
Arjuna mengajak Vania untuk duduk di taman yang berada di halaman samping restoran.
Keduanya masih diam.
Vania melirik wajah calon tunangannya. Terlihat datar walau sangat tampan. Tapi selintas kemudian muncul wajah mesum yang gampang marah di pelupuk matanya.
Kenapa aku harus membayangkan orang itu, sih, gerutu Vania membatin.
Si mesum itu juga ngga kalah tampan, batinnya tersenyum. Jantungnya masih berdebar jika mengngat skinship mereka di bandara.
"Ehem."
Vania tersadar kalo ternyata dia masih bersama Arjuna, calon tunangannya.
"Ya, maaf," ucapnya sungkan, entah sudah berapa lama dia melamun.
"It's oke."
Vania tersenyum tipis.
"Kamu setuju dengan perjodohan ini?" tanya Arjuna ingin tau, karena sikap gadis ini terlalu cuek padanya. Biasanya dia akan menemukan gadis gadis yang menyebalkan yang selalu norak mencari perhatiannya.
"Kamu yakin bisa menolak?" Vania balik bertanya.
Arjuna menghela nafas lega. Dia merasa senang kalo gadis di depannya tidak tertarik dengannya. Sangat jarang terjadi.
Gadis di depannya sama seperti dirinya. Menerima karena keterpaksaan.
"Aku sudah punya seseorang," kata Arjuna terus terang.
Mata Vani melebar. Dia meluruskan tatapannya pada wajah datar Arjuna yang tetap berekspresi datar.
Laki laki di depannya tidak tertarik dengannya?
Dalam hati Vania merasa lega sekaligus aneh.
Dia mengaku punya pacar dengan tampang datar seperti itu?
Vania jadi penasaran. Siapa perempuan yang mau berpacaran dengannya.
"Terus?" tanya Vania setelah mereka terdiam cukup lama.
"Tapi papi menjodohkan aku denganmu."
"Iya, lantas apa yang akan kamu lakukan?" tanya Vania cepat karena penasaran.
"Kata papa, kamu yang menginginkannya," sambungnya lagi membuat bibir Arjuna berkedut menahan tawa.
"Begitu?"
"Ya."
__ADS_1
Keduanya kembali terdiam.
"Aku yakin kamu juga belum siap menikah denganku."
Vania terdiam.
Memang, batinnya.
"Kalo suatu saat aku bisa menggagalkan pernikahan kita, aku harap kamu akan mendukung," kata Arjuna tegas.
"Oke," balas Vania ngga kalah tegas. Dia suka dengan kata kata laki laki di depannya. Dia pasti akan membantu jika itu bisa terjadi. Lagian Vania masih penasaran dengan si mesum itu.
Arjuna menaikkan sedikit sudut bibirnya. Dia bisa memanfaatkan calon tunangannya untuk membuat Emilia kembali padanya. Walaupun harus menyakitinya lebih dulu. Tapi sebelum itu dia harus bisa mengucapkan bela sungkawanya atas kepergian papanya.
Pasti gadis itu sangat berduka. Sekarang Arjuna baru mengerti kenapa dia merasa galau sejak.tadi pagi.
*
*
*
"Mba Ratih, bisa kita mengobrol sebentar?" tanya mami Arjuna pada istri Sujatnata. Suaminya sudah mengkodenya agar pergi bersama istri sahabatnya.
Mama Vania yang paham segera menganggukkan kepalanya.
"Tentu. Saya juga ada sesuatu buat mba Aryati," ucap mama Vania juga bangkit berdiri dan melangkah menghampiri mami Arjuna.
"Pergilah belanja," kata Arga Taksaka yang diangguki istrinya.
Keduanya pun melangkah pergi sambil mengobrol dan sesekali tertawa.
Raut wajah santai Arga Taksaka dan Sujatnata yang tadinya santai kini berubah serius.
"Kau mendatangi Revi di perusahaannya? Sangat ceroboh," kecam om Sujatnata sambil menggelengkan kepalanya.
"Aku ngga tau dia bisa koit secepat itu," geram Arga Taksaka ngga mau disalahkan. Sedikitpun ngga ada rasa simpati dalam dirinya.
Om Sujatnata menghembuskan nafas kasar.
"Aku pun akan shock jika melihat foto foto Vania yang mesra dengan anak musuhku," decih Om Sujatnata jengkel dengan akal pendek sahabatnya.
Bisa bisanya melakukan hal itu tanpa membicarakan dulu dengannya. Padahal bagi Sujatnata sangat mudah menghempaskan keluarga Sagara tanpa harus membuat Revi Sagara meninggal secepat ini. Apalagi nampak jelas pelaku pemicunya adalah dirinya sendiri, Arga Taksaka.
