Love U Like FIRE

Love U Like FIRE
Berpisah


__ADS_3

Kini jenazah papanya sudah berada di rumah mereka. Mama yang sudah mulai bisa menerima kenyataan, duduk di samping nenek dan putrinya Emilia di dekat jenazah suami tercintanya. Air matanya terus terusan mengalir jatuh tanpa dia bisa dicegah.


Mama Emilia ngga abis mengerti mengapa suaminya bisa meninggalkannya tanpa tanda dan begitu cepat. Saat akan berangkat kerja pun mereka masih bercengkerama dengan mesra.


Mereka bahkan sudah menyiapkan acara menyambut kepulangan anak anak dan ponakan dengan pesta mewah di hotel bintang lima. Mereka akan merayakan kemenangan tender di Pulau Bali nanti malam. Ternyata takdir berkata lain.


Beliau masih mengingat kata kata terakhir suaminya saat sempat sadar sebentar.


"*Sayang, tolong jaga mama.... Bima dan.... Emilia. Terutama.... Emilia. Jangan... sampai dia.... larut dalam.... kesedihannya."


Revi menghirup oksigennya pelan pelan.


"Katakan pada Emilia.... papa sangat bangga padanya. Papa.... sangat mencintai... nya."


"iya mas, iya." Saat itu air mata mama luruh tiada henti. Firasatnya mengatakan kalo ini adalah pertemuan mereka yang terakhir. Dia merasa suaminya akan pergi meninggalkannya selama lamanya*.


Sekarang mama Emilia hanya bisa menatap wajah tenang suaminya yang seakan sedang tertidur pulas. Sangat damai menghadap sang Pencipta.


Sementara Revo yang sudah tau apa yang terjadi berusaha menahan gejolak emosinya. Beliau ngga tau sampai kapan bisa merahasiakan ini. Saat ini Revo hanya ingin ketenangan dalan mengurus jenasah kakaknya. Dia juga harus menjaga perasaan dan kesehatan mamanya yang walau telihat tabah dan kuat di luar, pasti di dalam jiwanya beliau sangat terguncang.


Ravi yang duduk di sampingnya hanya diam tepekur. Dia barusan mengurus pembatalan acara di hotel yang akan mereka adakan pesta keluarga bersama sahabat nanti malam. Semua berlalu begitu cepat, segala canda tawa kebahagiaan karena berhasil memenangkan tender hotel lenyap ngga berbekas


Kematian kakaknya terlalu cepat dan mendadak. Ngga mungkin jantungnya kumat karena merasa sangat bahagia. Pasti ada yang terlewatkan olehnya.


Ravi menghela nafas panjang berkali kali. Dia melirik Revo, kakak yang tinggal satu satunya. Revo benar benar diam di samping istrinya. Mereka sama terpekur di depan jenazah Revi sang kakak.


Bima, Andra, dan putranya Dewa pun diam terpekur. Begitu juga dengan Emilia, Arinka, Zeta dan Maria. Semuanya terguncang dalam diam.


Ravi menutup matanya, mencoba meredam kesedihannya. Dia menatap sayu mamanya yang nampak tegar sambil mengusap lembut kepala kakak tertuanya.

__ADS_1


Beliau pun masih mengingat pesan terakhir kakaknya agar menjaga mama dan keluarga besar mereka. Serta patuh pada Revo.


Kak, sebenarnya apa yang terjadi? Batinnya masih terus bertanya tanya dengan sedih.


Emilia pun tak kuasa menjauhkan tatapan sedihnya ke wajah teduh papanya. Air mata masih menetes di matanya yang semakin sembab dan bengkak.


Pa, maafkan Emil. Maafkan Emil, batin Emilia meratap pilu.


Kepergian papanya membuat dunianya menjadi hampa.


Salahnya sudah berhubungan dengan Arjuna Taksaka. Apa papanya tau dan itu penyebab beliau terkena serangan jantung?


Penyesalan selalu datang terlambat. Dia sudah kehilangan papanya untuk selama lamanya. Jika bisa memutar waktu, Emilia akan sejauh mungkin menghindari Arjuna Taksaka.


Emilia kembali memejamkan matanya. Air matanya kembali mengalir pelan.


Bima menatap adiknya sedih. Dia tau saat ini Emilia sedang menyalahkan dirinya. Adiknya ngga salah, dia yang salah karena kurang mengawasi pergaulan adiknya.


