
Setelah Vania tenang dan ngga menangis lagi, Sujatnata dan ketiga sahabatnya mengelilingi Vania.
Sujatnata mengeluarkan ponselnya, kemudian menunjukkan satu foto laki laki yang sangat tampan dan tampak tenang ke arah putrinya.
"Apa dia?" tanya papanya-Sujatnata serius. Beliau menunjukkan foto Bima.
Vania menggelengkan kepalanya. Mengerti apa yang papanya maksud.
Kemudian.dia menunjukkan lagi foto laki laki tampan yang kelihatan nakal. Dewa.
"Pasti ini, kan?" tuduh Sujatnata yakin. Memang kalo Bima atau pun Andra terkenal serius bekerja dan jauh dari skandal perempuan. Beda dengan Dewa. Dia adalah cassanova handal dan sangat tenar. Layaknya pemuda kaya lainnya, suka foya foya dan punya banyak pacar
Arga Taksaka dan dua sahabatnya pun sudah mempunyai dugaan yang sama.
"Bukan pa. Aku malah belum pernah lihat," bantah Vania membuat keempatnya menatap Vania lekat. Mencari kebohongan dalam sorot matanya. Tapi kembali ketiganya saling pandang. Mereka mendapati kejujuran di sana. Tatapan itu begitu keras menyangkal.
"Bukan ini juga?" kali ini Arga Taksaka yang bicara.
"Mereka siapa?" tanya Vania heran, kenapa papanya langsung menyodorkan kedua foto laki laki itu padanya dengan yakin
"Mereka dari keluarga Sagara," jelas papa Galih.
Vania terdian. Dia tau papanya terlibat dendam yang ngga tau kapan selesainya dengan Om Arga Taksaka.
Kali ini keempatnya menghela nafas berat. Kalo bukan dari keluarga Sagara, siapa lagi yang bisa menjahati Vania seperti itu?
Sujatnata menghembuskan nafas kesal. Beliau yakin ngga punya musuh lain selain Sagara. Beliau pun sudah ngga berminat menunjukkan foto Andra. Karena Andra setipe dengan Bima. Padahal tersangka utamanya yang sangat dia yakini adalah Dewa. Tapi ternyata bukan.
"Apa mungkin sahabat mereka?" cetus Papa Mars menduga.
"Bisa juga. Tapi akan random dan butuh waktu lama untuk dicari," sahut Papa Galih.
Apalagi tadi beliau sudah mengecek rekaman cctv sepanjang jalan apartemen Vania ke club yang dia datangi ternyata sudah diretas. Ngga ada data yang bisa dilihat lagi karena sudah banyak yang hilang. Pelakunya sangat profesional dan lihai.
Yang tersisa hanya penampilan laki laki bertopi dan menggunakan masker. Sangat umum, ngga spesifik.
Tiba tiba dia teringat Arsen. Anak itu sangat ahli memecahkan kasus yang sangat sulit. Bahkan dia pernah mengembalikan data rekaman cctv yang sudah terhapus.
"Kamu sudah bisa menghubungi Arsen?" tanya Papa Galih sambil melihat Arga Taksaka.
"Saat ini kita butuh dia," sambung Papa Mars juga berpikiran sama.
"Belum. Aku juga sudah menyuruh orang mencarinya," jawab Arga Taksaka agak kesal. Dari tadi ponselnya gagal terus menyambung pada Arsen. Beliau pun menghembuskan nafas dengan kasar saking jengkelnya.
"Aku akan menyuruh orang orangku juga untuk mencarinya. Ngga mungkin dia betah selamanya menyembunyikan dirimya, kan?" tukas Sujatnata penuh arti.
"Kalian aneh. Lagi pula kenapa Arsen harus sembunyi?" kilah Papa Galih heran. Mulai merasa curiga, sepertinya Arga dan Sujatnata tau hal yang engga dia ketahui bersama papa Mars.
"Aku lebih berpikir sekarang dia lagi koma di rumah sakit. Dan identitasnya hilang. Aku akan meminta anak buahku mencarinya di semua rumah sakit," tukas Papa Mars menimpali.
Ngga ada kemungkinan selain itu, kan?
Baru kali ini Arsen ngga mempedulikan panggilan Arga Taksaka.
__ADS_1
Arsen ngga mungkin melakukan itu tanpa alasan ngga jelas. Mungkin saja dugaannya benar. Begitu keyakinan Jupiter-Papa Mars.
Arga Taksaka dan Sujatnata ngga menjawab. Keduanya sudah memiliki kecurigaan yang sama saat ini yang membuat jantumg mereka ngga tenang. Arsen sudah tau sesuatu yang selama ini disembunyikan Arga Taksaka.
Ini sangat berbahaya. Arsen adalah peluru nuklirnya Arga Taksaka. Jika karena rahasia ini dia berkhianat, maka Arga Taksaka akan habis.
*
*
*
"Kak, boleh, ya, aku melihat keadaan Arjuna?" tanya Emilia agak takut. Sekarang dia berada berdua dengan kakaknya di ruang kerja.