"Aku hanya ingin mengancamnya. Ingin mempertegas garis permusuhan abadi."
"Harusnya kau mengatakan itu lebih dulu pada Juna. Apalagi Juna setelah tau langsung memutuskan hubungan," kecam Om Sujatnata lagi.
"Aku ngga nyangka Juna berani mengaku," kata Arga Taksaka sedikit menyesal.
"Mereka bisa saja memperkarakanmu. Pasti kedatanganmu terekam dalam cctv," omel Om Sujatnata. Beliau ngga mau sahabatnya tertimpa masalah.
__ADS_1
Arga Takasa tersenyum sinis.
"Aku yakin mereka ngga akan melaporkannya. Mereka pasti juga juga akan menutup aib putrinya," katanya angkuh.
"Terserah apa katamu," tukas Om Sujatnata mangkel.
"Apa rencanamu buat menjatuhkan mereka?" tanya Arga Taksaka ingin tau.
"Kita bisa melakukan hal seperti dulu. Kita gambarkan putrinya yang menyukai kehidupan bebas. Foto foto yang kita miliki cukup menggambarkan karakternya," sinis Om Sujatnata menjawab.
Arga Taksaka tertawa puas.
"Baguslah. Biar netizen menghujatnya. Pasti akan sangat heboh jika membaca judul putri durhaka bersenang senang saat papanya meregang nyawa."
Om Sujatnata pun ikut tertawa. Beliau tau seberapa besar kebencian Arga Taksaka pada Revi Sagara. Mereka dulu juga terlibat cinta segitiga, walau sebenarnya Revi tidak pernah mencintai gadis yang disukai Arga.
Tapi karena gadis itu memilih Revi membuat kebenciannya kian dalam ditambah tragedi papa mereka.
"Dengan ini dia ngga akan punya nyali untuk mendekati Arjuna lagi," decih Arga Taksaka puas.
"Gimana kalo Arjuna tau rencana kita?" tanya Om Sujatnata cukup khawatir. Bisa menimbulkan konflik antara ayah dan anak.
"Biar saja. Yang penting gadis itu akan mundur sejauh jauhnya dari putraku," kata Arga Taksaka ngga peduli. Baginya kehancuran keluarga Sagara lebih penting.
Om Sujatnata mengangguk anggukkan kepalanya. Dendam sudah menguasai logika sahabatnya.
"Arjuna ngga akan tau kalo ini rencana kita," katanya penuh makna.
"Aku tau bisa mengandalkanmu,"
"Hebat juga Arsen bisa mendapat foto foto bagus seperti itu," puji Om Sujatnata pada salah satu kepercayaan Arga Taksaka.
"Walaupun menyebalkan, dia bisa diandalkan."
"Belum ada yang tau dia kakak Arjuna?" bisik Om Sujatnata lirih dan sinis.
Arga Taksaka tersenyum miring.
"Rahasia ini cuma aku dan kau yang tau," kata Arga Taksaka penuh tekanan.
Keduanya saling tatap penuh makna.
Arsen adalah anak yang ngga disadarinya lahir akibat perbuatan bejatnya memperkosa ibunya pada saat mabok berat bersama Sujatnata . Tapi Sujatnata ngga ikut andil meyumbangkan benih. Hanya dirinya.
Tapi sampai sekarang Arsen belum tau siapa ayahnya karena ibunya berada di rumah sakit jiwa karena mengalami depresi. Saat bertemu Arsen ketika bocah itu berkelahi di jalanan, perasaannya tergelitik melihat sepasang mata yang mirip dengan seseorang di masa lalunya.
Melihat kehebatannya berkelahi melawan para preman, Arga Taksa merekrutnya dan membiarkannya tinggal bersama para pengawalnya.
Hanya postur tubuhnya yang diwarisi Arsen dari dirinya. Sedangkan bentuk wajahnya seratus persen dari ibunya. Karena itu baru baru ini Arga Taksaka tau kalo Araen putranya setelah dia memaksa anak itu ikut menjenguk ibunya di rumah sakit jiwa. Pantas saja dia merasa ada keterikatan emosi dengan Arsen.
"Kapan berita ini akan kau tayangkan?" tanya Arga Taksaka sambil menatap lurus ke mata sahabatnya.
__ADS_1
"Besok adalah hari yang menggemparkan buat mereka," tandas Om Sujatnata memastikan.
Keduanya kembali menyesap wine yang disediakan. Rasanya ngga sabar menunggu besok.