
Satu jam setelah melihat Emilia tertidur pulas, Arjuna pun bangun. Dia dengan hati hati melepas pelukannya pada pinggang Emilia.
Setelah menatap wajah cantik itu sejenak, Arjuna berjalan keluar dari unit Emilia dan masuk ke unitnya di sebelah.
Arjuna membuka lemari bajunya. Dia meraih kamera kecil yang ada di sana dan memandangnya lekat.
Setelah itu Arjuna balik lagi ke unit Emilia. Dia sempat melihat kombinasi angka angka yang ditekan Emilia saat masuk tadi. Otaknya langsung merekamnya saat itu juga.
Arjuna mengamati ruangan Emilia dan mencari tempat yang strategis untuk memasang kamera. Dia perlu tau kapan Emillia balik ke unit apartemennya.
Setelah meletakkannya di tempat yang cukup tersembunyi, Arjuna pun kembali ke kamar tidur.
Dia terpana melihat Emilia yang tertidur dengan nyenyak. Tapi nafasnya memburu melihat dres seksi yang sudah tersingkap cukup tinggi di atas pahanya. Bahkan tali spageti di bahunya sudah turun di lengannya. Keadaannya sangat seksi dan menggoda kelaki lakian Arjuna.
Arjuna pun mendekat. Dia lalu membaringkan tubuhnya di samping Emilia dan membawa gadis itu dalam pelukannya. Sekuat tenaga dia menahan keinginannya untuk melakukan lebih dari ini.
Perasaannya terasa damai dan nyaman karena Emilia sangat dekat dengannya. Dia mengecup lembut kening Emilia sebelum kemudian memejamkan matanya.
*
*
*
Emilia tersadar karena merasa ada yang mengecup pipinya. Dia pun membuka matanya.
"Morning," sapa Arjuna hangat.
Wajah Emilia terasa panas karena melihat Arjuna berada sangat dekat dengannya.
CUP
Emilia terkejut mendapat sentuhan ringan di bibirnya.
"Wangi, padahal kamu belum sikat gigi," goda Arjuna dengan senyum tipis di bibir membuatnya semakin tampan.
Wajah Arjuna kembali memerah.
"Ayo, bangun. Bukannya hari ini kamu akan mengantarkan pesanan kue tanteku."
Oh my God.
Emilia baru teringat. Dia pun segera bangun.
Ada kue yang belum digoreng.
Arjuna tersenyum lagi melihat gadis itu yang nampak kaget seperti telah melupakan sesuatu yang sangat penting.
Arjuna merasa dirinya sudah gila. Dia merasa senang bisa tidur bersama gadis yang sudah membuatnya marah. Gadis cabe cabean, dia sendiri yang memberi julukan. Tapi saat melihat kedekatan gadis itu dengan Bima, perasaan ngga rela kalah bersaing dengan Bima muncul membakar emosinya. Dia ngga ingin kalah bersaing. Dia yang harus memiliki Emilia.
"Jam berapa kamu akan ke rumah tante?" tanya Arjuna sambil mengusap pipi Emilia, membuat perasaan gadis ini melayang.
"Siang, sebelum jam satu."
"Oke."
Mata Emilia mengerjap.
Nggak mungkin, kan, laki laki ini akan menunggunya di sana?
"Mau aku antar?" tanya Arjuna lembut.
Reflek Emilia menggelengkan kepala.
"Kenapa?"
__ADS_1
Emilia diam sambil menggigit bibirnya. Dia ngga mungkin memberitahukan alamat rumah keluarga besarnya.
"Asal kamu mau terima aku jadi pacarmu, aku akan menuruti apa pun yang kamu mau," kata Arjuna sambil mencondongkan tubuhnya membuat Emilia memundurkan duduknya dengan gugup.
"Aku akan sabar sampai kamu mau mengenalkan aku pada keluargamu. Sebenarnya aku ingin mengantarmu pulang, tapi kalo kamu keberatan, aku ngga akan memaksa."
Wajah Ernilia kembali merona. Dia tersanjung sekaligus sedih medengar kata kata manis Arjuna.
"Aku akan siap siap. Terimakasih sudah mengijinkan aku menginap," lanjut Arjuna dengan senyum teduhnya. Wajahnya semakin tampan. Dia pun mengusap lembut bibir Emilia sebelum beranjak menjauh.
"Sebentar lagi ada kurir yang ngantar bubur. Semoga kamu suka. Aku pergi dulu ya, ada meeting penting."
Arjuna tersenyum sebelum menutup pintu unitnya, meninggalkan Emilia yang masih terpaku menatap kepergiannya.
Arjuna menyandarkan tubuhnya begitu pintu unit Emilia sudah tertutup.
Arjuna menggusar rambutnya berulang kali. Dia merasa sudah jadi orang paling bodoh. Seorang Arjuna Taksaka mengemis cinta pada seorang gadis yang ngga jelas nama keluarganya?
Arjuna tersenyum miring. Sebentar lagi gadis itu akan menjadi miliknya. Semua perempuan sangat mudah takluk padanya. Bima akan gigit jari.
