Love U Like FIRE

Love U Like FIRE
Akhir Yang Bahagia


__ADS_3

Setelah berpikir cukup lama dan melihat keadaan mami dan papinya mulai membaik, Vania mulai mencoba menata hidupnya lagi dari awal.


Dia memilih tetap tinggal bersama orang tuanya. Membantu papinya mengurus perusahaan. Membiarkan gosip gosip tentang dirinya yang masih beredar di sekitarnya.


Sudah beberapa hari ini Vania ngga bertemu Andra. Laki laki itu kembali raib ditelan bumi. Vania ngga punya nomer kontaknya. Hanya tau dimana dia tinggal. Tapi dia segan untuk menemui Andra di apartemennya.


TOK TOK TOK!.


"Masuk."


Vania menatap Lizy sekertarisnya yang kini memasuki ruangannya.


"Ada yang mau ketemu Bu Vania," ujar Vania sopan.


"Siapa?" Keningnya mengernyit. Seingatnya dia ngga ada janji dengan klien. Kecuali nanti jam dua siang.


"Katanya namanya Pak Andra, bu."


DEG


DEG


Baru saja dipikirkan, orangnya udah datang, batin Vania tiba tiba grogi.


"Suruh masuk," titahnya tenang.


"Baik, Bu," sahut Lizy patuh kemudian keluar dari ruangan Vania


Kenapa dia ke sini? Hati Vania jadi ngga tenang.


Ngga lama kemudian sosok tampan dengan tubuh tinggi kekar itu memasuki ruangannya.


Mata mereka saling bersitatap dalam.


"Apa kabar?" sapa Andra tenang sambil menghampiri meja Vania.


"Baik," sahut Vania berusaha tetap tenang dengan jantungnya yang bergemuruh.


Andra melengkungkan sedikit sudut bibirnya melihat sikap Vania yang agak gelisah.


Dia kemudian mengulurkan undangan yang sedari tadi digenggamnya.


"Arjuna dengan sepupuku akan menikah."


Vania sudah tau. Arjuna bahkan sudah mengabarinya. Dia ikut senang mendengarnya.


"Kamu ngga apa apa?" tanya Andra penasaran karena melihat ekspresi senang Vania waktu menerima undangan itu.


Dia ngga marah?


"Kenapa harus marah?" Vania balik bertanya dengan heran.


"Dia tunanganmu."


Vania tersenyum lagi.


"Dari awal Arjuna sudah mengatakan kalo dia menyukai gadis lain," jelas Vania.


Dan aku juga sudah menyukaimu, tambah Vania dalam hati.


"Ooo."


Andra menghela nafas lega. Tapi dia jadi ingat kesalahannnya. Dia tega melakukan hal buruk itu karena mengira gadis ini mau menjadi tunangan Arjuna. Perasaannya jadi ngga enak.


"Aku minta maaf," kata Andra sambil menatap dalam Vania.


"Kenapa?" tanya Vania bingung. Karena ekspresi laki laki ini cepat sekali berubahnya. Tadi nampak senang, ngga nyampe dua detik udah kusut.


"Aku melakukan itu karena mengira kamu suka dengan Arjuna."


DEG


"Ma.... maksud kamu apa?" tanya Vania malah jadi gugup karena Andra sangat tajam dan dalam menatap ke arah matanya. Jantungnya berdebar keras.


Bolehkah berharap kamu cemburu?


"Aku cemburu," jujur Andra tegas.


Yes!


Eh, apa dia bilang? Coba ulangi lagi?


Telinga Vania rasanya mulai error. Dia merasa salah mendengar ucapan laki laki itu.


Tapi hatinya telanjur sudah mengembang dan terbang sangat tinggi.


Vania ngga bisa berkata kata, tapi dalam hatinya sangat berisik. Bahkan bibirnya malah terasa kaku. Yang ngga disadarinya, wajahnya merona merah.


"Bisa aku jadi kekasihmu?"


DUAR!

__ADS_1


Rasanya Vania mendengar ledakan petasan tahun baru di dekat dua kupingnya.


Mau! soraknya dalam hati.


Tapi bibirnya masih kaku. Dia masih terpana sambil menatap Andra.


Andra melangkah memutari meja dan menghampiri Vania.


Memegang kedua tangan gadis itu dan menariknya pelan hingga berdiri di depannya.