"Dia ingin menemuimu?" tanya Bima sambil menatap adiknya lembut.
"Aku yang ingin menemuinya, Kak. Aku ingin melihat keadaannya," ralat Emilia pelan.
Bima tersenyum. Percuma mendebat. Toh dia yakin mereka berdua memang saling ingin bertemu.
"Dimana kamu akan menemuinya?"
"Di toko Inticake, tempat biasa aku membeli bahan pembuat roti, kak. Kata Juna, Galih menunggu di sana," jelas Emilia.
"Oke. Kakak yang akan mengantarmu ke sana," tukas Bima sambil mengambil kunci mobilnya.
"Iya, kak." senyum Emilia pun merekah sempurna saking senangnya.
"Oh iya, Mil. Kamu pake masker sama topi ya," kata Bima mengingatkan.
Situasi sedang kurang kondusif. Dia agak takut melepas Emilia setelah foto foto adiknya yang berbikini pernah tersebar di dunia maya akibat ulah Arga Taksaka dan Sujatnata.
Apalagi sekarang foto foto.dan video Vania, calon tunangan Arjuna sedang merajai media online. Mungkin karena dia model terkenal, jadi beritanya lebih diburu para pencari berita.
Emilia masih cukup beruntung karena dia hanya orang biasa. Hingga beritanya hanya lewat sebentar begitu saja.
Tapi masalah besar menunggu mereka. Pasti keluarga Vania yang bersekongkol dengan keluarga Arga Taksaka akan menuduh mereka yang melakukannya.
Karenanya, Bima sudah menambahkan banyak pengawal untuk lebih menjaga keluarganya.
Sekarang adiknya ingin menemui Arjuna. Ini sangat berbahaya. Makanya harus dia pastikan sendiri keselamatannya.
BRAK!
Pintu terbuka dengan kasar.
"Ada apa?" tanya Bima heran melihat raut cemas Dewa yang datang ke ruang kerjanya.
"Lo lihat Andra? Dia ngga pulang semalaman,"ujarnya panik.
"Ooh, kirain apa. Andra berada di apartemennya," jelas Bima ringan. Begitu Bima tau berita Vania, dia langsung menelpon kedua sepupunya.
"Syukurlah." Dewa pun menghembuskan nafas lega.
__ADS_1
"Malah lo yang gue pikir udah jadi perkedel Taksaka," kekeh Bima.
Dewa pun tertawa lepas. Memang siapa lagi dari keluarga Sagara yang paling dicurigai selain dirinya.
Andra menjawab panggilannya dan mengabarkan sedang tidur di apartemennya. Sedangkan Dewa ngga mengangkat telponnya. Bima pun sampai menelpon papinya Dewa, Om Revo untuk memastikan keadaan Dewa. Ternyata anak itu sedang molor di kamarnya. Dewa ngga kemana mana.
Syukurlah. Lagi lagi Bima bisa bernafas lega karena keduanya ngga terlibat dengan Vania yang masih ada hubungan kental dengan Arga Taksaka. Bahkan dia putri satu satunya Sujatnata.
Cukup adiknya saja yang membuatnya pusing.
"Kalian mau kemana?" tanya Dewa kepo karena melihat keduanya akan pergi.
"Ngantar Emil ke toko Roti," sahut Bima tenang.
"Oooh. Oke, gue mau ketemu Andra," pamitmya lalu keluar dari ruangan Bima.
Bima dan Emilia pun melangkah meninggalkan ruangannya.
*
*
*
Emilia ngga mengira kalo yang akan menemuinya adalah Arjuna.
Walau masih ada jejak memar di wajahnya, tapi laki laki itu tetap sangat tampan di mata Emilia.
"Kamu yakin ngga diikuti orang orang papamu?" tanya Bima sinis. Walaupun dia sudah berusaha menerima kenyataan kalo keduanya saling menyukai, tapi tetap saja dia ngga menyukai Arjuna. Tetap curiga. Mungkin karena dia Taksaka.
"Kalian bisa menyuruh orang untuk memata matai aku," sahut Arjuna tenang.
Tadi Galih dan Arby sudah mengalihkan perhatian mata mata papinya saat dia akan pergi.
"Hemmm...," dengus Bima.
"Aku sendiri yang akan memastikan keselamatan adikku," tegas Bima.
"Ngga masalah," jawab Arjuna berusaha mengerti dan sopan. Bima sudah memberinya ijin untuk bersama Emilia, sudah merupakan berkah untuknya.
Emilia memegang lengan kakaknya untuk menenangkannya.
Emilia tau, sangat berat Bima merelakannya bersama Arjuna.
Bima pun mengelus rambut adiknya lembut.
Keduanya pun berjalan ke araj parkiran dengan Arjuna dan Bima sudah bertukar jaket.
"Jaga adikku baik baik," pesan Bima dengan nada sedikit mengancam.
"Iya, aku mengerti," kata Arjuna sambil meraih lengan Emilia.
Keduanya pun memasuki mobil dengan Bima membuntuti Arjuna bersama dengan tiga orang pengawalnya.
__ADS_1
Dia harus berjaga jaga, kan.