
Mars bingung di ruangannya. Haruskah dia mengatakan pada Bima siapa Emilia sebenarnya. Walaupun yang hanya dia tau Emilia sepupu Arinka dari Sagara Grup.
Mengingat Arinka membuatnya sedih. Keduanya saling bertatapan ketika bertemu klien untuk urusan masing masing grup. Saat itu Mars membawa bendera Taksaka dan Arinka dengan Sagara grupnya.
"Apa hubunganmu dengan Sagara grup?" tanya Mars yang sengaja menunggu Arinka selesai meeting.
"Aku bagian dari Sagara Grup. Kamu?" jawab Arinka menantang.
"Sahabatku CEO di Taksaka Grup."
"Arjuna?"
"Ya."
Arinka menarik nafas panjang. Sekian lama dia ngga pernah jatuh cinta. Sekalinya ketemu yang klop di hati, malah musuh dari keluarga besarnya.
"Darah Sagara Grup mengalir di tubuhku," tegas Arinka walaupun sakit.
Mars menatap nanar ngga percaya. Awalnya dia hanya mengira Arinka sebagai karyawan biasa di Sagara Grup. Dia nerusaha mencari solusi agar hubungan meeeka bisa dilanjutkkan. Tapi kalo keturunan langsung, Mars sudah ngga berani berharap lagi
Dia lebih memilih bersama Arjuna. Masih teringat di pelupuk matanya, kehancuran sahabatnya ketika kakek neneknya meninggal dalam selang waktu yang ngga lama. Mereka saat itu baru kelas satu SMA.
Mars ngga tau apa yang terjadi sebenarnya. Yang dia tau, kakek Emilia menembak kakek Arjuna sampai meninggal dunia.
"Kalo begitu, kita ngga bisa melanjutkan hubungan ini," kata Mars dingin.
Arinka terhenyak kaget, dan Mars meeasa menjadi orang paling jahat melihat sepasang mata indah itu digenangi air mata.
"Oke," jawab Arinka langsung pergi.
Mars termangu waktu itu seperti orang bodoh. Otaknya jadi buntu. Di hanya bisa menatap kepergian Arinka tanpa bisa menahannya. Hatinya mencelos karena Arinka menerima begitu saja keputusannya. Ngga berusaha mendebatnya. Mempertahankan hubungannya.
Mars mendengus. Lagian buat apa Arinka mempertahankan dirinya yang sudah bersikap sangat pengecut.
Bukan hati Arinka saja yang sakit, hatinya pun belum ada obatnya sampai saat ini.
Seperrtinya sekarang Arinka juga sudah ngga ingin melihatnya lagi. Dengan perasaan lelah ditatapnya fotonya berdua Arinka yang masih tersimpan di galerynya. Ngga hanya satu, tapi ada banyak. Sebagai pengobat rindunya.
"Kamu mau jadi istriku?"
Arinka.membulatkan mata indahnya.
"Ya."
Mars tersenyum pahit. Seringan itu Arinka menerima titah dari bibir jahatnya.
"Ngelamun Mars," tegur Sita yang sudah berada di depan meja kerjanya bersama Veli. Keduanya tersenyum meledek.
"Eh, sorry ," respon Mars kaget sambil menutup galery fotonya.
"Kok, ngga ngetok pintu," kesalnya karena kini keduanya mengetawainya. Pasti tampangnya terlihat bloon.
"Udah lagi. Lo aja yang bengong. Liatin apa, sih ?" tanya Sita Kepo ke arah ponsel yang dipegang Mars.
"Ada apa kaian kemari?" tanya Mara mengalihkan topik. Dia buru buru menyimpan ponsel dalan saku jasnya. Tapi dia sudah bisa menebak.
"Mars, gue ikut ke Bali ya," todong Veli langsung.
__ADS_1
"Janji lo ngga buat kehebohan," kata Mras sedikit mengancam. Hubungan mereka ber delapan akhir akhir ini jadi terusik karena Veli yang terlalu memaksa hati ke Arjuna.
"Kapan gue buat heboh," ucap Veli pura pura lupa.
Mars dan Sita saling pandang.
"Serah lo," balas Mars asal, malas berdebat.
Sita meraih tangan Mars lembut.
"Aku akan mengawasinya," katanya lembut.
Mars terdiam menatap tangan Sita.
"Ya," ucapnya sambil menariknya pelan agar tunangannya ngga tersinggung.
Mereka berdua di jodohkan. Orang tua mereka sudah bersahabat lama. Sita menyetujuinya. Sedangkan Mars hanya untuk mengalihkan hatinya dari Arinka.
*
*
*
Arjuna menatap marah ke arah pintu unit kamar Emilia yang masih tertutup. Dari ponselnya yang terhubung dengan kamera yang dia sembunyikan di kamar gadis itu, Arjuna tau kalo Emilia belum kembali.
Gadis itu berhutang banyak jawaban padanya. Tapi lagi lagi dia lenyap seperti di telan bumi.
