
"Bisa jelaskan, kenapa kalian bisa sangat akrab dengan Arjuna Taksaka dan teman temannya," kata Bima saat mereka berkumpul di restoran resort setelah menikmati makan malam.
Keempatnya menunduk sambil menatap piring yang hanya terdapat sisa makanan. Bima memulai obrolan setelah merreka menghabiskan makan malam utama.
"Kak Dewa penasaran, kalian, kok, bisa seakrab itu," kata Dewa sambil menggelengkan kepalanya. Dia pun mengunyah puding buahnya.
"Zeta, sepertinya ada yang kamu sembunyikan dari kakak," tukas Andra dengan sorot penuh selidik. Dua kali dia menginterogasi Zeta. Tapi Zeta hanya memberikan informasi yang umum saja.
Zeta ngga berani menjawab. Dia takut salah bicara. Tentang hubungan Arjuna dan Emilia, pikirnya lebih baik kalo Emilia yang menjelaskan.
Bima menghela nafas panjang melihat ketiganya hanya diam saja. Dia sudah mendapat laporan dari Pak Umbul kalo beliau memgantarkan pesanan snack box keluarga Taksaka. Bahkan Pak.Umbol juga menceritakan keakraban nona mudanya Emilia dengan tuan muda Taksaka.
Pak Umbul merasa khawatir akan keselamatan nona mudanya, mengingat beliau memjadi saksi akan kesedihan dan kebangkrutan keluarga Sagaa beberapa tahun yang lalu.
"Emilia, sepertinya hubunganmu dengan Arjuna Taksaka cukup dekat," tuduh Bima tenang.
DEG
Emilia yang sudah menduga kalo kakaknya akan bertanya seperti itu, tetap saja merasakan debaran cepat di dadanya. Dia yakin kakaknya pasti sudah mengambil kesimpulan dari fakta fakta di depan mata, atau pun dari laporan para pengawalnya.
Yang Emilia takutkan Kakaknya Bima memiliki foto saat dirinya Arjuna berciuman di tengah laut.
Arinka, Zeta dan Maria sama melirik ke Emilia yang masih menunduk. Mereka pun resah.
"Emil," panggil Bima lagi dengan nada ngga sabar.
"Maaf, kak. Tapi tadi yang terakhir, besok besok sudah ngga dekat lagi," janji Emilia terdengar membingungkan ketiga kakak dan sepupu laki lakinya akan ucapannya.
"Maksud kamu sekarang kalian sudah putus?" tebak Andra memancing.
"Bukan begitu," sela Zeta sambil menggenggam erat gelas jusnya.
"Trus gimana?" Dewa balik bertanya.
"Arjuna ngga tau aku adik Kak Bima. Baru hari ini dia mungkin sudah bisa menduga," jelas Emilia pelan.
Ya, mungkin hari ini Arjuna sudah bisa menebak, batin Emilia.
Bima menghela nafas panjang.
"Sedekat apa kamu sama Arjuna sampai bisa tau kalo dia menjiplak desain kakak," tanya Bima gusar. Dia merasa pengawasannya terhafap Emilia gagal.
"Kamu bisa aja dalam masalah karena membuka rahasia desain Arjuna," tambah Andra agak khawatir.
__ADS_1
Ngga sengaja, kak. Waktu itu aku melihatnya karena diijinkan si kembar," jelas Emilia. Walaupun khawatir ketahuan Arjuna, tapi Emilia berusaha membuat ketiganya tenang.
"Arjuna itu ngeri kalo lagi marah," kata Andra menakuti.
"Mungkin Emilia pengecualian," kata Dewa santai sambil mengedipkan sebelah matanya pada Emilia membuat pipi gadis itu agak merona.
"Semoga saja," jawab Bima ngga yakin.
"Mereka juga menginap di hotel.yang sma dengan kita," kata Andra. Saat ini mereka memilih ruang makan privat agar ngga bertemu Arjuna cs.dan bisa makan serta ngobrol dengan tenang.
"Emil, kalo kamu menyukai Arjuna Taksaka, sebaiknya segera lupakan. Keluarganya pasti ngga setuju," kata Bima setelah menyesap tehnya.
DEG
Mereka semua pun menatap Emilia.
"Iya, kak," jawab Emilia patuh. Besok besok saat melihat Arjuna, dia akan pura pura ngga kenal, janji Emilia dalam hati.
