Love U Like FIRE

Love U Like FIRE
Rahasia yang mulai terkuak


__ADS_3

Arsen menyuapi mamanya sambil menatapnya dengan lembut. Dia membawakan sup ayam.


Mamanya menaikkan sedikit sudut bibirnya ketika Arsen mengusap ujung bibirnya dengan tisu.


Wanita paruh baya ini masih saja menatapnya dengan pandangan kosong walau sudah tampak sedikit binar.


Menurut dokter mamanya sudah mengalami cukup peningkatan sarafnya. Beliau sudah lebih tenang dan tidak suka mengamuk lagi seperti dulu.


Perlahan tangannya mengusap wajah Arsen. Matanya berkaca kaca.


Arsen memengang tangan mamanya dengan hati bergetar.


Sentuhan mamanya selalu menggetarkan hatinya. Meneduhkan jiwa panasnya. Selama seminggu mamanya selalu melakukannya.


Arsen selalu mengunjungi mamanya pagi pagi sekali dan malam hari.


"Kalo mama mau, kita bisa jalan jalan," katanya lembut.


Air mata wanita ini menetes.


Anakku beda dengan laki laki jahat itu, batinnya sakit.


Anaknya.


Akhir akhir ini kesadarannya lebih sering muncul. Beliau mulai mengingat sedikit demi sedikit kejadian buruk yang pernah menimpanya. Wajah putranya yang sudah dewasa sangat di syukurinya ngga mirip dengan laki laki jahat yang sudah menghancurkannya. Membuatnya depresi berkepanjangan dan meninggalkan tanggungjawabnya pada anaknya begitu saja.


"Arsen...." pangilnya lirih.


Mata Arsen pun memanas mendengar namanya dipanggil. Baru kali ini mamanya mengeluarkan suaranya. Jantungnya berdebar dengan penuh rindu


Dia pun meletakkan mangkok yang berisi sup ayan yang hampir habis di atas meja.


Mamanya pun memeluknya dan menangis keras.


"Arsen!"


"Arseeen!'


Teriakannya terdengar menyayat hati.


"Aku di sini, ma. Aku di sini."


Air mata Arsen pun tumpah. Laki laki dingin yang ngga pernah menangis dan tersenyum itu kini membuka topeng yang selama ini dikenakannya.


"Bawa mama pergi. Kita harus jauh dari orang jahat itu," ucap mamanya dengan suara gemetar. Pelukannya semakin erat pada putranya.

__ADS_1


Setelah bertahun tahun, ingatannya akan kejahatan kejam yang menimpanya puluhan tahun yang lalu mulai terbayang jelas.


Beliau ingat betul betapa laki laki itu tertawa dan tetap memaksakan kehendaknya walaupun dia sudah memohom untuk dilepaskan. Dan temannya ikut membantunya. Membantu laki laki itu melaksanakan niat jahatnya.


"Mama tenang. Ada Arsen," bujuk Arsen agak bingung dengan jantung berdebar.


Sekian tahun hingga umurnya menginjak tiga puluh tahun, kini baru dia bisa melihat mamanya bereaksi cukup normal.


Selama ini mamanya hanya diam, menangis dan seringkali mengamuk melempar barang barang yang ada di rumahnya.


Karena itu Arsen kecil sudah mencari uang dengan membantu tetangganya bekerja apa saja hingga menjadi pengamen.


Ketika ada yang membeli rumah kecil mamanya, Arsen kecil dibantu tetangganya menitipkan mamanya ke rumah sakit jiwa.


Arsen sempat bersekolah sampai kelas tiga SD. Tapi setelah mamanya dirawat di rumah sakit jiwa, Arsen drop out.


Tubuh kecilnya dipaksa mencari uang untuk makan da biaya berobat mamanya.


Hingga akhirnya Arga Taksaka mengambilnya dari jalanan dan mempekerjakannya hingga sekarang.


"Kita harus pergi. Mama ngga mau melihat orang itu lagiiii," seru mamanya mulai histeris.


Arsen menepuk nepuk punggung mamanya lembut untuk menenangkannya.


"Tenang, ma," bujuknya kemudian melirik ke arah pintu dan melihat seorang perawat berdiri di sana.


"Dia... dia pernah ke.sini," racau mamanya ketakutan.


Alis Arsen bertaut. Dia baru tau kalo ada yang mengunjungi mamanya tanpa setahunya.


Rahangnya mengeras. Dia akan memarahi para perawat yang sudah mengijinkan orang jahat yang membuat mamanya depresi itu menemuinya.


"Dia siapa, ma."


"Dia.... dia.... Arga Taksaka. Laki laki jahanam dan temannya," kata mamanya memberi tau dan mulai menangis kencang.


Jangan ditanya lagi bagaimana kabar jantungmya. Arsen nggak nyaman mendengar nama orang yang selama ini sudah menggajinya dan telah menerima seluruh baktinya. Hampir copot!


"Kita harus pergi sebelum dia menemukan kita," seru mamanya lagi di sela tangisnya.


Insting buruk Arsen langsung bekerja. Mulai mengaitkan hubungan mamanya, dirinya dan Arga Taksaka.


Dia menggeram marah Hatinya menolak keras kesimpulan yang sudah dia tarik sendiri.


Ngga mungkin! Nggak!

__ADS_1


"Kita pergi, ma," putus Arsen.


Mamanya pun mengangguk dalam tangisnya.


"Ya, Arsen. Kita pergi."


*


*


*


Saat akan memgetok pintu kamar kakaknya, tapi pintu itu malah terbuka membuatnya tersurut mundur.


Bima menatap Emilia dengan wajah lembutnya. Tidak sesangar tadi. Sepertinya tadi dia menenangkan dirinya. Melepaskan kemarahan dan egonya.


"Ada perlu?"


Emilia menggelengkan kepalanya. Dia mencoba tersenyum walau getir.


Emilia hanya ingin memastikan keadaan kakaknya baik baik saja setelah kejadian tadi. Belum pernah Emilia melihat kakaknya semarah ini. Bahkan sampai membuat Arjuna terluka sangat parah.


"Kak, maaf," ucapnya pelan dengan sepasang mata yang mulai terasa panas.


Bima menarik adik satu satunya dalam pelukannya. Tangis Emilia pun pecah. Tangis rindu pada papanya, juga tangis putus asa karena belum bisa melupakan Arjuna.


"Kalo Arjuna membatalkan pertunangannya, kamu boleh bersamanya," kata Bima pelan di sela tangis Emilia.


Bima sudah memikirkan sangat detil dan akan bersiap dengan konsekuensi yang dia pilih.


Sekarang prioritasnya selain keselamatan seluruh anggota keluarganya, juga kebahagiaannya.


Dia mengusap kepala adiknya dengan lembut.


Kepala Emilia mendongak, menatap Bima ngga percaya, mendengar apa yang sudah dia ucapkan.


Dia pun menggelengkan kepalanya.


Emilia sudah ngga mau membuat kakaknya kecewa lagi akan sikap bodohnya.


"Asalkan dia bisa melindungi kamu. Kakak rasa papa juga sudah setuju."


Emilia terhenyak mendengarnya.


Papa ngga marah? batinnya pilu.

__ADS_1


"Asal kamu bahagia." Bima tersenyum lembut. Dan tangisan Emilia pun langsung pecah lagi begitu saja.


__ADS_2