
Dengan kekesalan yang sangat menumpuk di rongga dadanya, Arga Taksaka pulang ke rumahnya.
Istrinya hanya diam saja melihatnya. Dalam hatinya dia pun masih menyimpan kekesalan yang menggunung karena suaminya yang sudah merahasiakan Arsen darinya. Juga tentang mamanya Arsen yang pernah dirawat di rumah sakit jiwa.
"Kenapa anak itu ngga bisa dikasih tau," geramnya sambil mendudukkan dirinya di sofa.
"Mungkin dia mirip seseorang," sindir Aryati-Mama Arjuna sambil duduk di depan suaminya.
Dia sudah bertekat akan membeberkan rahasia yang selama ini suaminya simpan.
Kali ini Mama Arjuna ngga akan mengalah lagi dengan suaminya. Suaminya sudah keterlaluan. Dia harus segera dihentikan. Mama Arjuna ngga mau sampai kehilangan putranya.
Jika putranya memang saling menyukai dengan putri dari almarhum Revi Lukman Sagara, dirinya akan mendukung.
Beliau pun sudah nelihat betapa cantiknya gadis itu hingga membuat putranya ngga bisa berpindah ke lain hati.
Bahkan adik perempuan suaminya pun sangat menyukainya.
"Apa maksud kamu?" tanya Arga Taksaka dengan nada ketus. Kelihatannya dia sangat paham kalo kata kata istrinya adalah sindiran buat dirinya sendiri.
"Ngga bermaksud apa apa," jawab Aryati-Mama Arjuna sangat tenang. Bahkan kini dua pasang mata mereka saling bertatapan. Arga Taksaka dengan tatapan intinidasinya sedangkan istrinya seakan ngga takut dan balas menatapnya dengan sangat tenang.
Arga Taksaka memicingkan matanya, menatap curiga pada istrinya.
"Aryati, ada apa denganmu? Kamu kelihatannya aneh hari ini."
"Ada yang mau aku bicarakan," kata istrinya mulai serius.
"Ya?" tanya Arga Taksaka ngga acuh
"Arsen anakmu?"
Arga Taksaka ngga dapat menyembunyikan rasa terkejutnya.
"Dari mana kamu tau?" tanyanya spontan.
"Aku ngga sengaja mendengar obrolanmu dengan Sujatnata," kata Aryati masih tetap tenang. Dia tau sebentar lagi suaminya akan meledak.
Rahang Arga Taksaka mengeras.
"Aku dengar ibunya Arsen sempat dirawat di rumah sakit jiwa. Apa itu perbuatanmu, pa?"
Arga Taksaka ngga menjawab. Dia menatap tajam istrinya.
"Sekarang kamu di pihak siapa?"
Aryati, istrinya menghela nafas panjang.
"Aku di pihak putraku. Aku mendukung apa pun yang dia lakukan. Maafkan aku, pa," ucap Mama Arjuna kemudian bangkit dari duduknya.
"Aku mohon sadarlah. Kamu harus minta maaf pada keluarga Sagara. Revi meninggal karenamu, pa," katanya setelah menarik nafas panjang.
"Kalo papa sudah melakukan hal buruk pada Arsen dan mamanya di masa lalu, minta maaflah pada mereka. Aku ngga ingin kamu dibenci anak anakmu," tegas Mama Arjuna melanjutkan.
Arga Taksaka merasa tertohok mendengarnya. Sangat dalam.
Ya, dia sudah dibenci anak anaknya. Bahkan tadi dia pun sudah melakukan hal yang sangat mengerikan.
__ADS_1
Mama Arsen pun berjalan keluar, meninggalkan suaminya.
"Aryati, kamu mau kemana?" sentak Arga Taksaka kembali terkejut, karena istrinya ternyata berjalan dengan membawa satu kopernya.
"Aku akan tinggal di rumah mama dan papa. Aku ingin kamu merenungi kesalahan kesalahan kamu. Ingatlah, bahkan kamu dan Sujatnata pun sudah mendapatkan peringatan lewat musibah Vania," kata istrinya sambil menghentikan langkah dan menatap suaminya lama.
Dia tau, saat ini suaminya pasti sudah sangat marah atas sikapnya yang ngga mendukungnya lagi.
"Aku sayang sama kamu. Arjuna juga. Kami ingin kedamaian. Kasian putra kita menjadi robot dendammu selama ini, Pa."
Setelah mengatakannya Aryati langsung membalikkan tubuhnya dan mulai melangkah pergi. Benar benar pergi. Supirnya sudah menunggu di depan.
Dia sudah lelah. Apalagi kematian Revi Sagara cukup membuatnya merasa bersalah. Sampai kapan suaminya akan mendendam dan menyakiti orang orang di dekatnya?
Arga Taksaka terpaku. Kata kata istrinya seolah cambuk yang menyabet tubuhnya dengan sangat keras. Dia pun teringat akan kekecewaan mama Sujatnata padanya. Bahkan beliau pun sama seperti istrinya, menyalahkannya akan musibah yang menimpa Vania.
Tadi pun dia sudah melakukan perang terbuka dengan kedua anaknya, Arsen dan Arjuna. Juga keluarga Sagara yang terang terangan membantu anak anaknya.
