
"Namanya siapa, Mil?" tanya Zeta penasaran.
"Helloww,,,, mana sempat gue nanya," sahut Emilia sedikit dongkol. Laki laki itu juga ngga nanya siapa namanya. Pantamg baginya menanyakan nama laki laki yang ngga penting dan bermulut pedas.
"Tadi gue lupa nanya sama stafnya," sambung Maria agak menyesal.
"Walaupun tau, kita ngga boleh dekat dekat. Ingat, dia kerja di grup Taksaka," tegas Arinka memperingatkan.
"Cuma kerja aja, kan. Bukan keturunannya. Siapa tau besok besok dia pindah kerja," jawab Zeta ngeyel. Dia penasaran dengan laki laki tampan yang ngga mempedulikan kehadiran mereka. Biasanya para laki laki itu akan membuat tingkah yang norak untuk berkenalan dengan mereka.
"Ada satu temannya yang juga tampan," cetus Zeta lagi mengingat laki laki muda yang juga seumuran dengan laki laki tampan yang menggendong Emilia.
"Ooo, yang gondrong itu ya. Memang, sih. Tapi kelihatan nakal," komen Maria yakin. Dia sudah beberapa kali melihat laki laki setipe itu yang suka php aja dengan perempuan.
"Mungkin karena dia tampan dan punya pekerjaan mentereng," bela Zeta.
"Engga pokoknya. Di luar grup Taksaka," tandas Arinka menegaskan. Apa mereka sudah lupa kalo nenek mereka sangat benci dengan grup Taksaka. Mendengar namanya pun beliau bisa hipertensi.
"Sekedar maen maen ngga apa, kan," kata Zeta ngeyel.
"Betul. Kita ngga mungkin serius. Jodoh kita pasti sudah diatur," dukung Maria membuat senyum kemenangan terukir di bibir Zeta. Arinka langsung memanyunkan bibirnya menatap kesal kekompakan dua sepupunya. yang keras kepala.
Emilia hanya mengulum senyum. Mungkin maen maen sebentar ngga ada salahnya. Sekalian cari tau apa yang mereka ingin lakukan buat menjatuhkan keluarga mereka.
Tapi Emilia agak ragu dengan jantungnya. Gara gara ciuman laki laki itu, sekarang jantungnya selalu ngga menentu kalo mengingatnya. Juga rangkulannya yang kokoh.
Gila! Dia benar benar sudah ngga waras. Bagaimana bisa dia masih mengingat secara detil perbuatan laki laki itu padanya.
"Emil, coba lo dekatin laki laki yang gendong lo. Siapa tau dapat info taktik mereka," kata Arinka tiba tiba membuat Emilia tersenyum. Dari dulu sepupunya selalu bisa menebak isi pikirannya.
"Aku juga pikir begitu," ucap Emilia agak ragu. Pada pertenuan pertama dia sukses membuat laki laki itu mendapat skor memalukan. Tapi laki laki itu bisa membalikkan skor memalukan kepadanya pada pertemuan kedua mereka tadi. Bahkan dia menderita kerugian cukup parah. Laki laki itu berani mengecup bibirnya.
Maria dan Zeta mendengarkan keduanya dengan serius. Arinka sudah menenukan tandemnya.
"Sampai aku ingat siapa laki laki itu sebenarnya. Perasaanku selalu terganggu kalo ingat dia," kata Arinka jujur.
"Kamu suka sama dia juga?" tuding Maria menyela.
"Bukan, Maria Mercedes. Makanya aku harus tau dia sedetil detilnya. Aku yakin pernah melihatnya," bantah Arinka kesal.
"Ooo," balas Maria sambil nyengir
"Makanya kalo ngomong dipikirin dulu," toyor Zeta saat mereka berhenti di lampu merah. Maria makin melebarkan cengirannya.
"Kalo dia bos di resto itu malah lebih mudah buat kita dapat info taktik mereka," kata Arinka serius.
__ADS_1
"Kalo gitu, gue boleh, dong ngedekatin si gondrong," potong Zeta senang. Yang gondrong juga ngga kalah tampan.
"Gue, kali, Zeta," tukas Maria ngga mau kalah.
"Oke. Lo boleh duluan. Kalo lo gagal, gue yang gantiin. Gimana?" tantang Zeta sambil menatap Maria di kaca spion atasnya.
"Boleh. Siapa takut," sahut Maria sangat pede.
"Oke. Deal ya," sambut Zeta.
"Deal," balas Maria yakin.
Keduanya saling menatap serius. Bagi Zeta ini cukup menyenangkan. Selain menggoda laki laki tampan, dia pun bisa membantu kakak laki lakinya.
Arinka dan Emilia hanya menghela.nafas kasar. Selalu begitu mereka berdua, rebutan laki laki. Padahal masih banyak laki laki tampan di sekitar mereka.