Mama Emilia yang mendengar kembali meneteskan air mata. Begitu juga Emilia yang tambah terpukul jiwanya. Maria terus menggenggam jemarinya seolah memberikan kekuatan pada Emilia.


Akhirnya mereka pun membawa jenazah papanya ke peristirahatan terakhir. Air mata kembali mengalir saat jenazah dimasukkan ke liang lahatnya. Begitupun saat tabur bunga dan siraman.


"Mas, aku akan kuat. Aku akan jaga mama, Bima dan Emil. Mas tenang ya, di sana," bisik mama lirih sambil mengusap batu nisan suaminya.


"Iya, Pa. Bima akan menjaga semuanya. Papa jangan khawatir," sambung Bima sambil merangkul mamanya yang langsung terisak di bahunya.


Emil minta maaf, pa. Emil janji ngga akan berhubungan dengan Arjuna Taksaka lagi.


Hanya membatin. Emilia ngga sanggup mengucapkannya. Hatinya terlalu pedih dan pilu. Matanya kian sembab menatap nisan papanya.

__ADS_1


"Kak Revi jangan khawatir. Kita akan saling menjaga dan menguatkan," kata Revo lirih sambil mengusap air matanya.


Kakaknya kini sudah berbaring di dalam sana. Segala urusan duniawinya sudah terputus.


Kak, sesuai pintamu, aku ngga akan meneruskan dendam ini walau hatiku sangat ingin. Tapi jangan salahkan aku jika nanti aku akan memukul wajah memuakkan Arga Taksaka sangat keras. Dia pantas menerimanya, batinnya penuh rasa sakit hati.


Sebelum kakaknya menghembuskan nafas terakhirnya, Revo sempat berbicara sebentar dengannya.


"Biarkan saja. Sudahi .... semua. Tolong... jaga mama dan keluargaku dan.... keluarga besar... kita....," ucap Revi terputus putus.


"Tapi si bang*sat itu sudah keterlaluan," desis Revo penuh geram


Revi tersenyun lembut.


"Dia... akan.....mendapat.... karmanya.... sendiri. Kita... ngga perlu .... mengotori.... tangan kita....," jelas Revi lemah.


Revo tau itu. Tapi dia tetap akan menghajar Arga Taksaka. Kakaknya menderita akibat ulahnya. Selama ini mereka bahkan sudah membiarkan Taksaka berbuat semena mena. Hanya karena hubungan Emilia dengan putranya, kakaknya harus tiada.


Revo yakin, Emilia dan putra si sialan itu pasti ngga saling mengenal awalnya. Karena Emilia baru saja pulang setelah sekian tahun lamanya berada di luar negeri. Mungkin hanya hubungan biasa yang terlalu dibesar besarkan.


Revo ngga bisa membayangkan reaksi ponakannya jika tau karena hubungan asmaranya penyebab papanya terkena serangan jantung. Bahkan sampai meninggal dunia.


Emilia pasti bisa sakit karena guncangan perasaan. Bisa saja dia menjadi depresi karena merasa sangat bersalah atas kepergian papanya.


Ponakannya yang selalu ceria, yang selaku bisa menghangatkan suasana. Revo ngga bisa membayangkan jika Emilia nerubah pendiam dan menjadi gadis pemurung.


Revo melirik Bima yang mengepalkan kedua tangannya. Revo yakin, Bima maupun Andra dan Dewa sudah bisa menduga apa yang menjadi penyebab kepergian kakaknya. Hatinya menciut saat melihat Enilia yang terus terusan menangis, jangan jangan Emilia juga sudah menyadari kesalahannya. Beliau pun melirik putrinya dan dua ponakannya. Apa mereka sebenarnya sudah tau juga? Batinnya penuh tanda tanya.


Saat di rumqh maupun di pemakaman ngga banyak kolega yang datang. Karena kepergian kakaknya yang sangat mendadak. Mereka juga cepat melakukan penguburan, karena dalam agama mereka, menyegerakan penguburuan jenazah adalah sangat baik.

__ADS_1


Terdapat banyak sekali anak yatim piatu yang disantuni kakaknya dan keluarga besar mereka datang mengunjungi kediamannya. Ikut mendo'akan dan melantunkan ayat ayat suci melepas kepergian kakaknya Revi Sagara.


__ADS_2