Sementara itu Emilia memegang bibirnya yang diusap Arjuna. Tanpa sadar bibirnya mengembangkan senyum dengan perasaan yang melambung tinggi.
*
*
*
"Lo ngga diperkosa, kan?" selidik Arinka penuh curiga. Maria dna Zeta pun mendekat. Saat ini mereka sedang mengemas snack box.
Ketika Emilia datang, ketiga sepupunya sudah menyelesaikan sebagian kerjaannya.
"Engga," sergah Emilia cemberut.
"Syukurlah," seru ketiganya lega.
"Apa dia langsung tidur?" tanya Zeta kepo.
"Iya," dusta Emilia cepat.
Arinka menatap ngga percaya.
Nggak mungkin ngga kissing kissing, batinnya judes.
"Dia minta aku jadi pacarnya," kata Emilia membuat ketiganya kaget.
"Haaah?"
"Padahal sebelumnya minta aku jadi pacar pura pura."
"Trus kamu iya in? Kamu mau jadi pacar benerannya?" seru Zeta penasaran.
Maria dan Arinka juga menatap dengan tatapan menuntut.
"Engga."
Ketiga menghembuskan nafas lega.
"Dia ngga marah lo tolak?" tanya Maria dengan jantung berdetak cepat.
Kasian juga laki laki setampan itu harus ditolak.
"Engga tau, dia ngotot anggap aku pacarnya. Dia janji akan nunggu aku siap."
Ketiganya menepuk kening masing masing.
__ADS_1
Bukan masalah siap atau ngga siap. Tapi ini lebih parah lagi, batin ketiganya kalut.
Keempatnya pun diam tanpa kata. Hanya tangan yang sibuk mengemasi snack box yang bekerja.
"Lebih baik lo berusaha menghindar," usul Arinka pelan.
"Gue cuma takut kalo Arjuna tau siapa lo, kita, dia akan murka," tambahnya lagi.
Emilia mengangguk mengerti.
Dua jam kemudian
Teganya ketiga sepupunya ngga bisa menemaninya. Mereka harus ke perusahaan untuk menyelesaikan presentasi tender hotel di Bali. Karena desain hotel berubah, jadi mereka bertiga harus mengubah item item presentasi.
"Sayang, kamu udah datang," sapa tante Carol hangat.
Emilia balas tersenyum
Apa sikap hangat tante Carol ngga akan berubah kalo tau siapa dia sebenarnya, batin Emilia miris.
Tante Carol pun menggandeng hangat tangan Emilia dan meminta para pembantunya membawa paper bag yang berisi snack box.
"Tante, maaf, Emil ngga bisa lama," katanya ketika wanita cantik itu mengajaknya duduk di ruang tamunya yang mewah. Rumah ini masih kalah luasnya dengan rumah utama mereka.
"Bentar dong, sayang. Temeni tante mgobrol ya," tahan Tante Carol. Tadi Arjuna berpesan agar tantenya menahan Emilia sampai dia datang.
Emilia tersenyum mendengarnya. Dia sudah senang karena ngga bertemu si kembar dan Arjuna. Tapi kelihatamnya dia ngga bisa langsung pulang.
"Kuenya terlihat kezat lezat. Tante iri dengan tangan kamu yang terampil," puji tante Carol jujur.
"Jarang loh, gadis seusia kamu terampil di dapur," lanjutnya lagi.
"Tante terlalu memuji," ucap Emilia agak malu.
"Kamu cantik banget, pintar lagi buat kue kue. Dijamin bahagia yang jadi suami kamu."
Emilia tertawa kecil.
Tiba tiba supirnya ikut masuk ke ruang tamu.
"Maaf mengganggu."
Emilia langsung bangkit dan menemui supirnya.
"Sudah selesai nona muda."
Kening tante Carol berkerut mendengar panggilan dari sang supir pada Emilia.
"Oh, bapak pulang duluan aja. Nanti Emilia akan diantar keponakan saya," sambar Tante Carol cepat membuat Emilia dan supirnya saling bertatapan.
Jantung Emilia jadi berdebar cepat.
Arjuna akam datang?
Pak supir masih diam, menunggu jawabsn Emilia.
"Tante, saya minta maaf. Masih ada pesanan yang harus saya selesaikan," tolak Emilia halus.
"Yaaa...., jadi kamu mau pulang sekarang?" tanya tante Carol dengan nads suara kecewa.
"Maaf banget ya, tante," ucap Emilia ngga enak hati.
"Ya sudah, ngga pa pa kalo gitu. Kapan kapan temani tante ngobrol, ya," pinta tante Carol sangat berharap.
"Ya tante. Terimakasih atas pesanan kuenya. Semoga tante dan teman teman tante suka, ya," pamitnya sebelum masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Ya sayang, hati hati," balas tante Carol sambil melambaikan tangannya sebelum mobil meninggalkan rumahnya.
Tanpa setahu Emilia ada mobil yang mengikuti mobilnya saat meninggalkan rumah tante Carol.