Love U Like FIRE

Love U Like FIRE
Restu


__ADS_3

"Mama?" panggil Arjuna ketika mendapati mamanya sudah menunggunya di ruangannya.


Dia baru saja mengantarkan Emilia ke perusahaan keluarganya.


Arjuna ngga nyangka kalo mamanya akan datang di perusahahaan yang dia kelola bersama teman temannya.


Aryati-Mama Arjuna tersenyun kemudian berdiri menyambut kedatangan putranya yang sudah beberapa hari ngga ditemuinya.


Mereka saling berpelukan. Mama Arjuna menghapus air matanya yang tiba tiba saja mengalir


"Kenapa .... kenapa kamu ngga mau cerita sama mama soal hubungan kamu dengan Emilia Sagara?" tanya mamanya saat pelukan terurai.


"Mama sudah tau?" Agak kaget Arjuna bertanya.


Mamanya mengangguk dan tersenyum. Kemudian membimbing tangan Arjuna agar duduk di sampingnya di kursi panjang yang tersedia di sana.


"Mama ngga marah aku berhubungan dengan putri musuh keluarga kita?" tanya Arjuna pelan dan dalam.


Aryati-Mama Arjuna menggelengkan kepalanya.


"Tidak. Mama mendukung."


Arjuna menatap mamanya ngga percaya.


"Bener, ma?"


Senyum terulas di bibir mamanya membuat Arjuna jadi tersenyum. Perasaannya plong dan lega. Dukungan mamanya sangat dia harapkan dan sekarang terwujud. Arjuna merasa sangat bahagia.


"Terimakasih, ma," ucapnya terharu.


"Tapi papamu ngga akan tinggal diam. Mama tau papamu sedang merencanakan sesuatu yang jahat untuk.keluarga Emilia," tukas Mama Arjuna agak cemas.


Dia tau kalo suaminya sangat keras dan nekat jika menginginkan sesuatu.


"Aku tau ma. Aku juga sudah menempatkan banyak pengawal untuk menjaganya. Selain itu juga ada pengawal pengawal dari keluarga Emilia," jelas Arjuna agar mamanya tenang.


Mamanya menghembuskan nafas panjang.


'Kenapa, ma?" Arjuna menangkap kegelisahan dalam sikap mamanya.


"Tadi malam mama mendengar obrolan rahasia antara papamu dan Om Nata."


Arjuna langsug memfokuskan tatapannya pada mamanya dengan jantung yang berdebar debar.


"Papa akan melakukan sesuatu yang mama ngga tau apa. Tapi yang jelas bisa mencelakai Emilia kekasihmu," ucap Aryati sangat serius.


Arjuna tau, pasti papanya ngga akan segan segan melakukan perbuatan kotor. Sudah beberapa kali papanya melakukannya terhadap Emilia dan keluarganya.


"Selain itu ada satu rahasia besar yang papamu dan om Nata sembunyikan." Kali ini bibir mamanya bergetar mengucapkannya.


"Apa ma?" tanya Arjuna sangat penasaran melihat mamaya terlihat sangat ngga nyaman.


"Papamu dan Om Nata sudah melakukan hal yang sangat mengerikan, di luar sisi kemanusiaan yang selalu dia katakan."


Bahkan kini suhu tubuhnya turun drastis.


Arjuna terdiam.


Kejahatan apa lagi yang sudah papa lakukan? Om Nata juga terlibat?


"Arsen... dia anak papamu juga. Dia kakakmu, Juna." Tangis mamanya pecah. Seakan akan semua perasaan yang selama ini selalu dia tekan kini berhamburan sudah.


DEG DEG DEG


Arjuna memeluk mamanya untuk menenangkannya.


Mamanya pasti terguncang setelah tau pengkhianatan papanya.

__ADS_1


Arsen lebih tua darinya beberapa tahun.


Arsen kakaknya?


Apa Arsen sudah tau?


Mengingat pertemuan yang ngga baik antara papanya dengan Arsen pada hari itu, Arjuna yakin Arsen sudah tau dam marah.


Tapi mengapa dia harus marah? batin Arjuna belum mengerti.


"Papamu sudah membuat mama Arsen masuk rumah sakit jiwa, Juna. Arsen sepertinya dendam dengan papamu dan Om Nata," jelas mamanya lagi dengan suara bergetar. Sampai sekarang pun mama Arjuna masih ngga bisa mempercayainya, ternyata dia hidup bersama dengan seorang monster.


DEG!


Kini Arjuna baru mengerti dengan kemarahan Arsen yang sangat hebat.


Papanya membuat mamanya sampai gila? Papanya seperti seorang psikopat, batinnya ngeri.


"Ma, itu mungkin masa lalu papa sebelum mengenal mama," hibur Arjuna sedikit membela papamya. Dia berpikir begitu karena usia Arsen yang lebih tua beberapa tahun darinya


Mamanya terdiam memikirkan ucapan Arjuna.


