselnya. Sama sekali ngga tersambung. Biasanya selalu tersambung dengan cepat karena Arsen selalu mengangkatnya di dering pertama. Dirinya masih mencoba beberapa kali. Tapi tetap saja ngga bisa.


Arga Taksaka pun mengirimkan pesan. Keningnya kembali berkerut. Pesannya hanya tercentang satu.


Ada apa ini? Mengapa susah sekali menghubungi dua orang anaknya?


Arga Taksaka terdiam, mencoba mengingat keanehan Arsen.


Tapi kepalanya cepat dia gelengkan.


Ngga ada!


Tapi ini aneh. Iseng Arga Taksaka menelpon bagian administrasi rumah sakit jiwa tempat mama Arsen dirawat.


"Apa? Sudah pergi dari kemarin?" sentaknya kaget luar biasa.


Dadanya tiba tiba berdenyut keras. Terasa sangat menyakitkan.


Ada apa ini?


Ngga mungkin dia tau?


Hanya dia dan Sujatnata yang tau rahasia ini.


Tapi mereka kemana?


Arga Taksaka menarik nafas panjang berkali kali untuk mengurangi sesaknya.


Arsen sangat ahli dalam urusan menghilang dan menyembunyikan orang.


Beliau pun menelpon Haykal-Papa Galih untuk mencari tau keberadaan Arjuna. Mungkin dengan papanya, Galih akan berterus terang.


*


*


*


Andra meneguk alkoholnya lagi sampai tandas. Sudah habis tiga botol.dengan kadar alkohol cukup tinggj. Kerongkongannya pun sudah terasa panas terbakar.


Setelah membayar billnya, Andra pun pergi meninggalkan meja bartender dengan langkah agak sempoyongan.


Malam ini dia sengaja memisahkan diri dari kedua sepupunya.


Pertunangan Arjuna dan Vania sangat mengganggunya Gadis yang sempat membuat bagian sensitifnya beraksi.


Andra setipe dengan Bima. Mereka akan menenggak alkohol kalo lagi merasa buntu dengan masalah yang ngga tau gimana cara menyelesaikannya. Tapi nggak pernah maen perempuan. Keduanya sangat dingin dan kaku jika berhadapan dengan lawan jenisnya.


Beda dengan Dewa. Selain suka alkohol juga suka gonta ganti pacar. Karenanya Andra suka marah melihat kemanjaan Zeta pada Dewa yang tentu saja sangat melayaninya. Seperti bukan sepupu.


BRUUKK!


"Eh, hati hati, dong," seru seorang gadis yang tanpa sengaja tersenggol bahu Andra hingga hampir terjatuh.


Keduanya berada di dekat pintu masuk.


Andra mengacuhkannya dan terus melangkah pergi, masih dengan langkah sempoyongannya.


"Heyy, kamu, kan......" ucap gadis itu terputus karena langkah Andra yang semakin menjauh.


Walau pun mabok dan sempoyongan, tapi langkah Andra tetap lebar karena kedua kakinya yang panjang menopang tinggi tubuhnya.


Karena ngga mendapat jawaban, gadis itu menyusul Andra, membuntutinya dari belakang.

__ADS_1


"Dia akan mengendarai mobilnya dalam keadaan mabok?" gumam gadis itu yang ternyata adalah Vania merasa khawatir.


Saat ditabrak tadi jantungnya berdebar aneh karena ngga menyangka akan bertemu laki laki mesum itu.


Tapi Vania ngga bisa bohong. Dia merasa senang karena akhirnya bisa bertemu lagi.


Dia datang ke club ini atas undangan sahabatnya yang akan merayakan ulang tahunnya.


Tapi kehadiran Andra membuatnya penasaran dan ingin tau kenapa laki laki itu sampai mabok begini.


"Hemm...." gumam Andra sambil memicingkan matanya yang mulai kabur karena ada seseorang yang mengambil kunci mobilnya.


Dia? batinnya sambil terus menatap Vania yang kini malah menggandengnya ke arah kursi penumpang.


Andra terus menatapnya bahkan sampai Andra berhasil duduk di kursi penumpang. Vania pun memasangkan seatbelt Andra.