Vania masih belum bisa menertibkan kehebohan dalam hatinya. Mendapat perlakuan lembut Andra membuat Vania serasa melayang.


Tangan laki laki itu mengusap bibirnya pelan.


"Bolehkah?" tanya Andra dengan tatapan rindu yang mendamba.


Vania tanpa sadar mengangguk. Ketika wajah Andra semakin dekat, Vania memejamkan matanya. Dia kini merasakan ciuman lembut itu lagi di bibirnya. Seperti malam itu yang membuatnya hanyut.


*


*


*


"Apa kamu ngga marah kalo kita menikah setelah Emilia?" tanya Bima pada tunangannya.


Saat ini Magdalena, tunangannya sedang menemaninya memilih dekorasi outdoor untuk pernikahan adik adiknya.


Magdalena yang ngga menyangka akan mendapat todongan pertanyaan dari tunangannya yang irit bicara ini terpana menatapnya.


Hari ini dua kali Bima mengejutkan hatinya. Tiba tiba saja datang ke perusahaannya tanpa memgirim pesan bertanya atau menelpon lebih dulu, dan kini mengajaknya ikut serta berperan dalam pernikahan keluarganya.


Padahal sejak mereka dijodohkan, Bima ngga pernah sekali pun menyinggung soal pernikahan mereka. Boro boro ngomong diajak nikah, ngajak makan siang aja ngga pernah.


Sebenarnya Magdalena hanya menunggu waktu diputuskan saja oleh Bima. Karena pertunangan mereka selalu jalan di tempat. Tanpa ada usaha dari keduanya.


Magdalena cukup tau diri untuk bersikap agresif pada Bima. Dia lebih bersikap membiarkan Bima berbuat apa saja. Mungkin karena dia sudah naksir duluan. Sedangkan Bima enggak. Magdalena selalu meramal kalo dia akan jadi sad girl nantinya. Karena itu dia ngga mau memberikan hatinya harapan agar nantinya ngga jadi sad girl yang sangat menyedihkan.


Tapi apa yang didengarnya sungguh di luar dugaannya. Andai saja dia sendirian di dalam kamarnya, Magdalena akan melompat lompat di tempat tidur saking senangnya.


"Kamu marah?" tanya Bima salah paham dengan diamnya Magdalena.


Reflek Magdalena menggelengkan kepalanya


"Enggak. Aku terserah kamu," katanya cepat.


Jangan buang kesempatan emas ini Magda. Jangan biarkan Bima merubah keputusannya, hatinya memberi perintah.


"Satu bulan setelah ini, ya," sambung Bima lagi.


Magdalena hanya bisa mengangguk anggun. Padahal sorak sorai penuh gempita memenuhi dadanya.


"Terimakasih, kamu selalu mengerti aku dan keluargaku," ucap Bima tulus.


Bima tau, Magdalena selalu memjadi kakak yang baik buat Emilia dan ketiga sepupunya yang lain.


Vania tersenyum malu mendengarnya. Dia agak tersipu.


Bima menggenggam tangan Magdalena.


"Aku janji, setelah ini akan banyak waktu buat kita," janji Bima lembut.


Magdalena hanya bisa mengangguk saking gugup dan bahagianya.


Ternyata dia ngga diputusin Bima, tapi malah akan dinikahinya. Bulan depan! Hatinya kini sedang berjingkrakan.


*


*


*


Pernikahan Arjuna-Emilia juga Mars-Arinka berjalan sangat meriah.


Orang tua Mars juga datang. Jupiter-papa Mars mengalah. Istrinya pun juga punya andil besar membujuknya.


Hanya Arga Taksaka yang ngga datang selaku wali dari Arjuna. Selain itu mama, Om dan tantenya, sepupu kembarnya, dan teman teman dekatnya-Galih, Arby dan Jery- juga datang. Bahkan orang tua Jery pun datang. Demikian Om Haykal, Papa Galih.


Saat bunga di tangan Emilia dilempar ke belakang, banyak tamu tamu termasuk para sahabat Arjuna yang ikut berpartisipasi meraihnya.


Ternyata yang beruntung Galih.


Sambil nyengir Galih memberikan bunga itu untuk Cila.yang tampak tersipu.


"Nikah yuk?"


Tawa heboh pun menguar.


