
Arjuna menatap papinya yang kini sudah nampak lebih tenang. Dia sudah membulatkan tekatnya untuk mengatakan yang sebenarnya.
Papiny harus segera disadarkan agar ngga menyakiti banyak orang lagi.
Sepertinya papinya senang membuat masalah. Bahkan Arsen bisa semarah itu dengannya.
"Papi, aku cukup merasa malu jadi putramu," ucap Arjuna datar.
Arga Taksaka merasa tertohok mendengarnya.
Instingnya mengatakan kalo Arjuna sudah tau perbuatan jahatnya.
"Huh," dengusnya angkuh.
"Apa yang kamu katakan?Kenapa kamu menghilang. Tunanganmu sedang membutuhkanmu," sambung Arga Taksaka mengalihkan pembicaraan. Suaranya terdengar menyalahkan Arjuna yang terkesan ngga bertanggungjawab akan nasib tunangannya, Vania.
"Aku kasian dengan nasib yang menimpa.Vania. Tapi aku ngga bisa melanjutkan pertunangan ini," tegas Arjuna.
Arga Taksaka menatapnya tajam. Sujatnata juga sudah mengatakan padanya kalo Vania juga berniat membatalkan pertunangannya dengan putranya Arjuna.
Tapi Arga Taksaka ngga mau menerimanya. Beliau saat ini sedang membantu Sujatnata untuk memghentikan berita yang memalukan Vania.
"Kamu ngga boleh meninggalkan Vania di saat dia butuh dukungan moral dari kita," kata Arga Taksaka dengan suara yang penuh tekanan.
Arjuna ngga menjawab. Dia tau Vania butuh dukungan darinya. Tapi bukan berarti dukungan itu untuk jadi suaminya.
Bukan karena Vania mungkin sudah ditiduri laki laki kurang ajar itu. Tapi memang dari awal Arjuna dan Vania sudah berniat membatalkan pertunangan mereka. Dia pun sudah mengatakan kalo sudah punya pacar pada Vania. Saat itu Arjuna juga merasa kalo Vania sudah tertarik dengan orang lain.
"Aku sudah mengatakan pada Vania kalo aku sudah punya pacar. Dari awal dia juga ngga memaksa pertunangan kami," kata Arjuna tenang.
Kata kata Arjuna membuat Arga Taksaka mendelikkan matanya. Mendengar kata putranya yang sudah memiliki pacar, perasaan marah dalam dirinya mulai bangkit.
"Jangan bilang kalo kamu masih berhubungan dengan putri keluarga Sagara,," bentak Arga Taksaka mulai menggelegar. Sepertinya kesehatannya sudah kembali.
Arjuna menatap datar pada wajah papinya yang mulai mengelam menahan marahnya.
Hatinya tergelitik merasa aneh melihat papinya yang masih saja marah jika menyamgkut nama Sagara.
Apa papinya lupa kalo dirinya yang menyebabkan papanya Emilia tiada. Tapi papinya sama sekali ngga merasa bersalah untuk itu. Malah papinya lebih mengedepankan rasa tidak sukanya. Tepatnya rasa dendamnya.
Ada sedikit kegeraman dalam hatinya. Apa papinya ngga merasa bersalah sudah menghilangkan nyawa seseorang? Biar pun itu sudah takdir, tapi harusnya papinya lebih sadar diri dan merenungkan.dosanya.
"Aku akan menikah dengan putri mendiang Om Revi Sagara, pap. Tante Carol sudah memberikan ijinnya," jelas Arjuna tenang.
Arga Taksaka terkejut mendengarnya. Ngga nyangka adiknya akan mengkhianatinya.
__ADS_1
Tapi kemudian dirinya mendengus karena teringat siapa yang menjadi suami adiknya itu. Arga tau kalo Verdin-suami adiknya berteman akrab dengan Ravi Sagara.
"Papi ngga akan merestui," sentaknya tajam.
"Aku ngga butuh restu dari papi. Yang aku kawatirkan jika keluarga Emil menolak keinginanku untuk melanjutkan hubungan kami ke jenjang yang lebih serius karena papi," bantah Arjuna berani dan tajam.
Arga merasa hatinya diiris iris oleh putra yang selalu dibangga banggakannya.
"Ada hal yang ingin aku sampaikan. Jika papi menyebarkan lagi foto foto Emilia, aku akan meminta keluarga mereka menuntut papi," tegasnya dengan menentang sorot tajam papinya sebelum berbalik pergi.
