
"Lo ini, ngilang ngilang aja," senprot Maria antara kesal dan senang melihat Emilia sudah kembali ke kamar.
Arinka dan Zeta hanya tersenyun sambil memberesakan koper kopernya. Ngga ikutan mengomeli Emilia.
"Gue butuh udara segar," kekeh Emilia sambil duduk di atas tempat tidurmya. Kopernya pun sudah dia rapikan. Tinggal koper Maria Mercedes yang masih berantakan.
"Huufh... gue butuh koper lagi," keluh Maria ketika melihat masih banyak barangnya yang bertebaran di kasur.
Ketiganya tertawa tergelak gelak melihat pemderitaan sepupunya.
Belanja ngga kira kira, batin Zeta mencibir.
"Koper gue yang biru masih kosong. Cuma kayaknya ngga muat, deh, kalo sebanyak itu," kata Emilia sambil melihat koper dan pakaian pakaian serta pernak pernik lainnya yang ada di atas tempat tidur milik Maria.
"Apa barang barang lo cukup dua koper?" kaget Maria dengan mata yang membulat. Dia sendiri sudah ready lima koper. Dan masih membutuhkan koper ke enam bahkan ke tujuh. Maria menggelengkan kepala sambil menepuk jidatnya frustasi.
"Koper gue kayaknya masih bisa nampung separuh barang lo," kata Zeta sambil menggelengkan kepala melihat kelakuan boros sepupunya. Dia dan Arinka sudah beres dengan tiga kopernya.
"Sungguh? Thank you so much," serunya senang sambil melonpat girang
"Tempat gue udah ngga muat," tolak Arinka membuat kesenangannya berubah jadi kekesalan.
"Udah cukup, Arinka sayang," decihnya dengan memajukan bibir bawahnya.
"Sudah, sini gue bantu rapi rapiin. Bentar lagi Kak Dewa pasti manggil," kata Emilia menengahi sambil melipat dan memasukkan barang barang Maria ke dalam kopernya yang ngga dia gunakan. Zeta pun ikut membantunya.
"Lo mandi aja sana. Kusut banget," omel Arinka sambil menyisir rambutnya.
"Gue udah mandi, kok," kilah Emilia sambil terus merapikan barang barang Maria. Maria yang punya koper malah sedang mendandani dirinya, membiarkan kedua sepupunya yang membantu merapikan kopernya.
"Masa?" tanya Zeta ngga percaya. Perhatiannya teralihkan ke wajah Emilia yang terlihat masih sembab karena habis nangis semalaman.
"Iya, udah tadi," tegas Emilia
"Lebih baik lo pake kaca mata hitam sama masker. Wajah lo jelek banget," komen Maria sambil menyapukan blush on ke pipinya.
"Oke," jawab Emilia tanpa membantah. Ya, dia memang harus menyembunyikan mata bengkak miliknya.
"Bisa ketahuan lo ditinggal pacar, terus namgis berhari hari," ledek Arinka tergelak.
"Asem," maki Emilia dengan melebarkan sedikit bibirnya.
__ADS_1
Maria hanya mencibir mendengarnya, sedangkan Zeta ikut tergelak bersama Arinka.
"Udah, lo dandan sana," usir Arinka setelah puas tertawa. Dia ganti membantu sepupunya membereskan koper sepupunya Maria Mercedes
"Oke," ucap Emilia kemudian bangkit dan beranjak ke meja rias
"Ini koper siapa, yang beresin siapa," omel Arinka gemas melihat Maria malah sibuk dengan maskaranya.
"Sorry ya," sahut Maria tanpa dosa membuat Arinka mendengus.
Emilia melihat wajahnya yang telihat kusut. Dia pun mengambil toner, kemudian melanjutkan dengan pelembab.
"Rambut lo kayak Bi Imah si tukang sayur. Asal ikat aja," omel Maria yang meraih ikatan rambutnya dan melepaskannya. Rupanya dia sudah selesai dengan dandanan cetarnya.
"Lo kira kangkung, pake ikat ikat," canda Emilia pura pura memgomel.
"Persis," kekeh Maria kemudian merapikan rambut sepupunya yang panjang dan mencepolnya. Ngga lupa dia mengambil jepit koleksinya yang dihiasi dengan batu batu berlian kecil dan menancapkannya di samping cepolannya.
"Aduh inem, pelan pelan, dong," seru Emilia yang merasakan tekanan akibat tancapan jepit itu di kulit kepalanya.