Jarak mereka sangat dekat. Andra dapat mencium bau parfum yang begitu memabukkan.


Dia pun meraih pinggang gadis itu hingga membuatnya menjeritt dan mulai mel*um*at ganas bibir mungil yang berwarna merah menyala itu.


Suara jeritan Vanya segera berubah menjadi lenguhan. Andra pun menarik tubuh Vania hingga berada di atasnya dan menidurkan kursinya setelah menutup pintu mobil. Walaupun dalam keadaan mabok, tenaga Andra sangat kuat.


Vania malah menikmati ciuman ganas itu dan bahkan membalasnya tanpa merasa malu.


Matanya agak melebar saat merasakan senjata laki laki itu mengganjal keras di bawahnya.


Antara mabok dan na*f*su, ciuman Andra kini malah sudah turun ke rahang Vania hingga leher putih jenjangnya. Bahkan Andra pu n menggigit leher itu dan menghisapnya dengan kuat. Vania mendesis desis menahan gairahnya yang semakin tersulut dan berkobar.


"Aahh, jangaaan....," tolaknya ketika tangan Andra ******* ***** kasar tubuh bagian atasnya dan mencubit puncak sensitifnya di balik pakaiannya.


Tubuhnya ngga menolak sama sekali. Bahkan Vania semakin terlena dan mendes*h de*sah ngga karuan ketika tangan Andra menangkup dan meremas kasar bagian bawah tubuhnya.


"Ja... Jangan.... Ahh... Ku moh...mohon." Suara seraknya semakin membangkitkan libi*do.Andra.


Apalagi ada kemarahan dalam hatinya karena perempuan yang sudah mencuri hatinya ini akan bertunangan dengan kekasih adik sepupunya.


Andra pun semakin jelas mengingat kalo orang tuanya adalah penyebab keruntuhan dinasti mereka dulu.


Andra semakin ngga peduli dengan jeritan jeritan serak dan manja dari Vania, bahkan dia kini sudah mencium lagi bibir gadis itu. Tangannya pun tiada henti meremas bagian sensitif Vania.


Hingga terdengar lenguhan ******* wanita itu karena sudah sudah mencapai tingkat tertingginya. Tubuhnya terkulai lemas.


Tentu saja Vania mengerang dan bahkan melolong saking ngga tahannya memdapat rangsangan dan sentuhan itu.


Sebelah tangan Andra pun menutup mulut Vania agar suaranya tenggelam. Lagi lagi Andra sukses membuat Vania terkulai lemas.


Dres talinya yang panjangnya hanya sepaha sudah terangkat sampai ke.perutnya.


Melihat Vania yang memejamkan mata tanpa mempedulikan keadaan dirinya, Andra pun mengambil ponselnya dan mengabadikan keseksian gadis itu berkali kali.


Bibirnya tersenyum miring. Teringat kelakuan Papa Vania yang sudah menayangkan foto foto Emilia dengan bikininya.


Andra tau, Papa Vania-Sujatnata pasti terlibat untuk kejahatan Arga Taksaka.


Teganya mereka mengekspose adik sepupunya saat omnya baru saja meninggal.


Semua ini harus dibayar lunas. Bahkan kalo perlu dengan bunganya.


Andra merapikan kaos oblongmya sebelum keluar dari mobilnya. Dia pun berpindah ke kursi kemudi. Maboknya sudah hilang kini. Andra meraih kumci mobilnya sambil menatap.Vania lekat.


Gadis itu masih betah dengan posisinya sampai mendengar suara deheman Andra yang membuatnya tersadar.


Rasanya dia baru saja melayang sangat jauh sekali.


Tapi begitu matanya terbuka, kesadaranya mulai terjaga.


Dia segera bangkit dari tidurnya dan merapikan dresnya yang sudah menampilkan perut dan pahanya.


Tangannya bergetar ketika dia menaikkan underwearmya yang berada di atas lutut.


Wajahnya terasa panas karena mata kelam laki laki ini menyorotnya lekat.


"Mau lanjut?" pancing Andra dengan sinar mata penuh na*f*su.


Vania reflek menggeleng. Walaupuu ingin tapi kesadarannya masih utuh


Andra tersenyum miring. Jamtungnya berpacu ketika melihat kedua tali dress Vania sudah jatuh di lengannya.


