
"Ehemmm," dengus Arjuna pelan. Matanya dan mata Arsen masih menyorot tajam.
Tapi Arjuna kembali teringat akan pertengkaran papanya dengan Arsen. Tapi tetap.saja terasa aneh bagi Arjuna.
Kalo menilik dari kepribadian Arsen, ngga mungkin Arsen mau begitu saja menuruti segala perintahnya untuk menghancurkan keluarga Sagara. Apalagi tau mamanya bersahabat dengan Papa Emilia.
Tapi setau Arjuna, Arsen selama ini hidup sebatang kara. Apa Arsen baru saja bertemu mamanya. Jika iya, puzzlenya komplit.
Arsen selama ini ngga tau kalo mamanya bersahabat dengan papa Emilia. Setelah tau, makanya Arsen jadi bertengkar cukup hebat dengan papanya.
Tapi tetap saja Arjuna merasa aneh. Kemarahan Arsen sangat nyata dan sangat dalam pada papanya. Seperti ada yang mereka tutupi.
"Papa Arsen, kok, ngga ikut, tante?" pancimg Arjuna.
Arjuna dan Emilia sangat melihat reaksi keduanya yang terlihat ngga nyaman. Bahkan sorot mata Arsen lebih galak kini menatapnya.
"Papa Arsen sudah lama meninggal," jawab Mama Arsen setelah beberapa detik terlihat bingung.
"Maaf, tante, jika menyinggung," ucap Arjuna agak ngga enak hati karena mendapat jawaban yang ngga terduga.
"Ngga apa, nak. Oh iya, nama kamu siapa, ya? Tante belun tau," tukas mama Arsen sudah kembali bersikap tenang seperti di awal mereka bertemu.
"Saya Arjuna, tante." Sengaja Arjuna nggak menambahkan Taksaka di belakang namanya. Mengingat Mama Arsen sahabat Papa Emilia yang pasti tau kisah permusuhan antar keluarga ini.
Arsen menyeringai sinis. Ingin rasanya menyelutuk dan menyebut nama terakhir Arjuna. Tapi Arsen masih memikirkan kondisi mamanya yang belum stabil. Padahal Arsen sudah geram ingin menjatuhkan laki laki itu di depan mamanya.
"Tante harap kamu bisa selalu menjaga Emilia, ya, nak, Juna," pesan Mama Arsen.penuh makna.
"Tentu, tante--," balas Arjuna tegas.
"Kami permisi," potong Arsen mulai gerah. Basa basi ini harus segera diakhiri.
"Ayuh, Ma," ajak Arsen sambil menggenggam jemari mamanya.
"Baiklah," tukas Mama Arsen mengerti. Dia dapat melihat antara Arsen dan Arjuna seperti menyimpan bibit permusuhan.
"Kami pulang dulu," pamit Mama Arsen dengan suara lembutnya.
"Hati hati, tante," ucap Emilia
"Kapan kapan maen ke rumah, tante," sambungnya lagi. Senyum ramahnya terukir di bibir Emilia.
"Tentu, sayang," kata Mama Arsen sambil melepaskan pegangan Arsen dan memeluk Emilia.
Emilia pun membalasnya. Rasanya terharu mendapat pelukan dari sahabat papanya.
"Jaga diri kamu baik baik," kata Mama Arsen sambil mengurai pelukannya.
"Ya, tante. Tante juga, ya," balas Emilia dengan mata memanas.
Setelah membelai rambut Emilia sebentar, Mama Arsen pun melangkah pergi meninggalkan keduanya bersama Arsen.
"Juna, kamu kenal dengan Arsen?" tebak Emilia setelah Arsen dan mamanya menjauh.
"Nggak," bohong Arjuna.
Emilia menatapnya ngga percaya. Tapi ngga mau memaksa.
Nantinya pasti Arjuna akan jujur juga padanya, yakinnya dalam hati.
__ADS_1
"Ya sudahlah."
Arjuna tersenyum tipis melihat Emilia terlihat ngga peduli
Belum saatnya. Dia pun sedang mencari bagjan puzzle yang hilang. Tentang Arsen dan papanya.
*
*
*
"Keluarga Bima menerima lamaran kamu," ucap Tante Carol sangat senang.
Malam ini dia sengaja menemui Arjuna ke apartemennya dengan Verdin, suamnya.
"Benar, tan?" tanya Arjuba dengan tatapan bahagia dan penuh syukur.
Ngga disangkanya akan semudah ini
"Tapi ada syaratnya," jawab Tante Carol tetap tenang ngga terpengaruh dengan euforia Arjuna.
"Syarat?" Alis mata Arjuna terangkat. Hatinya yang lega mulai was was.
"Bima ingin kamu keluar dari Taksaka grup," kata Tante Carol hati hati. Dia bimbang juga saat mengatakannya. Apakah kakaknya nanti ngga akan marah? Apalagi Arjuna adalah pewaris satu satunya.