"Biar ngga jatoh. Sayang berlian gue," sahutnya asal dilanjut dengan kekehannya.
"Dasar," omel Emilia tapi dalam hati dia ngga marah, tadi hanya kaget saja. Sepupunya memang hedon, berlian di taroh di jepitannya. Tapi Emilia mengakui penampilannya jadi lebih berkilau dari pada sebelumnya yang kusam. Tanpa sadar bibirnya tersenyum .
"Gitu, kan cakep. Ngga kayak tadi, kusam kayak panci belum digosok," canda Arinka yang sudah merapikan koper Maria. Dia akui, style sepupu hedonnya memang berkelas.
"Asem," maki Emilia dengan wajah ceria mendengar kata kata ledekan sepupunya.
"Gosokannya itu cing, bukan pake abu. Tapi berlian,"timbrung Zeta sambil menggelengkan kepalanya. Selera fashion si Maria Mercedes memang ngga kaleng kaleng.
"Gue gitu," balas Maria pura pura sangat sombong.
Ketiganya kemudian tertawa tergelak melihat lagak nyeleneh sepupu hedonnya.
Dalam hatinya Emilia sangat bersyukur memiliki tiga sepupu yang sangat mengerti dirinya yang sedang patah hati. Dia tau, mereka saat ini sedang menghiburnya.
TOK TOK TOK
"Kakak kayaknya," tebak Arinka sambil berjalan ke arah pintu dan membukanya.
"Yok berangkat," seru Dewa begitu pintu terbuka dan menyadari adik adik sepupunya sudah oke.
__ADS_1
"Siap kapten," Arinka balas berseru.
Ngga lama kemudian masuklah beberapa pengawal ke dalam kamar dan membawakan koper koper mereka. Sedangkan mereka hanya membawa satu tentengan tas kecilnya saja.
Dengan penuh canda tawa keenpatnya melangkah keluar dari kamar dan memasuki lift.
Bima, Andra dan Dewa yang melihatnya tersenyum lega melihat keceriaan di wajah Emilia, walaupun masih terlihat sedikit sembab.
Begitu sampai di loby, ketiga kakak sepupu mereka bersama para pengawal tetap di dalam lift yang menuju ke lantai dasar, tempat mobil mobil mereka yang terparkir.
Keempatanya masih bercanda menunggu di dalam loby hotel sambil menunggu mobil mobil mereka datang.
"Gila, Maria, bawaan lo paling overload," kata Zeta sambil menggelengkan kepalanya. Mereka menggunakan ketiga lifft yang tersedia di hotel
"Nanti lo boleh pinjam," kata Maria asal karena sudah terbiasa dikomentari.
"Ngapain," bantah Zera mencibir.
"Siapa tau," ngotot Maria sambil berkacak pinggang.
Zeta yang ingin membalas, menoleh ke arah bunyi pintu lift yang terbuka.
Bagai magnet keempatnya menatap kearah pintu lift yang terbuka. Ternyata Arjuna cs dengan dayang dayangnya keluar dari lift.
"Kenapa liftnya ngga macet aja," ketus Maria karena melihat perempuan yang pernah dilihatnya di mall, merangkul tangan Arjuna mesra. Arjuna malah membiarkannya.
Dasar laki laki gatal, marah Maria dalam hati.
"Iya, bosan gue lihat mereka sama cewe cewenya," sambung Zeta alergi.
"Eh, itu si kembar ya," cetus Arinka. Tapi sorot natanya ngga bisa lepas dari tangan perempuan yang menggandeng manja lengan laki laki itu.
Kamu sudah dapat pengganti ya. Oke, aku akan mulai berburu, geramnya dalam hati. Kemudian dia melengos ketika menyadari Mars sedang menatapnya.
Arjuna dan Emilia pun bersitatap dengan makna yang berbeda dalam dua pasang mata mereka. Hati Emilia langsung sedih ketika masih melihat perban di jari jari tangan Arjuna.
Veli yang menyadari keempat perempuan yang pernah dia temui itu langsung merapatkan tubuhnya pada Arjuna. Arjuna hanya diam saja dan seperti sengaja membiarkannya.
Emilia mengalihkan tatapannya sambil membuang nafas kasar.
Kita sudah berakhir, batinnya berusaha tegar, seolah kini ada banyak jarum yang menusuk nusuk jantungnya. Sangat pedih.
__ADS_1
Emilia yakin, Arjuna hanya mempermainkamnya. Begitu cepat dia menerima gandengan baru. Padahal baru sehari mereka putus.