Arjuna memasuki kamarnya dengan kesal. Seharusnya dia ngga pake hati menghadapi Emilia.
Arjuna menggelengkan kepalanya. Lama lama dia ngga punya privasi lagi di apartemennya sendiri.
"Ngapain kalian di sini. Pulang, kakak mau tidur," usirnya galak.
"Kakak, kok, marah," rajuk Cila dengan tampang sedihnya
"Hemmm," dengus Arjuna ngga peduli. Dia melangkah masuk kamarnya untuk berganti pakaian. Saat ini alkohol adalah obat mujarabnya.
"Kakak mau kemana?" tanya Cleo heran melihat kakak sepupunya sudah mengganti jasnya dengan kaos kemeja denimnya.
"Pergi," sahut Arjuna langsung pergi meninggalkan kembarannya yang masih bengong.
"Kak Juna kelihatannya lagi kesal," kata Cila mengutarakan pendapatnya.
"Kita ikuti," tegas Cleo sambil berjalan keluar dengan diikuti Cila tanpa membantah.
Keduanya masuk ke dalam lift sebelah yang baru terbuka. Begitu sampai di basemen, keduanya melihat mobil Arjuna yang sedang melaju kencang.
Cleo cepat menekan kuncii mobil, bersama Cila keduanya berlari ke arah mobilnya dan langsung menggas sangat dalam mengejar mobil Arjuna.
Akhirnya, mereka pun sampai di club mewah yang dimasuki Arjuna.
"Bagaimana ini?" Aku takut masuk ke sana," ucap Cila bingung. Sampai seumur ini dia belum pernah clubbing. Bisa diomelin mama papa kalo tau.
Cleo menghembus nafas kesal. Dia oernah beberapa kali masuk club bersama gengnya. Tapi untuk membawa Cila ke dalam, Cleo harus berpikir ribuan kali.
Tiba tiba satu ise cemerlang mampir di otak Cleo.
__ADS_1
"Kita telpon Kak Emilia aja."
Cila menatap Cleo heran.
"Kenapa harus Kak Emilia? Dia, kan, sudah punya pacar," protesnya.
"Aku punya firasat, kalo Kak Juna dan Kak Emilia punya hubungan."
"Ngga mungkin," bantah Cila kaget, menatap Cleo ngga percaya.
Cleo ngga mempedulikan kekagetan kembarannya. Dia teringat kata kata mamanya yang merasa aneh karena Kak Arujuna meminta mama menahan Emilia sampai dia datang. Tapi Kak Emilia malah buru buru ngacir.
"Maksud kamu, yang bikin bibir Kak Emilia bengkak itu Kak Juna?" Cila membekap mulutnya, shock.
Mungkin," jawab Cleo sambil menelpon Emilia.
Ngga mungkin Kak Arjuna seganas itu, Cila berusaha berpikir positif.
Cleo memberi isyarat agar sepupunya menutup mulutnya saat nadanya mulai tersambung.
"Ada apa Cle?" tanya Emilia yang sudah membaca pesan Cleo sebelumnya.
"Kak, tolong kami. Kak Juna mabok di club xxx..Aku sama Cila ngga bisa nolongin soalnya disuruh mama pulang," seru Cleo panik. Cila tersenyum kecil melihat bakat akting sepupunya.
"Kakak ke sini, ya. Kita harus segera pulang karena mama udah telpon beberapa kali," pinta Cleo masih dengan suara paniknya.
"Oke.".
"Makasih, kak. Aku share lokasinya," katanya sambil.menutup telpon setelah mengirim lokasi beradanya Kak Arjuna.
"Yes!" seru Cleo berbarengan dengan Cila, keduanya pun tergelak.
"Sekarangbkita tunggu sampai Kak Emilia datang,"ucap Cleo senang.
"Ya," sahut Cila ngga kalah senangnya.
Untuk mengusir rasa bosan, keduanya melihat lihat sosmednya.
"Semoga aja mereka ada hubungan," harap Cila.
"Iya."
"Aku lebih suka dia dari pada kak Veli atau kakak Natasha," tukas Cila sambil melongok ke luar kaca mobilnya.
Cleo ngga menjawab. Tapi dia setuju dengan kata kata Cila. Kedua orang itu akan membuat mereka kehilangan perhatian kakak sepupu mereka. Beda dengan Emilia. Mamanya pun menyukainya.
Keduanya kembali disibukkan dengan ponsel masing masing.
"Eh, itu Kak Emilia. Kok, dia bisa cepat, ya," seru Cila membuat Cleo melihat ke arah yang ditunjuk Cila.
Seorang gadis dengan dres tanpa lengan berlari lari kecil masuk ke dalam club setelah keluar dari taksi online
"Cantik banget ya, kak," puji Cila sambil terus menatap penampilan Emilia kagum.
"Seksi," tambah Cleo. Ngga mungkin, kan, gadis secantik dan seseksi itu ngga tertangkap radar kakak sepupunya.
"
__ADS_1