"Apa kalian tadi dapat sesuatu waktu fying fox?" tanya Emilia mengubah topik.
"Gue tadi sempat memvideokan," kata Arinka sambil membuka video di hpnya dan berdecak kagum. Arinka berhasil memvideokan hampir tiga perempat bagain resto outdoor itu dengan cukup jelas.
"Bagus bamget penataannya. Benar benar sudah dipikir matang matang," puji Zeta sambil menggelengkan kepala takjub
"Detil sekali," tambah Maria lagi.
"Taman tulipnya juga bagus," ucap Zeta sambil menunjukkan foto taman tulip yang di jepretnya.
"Mereka mengusung tema outdor piknik keluarga murah dan cukup di kota. Setelah mencopot ide grup kita, mereka dengan santuy mengembangkannya," decih Arinka ngga terima.
"Kenapa mereka memilih seperti konsep kita, mgga konsep lain," omel Maria sebal.
"Karena konsep kita kalo dikembangkan jadinya menakjubkan," pungkas Emilia.
"Betul. Yah, anggap aja kasih mereka tambahan rejeki," sarkas zeta kemudian terkekeh.
"Betul," kekeh Maria setuju. Arinka juga terkekeh bersama Emilia.
"Besok kita ke resto mereka yang dekat perusahaan Taksaka. Katanya di situ lebih luas," kata Arinka memberikan ancang ancang.
"Siplah. Siapa tau si gondrong ada juga di sana," sorak Maria antusias. Zeta hanya tertawa mendengarnya.
"Sekarang kita ke apartemenku atau gimana?" tanya Zeta bingung. Masih lama waktu menunggu malam, sampai ketemu orang tua Emilia.
"Pulang aja. Nenek udah ngirim pesan. Nenek minta Emilia diantar sekarang," kata Arinka sambil menunjukkan ponselnya yang berisi pesan dari nenek yang baru diterimanya.
Ketiganya langsung lemas. Bakalan di ceramahin.
__ADS_1
"Jangan khawatir. Aku akan menyibukkan nenek dengan membuat onde onde," pungkas Emilia yang teringat neneknya sangat menyukainya.
"Ternyata ngga sia sia lo bisa bikin kue kesenangan orang tua," kekeh Arinka, separuh memuji separuh mencela.
"Iya, dong. Lo semua selamat dari omelan nenek karena gue," kekeh Emilia sombong.
"Iya sepupuku yang jadul," ledek Arinka semakin membuat tawa keduanya tergelak.
"Oke, kita ke toko bahan kue. Tarik, bang," titah Maria sangat senang. Dia pun ikut tergelak.
"Siap nyonya kendang," balas Zeta sambil memutar arah toko bahan kue yang ngga jauh dari tempat mereka berada. Mereka pun dengan gembira melanjutkan misi. Kali ini misi bebas dari omelan nenek tersayang.
Ngga lama kemudian mereka pun sudah berada di toko kue yang cukup besar dan komplit. Dua keranjang sudah hampir penuh.
Emilia yang melihatnya menggelengkan kepala.
"Banyak banget cream kocoknya," cetusnya sambil menghela nafas.
Bakalan diminta buat macam macam nih, keluhnya dalan hati.
Ketiganya pun nyengir penuh arti.
"Pengen makan es krim durian sama mangga," pinta Maria manja, dan seperti biasa, Arinka dan Zeta bersama Maria menatapnya dengan mata puppies.
"Yaa."
"YESSS!" seru ketiganya kompak.
Emilia memijat keningnya yang mendadak pusing.
"Emmm.... maaf, kak. Kalo mau buat pempek, pake yang tepung sagu atau tapioka ya?"
Keempatmya menoleh oada dua gadis kembar yang salah satunya menegur Emilia.
Emilia tersenyum sambil memperhatikan dua plastik tepung yang ditunjukkan
"Kalo buat empek empek, tepung sagu," jawab Emilia ramah.
"Terimakasih," sahut keduanya kompak, kemudian memghampiri wanita paruh baya yang masih cantik dan elegan.
Kedua gadis kembar menunjukkan pilihan yang diberikan Emilia yang disetujui wanita itu yang mengembangkan senyumnya pada Emilia dan ketiga sepupunya.
"Jadi pengen ketemu mama," kata Maria setelah membalas senyum wanita elegan itu dan anak kembarnya.
"Ya udah, sekarang kita pulang," pungkas Emilia sambil berjalan duluan. Pusing kepalanya melihat dua keranjang yang dipenuhii cream kocok, susu literan, berbagai puding dan cake, dan masih banyak lagi. Padahal niat awal hanya akan membeli bahan bahan untuk membuat onde onde ketawa.
__ADS_1