Sangat seksi, batin Andra sambil menahan salivanya.

__ADS_1


"Mau ku antar pulang?" tanya Andra tanpa mau melihat Vania. Dia memainkan kunci mobilnya.


Dia sedang menahan hasratnya yang semakin bergejolak.


Wajah, rambut dan dandanan gadis itu yang diacaknya semakin membuatnya bergai*rah hebat


"Bisa kah antarkan aku pulang?"


Vania ngga mungkin masuk ke club dan meminta temannya mengantarnya karena tadi dia diantar supir.


Keadannya sangat mengerikan, juga dia sangat lemas. Vania berkali kali melepaskan gai*rahnya dan menghabiskan banyak tenaganya.


"Alamat?" tanya Andra sambil menghidupkan mobilnya.


Vania pun menyebutkan alamat apartemen mewahnya. Tanpa kata Andra mengantarnya ke sana.


Mereka saling membisu. Sesekali Vania melirik Andra yang hanya fokus menatap ke depan.


Apa.yang sudah aku lakukan?


Walaupun Vania suka ke club, tapi dia hanya sekedar menemani teman temannya saja. Alkohol pun ngga pernah melewati kerongkongannya.


Dia juga sangat menjaga image. Karena banyak produk yang menggunakan namanya.


Tapi baru kali ini Vania merasakan sentuhan intim dari seorang laki laki. Laki laki itu juga yang membuatnya penasaran karena sudah lama menghilang dan sekarang tiba tiba muncul.


Begitu sampai di basemen, Andra membiarkan Vanita keluar dari mobil tanpa satupun kata darinya.


Tapi kemudian.dia ikut turun setelah menggunakan masker dan topinya.


Di tangannya sudah ada jamper yang tadi diambil di jok belakang mobilnya.


Andra mendekati Vania yang melangkah perlahan, mungkin karena masih lemas.


"Hey, kamu mau apa?" serunya lemah ketika tubuhnya diangkat ala bridal oleh Andra. Bahkan Andra menyelimuti paha yang tersingkap itu dengan jampernya.


"Lantai berapa?" tanya Andra ketika pintu lift sudah ditutup


"Sembilan," ucap Vania sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Andra.


Vania menatqp wajah yang kini ditutupi masker itu dengan sayu. Tapi Andra ngga mau melihatnya.


Mengapa dia kembali dingin?


Begitu pintu lift terbuka, Andra kembali bertanya tanpa melihatnya.


Vania pun menyebutkan nomer unitnya.


Begitu sampai di depan pintu unitnya, Vania mendekatkan kartu unitnya.


"Emm... di di sini saja," ucapnya dengan bibir gemetar. Berat hatinya sama antara mau mengusir Andra atau melanjutkan niat gilanya.


Tanpa kata Andra menutup pintu unit Vania dengan kakinya dan memasuki kmar apartemen mewah Vania.


Andra mendorong salah satu pintu yang diyakininya adalah kamar Vania.


Andra pun membaringkan tubuh Vania di atas tempat tidur.


Pandangnnya terus menyorot pada kedua tali yang masih berada di lengannya masing masing.


Jantung Vania berdetak sangat kencang hingga dadanya terlihat naik turun.


Sangat seksi!


Andra sudah ngga tahan lagi melihat kepasrahan Vania.


Dia pun melepaskan masker dan topinya. Kemudian menurunkan dress Vania hingga ke perutnya.


Mata.Andra membesar menyadari Vania ngga memakai br*anya.


Tanpa ragu bibirnya melu*m*at habis puncak yang sudah berdiri tegak, membuat sang empunya menjerit jerit tanpa menahannya lagi.


Lagi lagi Andra membuat Vania semakin lemas tanpa menggunakan senjatanya.


Bahkan tanpa disadari Vania, Andra merekamnya dan memfotonya berkali kali.


Ketika melihat gadis itu sudah ngga berdaya, Andra pergi begitu saja meninggalkannya setelah mengenakan masker dan topinya.


Bibirnya tersenyum puas. Niatnya membalas dendam sekaligus menikmati tubuh indah itu tercapai sudah

__ADS_1


__ADS_2