"Mereka sangat mendendam dengan keluarga kita.Terutama papa Arjuna. Setau kakak, Arjuna anak yang patuh," jelas Bima lagi dengan nada suara ditekan.
"Kakak ngga usah khawatir. Kami sudah mengakhirinya hari ini," tegas Emilia.
"Jadi kalian sempat pacaran? Ngga nyampe sebulan?" kaget Dewa kemudian terkekeh.
Hebat juga Emil bisa membuat laki laki dingin itu jadi pacarnya, batin Dewa kagum.
"Cuma beberapa hari," jawab Emilia ringan membuat ketiganya menggelengkan kepalanya. Sementara Arinka, Zeta dan Maria sudah bisa bernafas lega. Ternyata Bima. Andra dan Dewa ngga marah
"Kalian bertiga, apa juga sudah berpacaran seperti Emilia?" kekeh Dewa.
"Enggak, kak," bantah Maria dan Zeta bersamaan. Sedangkan Arinka hanya diam.
Dia sempat jadi pacar Mars, batin Arinka mengaku. Ngga mungkin untuk jujur. Arinka salut dengan keberanian Emilia. Mengaku pernah berpacaran dengan Arjuna beberapa hari.
*
*
*
"Mereka lagi makan malam di ruang privat paling ujung," lapor Jery berbisik ketika mereka memasuki ruamg privat mereka di resto yang sama.
Arjuna hanya diam. Kini mereka berempat duduk santai setelah memesan menu.
__ADS_1
Cleo dan Cila memilih makan di kamar. Cila mengalami jetflag, dan Cleo menemaninya.
"Gue yakin Emilia adiknya Bima, Zeta, adiknya Andra. Maria, Arinka dan Dewa bukan saudara kandung. Mungkin sepupunya dari mamanya," analisa Galih yakin.
"Kamu yakim?" tanya Arjuna sambil.menatap sahabatnya, butuh kepastian.
"Sure."
Arjuna ngga bertanya lagi.
"Perhatikan wajah mereka. Bima sangat mirip dengan Emilia. Begitu juga Andra dan Zeta," seru Galih membuat ketiganya membayangkan wajah wajah yang disebutkan tadi.
Seusai berenang tadi, Galih beberapa kali membayangkan wajah wajah anggota keluarga Sagara. Bahkan dia sempat mencetak foto Bima dan yang lainnya untuk memastikan dugaannya.
Memang, sih, batin mereka.
Arjuna pun menyadari kebodohannya.
"Memang data keluarga mereka belum gue dapatkan. Tapi kalo bertemu lagi dengan Emilia, lo.bisa tanya langsung," saran Galih karena informan mereka sudah menemukan jalan buntu. Ini kasus sangat istimewa.
Arjuna menghela nafas berat.
"Yah."
*
*
*
Arjuna menatap geram saat.Bima mempresentasikan desain hotelnya yang berbeda dari yang mereka dapatkan di laptop Bima.
Begitu juga Galih, Mars dan Jery. Memang waktu mereka sangat sedikit ketika mengutak atik laptop itu, tapi Galih dan Mars yang jenius dalam bidang siber sangat yakin kalo.desain yang di depan mereka, ngga ada di laptop yang mereka curi sebentar itu.
"Bagaimana bisa?" desis Jery lirih.
Andra dan Dewa yang memperhatikan wajah ketiganya berubah jadi tersenyum puas. Mereka berdua saling pandang sebelum mengarahkan lagi tatapannya pada presentasi Bima yang membuat banyak peserta tender berdecak kagum. Bahkan sang investor kelihatan sangat tertarik.
Arjuna dan ketiga temannya mengakui desain Bima saat ini memang fantastik. Bima sangat matang dalam memikirkan desainnya. Bayangan kekalahan sudah menari nari di mata Arjuna.
Dua jam mereka menunggu keputusan..Arjuna pun sudah ngga kaget kalo Bima yang memenangkan proyek hotel.di Pulau Bali.
Jika saja papinya ngga meminta dirinya mengambil ide ide Bima dan mengembangkannya agar Bima dan keluarganya sakit hati pada mereka, Taksaka.
__ADS_1
Mereka ngga akan kalah. Bahkan Arjuna sudah memiliki desaun tersendiri yang ngga kalah fantastiknya dengan desain di depan matanya.
Arjuna bisa membayangkan kemarahan papinya nanti.