Love U Like FIRE

Love U Like FIRE
Takut


__ADS_3

Selama meeting, Emilia begitu tersiksa. Tangan Arjuna terus saja mengelus pahanya dengan jari jarinya. Walaupun ngga bergerak, tapi gerakan jari laki laki itu membuat tubuhnya panas dingin.


Akhirnya Emilia lega ketika Arjuna melepaskan elusannya saat mengambil berkas yang di sodorkan Galih. Laki laki kurang ajar itu meletakan kertas kertas itu di atas pahanya.


"Sampai kapan meetingnya? Sepupuku pasti sedang mencariku," bisiknya di telinga Arjuna dengan suara serak.


"Jangan cemas, stafku sudah mengatakan pada mereka kalau kau bersamaku," balas berbisik Arjuna menyahutinya.


"Apa?" Mata Emilia membesar karena kaget.


Bisa bisanya laki laki ini mengatakan itu tanpa ekspresi merasa bersalah.


Apa yang akan dipikirkan ketiga sepupunya?


Emilia malah menjadi tambah ngga tenang.


"Kamu bisa menginap di apartemenku," bisik Arjuna dengan senyum miringnya.


Emilia sontak menggelengkan kepalanya membuat senyum laki laki itu makin lebar.


Dia masuk perangkapnya sendiri.


"Juna, kita lagi meeting. Tapi kamu malah berbuat mesum di depan kita," sergah Veli penuh benci. Matanya terus menyorot Emilia merendahkan.


"Dia menanyakan kapan kami akan balik ke kamar," kata Arjuna cuek membuat wajah Emilia terbakar saking malunya akan pernyataan frontal laki laki kurang ajar yang sedang memeluk pinggangnya.


"Diia hot sekali," puji laki laki tampan yang lainnya.


"Lebih baik kalian segera ke kamar. Pasti lo sudah ngga tahan, kan, Juna," kekeh Arbi bersama yang lain. Khususnya laki laki. Sedangkan yang perempuan hanya tersenyum tipis, kecuali Veli yang makin terlihat gusar.


"Oke, karena kekasihku sudah ngga tahan lagi, gue pergi dulu. Galih, selesaikan semuanya," perintahnya sambil meletakkan kertas kertas di atas meja dan kembali memamerkan paha mulus Emilia yang menjadi santapan empuk laki laki di situ.


Emilia menggigit bibir bawahnya semakin kesal. Saat dia hemdak memaksa turun, cekalan di pinggangnya semakin erat.

__ADS_1


"Siap, bos," ucap Galih sambil mengedipkan sebelah matanya pada Emilia.


Arjuna mendengus melihatnya. Kemudian dia pun berdiri sambil mengangkat tubuh Emilia ala bridal. Kaki jenjangnya yang putih bening menjuntai indah, membuat Arbi dan teman teman laki laki mereka tambah melotot. Gadis ini sangat cantik dan seksi


"Aku bisa jalan," protes Emilia kesal dan malu. Jantungnya sangat ngga sehat.


Arjuna tersenyum miring menatap bibir gadis itu yang mengerucut kesal sementara tangannya melingkar erat di lehernya seakan takut dijattuhkan.


Dia pun melangkah tanpa ragu meninggalkan ruang privat dengan tetap menggendong Emilia walau gadis itu merengek minta turun.


Arjuna mengabulkannya, dia menurunkan Emilia di sudut club yang cukup sepi dan terhalamg dari pandangan orang orang yang berlalu lalang.


Emilia lega dan bermaksud pergi, tapi dia berseru kaget ketika Arjuna tiba tiba mengangkat tubuhnya tinggi tinggi sampai wajah laki laki itu menempel di perutnya yang masih dilapisi dres.


DEG


DEG


DEG


Ketika Arjuna melepaskan pegangannya di pinggang Emilia, Emilia menjerit kaget dengan suara tertahan. Dia merasa Arjuna akan menghempaskannya.


Spontan Emilia menggelungkan kedua kakinya di pinggang Arjuna yang kekar karena tubuhnya merosot turun dengan cepat. Kedua tangannya pun memeluk erat leher Arjuna


Belum habis rasa terkejutnya, Arjuna memeluk erat punggungnya dan menggerakkan tubuhnya naik turun. Hingga bagian sensitif mereka saling bersentuhan. Rasanya bagai kesetrum listrik berjuta volt dan sangat nikmat. Padahal mereka masih mengenakan pakaian lengkap.