"Tante restui," timpal Carol-mama si kembar penuh semangat.


"Jaga putri manja om, ya, Galih," sambung Verdin-papa si kembar senang.

__ADS_1


"Siap, Om," tegas Galih seolah sedang diberi tugas sangat penting oleh komandannya.


"Jamgan khawatir, aku yang akan menjewernya jika berani membuat Cila menangis," ancam Haykal dalam tawanya.


"Siap memgawal, Om," seru Arby dan Jery yang kemudian tergelak gelak bersama yang lain.


Kemudian bunga Mars pun dilempar Arinka. Tapi nasib bunga itu kurang baik karena menjadi rebutan dua laki laki kekar. Dewa dan Arsen.


Keduanya saling menatap kesal pada sebagian bunga yang tampak ngga utuh, kemudian dengan wajah masam saling menghampiri pasangan mereka.


"Anak anak kita sudah ngga sabar untuk menikah," tawa Ravi.


"Iya," balas Revo juga tergelak.


"Aku malah akan menikahkan dua anakku sekaligus," kerling Ravi-papa Dewa dan Maria, pada Shopia-Mama Arsen.


"Aku senang kita bisa berbesan," balas Mama Arsen sambil menatap penuh binar pada putranya yang sedang menghampiri Maria.


"Mereka sangat manis, ya," tukas istri Ravi dengan senyum sumringahnya.


"Iya,' balas Shopia hangat waktu melihat putranya yang tampak kaku dan salah tingkah di depan Maria.


Istri Ravi pun tersenyum pada istri Revo ketika melihat Zeta menerima bunga dari Dewa.


Nampaknya pernikan selanjutnya ngga akan lama lagi terjadi.


"Itu Arsen ngga salah makan obat?" tukas Mars heran melihat aksi heroik Arsen yang berjibaku dengan Dewa waktu merebut bunga yang dilempar Arinka.


Arjuna terkekeh mendengarnya. Ngga disangkanya kakak tirinya yang kaku, datar dan dingin itu antusias memperebutkan bunga itu.


Syukurlah, batinnya senang.


*


*


*


Sujatnata duduk di samping Arga Taksaka yang tampak ngga terurus.


Sujatnata tau sudah beberapa hari yang lalu istrinya pergi meninggalkannya. Bahkan hari ini putranya menikah. Begitu juga dengan putra Jupiter.


"Kamu ngga datang ke pernikahan Arjuna?" tanya Sujatnata hati hati.


"Dia ngga ngundang aku," sahut Arga Taksaka kecewa. Dia merasa dicampakkan oleh orang orang yang dia sayangi.


"Jupiter mengundangmu, kan." Sujatnata paham kalo Arjuna dan mamanya masih marah dengan sahabatnya.


"Ya, tapi aku ngga mungkin datang."


Hening. Mereka sama terdiam.


"Kamu ngga lelah?" tanya Sujatnata ambigu setelah beberapa saat kemudian.


"Lelah," jujur Arga Taksaka getir. Dia lelah setelah ditinggalkan semua orang yang dia kasihi. Orang tuanya, dan kini anak serta istrinya.


"Berhentilah," gumam Sujatnata pelan.


Arga Taksaka ngga menyahut. Hanya menatap kosong.


"Aku juga mau minta maaf."


Arga Taksaka mengalihkan tatapannya pada Sujatnata.


"Vania menyukai.putranya Revo. Putra Revo juga yang menyelamatkan Vania waktu itu."


Arga Taksaka ngga menyahut. Terkejut pastinya. Setelah Putra Jupiter yang menikah dengan kerabat Sagara, kini malah putri Sujatnata.


Takdir sedang mentertawakannya.


Dia pun tertawa. Awalnya pelan, kemudian keras dan terbahak bahak.


Sujatnata menatapnya prihatin.


Ngga lama kemudian terdengar gerungan tangisannya.


Sujatnata tetap berada di dekat sahabatnya yang sedang sangat terguncang jiwanya. Dia ngga akan meninggalkannya.




TAMAT


Terimakasih ya sudah membaca cerita recehku ini. Terimakasih juga untuk like, vore, hadiah dan komennya.


Sehat sehat selalu ya readers.


Kalo ingin membaca cerita cerita recehku yang lain, bisa klik profilku.


♡♡♡♡

__ADS_1



__ADS_2