Arjuna terdiam. Tapi kemudian dia menghela nafas panjang.
"Oke, tante."
"Kamu bisa bantu om di perusahaan Juna," kata Verfin memberikan solusi.
Perusahaan Verdin juga perusahaan besar yang mengelola batu bara.
"Oooh.... Emiral Advertising, ya," tebak Verdin yakin. Dia pernah menyelidiki keterlibatan Arjuna di perusahaan yabg baru beberapa bulan ini berdiri tapu sudah mendapat tanggapan yang positif dari dalam negeri dan negara negara tetangga.
"Iya, Om," senyum Arjuna.
"Cih, kenapa mirip dengan nama Emilia?" sindir Tante Carolina kemudian terkekeh geli.
"Inspirasi tante," tawa Arjuna menguar.
Om Verdin pun ikut tersenyum geli.
"Mengenai Mars, mereka sama sekali ngga terkejut. Dan menunggu Mars membatalkan pernikahannya," tukas Tante Carol.
"Huh, ada apa dengan kalian sebenarnya. Mengapa bisa kompak," dengus Tante Carol ngga abis pikir.
Tapi dia sudah bertemu Arinka, pujaan Mars. Gadis itu memang sangat cantik. Ngga jauh beda dengan Emilia.
"Aku juga baru tau, tante."
"Yah, tunggu aja berita skandal besar pembatalan pernikahan mereka," sambung Tante Carol kemudian menghembuskan nafas kesal.
Mama Sita adalah teman sosialitanya. Wanita yang lembut dan ngga sombong. Kasian sekali harus menderita.
"Mars sudah lama berhubungan dengan Arinka, dan ngga tau Arinka masih ada darah Sagara. Jauh sebelum perjodohannya dengan Sita," kata Arjuna menjelaskan, sedikit membela posisi sahabatnya.
"Terus putus karena tau dia Sagara? Dasar. Kalo ada anak itu, akan kujewer dia sampai merah," sungut Tante Carol.
__ADS_1
"Iya, tante. Karena Mars ngga mau menyakiti aku."
"Tapi tetap balik lagi ke Arinka," decih Tante Carol mencela
"Karena Mars melihat aku bersama Emilia, tante sayang," kekeh Arjuna ketika melihat wajah galak tantenya yang udah siap menerkam Mars nanti jika bertemu.
Aku ngga bisa menolongmu dari kemarahan tante, Mars, kekeh Arjuna membatin.
*
*
*
"Arsen, pacar Emilia mirip sekali dengan Arga Taksaka waktu muda," ucap Mama Arsen pelan setelah keduanya menghabiskan makan malam di apartemen.
Arsen ngga menyahut. Dia menatap mamanya sebentar sebelum menyibukkan dirinya dengan membereskan piring piring kotor di atas meja.
Dia masih bimbang mau mengatakan yang sebenarnya.
"Kamu dan dia seperti ngga saling menyukai," tambah mamanya lagi sambil memgikutinya ke dapur.
"Kami pernah ada konflik," jawab Arsen tenang.
"Jadi kamu sudah kenal?" tanya mamanya sambil menghidupkan kran.
"Ya."
Mama Arsen tepekur, seakan ada yang dia pikirkan. Tangannya mulai melap piting yang sidah Arsen cuci.
"Mama beneran penasaran dengan laki laki itu."
Terlalu mirip dengan Arga Taksaka. Garis wajah dan perawakan tubuhnya.
Kalo Arsen hanya mewarisi perawakan tubuh Arga Taksaka saja yang tinggi besar.
Hatinya takut memikirkan dugaan menyimpangnya.
Arjuna Taksaka.
Dia putra Arga Taksaka?
Baru menduga saja ada yang menghantam keras hatinya.
*Tapi ngga mungkin, kan, keluarga Emilia membolehkan putri mereka berhubungan dengan seseorang yang berdarah Taksaka?
Emilia pasti ngga akan mau pacaran dengan keturunan Taksaka*.
Benak Mama Arsen sekarang dipenuhi banyak pertanyaan membuatnya sedikit melamun.
"Mama kenapa?" tanya Arsen membuyarkan lamunannya.
"Nggak, nggak apa apa. Emmm.... Mama cuma berpikir bagaimana kalo Arjuna anaknya Arga," jujur Mama Arsen menjawab. Saat mengatakan hal itu, ada rasa takut yang sangat besar menyelimuti rongga dadanya.
Arsen terdiam, menatapa mamanya lama.
"Kenapa?" tanya mamanya bingung.
"Dia memang Arjuna Taksaka, ma." Akhirnya Arsen memilih berterus terang.
__ADS_1
PRAANGG!
Piring yang sudah kering di tangan Mama Arsen jatuh, meluncur ke lantai dengan cepat dan menimbulkan bunyi pecahan yang keras.