Arjuna menepuk jidatnya. Dia teringat sesuatu.


"Aku ketemu Arsen dan mamanya di makam papanya Emilia, ma. Kemarin," kata Arjuna membuat mamanya menatap lekat.


"Kamu serius?"


"Iya, ma. Bahkan katanya dulu dirinya sahabat papa Emilia."


"Apa karena itu papa membuat Mama Arsen gila?" tuduh Aryati-mama Arjuna langsung. Suaminya sangat membenci segala hal tentang Sagara.


Tapi saat dia menjadikan Arsen tangan kanannya, apa dia belum tau kalo.Arsen putranya?


Mama.Arjuna menghela nafas panjang dengan dada sesak.


Arjuna memejamkan matanya. Sangat mengerikan kalo itu benar.


Mama Arsen yang dia temui terlihat agak ringkih.


Pasti Arsen dendam sekali dengan papanya. Papa mereka.


"Yang penting sekarang kamu dan Emilia harus hati hati," pesannya kemudian.


"Tentu, ma."


Arjuna masih belum tau apa yang akan dilakukan papamya. Taoi dia sudah harus waspada, terutama dalam melindungi Emilia.


*


*


*


"Arsen yang melakukannya?" tanya Arga Taksaka.


Beliau langsung menutup meeting ketika Sujatnata menelponnya. Sahabatnya sedang terbaring di rumah sakit.


"Aku ngga yakin karena wajahnya ngga terlihat. Tapi melihat keahliannya, aku yakin itu Arsen," kata Sujatnata pelan.


Saat ini dia mengkhawatirkan keadaan putrimya. Para pengawalnya sekarang bahkan sedang menjelahi sungai. Untuk mencari kemugkinan kalo Vania hanyut. Tapi belum juga ada kabar.


"Bagaimana Vania?" tanya Arga Taksaka setelah terdiam cukup lama.


"Sedang dicari," kata Sujatnata getir. Air matanya mengalir begitu saja. Dia ngga akan sanggup kehilangan putri satu satunya.


"Dia pasti baik baik saja," hibur Arga Taksaka menyakinkan.

__ADS_1


"Semoga."


CEKLEK!


"Papi!" seru Vania yang baru saja membuka pintu.


Sujatnata sampai mengangkat wajahnya saat mendengar suara putrInya yang dia rindukan.


Arga Taksaka tersenyum lebar.


"Apa kataku. Vania baik baik saja," serunya senang melihat kehadiran putri sahabatnya yang dikira hilang di sungai setelah jatuh dari jurang.


Vania pun memeluk papinya sambil menangis.


"Papi, apakah sakit?" tanyanya terisak melihat perban di kepala papanya.


"Sedikit," kata Sujatnata bahagia ternyata putrinya selamat.


"Maaf, pa." Jika saja papinya tidak ikut mengantarnya, pasti papanya ngga akan terbaring lemah di ranjang rumah sakit.


Sujatnata tersenyum sambil menghapus air mata putrinya.


"Papi senang kamu kembali, nak. Terimakasih karena baik baik saja," ucap papinya lembut.


Vania kembali memeluk papinya dan tangisnya pun kembali pecah.


*


*


*


Setengah jam sebelumnya.


"Terimakasih," kata Vania sambil melepas seatbelt.


"Sama sama," jawab Andra sambil menatap lekat Vania.


"Kamu ngga mau ikut?" tawar Vania yang yakin akan ditolak.


"Tentu tidak."


Benar, kan, omel Vania dalam hati.


Ternyata laki laki jahat ini membawanya ke apartemennya, memanggilkannya dokter. Membelikannya sarapan dan baju ganti. Sekarang mengantarkannya ke rumah sakit.


Saat di apartemennya pun, Andra ngga melakukan hal hal intim seperti dulu padanya. Malah dia sibuk dengan menjawab telpon yang ngga tau dari siapa


Pacarnya, mungkin, batin Vania hopeless.


"Hemm... apa kita bisa bertemu lagi?" tanya Vania sambiil memegang handle pintu.


Andra menatapnya semakin dalam.


"Untuk apa? Keluarga kita saling membenci," jawab Andra setelah terdiam cukup lama.


Vania tersenyum pahit.


"Aku belum memaafkanmu."


Andra mengulum senyum.


"Kamu tau dimana bisa mencariku," katanya ringan.


"Mungkin, kalo aku ngga jadi pergi," ucap Vania kemudian menatap Andra yang kembali terdiam dengan wajah datarnya.


Kemudian tanpa kata Vania ljn keluar dari mobil Andra. Andra membiarkannya pergj. Setidaknya dia lega, sudah sedikit menebus kesalahannya pada gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2