Arga Taksaka benar benar ngga menyangka akan keberanian Arjuna yang mengancam dirinya. Sangat di luar dugaanya.
Dadanya sesaat terasa sesak melihat pembangkangan anak yang selalu dia utamakan. Beliau menatap nanar pada punggung Arjuna yang menjauh.
"Tidak akan kubiarkan," gumamnya marah campur geram.
Dia lebih baik memilih Vania yang sudah ternoda dari pada berbesanan dengan keluarga musuhnya.
*
*
*
Sujatnata sedang berada di basemen siang itu ketika Arsen menghampirinya. Seketika dirimya teringat pesan dari sahabatnya, Arga Taksaka yang sudah memperingatkannya tentang Arsen.
Ucapan ibunya kalo dia sudah kebablasan menolong.Arga Tajsaka membalaskan dendamya, kembali terngiang ngiang di telinganya.
"Apa yang sudah kamu dan Arga Taksaka lakukan pada mamaku," geram Arsen dingin
"Jangan tidak sopan menyebut nama papamu. Kau ngga perlu khawatir. Aku ngga melakukan apa pun pada mamamu," jawab Sujatnata jujur. Memang itu yang sebenarnya. Dia hanya mengawasi agar Arga Taksaka bisa melakukannya dengan aman.
"Huh, kau pikir aku percaya!" sergah Arsen meremehkan.
"Terserah padamu. Aku sudah mengatakan yang sebenarnya," sahut Sujatnata cuek sambil melangkah mendekati mobilnya.
Tapi Arsen ngga membiarkannya. Dia menghadang Sujatnata dengan tatapan membunuhnya.
"Kau harus dapat oleh oleh dariku," seru Arsen sambil melayangkan tendangan cepatnya.
BUGGHH!
"Aarrhhh!" teriak Sujatnata yang ngga menyanka Arsen berani menendangnya. Tubuhnya terlempar ke kap mobilnya.
Setelah itu Arsen membalikkan tubuhnya, pergi meninggalkan Sujatnata setelah menyerigai sinis.
__ADS_1
Dia ngga puas. Tapi ada sedikit perasaan lega sudah menghajar orang orang yang baru dia ketahui telah menyakiti mamanya dulu.
DORR!
'Awasss!"
BRUUUK!
Arsen terkejut dan merasa seseorang mendorong tubuhnya. Tapi insting tajamnya langsung bekerja. Dia meraih tubuh perempuan(?) yang mendorongnya. Tepat di bagian dadanya.
Sial, makinya terkejut sekaligus meringis karena merasa perih. Arsen dapat merasakan kalo peluru itu menggores lengannya.
Terlambat sedetik saja penolongnya pasti akan terkena tembakan itu.
Kurang ajar, batinnya menyumpah. Ingin meraih pistolnya yang ada di balik jaketnya, tapi karena satu tangannya terjepit tubuh gadis itu dan satu lagi terluka membuat dia agak sulit melakukannya.
"Itu peringatan, Arsen!" seru Sujatnaka keras.
Setelahnya dia langsung masuk ke dalam mobil sambil memaki panjang pendek. Dia sendiri dan tanpa pengawal.
Kalo Arsen tadi memang berniat untuk membunuhnya, pasti dengan mudah dia lakukan.
Tadi Sujatnata reflek mengambil pistolnya dan hanya berniat memberikan Arsen tembakan peringatan. Ya sedikit menggores pundaknya lah.
Tapi ngga disangka ada seorang perempuan yang tiba tiba muncul dan dengan nekat mendorong Arsen.
Dan Sujatnata sedikit tersentak karena arah peluru itu mengancam bagian vital perempuan itu.
Jantung Sujatnata hanpir lepas. Perempuan itu bisa mati!
Untung Arsen dengan sigap dan cepat menarik perempuan bodoh itu.
Darah Sujatnata yang tersirap kini sudah normal kembali. Hampir saja dia membunuh seseorang.
Tanpa membuang waktu Sujatnata yang sudah masuk ke dalam mobilnya pun melajukannya dengan sangat kencang.
Sujatnata bersyukur karena ngga ada pergerakan dari Arsen sampai dia keluar dari basemen. Walaupun heran tapi Sujatnata merasa lega.
Sementara itu terdengar teriakan nyaring perempuan bodoh itu dan suara tamparan keras sebanyak dua kali. Dan jangan lupakan makian Arsen.
"Lepaskan! Dasar laki laki kurang ajar!"
PLAK!
PLAK!
__ADS_1
"Sial! Aku ngga sengaja, bodoh!"