Arga Taksaka memejamkan mata. Bayang bayang kelam saat kehilamgan orang tuanya kembali terbayang. Rasa sedih dan kehilangan yang besar membuatnya selalu gelap mata jika menyangkut keluarga Sagara.
Kematian Revi pun ngga membuatnya puas. Dia malah ingin lagi dan lagi untuk menyakiti keluarga itu. Seakan ngga ada puasanya. Hanya ada rasa senang sesaat jika melihat rencananya berhasil untuk menjatuhkan keluarga itu. Setelah itu hampa.
*
*
*
Helikopter yang dibawa Bima mendarat di kediaman Sagara.
Ternyata banyak orang yang sudah berkumpul dan menunggu kedatangan mereka dengan perasaan cemas.
"Syukurlah kamu baik baik saja. Tadi aku cemas sekali," kata Emilia dengan perasaan lega.
"Aku pasti akan baik baik saja. Karena aku ingin lebih lama bersama kamu," tukas Arjuna sangat lembut
Verdin dan Carolina menatap keduanya dengan tatapan bahagia.
"Demi ponakanku, aku akan terus menentang Kak Arga," bisik Carolina pelan.
"Jangan begitu. Pelan pelan saja menghadapinya," ucap Verdin lembut sambil mengelus rambut istrinya perlahan.
"Kak Arga sangat keras kepala," ngeyel Carolina sedikit kesal.
"Semua orang sudah tau wataknya," kekeh Verdin melihat wajah manyun istrinya.
Mars mendekati Arinka yang masih mematung menatapnya.
Tanpa ragu dia pun memeluk Arinka yang juga membalas pelukannya.
Bahkan Mars merasakan basah di kemeja bagian dadanya.
"Jangan nangis, aku baik baik aja," kata Mars lembut sambil mengusap air mata Arinka.
"Yaa, aku sangat khawatir," jujur Arinka sambil menatap Mars yang tersenyum padanya.
Kejadian hari ini sangat menegangkan. Hampir saja mereka ngga selamat. Untunglah keluarga Arinka datang menolong mereka tepat waktu.
__ADS_1
Revo dan Ravi beserta istri istri mereka mendekati Arsen dan mamanya.
"Kamu kemana aja, Shopia?" ucap mama Emilia yang langsung memeluknya. Keduanya bertangisan. Bahkan istri Revo dan istri Ravi juga ikut memeluk sahabat mereka yang sudah lama menghilang.
Arsen nampak sungkan melihat mamanya begitu dirindukan orang orang yang selama ini dimusuhinya. Raut bersalah tergambar jelas di wajahnya.
"Papa kenal?" tanya Dewa penasaran.
"Dia sahabat kami," jelas papanya membuat Dewa manggut manggut.
Maria menggenggam tangan Arsen membuat laki laki tampan dan datar itu menoleh padanya.
"Ternyata orang tua kita bersahabat, ya," kicau Maria dengan matanya yang berbinar binar.
Arsen melengkungkan bibirnya dengan manis. Dia merasa terharu karena mamanya mendapatkan penerimaan yang sangat baik. Ngga menyangka sama sekali.
Maria terpesona sesaat melihat senyum Arsen. Baru kali ini dia melihat laki laki yang hampir ngga pernah tersenyum dan selalu dingin itu terlihat tulus.
Arsen melirik tangan gadis itu yang menggenggam tangannya. Erat sekali. Arsen pun membalas memggenggannya, sehingga dia mendapatkan hadiah senyum yang sangat cantik.
Zeta berlari lari kecil menghampiri Dewa yang tersenyum lebar dan melangkah pelan mendekatinya.
"Kak Dewa," panggilnya sambil mendekat. Tanpa sungkan Dewa pun memeluknya.
Andra sedikiit menaikkan alisnya.
Revo dan Ravi tertawa melihat keduanya.
"Apa akan ada pernikahan sepupu?" kekeh Revo.
"Boleh juga," sahut Ravi juga tergelak.
Sementara itu Dewa merasa tenang bisa memeluk sepupu yang sudah lama dia cintai. Jika mengingat kejadian tadi, Dewa tau mereka bisa celaka kapan saja. Tadi mereka beruntung. Jika saja Arga Taksaka berubah jadi iblis dan ngga menahan para pengawalnya menembak helikopter, mereka pasti sudah tiada.
"Aku mencintaimu, Zeta," ungkapnya sambil mengetatkan pelukannya.
Jantung Zeta berdebar keras. Zeta juga dapat merasakan debaran ngga menentu dari jantung Dewa.
Zeta sempat ternganga ngga percaya. Dia melirik papanya yang masih tertawa melihatnya.
Papanya ngga marah? batinnya berdebar. Ada rasa senang menyelimuti dalam rongga dadanya. Selama ini Zeta hanya takut kalo papa dan kakaknya ngga setuju jika dia terlalu dekat dengan kakak sepupunya. Apalagi kakak sepupunya playboy.
Tapi mendengar pernyataan cintanya membuat Zeta agak berpikir melenceng.
Apa benar Kak Dewa mencintainya?
"Kak Dewa serius?" tanyanya grogi.
"Sangat serius," jawabnya mantap dengan tatapannya yang penuh arti.
Tanpa sadar Zeta mengembangkan senyum manisnya.
♤
♤
♤
__ADS_1
Bentar lagi tamat ya.....♡♡♡