"Appah... yang ... kamuh... lakkukan... aahh." Emilia sudah ngga bisa lagi menahan diirinya. Seumur umur, ngga pernah dia digoda seperti ini. Tapi dialah penggodanya. Seharusnya dia menjauhi laki laki ini. Arjuna Taksaka sangat berbahaya.


Arjuan sendiri pun sudah merasakan dirinya sangat gila. Niatnya untuk memberi gadis cabe cabean ini pelajaran, tapi malah dia sendiri yang ngga tahan. Tonjolan bagian sensitifnya semakin keras. Dia ingin meniduri gadis ini sekarang.


Saat Emilia mendesah, Arjuna pun ngga tahan untuk segera mengulum bibir basah yang terbuka dan melu*matnya penuh naf*su. Punggung Emilia semakin ditempelkannya di tembok. Bahkan kedua tangannya kini memggerayangi tubuh gadis itu. Dari punggung bergerak ke depan. Mere*mas dengan kuat sampai gadis cabe cabean di depannya mendesah lagi dengan nafas mengengah. Dengan segera disambarnya bibir itu lagi, dihisapnya dengan sangat kuat.


Emilia menggusar kasar rambut lakii laki di depannya dengan nafas terengah. Tapi ketika laki laki itu meninggalkan bibirnya dan mulai menghisap puncak dadanya yang masih tertutup dresnya, Emilia tersadar.

__ADS_1


Dia cepat mendorong tubuh Arjuna dengan keras lalu berlari pergi sekencang kencangnya.


Arjuna yang lagi lagi jatuh terjemgkang hanya bisa mengumpat melihat gadis itu sudah menghilang dengan sangat cepat.


Dia pun bergegas bangkit dan mencoba mencarinya, sampai kemudian sebuah taksi berhenti tak jauh darinya dan gads itu masuk ke dalamnya.


Arjuna pun mengambil mobilnya yang terparkir ngga jauh dari situ dan melajukannya mengikuti kemana pun gadis itu pergi.


Dalam hatinya dia merasa khawatir akan keselamatannya. Ngga lama kemudian taksi itu berhenti di depan sebuah apartemen mewah dan gadis itu setengah berlari masuk ke dalam lobi apartemen.


Arjuna memberikan kunci mobilnya pada sekuriti, karema dia memiliki unit di apartemen yang memamg miliknya. Dia pun berlari menyusul gadis itu.


Tapi Emilia sudah masuk ke dalam lift dan sangat terkejut melihat Arjuna sedang berlari ke arah lift yang sudah dimasukinya.


Dengan panik Emilia menekan tombol close agar pintu lift segera tertutup. Untunglah pintu lift segera tertutup sebelum laki laki itu bisa menahannya. Lift pun naik menuju lantai tujuh. Unitnya yang selama dua tahun ngga pernah ditempati.


Begitu pintu lift terbuka, bagai orang ketakutan dikejar maling. Emilia membuka unitnya dan langsung masuk serta ngga lupa menguncinya.


Tubuhnya melosoh di balik pintu dan terduduk di lantai. Dia menutup wajahnya sambil terus mengutuk dirinya yang ganpang larut oleh sentuhan laki laki yang menjadi musuh keluarganya.


Emilia meraih tas kecilnya dan mengambil hpnya. Dan yang membuatnya kesal sepupunya hanya menuliskan kata semangat. Itu pun hanya Arinka yang mengirimkannya.


Padahal sedari tadi Emilia ngga tenang menikirkan perasaan cemas sepupunya.


Emilia yakin, ketiganya mengira dia menjalankan misi dengan sukses. Padahal dia malah terjebak dan mengalami banyak kerugian fisik.


Emilia menghela nafas kasar. Dia beranjak ke cermin besar di dekat tempat tidurnya. Memperhatikan dirinya yang tampak kacau. Bibirnya terlihat sangat bengkak.


Dia ngga punya es. Emilia mengambil saputangan dalam lemari bajunya. Membasahinya dengan air kran dan mulai mengompres bibir bengkaknya.


Terasa cukup perih. Emilia memejamkan mata. Ciuman Arjuna Taksaka masih terasa. Lum*atannya yang penuh naf*su. Jantung Emilia berdetak kencang. Dia neletakkan kedua tangannya di wastafel sambil menundukkan kepalanya. Membiarkan rambut lurus panjangnya menutupi wajahnya.


Dia kalah. Emilia takut kalo saat ini sudah jatuh se jatuh jatuhnya pada cengkeraman laki laki musuh keluarganya.

__ADS_1


__ADS_2